LOGINCarsein terdiam mendengar jawaban itu. Ia ingin membantah, tetapi sulit menemukan kata-kata yang tepat. Selama bertahun-tahun, Laticia memang selalu berada di sisinya, bahkan ketika ia berkali-kali melukai perempuan itu dengan keputusan-keputusannya sendiri. Ia terbiasa menganggap kesabaran Laticia sebagai sesuatu yang akan selalu ada, sama seperti kedudukan sang ratu yang menurutnya tidak akan pernah benar-benar hilang.“Jadi, kau hanya ingin aku memilih?” tanyanya akhirnya.Laticia mengangguk kecil.“Bukankah sejak awal memang itu yang harus Anda lakukan?”Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Carsein.“Anda tidak bisa terus meminta saya untuk memahami keadaan Anda, sementara Anda sendiri tidak pernah berusaha memahami keadaan saya. Jika Selena memang begitu penting bagi Anda, tentukan apa yang akan Anda lakukan dengannya. Jika Pricilla masih ingin mempertahankan kedudukannya, hadapi pula persoalan itu. Saya tidak akan terus menjadi orang yang harus menerima segala akibat
“Saya cukup yakin mengenai keterlambatannya, Yang Mulia. Namun, saya tidak berani memastikan penyebabnya tanpa pemeriksaan.”Laticia mengangguk pelan. Ia menghargai jawaban itu. Ema tidak mencoba memberikan kepastian yang belum dimilikinya, dan Laticia pun tidak akan membiarkan dirinya mengambil keputusan hanya berdasarkan dugaan.“Panggil tabib,” perintahnya. “Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”“Baik, Yang Mulia. Saya akan segera memanggilnya.”“Pastikan hanya tabib yang benar-benar diperlukan yang datang. Jangan sampai kabar ini menyebar sebelum aku mengetahui hasil pemeriksaannya.”Ema segera membungkuk. “Saya mengerti.”Setelah Ema meninggalkan ruangan, Laticia kembali duduk di depan cermin. Tatapannya tertuju pada pantulan wajahnya sendiri, tetapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di ruangan itu. Ia berusaha mengingat kembali beberapa bulan terakhir, mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan olehnya. Semakin ia memikirkannya, semakin sulit baginya untuk menga
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.Lereg tidak lagi melihat seorang wanita yang sekadar ingin membalas penghinaan. Ia melihat seseorang yang telah menyusun semuanya dengan begitu tenang hingga bahkan dirinya sendiri harus berhati-hati ketika bertanya.Namun Laticia tidak terlihat puas. Ia hanya kembali mengambil cangkir tehnya.“Jadi jangan khawatir aku akan terjerumus,” katanya. “Aku tahu persis ke mana aku sedang berjalan.”Lereg terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.“Kadang aku tidak tahu mana yang lebih berbahaya,” gumamnya, “musuhmu atau dirimu sendiri.”Laticia menatapnya sekilas.“Kalau begitu, pastikan kau berada di pihak yang benar.”Lereg menatapnya, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.“Aku selalu berada di pihakmu.”Laticia tidak menjawab. Ia hanya kembali memandang ke luar jendela, sementara di dalam pikirannya, langkah berikutnya sudah mulai tersusun.Takhta itu tidak pernah menjadi sesuatu yang ingin ia pertahankan. Jika Pricilla menginginkannya, bi
Pricilla masih menatap Laticia dengan pikiran yang belum sepenuhnya mampu menerima semua perkataan wanita itu. Tawaran untuk menjadi Ratu terlalu besar untuk dianggap sebagai sekadar permainan. Jika Laticia benar-benar melepaskan posisinya, maka jalan menuju takhta yang selama ini terasa mustahil tiba-tiba terbuka di hadapannya.Namun ada satu hal yang masih membuat Pricilla ragu.“Kalau aku benar-benar menjadi Ratu...” suaranya terdengar lebih pelan. “Apa kau akan mendukungku?”Laticia menoleh dan memandang Pricilla dari balik bahunya. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun keraguan.“Tentu saja.”Hanya dua kata.Namun jawaban itu justru membuat Pricilla terdiam lebih lama.Laticia tidak menjelaskan apa pun lagi. Ia hanya berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, meninggalkan Pricilla sendirian dengan pikirannya sendiri.Pintu perlahan tertutup.Pricilla masih memandang ke arah pintu tersebut. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Laticia hanya sebagai wanita
Laticia akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Ia sudah cukup mendengar luapan emosi Pricilla. Tidak ada gunanya terus berada di ruangan itu jika wanita tersebut belum mampu mengendalikan pikirannya sendiri. Bagi Laticia, rencana yang bagus hanya akan menjadi sia-sia jika orang yang menerimanya terlalu dikuasai ketakutan.Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Pricilla terdengar dari belakang.“Tunggu.”Langkah Laticia berhenti.Ia tidak langsung menoleh. Untuk sesaat, ia hanya berdiri dengan tenang, seolah sudah mengetahui bahwa Pricilla pada akhirnya akan memanggilnya kembali. Setelah beberapa detik, Laticia perlahan menoleh dan mendapati Pricilla sedang menatapnya dari atas ranjang.Wajah wanita itu masih terlihat tegang. Sisa kemarahan masih jelas terlihat di matanya, tetapi kali ini tidak lagi bercampur dengan ledakan emosi seperti sebelumnya. Ada keraguan, rasa takut, sekaligus keinginan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakan Laticia.“Aku akan mende
Pricilla membeku.Laticia menatapnya lurus. “Menjadi Ratu bukan berarti aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Gelar itu hanya memberiku sebuah posisi.”Pricilla tidak mampu menjawab.“Kalau Kaisar memilih wanita lain, lalu apa yang berubah bagiku?” lanjut Laticia. “Aku tetap Ratu. Dia tetap Kaisar. Istana ini tetap berdiri. Semuanya terlihat sama seperti sebelumnya.”Laticia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah,“Hanya saja sekarang aku tidak lagi menunggu apa pun darinya.”Pricilla menatapnya dalam diam, ia mulai menyadari bahwa ketenangan Laticia bukan karena wanita itu yakin Carsein tidak akan meninggalkannya. Justru sebaliknya. Laticia tampak begitu tenang karena ia sudah tidak peduli apakah Carsein memilihnya atau tidak.Dan entah mengapa, kesadaran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan seorang Ratu.Laticia masih berdiri di hadapan Pricilla ketika akhirnya berkata,“Sepertinya, meskipun aku melakukan lebih banyak hal untukmu, Kaisar tetap aka
Langkah kaki Carsein menjauh tanpa ragu, gema sepatunya perlahan menghilang di balik lorong istana. Pintu ruang makan tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu berat.Laticia tetap duduk di kursinya, punggungnya masih tegak seperti seorang ratu, namun napasnya perlahan terlepas. Ia memejamk
“Aku setuju bercerai.”Suara itu memecah keheningan ruang makan yang luas, menggema di antara dinding marmer dan langit-langit tinggi yang biasanya terasa begitu megah.Laticia Valcren de Ascham, Ratu Kekaisaran Ascham, duduk dengan punggung lurus. Tatapannya terarah lurus ke depan, pada suaminya—Ka
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d







