Share

Bab 5. Melepaskan Diri

Author: Andrea_Wu
last update publish date: 2025-12-28 22:54:31

"Kau, berani kau melawanku!" amarah Nyonya Tua Qu memuncak. Wajahnya memerah, seolah ada asap imajiner mengepul dari kepalanya.

"Aku sudah lelah. Apa aku tidak boleh melawan?"

"Menantu tidak berguna!" teriak Nyonya Tua Qu, jelas melukai harga diri Shen Lihua.

Selama ini, keluarganya telah mendoktrin Shen Lihua untuk menjadi wanita yang patuh—selalu menurut, selalu menunduk. Bagi keluarga Shen, seorang wanita harus tunduk sepenuhnya. Tidak boleh berani mengangkat kepala di hadapan mertua, dan harus hormat serta patuh kepada suami.

Bahkan ia dilarang memiliki pendidikan tinggi, sebagaimana para pria yang boleh mengikuti ujian negara dan menjadi pejabat istana.

Ia dipaksa mengubur seluruh angan dan cita-citanya—termasuk mimpi menjadi seorang tabib wanita pertama di Dinasti Ruo.

"Tiga tahun lebih aku mengabdi pada keluarga Jenderal. Apa hanya karena aku tak mampu melahirkan keturunan, lalu kalian menganggapku tak berguna!" Matanya berkaca-kaca.

Tak terhitung berapa banyak ramuan pahit yang ia teguk setiap hari. Tak terbilang pula doa-doa yang ia panjatkan di depan altar dewa, dengan dupa yang dibakar hingga tangannya bergetar, memohon satu hal yang sama—keturunan Jenderal Qu.

Namun kenyataan tetap kejam. Ia tak pernah mampu mengandung darah Jenderal.

"Wanita yang tak mampu mengandung darah sang Jenderal adalah sampah!"

Sekali lagi, Nyonya Tua Qu berteriak tepat di hadapannya. Kata-kata itu menusuk, bagai bilah belati tajam yang menghujam langsung ke hatinya.

Sampah?

Sehina itukah dirinya?

Shen Lihua tak mampu berkata-kata.

Nyonya Tua Qu berbalik. Jubahnya berkibar, menyisakan kilat amarah yang belum padam. Kakinya menghentak lantai koridor paviliun, meninggalkan Shen Lihua dalam kehancuran.

***

Salju berhenti turun menjelang senja.

Langit masih kelabu, namun udara di Paviliun Anggrek terasa lebih sunyi dari biasanya.

Shen Lihua duduk di depan meja tulisnya.

Di hadapannya terbentang kertas putih, tinta hitam, dan kuas yang telah lama tak ia sentuh. Jemarinya yang ramping menggenggam gagang kuas dengan tenang, seolah badai yang semalam mengamuk di dalam dadanya telah reda sepenuhnya.

Namun justru itulah yang paling menakutkan. Ia sudah kehilangan harapan. Ia mati rasa.

Luo Qingyu berdiri tak jauh darinya, ragu untuk mendekat. Ia belum pernah melihat Nonanya setenang ini—bukan ketenangan yang membuat perasaan menjadi nyaman, melainkan ketenangan seseorang yang telah menyerah pada hidupnya sendiri.

"Nona Shen," panggilnya lirih. "Apakah Anda ingin makan malam?"

Shen Lihua menggeleng pelan.

"Qingyu," katanya lembut, "Tolong siapkan peti kayu kecil. Yang biasa kupakai untuk menyimpan barang pribadi."

Luo Qingyu terkejut. "Untuk apa, Nona?"

"Untuk merapikan hidupku," jawab Shen Lihua singkat.

Tak ada penjelasan lebih jauh. Qingyu tak tahu apa yang terjadi, yang jelas ia begitu khawatir.

Kuas menyentuh kertas.

Goresan pertama jatuh dengan mantap, tanpa ragu. Setiap huruf ditulis rapi dan indah, sebagaimana didikan seorang putri pejabat negara. Tak ada air mata yang menodai tinta. Tak ada jeda untuk menarik napas panjang.

Ia menulis dengan kesadaran penuh.

Surat pengunduran diri sebagai Nyonya muda Qu.

Ia menggoreskan kalimatnya dengan begitu tenang tanpa ekspresi di wajah cantiknya.

Lembara kertas putih, yang telah terisi goresan dari tintanya.

'Aku, Shen Lihua, menyadari ketidakmampuanku menjalankan kewajiban sebagai istri utama. Demi keharmonisan keluarga Jenderal Qu dan keberlangsungan garis keturunan bangsawan, aku bersedia melepaskan posisiku tanpa tuntutan apa pun.'

