Share

5

Auteur: Bhay Hamid
last update Dernière mise à jour: 2025-10-03 22:41:19

Torin duduk di sisi ranjang ibunya, Aruna, di Pondok Belukar. Sambil membelai rambut putih ibunya.

Meskipun Bara Dendam telah menyala, hati Torin saat ini dibanjiri oleh gelombang kesedihan dan rasa bersalah.

Bau pengasingan dan penyakit di ruangan itu terasa memuakkan, mendorongnya untuk melarikan diri ke masa lalu, ke saat segalanya belum hancur.

Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa kecilnya yang penuh cahaya. Ia mengingat ayahnya, Kaisar Theorin seorang pemimpin yang dikagumi di seluruh Kekaisaran Azure.

Kaisar Theorin adalah sosok yang gagah, namun hangat dan bijaksana. Ia terkenal karena tawa besarnya dan matanya yang selalu memancarkan kebanggaan saat menatap Torin dan Aruna.

Mereka sedang berada dalam perjalanan berburu resmi ke Hutan Gorgo yang lebat dan curam. Saat itu, Torin masih berusia delapan tahun. Kaisar Theorin membawanya dan Aruna, menjauh dari intrik Istana Utama.

Torin ingat ayahnya tertawa terbahak-bahak, menggendongnya di pundak sambil menunjuk seekor rusa. Aruna berdiri di dekat Kaisar, wajahnya bersinar oleh kebahagiaan. Itu adalah momen keluarga yang sempurna.

Lalu, tragedi itu datang. Kaisar Theorin tiba-tiba terpeleset di tepi jurang yang tersembunyi. Pengawal istana berteriak panik. Namun, Torin, yang bersembunyi di balik pohon, sempat melihat kilatan di balik semak-semak.

Ia melihat Permaisuri Livia (ibu Pangeran Valari dan Putri zoyi), Permaisuri yang dingin dan penuh ambisi, berdiri di kejauhan. Ia tersenyum sinis sesaat sebelum tubuh Kaisar Theorin jatuh menghilang ke dalam jurang yang dalam, diselimuti kabut tebal.

Resmi dinyatakan sebagai kecelakaan berburu, Kaisar Theorin tewas. Tetapi Torin tahu—itu adalah kelicikan Permaisuri Livia. Kelicikan itulah yang merenggut ayahnya dan melenyapkan kebahagiaan mereka.

Kenangan manis dan mengerikan itu menghantam Torin dengan kekuatan penuh. Ia kembali ke kenyataan Pondok Belukar, seperti pondok kematian.

“Seharusnya aku yang jatuh,” bisik Torin, air mata baru mengalir di pipinya yang memar.

“Seandainya saat itu aku tidak meminta Ayah untuk melihat rusa itu, mungkin ia tidak akan berada di tepi jurang.”

Torin menggenggam tangan ibunya yang kurus. Permaisuri Livia dan anak-anaknya tidak hanya membunuh ayahnya dan meracuni ibunya; mereka juga berhasil membunuh jiwa Torin yang lugu.

“Ibu, maafkan aku. Aku adalah kelemahanmu. Aku adalah alasan penderitaanmu,” isak Torin dalam hati.

***

TORIN: (Suaranya lembut, dipaksakan ceria, tetapi matanya penuh kesedihan) Ibu, bangun. Aku bawakan sup hangat. Tabib bilang, Ibu harus makan yang bergizi agar lekas pulih. Ini, sup ini dibuat khusus untuk Ibu. Ibu harus kuat.

TORIN: Rasanya enak, Bu, sungguh. Aku belajar membuatnya sendiri. Ibu lihat, Torin baik-baik saja, tidak ada yang memukul Torin lagi. Valari tidak datang. Torin janji, Torin akan bekerja keras hari ini, dan sore nanti Torin akan membawakan Ibu bunga liar dari pinggir hutan.

TORIN: Ibu tidak perlu khawatir tentang Torin lagi. Torin kuat, Bu. Torin akan ikuti semua nasihat Ibu. Torin akan... (Suara Torin tercekat, ia menahan tangis yang membakar tenggorokannya.) Torin harus pergi sekarang. Kuda-kuda istana menunggu. Torin janji, Torin akan kembali. Tidurlah yang nyenyak, Ibu.

Torin berjalan cepat menyusuri jalan setapak pinggiran kompleks istana, menuju kandang kuda. Ia menundukkan kepala, menghindari kontak mata, memainkan perannya sebagai 'sampah yang bernapas' agar tidak menarik perhatian Pangeran Valari.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di depannya, berdiri seorang gadis yang memancarkan aura lembut namun bermartabat.

Zeva, putri tunggal Patih Zarka, salah satu pejabat paling berpengaruh di Kekaisaran Azure. Zeva terkenal karena kecantikannya yang sederhana dan kebaikan hatinya.

ZEVA: (Zeva tersenyum kecil, pandangannya tidak merendahkan, melainkan penuh simpati. Ia tahu siapa Torin.) Selamat pagi, Torin. Saya sudah lama tidak melihatmu berjalan ke arah kandang kuda.

