Share

Bab 6. Fitnah Keji

Author: Andrea_Wu
last update Last Updated: 2026-01-02 12:07:17

Pintu Paviliun Teratai kembali terbuka dengan tergesa.

Su Minshan berlari keluar dengan wajah pucat, satu tangan menutup pipinya yang masih terasa panas. Jejak merah masih jelas membekas di kulitnya yang pucat.

Air mata menggenang di pelupuk mata.

Ia tahu Jenderal Qu baru saja kembali dari Paviliun Anggrek.

Tanpa ragu, Su Minshan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Qu Liang yang berdiri tak jauh dari paviliun.

"Jenderal." Suaranya bergetar, sengaja ia buat lembut agar terdengar rapuh. "Hamba… hamba tidak tahu kesalahan apa yang telah hamba perbuat. Nyonya Shen… dia menampar wajah hamba tanpa alasan."

Qu Liang tertegun sejenak.

Tangannya mengepal perlahan.

Baru saja ia bertemu Shen Lihua di kamarnya—wanita itu dengan tenang menyerahkan surat perceraian, memilih pergi dari Kediaman Qu tanpa satu pun tuntutan.

Lalu sekarang…

Kenapa Shen Lihua berani melukai wanita yang mengandung calon darah keturunannya?

"Katakan sekali lagi," ucapnya pelan.

Nada suaranya dingin, namun menyimpan tekanan yang membuat udara di sekeliling seakan membeku.

Su Minshan mengangkat wajahnya. Pipinya yang memerah menjadi bukti paling nyata untuk ia tunjukkan pada sang jenderal.

"Nyonya Shen… dia menampar hamba tanpa alasan, Jenderal."

Rahang Qu Liang mengeras.

Napasnya naik turun, amarahnya seperti api yang tersulut di medan perang—melahap apa pun yang ada di hadapannya.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dingin.

"Hamba hanya menyapa Nyonya Shen dengan sopan," lanjut Su Minshan sambil terisak. Air mata palsu itu jatuh satu per satu, tampak begitu meyakinkan.

"Namun beliau menuduh hamba merebut Jenderal, menghina status hamba, lalu…" Ia tersedu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bagai drama murahan dengan plot apik, agar jenderal berpihak padanya.

"Hamba hanya seorang wanita lemah. Bagaimana mungkin hamba berani melawan Nyonya Shen? Hamba hanyalah pelayan rendahan, Jenderal."

Keheningan menyelimuti Paviliun Teratai.

Kepalan tangan Qu Liang semakin mengerat.

"Berani sekali," gumamnya pelan—lebih pada dirinya sendiri.

Ia mengangkat tangan ke udara. Berteriak lantang dengan emosi membara.

"Pengawal!"

Dua pengawal segera muncul, berlutut hormat di hadapannya.

"Ada apa Jenderal memanggil kami?"

"Bawa Shen Lihua ke pelataran utama," perintah Qu Liang tanpa ragu. "Sekarang!"

"Baik, Jenderal."

Kedua pengawal itu bergegas pergi menjalankan titahnya.

Qu Liang diam tak bersuara, mengibaskan jubah sutranya, lalu berbalik dengan langkah penuh amarah.

Di belakangnya, Su Minshan kembali menunduk—menyembunyikan senyum tipis di balik air mata palsunya.

***

"Nona Shen! Nona Shen! Ini gawat—ini gawat!"

Luo Qingyu berlari tergopoh memasuki paviliun Anggrek.

Lampu temaram menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya.

Shen Lihua duduk di depan meja, tengah menyisir rambutnya. Beberapa barang pribadinya telah tersusun rapi di dalam kotak kayu. Besok pagi, ia berencana kembali ke Kediaman Shen—meninggalkan pernikahan yang tak lagi bisa ia pertahankan.

"Qingyu," ucapnya lembut tanpa menoleh. "Jangan berlari. Di mana tata kramamu?"

Luo Qingyu terengah, lalu berlutut di belakangnya.

"Maaf, Nona Shen… di luar, para pengawal sedang mencari Anda. Jenderal Qu memerintahkan untuk menghukum Nona… karena menampar pelayan Su."

Shen Lihua tidak menyangkalnya. Ia memang melakukannya karena pelayan rendahan itu telah melukai harga dirinya.

Siapa yang tak akan marah, jika kehormatannya sebagai nyonya di rumah ini diinjak-injak begitu saja, hanya karena ia tak mampu melahirkan darah keturunan Jenderal.

Adilkah itu?"

Dia hanyalah manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh.

"Jadi… wanita itu mengadu," gumamnya pelan.

Luo Qingyu mendongak. Ia melihat Shen Lihua berdiri, lalu berbalik. Langkahnya anggun saat berhenti tepat di hadapan Qingyu.

"Berdirilah."

