Share

Bab 122

Author: Skyy
last update publish date: 2026-01-02 23:06:07

“Baiklah, semua tamu di sini adalah undanganku. Tidak perlu merusak suasana.”

Ia berbalik ke arah Harris, lalu tersenyum sopan, namun sebuah senyum yang penuh kepalsuan. “Sebagai permintaan maaf,” katanya sambil mengangkat gelas, “Aku ingin bersulang denganmu, Tuan Gunawan. Apa yang mereka katakan memang tidak enak didengar… meski sayangnya, itu semua benar.”

Beberapa orang tertawa lagi.

“Tuan Kusuma memang besar hati.”

“Kalau aku di posisi Harris, pasti sudah bersyukur.”

“Tuan Gunawan, ini keh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 227

    “Kirana, ini pertama kalinya Harris datang ke Kota Puspadana. Kenapa tidak kamu ajak dia berkeliling saja? Kondisi keluarga kita sekarang kurang pantas untuk menjamu tamu.”Suara Reynan terdengar santai, tapi mengandung dorongan halus yang sulit ditolak.Di sampingnya, Bianca segera menimpali dengan senyum lembut. “Betul itu, Kirana. Kamu pasti punya banyak hal untuk diceritakan ke Harris.” Ia melirik sekilas ke arah pemuda itu, lalu melanjutkan, “Pergilah kalian berdua. Kami sudah cukup puas melihatnya. Tidak perlu menemani kami di sini.”Nada bicaranya ringan. Namun arah kalimat berikutnya berubah.Tatapan Bianca yang tenang dan tegas beralih lurus ke Harris Gunawan. “Jaga Kirana baik-baik.”Kalimat itu sederhana, tapi maknanya berat. Restu yang diucapkan tanpa perlu diperjelas lagi.Untuk sesaat, ekspresi Harris berubah tipis. Bukan karena gugup, tapi karena situasi ini jelas melenceng dari rencana awalnya.Ia datang dengan tujuan jelas, berperan, menyelesaikan masalah, lalu pergi.

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 226

    Atmosfer di sekitar runtuhan itu berubah hening, tapi menekan. Seolah udara ikut menahan napas.Para elit dari keluarga Arkana berdiri kaku, wajah mereka kehilangan warna. Ketakutan merayap tanpa ampun, menyusup ke dalam tulang, membekukan nalar. Tak ada lagi sisa kesombongan yang tadi sempat mereka pamerkan.Lalu—Bruk!Seseorang ambruk lebih dulu.Duk! Duk! Duk!Tanpa banyak bicara, pria itu langsung berlutut, dahinya menghantam tanah berkali-kali, tanpa peduli kulitnya mulai terkelupas.“T-Tuan muda… ampuni aku! Tolong… jangan bunuh aku!”Suara itu terdengar serak.Pemandangan itu seperti pemicu.Satu… dua… lalu semuanya.Bruk! Bruk! Bruk!Orang-orang lain ikut berjatuhan, berlutut tanpa harga diri, tanpa jeda. Kepala mereka menghantam tanah berulang kali, seolah berharap setiap benturan bisa membeli sedikit belas kasihan.“Tuan muda, selamatkan kami!”“Kami salah! Kami tidak akan berani lagi!”“Tolong, anggap saja kami tidak pernah ada! Lepaskan kami!”Bahkan ada yang menghantamka

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 225

    Namun Harris menjawab datar. “Tidak bisa.”Senyum itu membeku, mata Arman langsung menggelap. “Aku sudah berlutut, aku sudah membunuh. Mengapa kau tak menyembuhkanku? Atau kau sebenarnya tak mampu?”Nada suaranya mengandung ancaman.Harris mencibir. “Luka sepele seperti itu? Aku bisa menyembuhkannya dalam setengah jam.”“Lalu kenapa kau tidak melakukannya?” Arman bertanya dengan kesal.Harris berkata datar, namun sorot matanya semakin dingin. “Karena aku tidak mau.”Arman tertegun, wajahnya berubah merah.Harris tersenyum tipis. “Aku hanya bilang bisa menyembuhkan. Aku tak pernah berjanji akan melakukannya. Semua yang kau lakukan hanya anganmu sendiri.”BAAM!Arman membeku, kemarahan meledak di matanya. “Kau… mempermainkanku?!”Harris menatapnya dingin. “Ya, bisa dibilang begitu.”Semua orang tersedak.Ia mempermainkan Grandmaster setengah langkah secara terang-terangan?!Benar-benar gila!Namun Harris sudah memutuskan sejak awal. Ia melihat niat membunuh tersembunyi di mata Arman. Ti