TORIN: (Terkejut, ia segera menundukkan kepala, menghindari tatapan mata Zeva. Ia tidak terbiasa disapa dengan nada hormat.) Selamat pagi, Putri Zeva. Saya... sedang menjalankan tugas. Saya harus segera merawat kuda-kuda istana.

ZEVA: Jangan terlalu tergesa-gesa. Apakah ibumu... Permaisuri Aruna... apakah kondisinya membaik? Saya dengar beliau sakit.

TORIN: (Torin merasakan tusukan di dadanya. Ia teringat janjinya di depan ibunya. Ia harus berbohong.) Kondisi Ibu... sudah jauh lebih baik, Putri. Terima kasih atas perhatiannya. Beliau hanya perlu banyak istirahat.

ZEVA: (Zeva mengamati wajah Torin yang memar di bagian rahang dan lengannya yang berdarah tersembunyi di balik kain lusuh. Matanya dipenuhi kesedihan yang tulus.) Torin, saya turut prihatin atas apa yang menimpamu dan ibumu.

Tapi... (Zeva merendahkan suaranya agar hanya didengar oleh Torin.) Mengapa kamu harus terus-menerus melakukan pekerjaan yang begitu kasar? Mengurus kuda-kuda, membersihkan parit... Bukankah kamu... Putra Kaisar?

TORIN: (Dia tahu siapa aku. Dia tahu kebenaran di balik penderitaanku.) (Torin mengangkat kepalanya sedikit, menatap Zeva dengan hati-hati. Ia harus tetap waspada.) Gelar tidak berarti apa-apa, Putri. Saya hanyalah pelayan Kekaisaran sekarang. Saya harus bekerja agar bisa bertahan hidup.

ZEVA: Tapi bukankah ada tugas lain yang lebih layak? Saya bisa meminta Ayah saya—Patih Zarka—untuk memindahkanmu ke perpustakaan istana. Di sana lebih aman dan damai. Ayah saya sangat menghormati mendiang Kaisar Satria.

TORIN: (Tawaran itu adalah godaan yang besar. Tempat aman. Perpustakaan—tempat pengetahuan yang ia rindukan. Tapi Nasihat Kalam terngiang: Jadilah bayangan di balik pilar. Torin menolak dengan sopan, menyembunyikan bara di hatinya.)

Terima kasih, Putri Zeva. Kebaikan Anda sungguh tidak terhingga. Namun, saya lebih suka berada di sini. Dengan kuda-kuda, saya merasa lebih bebas. Perpustakaan... terlalu banyak mata. Saya lebih nyaman di tempat tersembunyi.

ZEVA: (Zeva menghela napas, kecewa dengan penolakan Torin, namun ia menghormatinya.) Baiklah, Torin. Tapi ingat, jika kamu butuh sesuatu—apapun itu—jangan ragu. Patih Zarka selalu menganggap dirimu sebagai anak yang seharusnya dihormati.

(Zeva mundur selangkah, lalu berbisik dengan nada memperingatkan.) Berhati-hatilah dengan Putri Valari dan Pangeran Dharma. Mereka tidak akan pernah berhenti.

Torin mengangguk singkat.

TORIN: Saya akan mengingatnya, Putri Zeva. Terima kasih.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   75

    Matahari pagi menyinari puncak Tebing Tra dengan lembut, memantulkan cahaya dari butiran uap air terjun yang kini selalu tampak kebiruan.Suasana di Askaron begitu hidup; orang-orang sibuk mengemas barang, membawa persembahan, dan bunga-bunga hutan untuk dibawa turun ke wilayah bawah.Di balkon kediamannya yang menghadap langsung ke hamparan hijau, Torin sedang berdiri menatap cakrawala. Langkah kaki yang mantap namun ringan terdengar mendekat.Itu adalah Rion, yang kini terlihat lebih segar dengan pakaian linen berwarna cokelat bumi, selaras dengan energi hutan yang mengalir dalam dirinya.Rion berdiri di samping Torin, menatap ke arah Safana Tra yang kini tampak seperti permadani hijau zamrud di kejauhan."Tuan," buka Rion dengan nada bicara yang penuh hormat namun hangat. "Lusa adalah hari yang dijanjikan. Saya akan melangsungkan pernikahan dengan Lara di Safana Tra. Semua persiapan sudah hampir rampung."Torin menoleh dan menepuk bahu sahabatnya itu. "Aku tahu, Rion. Seluruh Askar

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   74

    Kemudian Torin menurunkan zeni di depan kamar tebing atas kamar yang sangat prifat dan dari kamar ini bisa melihat suasana dari setengah ketinggian tebing melihat penduduk suku ek yang berdiam di bantaran Sungai tra.Malam semakin larut, namun gema pesta di kediaman Zano masih terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Di puncak tebing, di dalam kamar yang berbatasan langsung dengan gemuruh halus Air Terjun Tra, suasana terasa jauh lebih tenang namun bermuatan energi yang pekat.Torin berdiri di balkon, menatap aliran air biru yang menyala dalam kegelapan. Tiba-tiba, Zeni masuk dengan langkah yang manta pia memberikan jahe madu kepada suaminya. Mereka menikmati malam dari balkon sebelum bercinta kembali.Zeni mendekat, langkah kakinya terhenti tepat di belakang Torin. Ia bisa merasakan hawa dingin yang segar—bukan dingin yang membekukan, melainkan energi murni dari Pedang Langit yang merembes keluar dari pori-pori Torin."Semua orang merayakan namamu di bawah sana," bisik Zeni, suaranya ser