"Nona." Suara Qingyu bergetar. "Apa Nona tidak takut? Mereka akan menghukum Nona."

Shen Lihua justru tersenyum tipis. Senyum yang terlihat biasa saja, namun menyimpan lara yang teramat besar.

"Aku baik-baik saja," katanya lembut. "Bukankah ini yang mereka inginkan, Qingyu?"

Ia menatap lurus ke depan, matanya yang kelabu tampak hampa.

"Mereka ingin menyingkirkanku… karena aku adalah sampah bagi mereka."

"Nona—!" Luo Qingyu menangis.

Seumur hidupnya mengabdi pada keluarga Shen, ia belum pernah melihat Shen Lihua seperti ini. Sorot mata nona mudanya telah kehilangan harapan—seolah dunia tak lagi menyisakan apa pun untuk dipertahankan.

"Jangan menangis Qingyu, aku akan baik-baik saja. Tiga tahun ini, aku sudah mengabdi pada Jenderal Qu. Semua telah aku korbankan. Aku hanya tidak ingin berjalan pada takdir yang sama dengannya lagi."

Tangis Qingyu semakin menjadi. Ia tahu cita-citanya nonanya. Tapi dunia menentang.

Seorang wanita, tak pantas berdiri di depan pria. Wanita harus patuh, wanita tak perlu memiliki pendidikan tinggi. Meskipun Shen Lihua memohon untuk belajar ilmu pengobatan, namun Tuan dan nyonya Shen menentangnya.

Mereka mengatakan, jika menikah dengan Qu Liang adalah keputusan terbaik.

Akan tetapi, apa yang terjadi. Semua hanyalah angan semu, dan justru masa depan Shen Lihua lah yang hancur.

Wanita itu tersakiti dengan pengkhianatan yang dilakukan suaminya sendiri.

"Nona—!"

Shen Lihua menggeleng, tangannya terangkat ke udara. Menyuruh Qingyu agar tetap tenang.

Langkah kaki berat terdengar dari luar.

Pengawal jenderal telah datang.

Paviliun Anggrek diketuk dari luar.

Shen Lihua beranjak. Kakinya menapak lantai dengan tenang. Jubahnya diseret pelan, seolah tak akan pernah terjadi apapun.

"Dengan hormat, Nyonya Shen. Jenderal memerintahkan Anda ke pelataran utama."

Shen Lihua mengangguk pelan.

"Aku akan datang."

Ia melangkah keluar tanpa perlawanan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 11. Paralel Penyesalan

    Malam itu, hujan turun di Kediaman Jenderal Qu. Beberapa pelayan kediaman Qu bergerak cepat membawa lentera-lentera terang, sementara yang lainnya sigap menutup jendela. Kehangatan memenuhi aula utama, namun di tengah segala kehangatan itu, Jenderal Qu Liang justru merasakan kekosongan yang tak bisa ia jelaskan. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya, melamun dengan tatapan mata kosong. Di atas meja terbentang laporan militer, peta wilayah perbatasan, dan surat-surat resmi. Namun matanya justru tak membaca satu pun tumpukan perkamen di atas mejanya.Pandangannya berulang kali tertuju pada sudut ruangan—tempat yang dulu selalu disediakan kursi kecil bagi Shen Lihua ketika ia menunggunya dengan diam. Kini sudut itu kosong. Tidak ada lagi sosok istrinya yang selalu menemaninya setiap kali ia sibuk mengerjakan laporan militer. Sudah berhari-hari. Entah, ia sudah tak bisa menghitungnya lagi. Qu Liang mengerutkan kening, meneguk teh yang telah dingin. Entah sejak kapan, ia mulai sering l

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 10. Takdir Yang Menentukan

    Salju turun semakin rapat, menelan jejak langkah Shen Lihua dan Luo Qingyu hingga nyaris tak tersisa. Angin gunung berdesir tajam, memotong kulit seperti bilah tipis yang tak terlihat. Tubuh Shen Lihua ambruk sepenuhnya di batas kota. Nafasnya nyaris tak terdengar, wajahnya pucat keabu-abuan, sementara darah dari punggungnya membeku bercampur salju. "Nona—!" Luo Qingyu berteriak parau, memeluk tubuh nonanya yang dingin. Tangannya gemetar hebat, matanya merah oleh air mata karena ketakutan. "Bangun, Nona… kumohon, jangan tinggalkan aku…" Namun Shen Lihua tak lagi merespons. Tubuhnya semakin dingin dalam dekapan Luo Qingyu. Ia tak mengerti kenapa nasib nonanya menjadi seperti ini. Shen Lihua adalah seorang wanita keturunan bangsawan. Dia wanita yang baik, menjunjung tinggi nama baik klannya. Akan tetapi, kenapa takdir begitu kejam padanya. "Nona Shen, kumohon bangunlah. "Luo Qingyu kembali meraung, dadanya sesak akibat terlalu lama menangis. Tempat ini begitu terpencil,

