FAZER LOGIN"Nona Shen, apa Anda tahu siapa orang yang begitu keji hingga menipu Anda?" Sejak tadi Luo Qingyu tak henti-hentinya bertanya. Hatinya masih dipenuhi amarah ketika mengingat bagaimana Nonanya dipaksa menelan ramuan pahit pencegah kehamilan itu—ramuan yang perlahan menghancurkan hidup Shen Lihua. "Aku belum tahu pasti," jawab Shen Lihua tenang. "Namun jika suatu hari aku mengetahui siapa pelakunya, aku tak akan ragu untuk membuat dia membayar segalanya." Luo Qingyu bisa melihat kilat kebencian di bola mata Shen Lihua yang dulu begitu lembut. Mereka duduk mengitari perapian kecil di dalam gubuk bambu sederhana—tempat Shen Lihua dan Luo Qingyu kini tinggal. Api berderak pelan, memantulkan cahaya hangat di dinding bambu yang kusam. Di sisi Luo Qingyu, Lin Ru duduk diam, tatapannya tak lepas dari wajah Shen Lihua. "Kenapa kau menatap Nonaku seperti itu?" Luo Qingyu berdecak kesal. Tatapan Lin Ru terlalu terang-terangan. Wajah pria itu memang tak buruk, hanya saja luka panjang
Malam itu, hujan salju turun tanpa suara, menutup Kediaman Jenderal Qu dengan selimut putih yang dingin dan sunyi. Lentera-lentera bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan cahaya kekuningan di atas jalan setapak yang basah dan licin.Jenderal Qu Liang berdiri angkuhdi depan Paviliun Anggrek.Paviliun itu gelap. Tak ada lagi cahaya lampu minyak di balik jendela. Tak ada aroma teh hangat, maupun aroma wewangian yang selalu tercium saat Shen Lihua masih berada di tempat ini.Tak ada suara langkah pelan, atau tawa lembut dari sosok anggun Shen Lihua. Semuanya kosong—seperti hatinya sendiri.Tangannya terulur, lalu berhenti di udara, seolah hendak mendorong pintu. Namun gengsi yang selama ini ia banggakan menahannya di tempat.Ia tertawa kecil, teramat getir."Sudah pergi," gumamnya. "Untuk apa merindukan sesuatu yang telah memilih meninggalkan tempat ini. Dia yang menginginkan ini."Namun ingatan tak pernah patuh pada logika.Ia teringat sosok kurus Shen Lihua yang selalu patuh meski di
Beberapa hari telah berlalu sejak Lan Rui Hong menemukan Shen Lihua dalam keadaan mengenaskan. Kini, tubuh Shen Lihua perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Demam tinggi yang sempat merenggut kesadarannya telah mereda. Luka di punggungnya mulai mengering, meski rasa perih masih kerap menyergap ketika ia bergerak terlalu cepat. Namun setidaknya, ia sudah mampu duduk lebih lama, dan berjalan perlahan tanpa harus sepenuhnya bersandar pada dinding. Pagi itu, Shen Lihua melangkah keluar dari kamar bambu sederhana yang menjadi tempat perawatannya selama beberapa hari terakhir. Udara dingin menyentuh wajahnya, membawa aroma khas obat-obatan yang sedang dijemur di halaman. Di sudut halaman, Luo Qingyu tampak sibuk menata ramuan kering di atas tampah bambu. Wajah gadis itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya, matanya sembab—jelas bekas tangis semalam karena terus memikirkan nasib nona mudanya. "Qingyu, apa yang sedang kau lakukan?" Luo Qingyu terkejut. Tangannya berhenti mena
Malam itu, hujan turun di Kediaman Jenderal Qu. Beberapa pelayan kediaman Qu bergerak cepat membawa lentera-lentera terang, sementara yang lainnya sigap menutup jendela. Kehangatan memenuhi aula utama, namun di tengah segala kehangatan itu, Jenderal Qu Liang justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, melamun dengan tatapan mata kosong. Di atas meja terbentang laporan militer, peta wilayah perbatasan, dan surat-surat resmi. Namun matanya justru tak membaca satu pun tumpukan perkamen di atas mejanya.Pandangannya berulang kali tertuju pada sudut ruangan—tempat yang dulu selalu disediakan kursi kecil bagi Shen Lihua ketika ia menunggunya dengan diam. Kini sudut itu kosong. Tidak ada lagi sosok istrinya yang selalu menemaninya setiap kali ia sibuk mengerjakan laporan militer. Sudah berhari-hari. Entah, ia sudah tak bisa menghitungnya lagi. Qu Liang mengerutkan kening, meneguk teh yang telah dingin. Entah sejak kapan, ia mulai sering l
Salju turun semakin rapat, menelan jejak langkah Shen Lihua dan Luo Qingyu hingga nyaris tak tersisa. Angin gunung berdesir tajam, memotong kulit seperti bilah tipis yang tak terlihat. Tubuh Shen Lihua ambruk sepenuhnya di batas kota. Nafasnya nyaris tak terdengar, wajahnya pucat keabu-abuan, sementara darah dari punggungnya membeku bercampur salju. "Nona—!" Luo Qingyu berteriak parau, memeluk tubuh nonanya yang dingin. Tangannya gemetar hebat, matanya merah oleh air mata karena ketakutan. "Bangun, Nona… kumohon, jangan tinggalkan aku…" Namun Shen Lihua tak lagi merespons. Tubuhnya semakin dingin dalam dekapan Luo Qingyu. Ia tak mengerti kenapa nasib nonanya menjadi seperti ini. Shen Lihua adalah seorang wanita keturunan bangsawan. Dia wanita yang baik, menjunjung tinggi nama baik klannya. Akan tetapi, kenapa takdir begitu kejam padanya. "Nona Shen, kumohon bangunlah. "Luo Qingyu kembali meraung, dadanya sesak akibat terlalu lama menangis. Tempat ini begitu terpencil,
Gerbang Kediaman Shen berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampu lentera menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Shen Lihua menatapnya dengan mata berkabut. Tempat ini adalah rumah kelahirannya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir ketika seluruh dunia menolaknya. Namun entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kali ini. "Qingyu," ucapnya pelan, "Bantu aku berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatku seperti ini." Luo Qingyu mengangguk cepat. Ia merapikan jubah nonanya sebisanya, meski noda darah masih tampak jelas di punggungnya. Ketika pintu samping diketuk, seorang pelayan Kediaman Shen keluar. Begitu melihat Shen Lihua, wajah pelayan itu langsung berubah. "N-Nona muda?" "Yu Lanyi, apa kabar?" ujarnya pada seorang pelayan muda di kediaman Shen. Yu Lanyi diam terpaku menatap sosok Shen Lihua. "Nona, saya ba