Kalimat demi kalimat ditorehkan tanpa emosi—dan justru itulah yang membuatnya terasa kejam.

Ketika selesai, Shen Lihua meniup tinta perlahan, lalu melipat kertas itu dengan rapi.

Ia menatap cap keluarga Shen di sudut meja—cap yang selama ini menjadi pelindung, kini terasa begitu jauh.

Cap itu tak ia gunakan.

Surat itu dibiarkan polos.

'

Karena ia tak lagi ingin bersandar pada siapa

pun.

Ia segera memasukan kertas itu ke dalam peti kayu yang dia minta pada Luo Qingyu, lalu meletakkanya di atas meja.

Menatap benda itu sejenak, lalu menoleh pada sosok Qingyu yang masih setia berdiri di belakangnya.

"Qingyu, aku akan pergi sebentar, kau di sini saja. Tidak usah ke mana-mana."

Luo Qingyu ingin bertanya, namun melihat raut wajah sang Nona. Kalimat itu kembali tertelan di tenggorokan.

"Baik, Nona Shen."

Shen Lihua tersenyum teramat tipis, sembari mengayunkan kakinya keluar dari paviliun tempat tinggalnya.

Tujuannya hanya satu, mencari sosok Jenderal Qu.

***

Malam tiba.

Di Paviliun Teratai, lampu kembali menyala terang. Tawa kecil Su Minshan terdengar samar, diselingi suara para pelayan yang sibuk melayaninya.

Jenderal Qu benar-benar memanjakannya.

Shen Lihua berdiri tepat di depan pintu paviliun teratai, tangannya mengepal erat.

"Sudah selesai, aku sudah bukan bagian dari mereka."

Ia ingin berbalik, namun mendengar pintu dibuka, kakinya urung melangkah. Memakunya di tempat itu.

"Nyonya Shen, apa yang kau lakukan di sini?"

Shen Lihua tetap tenang, mesti hatinya tercabik. Itu suara Su Minsan.

"Aku hanya sedang berjalan-jalan, tidak lebih," katanya.

Su Minsan tertawa pongah. Ia berjalan mendekati Shen Lihua, lalu menatap langsung ke arahnya setelah memutari tubuh wanita itu.

"Jangan berbohong, Jenderal tidak suka dengan pembohong. Apa kau sedang mengintipku?"

Jari-jari tangan Shen Lihua semakin mengerat. "Aku tidak melakukan itu."

Su Minsan berdecak, wanita itu kembali berputar-putar menggelilingi tubuh Shen Lihua. "Apa kau iri padaku? Apa kau iri karena Jenderal Qu lebih memanjakanku?"

Sakit, itulah yang Shen Lihua rasakan.

Istri mana yang tak merasa sakit, Jika ada wanita lain yang mengandung darah daging suaminya. Wanita mana yang tak sakit hati melihat sang suami lebih perhatian pada wanita lain.

Namun, Shen Lihua hanya mampu menelan getir.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak iri, namun aku tidak akan melakukan itu. Jenderal sudah memilihmu, aku sudah tidak ada urusan lagi."

"Jadi, kau dengan suka rela menyerahkan Jenderal padaku, Nyonya Shen?"

Shen Lihua terdiam, ia memejamkan kedua netranya. Meredam amarah di dalam dada.

Bertahan beberapa detik, wanita itu kembali membuka matanya. Lantas, tersenyum ke arah Su Minsan.

"Kenapa denganmu? Apa kau pura-pura bahagia? Bahkan Nyonya Tua Qu sudah terang-terangan mengatakan kalau wanita yang tak bisa mengandung adalah sam...."

Detik itu juga, sebuah tamparan mendarat di atas pipi Su Minsan.

Shen Lihua tak peduli, jika Jenderal akan menghukumnya karena berani melukai wanita kesayangannya. Namun, dia hanya ingin melindungi harga dirinya.

"Aku tidak berpura-pura. Yah, setidaknya aku masih manusia yang memiliki perasaan. Aku memang tak berguna, tapi wanita yang merebut suami orang lebih buruk dari sampah!"

Su Minsan membolakan mata. "Kau, kau berani—"

"Kenapa? Bahkan ketika aku mendapatkan hukuman, aku pasti terima. Tetapi, aku tidak terima kau melukai harga diriku. Sebagai wanita, apakah mulutmu tak pernah belajar tata krama. Kau dan segala tingkah burukmu. Teruslah seperti itu, karena suatu hari nanti aku yakin, kau akan mendapatkan karma yang lebih buruk."