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 224

    Namun Arman mengabaikan mereka, fokusnya kembali pada Harris. Ekspresinya berubah. “Hah?” Ia menatap tajam. “Menarik… bocah, kau bahkan tidak mundur selangkah pun menghadapi auraku. Kau punya kemampuan.”Aura menekan Arman Arkana sama sekali tidak menggoyahkan Harris.Tubuhnya berdiri tegak seperti tiang baja, tak bergeser setapak pun. Namun sorot matanya berubah dingin.Ia menoleh ke arah Reynard yang pucat, masih ditopang Kirana dan Bianca. Raut wajahnya mengeras. Upaya Reynard tadi untuk melindunginya jelas menambah rasa hormat Harris. Kini pria itu justru terluka akibat tekanan Arman.Harris tidak akan mengabaikan ini. Hari ini, Arman sudah masuk daftar targetnya.Sementara itu Arman tidak menyadari perubahan suasana. Melihat Harris diam saja, amarahnya melonjak. “Bocah! Aku bicara padamu! Kau tuli?!”Harris akhirnya menoleh. Ia menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara datar. “Dalam satu menit, kau akan berlutut di hadapanku, meminta maaf pada Paman Reynard. Dalam tiga menit

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 223

    Harris menjawab datar. “Benar.”Satu kata sederhana.Harris melangkah mendekat, Pedang Palung Merah menggantung di tangannya. “Barusan kau lolos. Aku ingin lihat, apakah keberuntunganmu ada di kedua kalinya?”Aura membunuh menguar dari tubuhnya.Wusss—Udara bergetar tipis. Semua orang merinding, jantung mereka seperti meloncat ke tenggorokan.Namun tepat saat itu, sebuah suara tua menggema keras di seluruh aula.“Beraninya kau, bocah!”Bentakan keras itu mengguncang seluruh aula.Brak!Pintu utama terbuka lebar. Para anggota keluarga Arkana otomatis menyingkir, membentuk jalur. Seorang lelaki tua berjubah abu-abu berjalan masuk perlahan. Wajahnya penuh keriput, namun sorot matanya tajam, napasnya stabil, aura yang dipancarkan begitu berat.Damian langsung tersentak. “Leluhur… Anda?”Reynan di sudut ruangan ikut gemetar, tubuhnya menegang tanpa sadar.Orang tua itu adalah Arman Arkana.Usianya lebih dari dua abad. Tingkat kultivasinya sudah menyentuh setengah langkah Grandmaster, jauh

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 222

    Kartu tersembunyi keluarga Arkana akhirnya muncul.Pria berjubah gelap itu sejak awal dipelihara secara diam-diam oleh keluarga Arkana sebagai senjata pembunuh. Spesialisasinya jelas, menyelinap, menunggu, lalu menghabisi target dalam satu momen mematikan. Level kekuatannya bahkan tak kalah dari kepala keluarga sendiri.Dan yang paling mengerikan, mereka semua berada di Fase Fondasi tingkat akhir.Sejak awal, Damian memang tidak hanya membawa elit keluarga Arkana. Ia juga sudah menyiapkan kartu pamungkas ini untuk menunggu di balik bayangan.Artinya, keluarga Arkana tidak datang dengan lima ahli Fase Fondasi.Mereka membawa enam.Satu orang sudah bersembunyi lama di aula keluarga Adiwangsa, menunggu kesempatan. Inilah alasan Damian tetap memerintahkan lima ahli menyerang langsung meski tahu tiga puluh enam elit mereka tak mampu mengimbangi Harris.Semua itu hanya umpan.Tujuan sebenarnya membuka celah, lalu menghabisi Harris dalam satu tusukan fatal.Damian menyeringai puas dalam hati

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 195

    Sementara itu, di sisi lain gedung, Harris dan kedua gadis itu sudah memesan ruang latihan pribadi.Begitu pintu ruangan tertutup, Kayla langsung berseru. Matanya berbinar menatap Harris. “Harris! Itu tadi gila sekali!”Nadira tersenyum tipis, kekuatan Harris sekali lagi menghancurkan pemahaman mer

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 194

    Kerumunan langsung tertawa.“Hahaha! Apa yang ingin dia lakukan?”“Jangan bilang dia mau membengkokkan pelat itu seperti Guru Galen?”“Jangan mimpi! Pelat itu sudah dilipat dua kali. Sekarang ketebalannya hampir dua sentimeter!”“Kalau dia bisa membengkokkannya, aku makan tiga kilo kotoran di sini

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 190

    ‘Tunggu saja. Nanti aku pasti memberi pelajaran padamu!’Melihat tingkahnya, Nadira hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. Sementara itu Harris sama sekali tidak memedulikan ekspresi jahil Kayla.Tak lama kemudian, mereka tiba di pinggir jalan.Karena tidak ada satu pun dari mereka yang memba

  • Bangkitnya Dokter Agung   Bab 189

    Kayla langsung berdiri. “Jaga bicaramu!”Namun Arkan hanya tertawa sinis. “Menarik sekali. Perguruan Bela Diri Amethys sekarang sampai harus menjual harga diri demi pria seperti ini?”Mata Harris menyipit, udara di sekitar meja berubah.Wajah Nadira memucat. Urat di jemarinya menegang. “Aku tidak—”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status