เข้าสู่ระบบKetika Rani sedang menata pakaian di kamar tidur, Dimas muncul dari ruang gantinya. Wajah tampannya mengeras, garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Matanya sempat menyipit melihat kegugupan Rani.
"Rani," panggilnya tiba-tiba, membuatnya tersentak. "Ikut aku. Aku butuh pendapatmu." Rani menurut, masuk ke ruang ganti yang wangi cologne maskulin dan aroma kulit. Ruangan itu rapi sempurna: jas dan kemeja tergantung lurus di lemari mahoni, dasi tersusun rapi berdasarkan warna di laci beludru. Dimas berdiri di depan cermin panjang, membuka kancing kemejanya satu per satu sambil menatap bayangannya. Rani berusaha menahan pandangan, tapi matanya sempat terpaku pada dada bidang yang kian terbuka. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya tiba-tiba, berbalik menghadap Rani dengan kemeja setengah terlepas. Rani mengerjap, sadar ia tadi lebih sibuk melirik tubuh Dimas daripada memperhatikan kemeja yang dipegangnya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan pada kain putih yang bersih itu. "Bagus," jawabnya pelan, mencoba terdengar tenang. "Elegan sekali." Dimas mengernyit tipis sambil menyingkirkan kemejanya. "Bagus?" ulangnya skeptis, satu alis terangkat. "Hanya itu yang bisa kau katakan?" Pipi Rani memanas, rasa malu menjalar sampai ke lehernya. Jawabannya tadi terdengar terlalu singkat, terlalu hambar. Ia menarik napas dalam-dalam lalu melangkah sedikit lebih dekat, mengulurkan tangan untuk meraba kain itu. "Maksudnya... bahannya indah sekali," ujarnya pelan, jemarinya menyusuri permukaan kapas halus. "Potongannya juga pas, bisa membuatmu terlihat makin berwibawa." Tatapan Dimas mengikuti gerakan tangannya. Untuk sesaat, ketegangan di wajahnya mengendur, seolah penilaian Rani yang lebih tulus mampu meredakan amarahnya. "Kau sungguh berpikir begitu?" tanyanya lebih lembut, nadanya jauh berbeda dari sebelumnya. Rani mengangguk mantap, matanya bertemu dengan pantulan Dimas di cermin. "Tentu. Seleramu memang tak pernah salah." Ada jeda yang sarat sesuatu di antara mereka. Ruang ganti yang sempit seolah semakin menyusut, udara di dalamnya menegang oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Dimas berbalik, menatapnya langsung. Lalu, dengan nada datar tapi penuh kendali, ia berkata, "Bawakan aku teh ke ruang kerja." Rani mengangguk cepat, hampir lega mendapat alasan untuk keluar dari situasi yang mencekam. "Baik, Kak. Segera aku bawakan." Ia bergegas ke dapur, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih tak beraturan. Dengan hati-hati ia mengetuk pintu ruang kerja sebelum masuk. Dimas sudah duduk di balik meja mahoninya, dikelilingi rak buku tinggi dan lukisan yang menghiasi dinding. Ia tampak begitu fokus pada dokumen-dokumen di depannya hingga tidak mengangkat kepala ketika Rani meletakkan cangkir teh di meja. Rani ragu sejenak, tak tahu apakah harus menunggu atau segera pergi. Tepat ketika ia hendak mundur, tangan Dimas terulur mengambil cangkir. Ujung jarinya bersentuhan dengan jari Rani. Sentuhan singkat itu terasa seperti aliran listrik yang membuatnya terpaku. Bahkan saat cangkir sudah aman di genggaman Dimas, jemarinya masih menahan pergelangan tangan Rani sedetik lebih lama dari yang diperlukan. Tatapannya akhirnya terangkat, menancap langsung ke mata Rani—tajam, intens, membuat napasnya tercekat. "Biarkan pintunya terbuka," katanya rendah, serak. "Dan... tetaplah di sini." Kata-kata itu jatuh berat di udara, sarat makna yang tak terucapkan. Rani menelan ludah, tubuhnya tegang. Namun bibirnya bergetar pelan mengucap, "Baiklah, sesuai dengan perintahmu." Dimas melepaskan pergelangan tangannya, lalu kembali menekuni dokumen di depannya, seolah tidak ada apa-apa. Tapi bagi Rani, sisa hangat sentuhan itu masih membekas di kulitnya, membakar samar. Ia menarik kursi di sudut ruangan, duduk dengan canggung di tepi dudukan, tangan terlipat erat di pangkuannya. Matanya, tanpa bisa ditahan, sesekali melirik siluet Dimas yang tampak tenang bekerja, meski atmosfer di ruangan itu terasa jauh dari biasa. Beberapa menit kemudian, setelah menyesap tehnya, Dimas membuka laci meja. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kertas mewah dan menggesernya ke arah Rani. Rani menatap kotak itu, matanya melebar. Ia menoleh ke Dimas, mencari petunjuk dari ekspresinya yang nyaris tak terbaca. "Buka," perintahnya tenang, tapi penuh bobot. Dengan jemari sedikit gemetar, Rani mengangkat tutupnya. Di dalamnya terletak sebotol parfum berdesain indah, kristal berukir rumit dengan kilau lembut. Dari botol itu menguar aroma mewah—paduan bunga eksotis dan rempah yang hangat, menggoda indera. "Ini... indah sekali," bisik Rani, memegang botol itu dengan hati-hati seakan takut menjatuhkannya. Ada rasa kagum dan syukur yang membuncah di dadanya, tapi bersamaan dengan itu, rasa bersalah ikut menggerogoti. "Kak Dimas, aku... aku tidak bisa menerimanya," ucapnya terbata, buru-buru mengembalikan botol itu ke dalam kotak. "Hadiah ini terlalu mewah. Terlalu mahal untukku." Dimas mengernyit tipis, lalu condong ke depan. "Aku bersikeras," katanya mantap. "Anggap saja ini bentuk penghargaan atas kerja kerasmu." "Aku... aku bahkan tidak tahu harus berkata apa," lirihnya, menunduk menatap jemarinya yang saling meremas. Matanya mulai terasa panas, air mata nyaris menetes karena terharu sekaligus bingung dengan kebaikan Dimas yang tak terduga. "Tidak perlu berkata apa-apa," jawab Dimas lembut, nada suaranya berbeda dari biasanya. "Kau juga berhak dimanjakan sesekali, Rani." Kata-kata itu menyusup begitu dalam hingga membuat tubuh Rani merinding. Ia menoleh perlahan, menatap Dimas dari balik bulu matanya. Saat itu, tangannya disentuh—hangat, tegas, namun lembut. Ibu jari Dimas mengusap punggung tangannya, membuat aliran listrik menjalari tubuhnya. Rani menatapnya, napasnya tercekat, jantungnya berdebar tak terkendali. "Kau benar..." bisiknya hampir tak terdengar. "Terima kasih, Kak Dimas." Sudut bibir pria itu melengkung tipis, senyum samar yang hanya bertahan sekejap. Ia menekan jemarinya pelan di tangan Rani sebelum akhirnya melepaskannya. Rani memeluk kotak parfum itu ke dadanya, merasakan kehangatan mengalir—bukan karena hadiah mahal, tapi karena perhatian di baliknya.Saat malam semakin larut, Dimas membimbing Rani kembali ke kamar vila, tangannya tetap berada di punggungnya yang kecil dengan sentuhan yang penuh posesif. Ruangan diterangi cahaya keemasan hangat dari lampu samping tempat tidur, membentuk bayangan panjang yang melengkung di lantai kayu. Dimas berbalik menghadapnya, matanya tampak lebih gelap karena nafsu yang membanjiri dirinya sambil perlahan membuka satu per satu kancing kemejanya. Nafas Rani terjepit saat melihat dada yang terpahat itu, jari-jarinya tidak bisa menahan diri untuk tidak ingin menjelajahi setiap lekukan tubuh berototnya. "Kamu tidak pernah tahu apa yang kamu lakukan padaku," gumam Dimas sambil melangkah lebih dekat, lalu menangkap wajah Rani dengan kedua tangannya. "Tidak ada orang lain yang bisa membuatku merasa seperti ini... hanya kamu." Rani meleleh dalam genggamannya, bibirnya terbuka sedikit saat dia menatapnya dengan pandangan yang penuh pemujaan. "Aku ingin membuatmu merasa nyaman," bisiknya, tangannya m
Cengkeraman Dimas di leher Rani sedikit menguat. Tatapannya tertuju pada tenggorokan itu dengan sorot intens, posesif.“Katakan,” tuntutnya, suaranya rendah dan penuh kendali. “Katakan padaku kalau kamu milikku.”Rani menelan ludah. Nadinya berdenyut jelas di bawah jemari pria itu. Ia tahu seharusnya melawan, menyangkal klaim tersebut—namun kata-kata seolah tersangkut di kerongkongannya. Alih-alih, ia hanya mengangguk kaku, pandangannya tak pernah lepas dari mata Dimas.“Bagus,” gumam Dimas. Senyum kejam terukir di sudut bibirnya. Ia melepas cengkeramannya tiba-tiba lalu melangkah mundur, merapikan kancing mansetnya dengan gerakan santai—kontras dengan ketegangan gelap yang baru saja tercipta.“Sekarang, rapikan dirimu,” perintahnya sambil melirik Rani dari ujung kepala sampai kaki. “Dan ingat, jangan satu kata pun tentang ini pada Tasya. Dia tidak akan mengerti.”Dimas berbalik dan meninggalkan dapur, menyisakan Rani sendirian bersama pikirannya—dan rasa nyeri samar yang tertinggal
Rani melesat ke dapur, tubuhnya masih bergetar kaget usai bertemu Tasya dan menemukan ruangan yang aneh itu. Dia perlu waktu sebentar untuk merapikan pikiran dan menenangkan jantung yang terus berdebar kencang. Namun saat masuk, dia terkejut melihat Dimas sudah ada di sana—bersandar di meja dengan segelas wiski di tangan. Pria itu mengangkat wajah saat Rani mendekat, pandangannya gelap dan menusuk. Rani merasakan bulu kuduknya merinding saat Dimas menaruh gelasnya lalu mendorong tubuh dari meja, berjalan ke arahnya dengan langkah yang penuh tujuan. "Rani," ucapnya pelan, suaranya rendah dan sedikit serak. "Kamu terlihat... tidak baik-baik saja." Rani menelan ludah, mundur satu langkah saat ruang pribadinya tergeser oleh keberadaan Dimas. "Aku baik saja," bohongnya, suaranya hampir tak terdengar selain bisikan. "Hanya lelah." Mata Dimas sedikit menyipit saat dia mengamati wajahnya, seolah mencari tanda-tanda kebohongan. Ia mengulurkan tangan, menyisir helai rambut Rani ke belakang t
Rani menatap memar di foto itu lama-lama, jantungnya berdegup tak karuan. Ia sama sekali tidak mengingat bagaimana bekas itu bisa muncul, namun melihatnya saja sudah cukup membuat tengkuknya dingin. Ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang membuat perutnya melilit gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi saat bulan madu mereka? Pikiran itu muncul tanpa bisa dicegah—dan lebih buruk lagi, diikuti pertanyaan yang membuat napasnya tercekat. Apakah Dimas pernah menyakitinya? Belum sempat ia menenangkan diri, suara tarikan napas pelan terdengar di belakangnya. Rani tersentak dan berputar. Tasya berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, matanya membelalak—campuran keterkejutan dan kemarahan yang nyaris telanjang. Tatapannya langsung jatuh pada foto di tangan Rani, lalu menyapu seluruh ruangan dengan cepat, seolah memastikan mimpi buruk ini benar-benar terjadi. “Rani,” ucap Tasya akhirnya, suaranya rendah, tajam, dan berbahaya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Rani mundur setengah langkah, j
Ruang konferensi dipenuhi dengungan percakapan rendah dan suara kertas yang saling bergesekan. Dimas duduk di ujung meja, tubuhnya tegak, tatapannya terkunci pada layar presentasi di depan. Namun pikirannya melayang ke tempat lain—terseret pada sosok Rani, pada kegelisahan yang perlahan berubah menjadi obsesi dan kian mencengkeramnya dari dalam.Di seberang meja, Elano Hartono—saingannya sekaligus kekasih rahasia Tasya—bersandar santai di kursinya. Senyum tipis penuh kepuasan terlukis di wajahnya. Sepanjang rapat, ia terus menyelipkan komentar sinis, mempertanyakan keputusan Dimas dengan nada seolah-olah tulus, namun cukup tajam untuk menjatuhkannya di hadapan klien penting mereka.“Keluargamu kelihatannya… agak tidak stabil,” ujar Elano ringan, sambil melirik Dimas dengan ekspresi sok pengertian. “Maksudku, punya adik ipar yang tinggal serumah—itu pasti cukup mengganggu fokus, ya.”Rahang Dimas mengeras. Jari-jarinya mencengkeram pena lebih erat dari yang seharusnya. Ia tahu Elano se
Saat matahari mulai tenggelam, bayang-bayang panjang menjalar di halaman mansion. Rani menarik diri ke kamarnya, kepalanya penuh oleh pengungkapan yang baru saja disampaikan Danish. Ia mondar-mandir tanpa tujuan, mencoba mencerna semuanya—pernikahan yang seolah dihapus dari sejarah, bisik-bisik tentang kemiripannya dengan istri pertama Dimas, serta sikap Tasya dan Dimas yang terasa ganjil setiap kali berada di dekatnya.Tiba-tiba sebuah pikiran menghantamnya, membuat langkahnya terhenti. Ia teringat bahwa hampir seluruh staf lama telah diganti tepat sebelum kedatangannya. Hanya segelintir orang yang tersisa—Rahman, Aisya, dan Danish. Apakah mereka satu-satunya yang mengetahui terlalu banyak? Orang-orang yang pernah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat?Jantung Rani berdegup lebih cepat saat ia memikirkan kemungkinan itu. Jika Tasya dan Dimas sampai berusaha menghapus masa lalu mereka, rahasia apa lagi yang sedang mereka sembunyikan? Dan mengapa, dengan semua risiko i







