登入Pricilla mengepalkan kedua tangannya di balik lengan gaunnya. Semakin lama, ia merasa Laticia perlahan kembali mengambil sesuatu yang selama ini ia yakini telah menjadi miliknya.Perhatian Carsein, kepercayaan Carsein. Bahkan kini harga diri Carsein sendiri. Sementara itu, Laticia yang masih berdiri di balik pintu Istana Ratu mendengar samar percakapan tersebut. Namun wajahnya tetap tenang. Tidak ada sedikit pun perubahan dalam ekspresinya.Ucapan Carsein tidak lagi mampu menggoyahkan hatinya. Yang ia nilai sekarang bukanlah kata-kata. Melainkan tindakan.Di sisi lain, Carsein terus melangkah menyusuri koridor utama hingga seorang asistennya segera menghampiri dan membungkukkan badan."Yang Mulia."Carsein menghentikan langkahnya."Panggil seluruh pejabat istana."Asisten itu mengangkat kepala."Termasuk para bangsawan yang terlibat dalam urusan pemerintahan beberapa bulan terakhir."Mata sang asisten membelalak."Yang Mulia... maksud Anda...""Kita akan mengadakan rapat." Nada suara
Langkah Carsein terhenti. Koridor utama istana yang semula hanya dipenuhi suara langkah kaki para pelayan kembali diliputi keheningan. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela-jendela tinggi memantulkan warna keemasan di lantai marmer, tetapi kehangatan itu sama sekali tidak mampu mengurangi jarak yang kini terbentang di antara keduanya.Carsein menatap Laticia tanpa berkedip. Selama beberapa saat, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Dahulu, setiap kali ia membutuhkan sesuatu, Laticia akan langsung mengerti bahkan sebelum ia mengatakannya. Tidak pernah ada penolakan. Tidak pernah ada syarat. Perempuan itu selalu menyelesaikan semuanya dengan tenang, seolah memang itulah tugasnya sebagai seorang ratu.Namun sekarang Laticia tidak lagi berdiri di hadapannya sebagai wanita yang akan menerima semua permintaannya begitu saja.Ia telah berubah dan perubahan itu begitu jelas hingga Carsein tidak bisa lagi berpura-pura tidak menyadarinya."Aku tahu," ucapnya akhirnya dengan su
Derap roda kereta perlahan memasuki halaman utama Istana Kekaisaran. Puluhan kesatria kekaisaran telah berbaris rapi di sepanjang jalan menuju tangga utama istana. Para pelayan, pejabat, hingga dayang istana berdiri menundukkan kepala, menyambut kepulangan wanita yang selama beberapa bulan terakhir menjadi pembicaraan di seluruh penjuru kekaisaran.Ratu telah kembali.Di puncak anak tangga, Carsein berdiri dengan jubah kebesarannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sejak fajar ia telah beberapa kali keluar masuk halaman istana hanya untuk memastikan laporan terakhir mengenai perjalanan Laticia.Kini, penantian itu akhirnya berakhir.Kereta berhenti.Seorang kesatria membuka pintu dengan hormat.Laticia turun lebih dahulu. Gaun yang dikenakannya bergerak lembut tertiup angin musim dingin. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan meski kini kembali menginjakkan kaki di tempat yang pernah hampir merenggut nyawanya.Tatapan Carsein langsung tertuju kepadanya. Entah menga
Pricilla membeku di tempatnya. Selama ini ia hanya mengetahui bahwa hubungan kedua kekaisaran cukup baik. Namun ia tidak pernah menyangka perempuan yang selama ini ia anggap hanya duduk diam sebagai ratu ternyata menjadi orang yang membangun fondasi hubungan tersebut.Carsein kembali melanjutkan langkahnya."Nanti, ketika Kaisar Barat tiba orang pertama yang akan beliau cari bukanlah aku." Ia berhenti sesaat. "Melainkan Laticia."Karena bagi dunia luar Ratu Kekaisaran bukan sekadar pendamping seorang kaisar. Ia adalah wajah diplomasi kekaisaran. Dan tidak ada seorang pun di istana ini yang mampu menggantikannya.Sepeninggal Carsein, koridor istana kembali dipenuhi kesunyian.Pricilla masih berdiri di tempat yang sama. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di telapak tangan. Wajahnya yang biasanya selalu dihiasi senyum lembut kini dipenuhi amarah yang sulit disembunyikan.Dadanya naik turun menahan emosi.Setiap ucapan Carsein terus berpu
Suasana ruang kerja Kaisar pagi itu dipenuhi ketegangan yang nyaris dapat dirasakan oleh setiap orang yang berada di dalamnya. Tumpukan dokumen memenuhi meja kerja yang besar, sementara para menteri, pejabat istana, dan kesatria berdiri berjajar menunggu keputusan berikutnya. Sejak kepergian Laticia ke Utara, hampir tidak ada satu hari pun berlalu tanpa masalah baru yang muncul di istana.Tidak ada seorang pun yang berani bersantai. Tiba-tiba, suara kepakan sayap terdengar dari luar jendela.Seekor elang pembawa pesan melesat turun dengan cepat dan mendarat di ambang jendela ruang kerja. Salah seorang kesatria segera menghampiri burung itu, melepaskan tabung kecil yang terikat di kakinya, lalu menyerahkannya kepada Carsein.Seluruh ruangan mendadak sunyi.Carsein membuka gulungan surat itu tanpa berkata apa-apa. Tatapannya bergerak cepat membaca setiap baris tulisan tangan yang begitu dikenalnya.Laporan dari Elton.Isinya tidak panjang. Namun hanya beberapa kalimat saja sudah cukup m
Elton terdiam. Ia teringat bagaimana selama ini Laticia selalu melindungi banyak orang di istana, termasuk dirinya. Berkali-kali sang ratu menutupi kesalahan orang lain dan menyelamatkan mereka dari hukuman.Kini, justru Laticia yang berdiri di hadapannya dan memintanya memilih.Berpihak kepada kaisar atau kepada ratu.Elton kembali menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, kesetiaan yang selama ini ia pegang mulai goyah. Bukan karena Laticia memaksanya berkhianat, tetapi karena ia akhirnya melihat kenyataan yang selama ini ia abaikan.Keheningan yang menggantung di aula terasa semakin menyesakkan setelah ucapan Laticia berakhir. Elton masih berdiri dengan kepala tertunduk, seolah sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Wajahnya memperlihatkan keraguan yang belum pernah terlihat sebelumnya."Kembalilah, Elton." Nada suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun kemarahan. "Aku tidak akan kembali."Kalimat itu menjadi jawaban yang begitu jelas. Tidak ada keraguan. Tidak pula memberi rua
Suasana di sekitar mereka langsung berubah canggung begitu nama Grand Duke Lereg disebutkan.Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik kecil sambil berpura-pura tetap melanjutkan percakapan masing-masing. Bahkan seorang viscount tua buru-buru meneguk wine-nya terlalu cepat
Jenoh sedikit menundukkan kepala sebelum akhirnya berkata pelan,“Menurut pelayan istana utama… keputusan itu berubah mendadak setelah rapat siang tadi.”Laticia langsung terdiam dan tanpa sadar, dirinya kembali mengingat tatapan Carsein di aula rapat tadi.Tatapan dingin penuh tekanan saat dirinya
Carsein menatap Laticia lama setelah percakapan mereka terhenti. Ruang kerja itu terasa begitu sunyi sampai suara napas keduanya terdengar jelas di tengah keheningan. “Aku tidak akan merugikanmu.” Akhirnya Carsein membuka suara.Nada bicaranya rendah dan berat, seolah dirinya sedang menahan sesuat
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam







