MasukMikhaila Ameera Violetta POV
Saat aku mendengar suara alarm mobil Ero, aku langsung berlari mendekati Ero. Aku langsung menuju ke arah sisi penumpang depan dan masuk ke dalam. Saat ero melihatku sudah berada di dalam mobil dan sedang ngos-ngosan, ia menggelengkan kepalanya.
"Lo dari mana aja sih, Mik?"<
Mikhaila Ameera Violetta POVHari demi hari aku lewati dan akhirnya kini kandunganku tepat berusia empat bulan. Hari ini aku dan Bara berencana untuk menggelar acara pengajian empat bulanan kehamilanku di rumah kami. Ya, jika dulu saat hamil Langit, semua dilakukan di rumah orangtuaku, maka kali ini kami menggelarnya di rumah kami sendiri. Untuk acara hari ini, aku bahkan sudah mengundang Maureen sejak sebulan yang lalu. Tidak hanya Maureen, namun juga Mamaku yang memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktunya dengan travelling, aku pun mengundangnya jauh-jauh hari.Pagi ini saat Mama sampai di rumahku, aku dan Bara menatapnya dengan tatapan penuh keheranan. Sungguh, Mamaku berbeda sekali dengan dirinya yang dulu. Penampilan bak sosialita, segala barang branded yang melekat di tubuhnya juga sudah hilang. Kini ia hanya tampak seperti
Mikhaila Ameera Violetta POVBaru aku sadari kini jika yang namanya rasa ketika hamil itu berbeda-beda. Dulu di kehamilan pertama, aku benar-benar lemah, bahkan kondisiku cukup mengkhawatirkan, tapi saat ini aku justru tidak merasa sedang mengandung. Aneh memang, tapi kenyataan ini yang aku rasakan kali ini dan karena semua ini, Bara menjadi sedikit tidak percaya jika aku hamil. Padahal sudah aku berikan hasil pemeriksaan USG, tapi dia tetap saja meragukannya. Daripada berdebat terus menerus dalam tiga hari belakangan ini, akhirnya aku menyetujui keinginan Bara untuk memeriksakan lagi kondisi kehamilanku ke rumah sakit.Meksipun aku sudah berjanji untuk bertemu dokter Hans bulan depan, tapi hari ini aku sudah duduk di ruang tunggu pasien rumah sakit. Berbeda dengan dulu, kini di sampingku ada B
Bara Nareswara POVAku melihat jam yang ada di pergelangan tangan kiriku. Aku gelengkan kepala kala menyadari jika aku baru sampai di rumah pukul sebelas malam. Aku yakin pasti Mikha sudah tidur jam segini. Anehnya, sejak aku pulang dari tour, Mikha menjadi istri yang tidak terlalu banyak bertanya di mana aku berada. Jika aku tidak menghubunginya tadi sore untuk mengatakan jika aku akan pulang terlambat, dia bahkan tidak meneleponku sekedar untuk menanyakan apakah aku sudah makan atau belum? Sedikit aneh tapi semoga saja ini hanya sementara bukan untuk selamanya.Rasanya diabaikan olehnya seperti ini membuatku sedikit merasa kecewa. Mungkin di mana-mana laki-laki itu sama saja. Meskipun tidak suka pada perempuan yang terlalu cemburuan, tapi mereka senang jika diperhatikan dengan detail.
Mikhaila Ameera Violetta POV Setelah Bara pulang dari tour bersama band-nya kemarin siang, ia menjadi suami yang lebih banyak gelendotan pada istri. Meskipun aku tidak mempermasalahkan hal itu, namun ini membuatku tidak bisa pergi ke mana-mana selain hanya berkeliling kamar kami dan kamar mandi saja. Apalagi Bara baru saja menuntut nafkah batinnya padaku sejak sore sampai pagi dini hari tadi. Meksipun sebenarnya aku ingin menolak karena ini sudah hari ke tujuh aku telat kedatangan tamu, tapi aku tidak tega padanya. Sudah empat hari ia meninggalkan rumah dan aku tahu bahwa Bara tidak akan kuat jika menahannya lebih lama lagi.Kini saat Bara belum bangun dari tidurnya, aku memilih menyingkirkan tangannya pelan-pelan dari atas pinggangku. Pelan-pelan aku bangun dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Baru beberapa langkah aku tapaki, suara Bara sudah membuatku menghentikan langkah ini."Kamu mau ke mana, Yang?""Kamar mandi, Bar," jawabku sambil menoleh ke arahnya."Nanti aja. Bali
Bara Nareswara POVKami adalah pria pria kesepianJauh dari rumah dan ditinggalkan cintaJreng....jreng.... Jreng...Demi apapun telingaku rasanya sudah pekak sejak tadi karena mendengar suara Kafka yang baru saja menyanyikan lagu Pria kesepian milik band Sheila on Seven. Andai saja suaranya semerdu suara sang vokalis asli, tentu saja aku tidak akan protes seperti ini. Ini sudah suaranya seperti kodok kegencet pintu, fals lagi. Benar-benar tidak enak didengarkan di telinga."Lo doang kesepian. Gue mah kagak. Bini gue di rumah lagi hamil," cetus El yang tidak terima dengan nyanyian Kafka.Sudah tiga hari ini kami mulai tour lagi. Meskipun hanya dua kota dan bukan tour panjang, namun ini cukup sebagai hiburan bagiku selama weekend. Selama di rumah aku tidak bisa mengabaikan Mikha yang sering merengek karena ia tak kunjung mendapatkan garis dua. Semua semakin menjadi-jadi semenjak Rara positif hamil. Ingin rasanya kala itu aku mementung kepala El. Kenapa ia harus pamer di story WhatsApp?
Mikhaila Ameera Violetta POVSetelah aku dan Bara dipijat, kami memilih menyewa hotel di daerah Gunung Kidul ini. Anggap saja kami sedang staycation tipis-tipis. Sayangnya kami tidak bisa bersilaturahmi di atas ranjang karena tukang pijat itu mengatakan kepada kami jika dua hari setelah dipijat, sebaiknya kami baru melakukan pergulatan di atas ranjang.Kini saat Bara mulai masuk ke kamar mandi, aku mulai membongkar tas ransel yang Bara siapkan sendiri. Aku tidak tahu apa saja yang ia packing. Semoga saja keperluan pribadiku tidak ketinggalan sama sekali.Aku tersenyum kala melihat apa saja yang Bara bawa. Ternyata semua keperluanku ada semua. Meskipun hanya baju ganti satu setel untuk besok pagi dan satu buah lingeri