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 9. Aib Keluarga Shen

    Gerbang Kediaman Shen berdiri megah di hadapan mereka, lampu-lampu lentera menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Shen Lihua menatapnya dengan mata berkabut. Tempat ini adalah rumah kelahirannya. Tempat ia dibesarkan sejak kecil. Tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir ketika seluruh dunia menolaknya. Namun entah mengapa, langkahnya terasa semakin berat. Ia tidak tahu kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kali ini. "Qingyu," ucapnya pelan, "Bantu aku berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatku seperti ini." Luo Qingyu mengangguk cepat. Ia merapikan jubah nonanya sebisanya, meski noda darah masih tampak jelas di punggungnya. Ketika pintu samping diketuk, seorang pelayan Kediaman Shen keluar. Begitu melihat Shen Lihua, wajah pelayan itu langsung berubah. "N-Nona muda?" "Yu Lanyi, apa kabar?" ujarnya pada seorang pelayan muda di kediaman Shen. Yu Lanyi diam terpaku menatap sosok Shen Lihua. "Nona, saya ba

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 8. Awal Dari Takdir

    Shen Lihua melangkah tertatih, diikuti oleh Luo Qingyu yang setia memapahnya meninggalkan Kediaman Jenderal Qu. Sebuah peti kayu kecil ia dekap erat ke dada, seolah itu satu-satunya benda yang masih tersisa sebagai miliknya. Semuanya telah berakhir. Pernikahan tiga tahun yang ia jaga dengan sepenuh hati, kini runtuh tanpa sisa. Ia telah diusir dari kediaman Jenderal Qu, dicampakkan seperti sampah tak berguna. Difitnah hingga begitu keji. Bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatunya yang remuk redam tak bersisa. Ketika kakinya berhenti di depan gerbang utama keluarga Qu, Shen Lihua menghela napas panjang. Kepalanya menoleh perlahan ke belakang. Papan nama keluarga Qu masih tergantung kokoh di atas sana, berkilau diterpa cahaya lentera malam, namun justru membuat nyeri di dadanya kian perih. Bayangan Su Minshan yang memeluk lengan Qu Liang kembali terpatri jelas di benaknya—sebuah momok menyakitkan yang tak bisa ia singkirkan. Selama tiga tahun ini, apa yang tidak ia lakuk

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 7. Hukuman

    Pelataran Kediaman Qu diterangi obor-obor tinggi. Angin malam berembus dingin, menyapu daun-daun kering di lantai batu. Langit gelap, tanpa bintang—seolah turut menutup mata pada apa yang akan terjadi. Shen Lihua dibawa keluar oleh dua pengawal. Ia berjalan tanpa perlawanan. Wajahnya tampak tenang, seperti orang yang tak menanggung beban apa pun. Punggungnya tegak, langkahnya tenang, meski wajahnya tampak pucat di bawah cahaya api. Kalung giok putih masih tergantung di lehernya, satu-satunya benda yang ia bawa karena benda itu adalah hadiah dari neneknya di kediaman Shen. Para pelayan berkerumun di kejauhan. Tak satu pun berani bersuara untuk membela Shen Lihua. Termasuk Luo Qingyu, gadis itu berdiri di lorong menuju pelataran. Tangisnya belum padan, melihat sebentar lagi Shen Lihua akan menerima hukuman. Qu Liang berdiri di tangga batu, menatapnya dari atas dengan sorot mata dingin. "Kau menampar Su Minshan?" tanyanya langsung. "Benar," jawab Shen Lihua tanpa menun

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 6. Fitnah Keji

    Pintu Paviliun Teratai kembali terbuka dengan tergesa. Su Minshan berlari keluar dengan wajah pucat, satu tangan menutup pipinya yang masih terasa panas. Jejak merah masih jelas membekas di kulitnya yang pucat. Air mata menggenang di pelupuk mata. Ia tahu Jenderal Qu baru saja kembali dari Paviliun Anggrek. Tanpa ragu, Su Minshan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Qu Liang yang berdiri tak jauh dari paviliun. "Jenderal." Suaranya bergetar, sengaja ia buat lembut agar terdengar rapuh. "Hamba… hamba tidak tahu kesalahan apa yang telah hamba perbuat. Nyonya Shen… dia menampar wajah hamba tanpa alasan." Qu Liang tertegun sejenak. Tangannya mengepal perlahan. Baru saja ia bertemu Shen Lihua di kamarnya—wanita itu dengan tenang menyerahkan surat perceraian, memilih pergi dari Kediaman Qu tanpa satu pun tuntutan. Lalu sekarang… Kenapa Shen Lihua berani melukai wanita yang mengandung calon darah keturunannya? "Katakan sekali lagi," ucapnya pelan. Nada suar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status