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   73

    Zano dan Zeni yang sedang berjalan melewati pasar untuk mengambil pasokan logistik, ikut menimpali pembicaraan warga dengan gaya mereka yang khas."Dengar semuanya!" seru Zano sambil membusungkan dada. "Askaron bukan lagi desa kecil yang bersembunyi di balik pohon rot. Kita punya pemimpin yang bisa memerintah air dan menumbuhkan hutan dalam semalam.Persiapkan diri kalian, karena Askaron akan menjadi nama yang paling disegani di seluruh daratan ini!"Zeni menambahkan dengan nada yang lebih serius, "Tapi jangan cuma bergantung pada kekuatan mereka. Tuan Torin dan Rion sudah memberi kita fondasi yang kuat.Sekarang tugas kita adalah membangun dindingnya. Askaron yang kuat lahir dari rakyat yang tangguh!"Sorak-sorai kecil terdengar dari kerumunan. Ada rasa bangga yang menyelimuti setiap keringat yang jatuh pagi itu. Mereka yakin, selama Torin beristirahat di tebingnya dan Rion berjaga di safananya, Askaron akan tetap aman.**Malam jatuh di Tanah Tra, namun kegelapan tak lagi terasa men

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   72

    Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela formasi batuan tebing, membawa kehangatan yang berbeda dari biasanya. Jika kemarin matahari terasa membakar, pagi ini sinarnya terasa lembut, seolah ikut merayakan lahirnya kehidupan baru di Tanah Tra.Di kamar pribadinya yang terpahat langsung di dinding tebing, tak jauh dari gemuruh halus air terjun, Torin merebahkan tubuhnya. Ruangan itu terasa sejuk uap air yang terbawa angin masuk melalui jendela, memberikan aroma mineral yang segar.Torin masih mengenakan pakaian yang semalam bersinar biru, namun kini ia tampak seperti manusia biasa yang kelelahan. Meski begitu, di bawah kulitnya, masih terasa denyut energi Pedang Langit yang telah menyatu dengan jiwanya.Setiap kali ia memejamkan mata, ia bisa mendengar aliran air di seluruh sungai seolah itu adalah detak jantungnya sendiri.Ia butuh waktu untuk menstabilkan kekuatan besar ini. Dengan napas yang teratur, Torin tertidur lelap, sementara air terjun di luar kamarnya terus mengalir denga

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   71

    Di tengah gemuruh air yang kini sewarna langit senja, Torin mulai bergerak. Ia tidak melangkah, melainkan meluncur keluar menembus tirai air dengan posisi kaki yang masih bersila sempurna. Jubahnya kering, seolah air itu sendiri segan untuk menyentuhnya.Ia melayang rendah di atas permukaan Sungai Tra, menciptakan riak-riak cahaya setiap kali energinya bersentuhan dengan air. Tubuhnya seakan menjadi inti dari rembulan itu sendiri.Tenang, dingin, namun menyimpan kekuatan penghancur sekaligus penyembuh yang luar biasa. Setiap embusan napas Torin kini selaras dengan denyut alam semesta di tanah Tra.Sementara Torin menguasai elemen langit dan air, di kejauhan, Rion melakukan hal yang berbeda. Jika Torin melayang menuju angkasa, Rion justru semakin menenggelamkan kesadarannya ke dalam inti bumi.Telapak tangan Rion menyentuh tanah safana yang kering, dan seketika itu juga, warna cokelat kusam mulai memudar.Seperti tinta yang tumpah di atas kertas, warna hijau zamrud merambat cepat dari

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   70

    Tangan Aruna yang lembut namun cekatan sibuk merawat tanaman-tanaman obat langka yang sengaja ia tanam:Tanaman yang ia siapkan untuk memulihkan energi Torin setelah semedi Api Biru.Obat yang ia racik khusus untuk menetralisir efek samping dari aroma iron brak jika suatu saat anak buahnya terpapar terlalu lama.Aruna adalah sosok ibu yang pendiam namun penuh kasih. Baginya, jika Torin adalah pedang yang merobek musuh, maka dialah obat yang menyembuhkan luka-luka anaknya. Ia terus menanam dan berdoa, memohon pada alam agar putra tercintanya tetap memiliki sisi kemanusiaan di tengah kobaran Api Biru.Matahari akhirnya menghilang sepenuhnya di garis cakrawala. Paman Tapa beranjak dari bayang-bayang pepohonan, melangkah menuju Rion dan Lara untuk mengajak mereka pulang ke rumah."Sudah cukup bermesraannya," suara berat Paman Tapa mengagetkan mereka berdua. Rion langsung berdiri tegak seperti prajurit, membuat Lara tertawa geli. "Malam ini bulan purnama akan segera naik. Kita harus kembal

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status