Su Minshan tak mampu berkata-kata. Dia ingin melawan, tapi melihat tempramen Shen Lihua ia memilih mundur.

"Kau hanya seorang pelayan rendahan, berani menggoda Jenderal. Jadi, kau atau aku yang sampah." Shen Lihua tersenyum, lalu menarik dagu Su Minshan dengan dua jarinya. Mencengkeramnya erat, seolah ingin meremukkannya.

"Semoga aku, kau dan Jenderal, tak memiliki takdir yang sama lagi," ujarnya sebelum menghempaskan Su Minshan, dan berbalik pergi.

***

Shen Lihua berdiri di depan cermin.

Ia melepaskan giok di rambutnya satu per satu. Perhiasan yang dulu melambangkan status dan kehormatan kini diletakkan rapi ke dalam peti. Gelang emas, anting, bahkan jubah-jubah indah—semuanya ditinggalkan.

Ia hanya menyisakan satu benda.

Kalung giok putih sederhana yang diberikan ibunya sebelum menikah.

"Itu untuk mengingatkanmu siapa dirimu," kata sang ibu dulu. Sayangnya wanita itu telah tiada musim gugur tahun lalu.

Kini Shen Lihua menggenggamnya erat.

"Aku akhirnya mengerti," bisiknya pada bayangan dirinya sendiri. "Maafkan aku Ibu, aku tak mampu menjadi putrimu yang bisa kau banggakan."

Shen Lihua terdiam sejenak, sebelum langkah kaki terdengar di luar paviliun.

Namun Shen Lihua tak menoleh.

Pintu terbuka dari luar.

Jenderal Qu Liang berdiri di ambang pintu.

Wajahnya dingin, sikap pemimpinnya masih seperti biada. Namun ketika matanya menangkap pemandangan di dalam—peti terbuka, kamar yang hampir kosong—alisnya berkerut.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.

Shen Lihua berbalik perlahan.

Tatapannya tenang. Terlalu tenang, membuat Qu Liang merinding.

"Aku membereskan sesuatu yang seharusnya sudah lama selesai," jawabnya.

Qu Liang melangkah masuk.

"Ibu memintamu untuk tidak membuat keributan."

"Aku tidak membuat keributan," ucap Shen Lihua lembut. "Aku hanya memilih pergi dengan terhormat."

Ia lantas menyerahkan surat itu. Surat yang tadi dia tulis.

Qu Liang menerimanya, membaca sekilas—lalu ekspresinya berubah.

"Kau menyerah begitu saja?" suaranya merendah. "Tanpa perlawanan?"

Shen Lihua tersenyum tipis.

"Perlawanan hanya milik orang yang masih berharap," katanya. "Aku sudah tidak berharap apa pun. Meskipun kita bertemu lagi suatu hari, aku berharap kita tak lagi berjalan di takdir yang sama."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 55. Kejutan

    Tabib senior meletakkan kembali potongan akar itu ke atas meja Shen Lihua, lalu mengangguk pelan."Lanjutkan," katanya singkat.Nada suaranya tak lagi netral, ada sedikit penghargaan di sana.Shen Lihua menunduk hormat, lalu kembali bekerja. Tangannya bergerak semakin tenang, seolah hiruk-pikuk di

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 41. Sandiwara

    Malam merangkak naik, saat Shen Lihua keluar dari kediaman gurunya dengan sebutir obat yang barusaja selesai dia racik. Senyumnya mengembang puas, lalu berjalan kembali ke arah pondoknya. Luo Qingyu yang sedang mengumpulkan kayu bakar, langsung berlari kecil menghampiri sang nona yang terlihat

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 42. Wajah Asli Lin Ru

    Sore itu, Lin Ru kembali ke istana. Setelah mendengar jika Lin Hua Su sebenarnya mengincar ayahnya, dan bukannya dirinya. Dia melangkah pelan ke istana. Beberapa pengawal membungkuk hormat, dan dia hanya tersenyum bodoh seperti biasa. Ketika sampai di aula, kakinya berhenti melangkah. Dia meliha

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 43. Pengkhianatan Di Istana

    Malam turun perlahan di Paviliun Barat istana Yanqing. Lampu minyak menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding. Aroma dupa istana memenuhi ruangan, bercampur dengan hawa dingin yang menyusup dari celah jendela. Selepas pertemuan rahasia, dan kedatangan Lin Ye Su secara tiba-tiba yang

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status