로그인"Kenapa?" Suara Matthias tiba-tiba terdengar, dan matanya kini tertuju penuh pada Mayra. "Ada yang ingin kau katakan?”Mayra sedikit gelagapan, entah apa yang membuat wajahnya seketika memanas. Jantungnya pun tiba-tiba berdetak tak beraturan, membuatnya semakin tak berani menatap Matthias terlalu lama. Di saat seperti ini, rasanya Mayra sangat tidak tenang. Ia menahan napas sebentar, berusaha menyusun pikiran yang tiba-tiba terasa berantakan."Tidak ada, Tuan." Mayra berpura-pura sibuk menatap ke arah jendela seolah sedang fokus mengamati pemandangan."Katakan saja." Matthias tidak membiarkan Mayra menghindar. "Kau sedang mencoba membohongiku?”Napas Mayra seketika tercekat di tenggorokannya, ia buru-buru menggeleng dengan panik. "Saya tidak akan berani berbohong pada Tuan.”“Lalu?” Sebelah alis Matthias sedikit terangkat.“Saya hanya berpikir … saya tidak seharusnya menanyakan hal yang mungkin membuat Tuan tersinggung.” Mayra menatap lurus ke arah lututnya, berharap Matthias mengerti
"Tuan Hayes, senang bisa bertemu denganmu." Jane menghampiri Matthias dengan senyum yang anggun dan hangat.Ayah Jane memang punya kerja sama dengan perusahaan milik Matthias, wajar saja jika Jane ikut pergi bersama ayahnya. Di kesempatan ini Jane punya banyak sekali kesempatan untuk dekat dengan Matthias.Mayra berdiri agak di belakang, menunduk sedikit sambil menahan perasaan aneh yang merambat di hatinya. Semacam sesak yang samar, ia tahu seharusnya dirinya tidak merasa seperti itu.Matthias hanya menanggapi Jane dengan sikap dingin seperti biasa."Ayahku ingin bicara denganmu, bagaimana kalau kita ke sana?" Jane berniat meraih lengan Matthias, namun Matthias langsung menghindar.Matthias sedikit mundur selangkah dengan tangan yang tetap ada di saku celananya.Jane berusaha menahan rasa canggungnya, lalu tersenyum kembali. "Tidak masalah, kita bisa mengobrol sebentar di sini.”Jane menarik tangannya perlahan, berusaha terlihat seolah tidak terjadi apa-apa, meski matanya sekilas men
Matthias memandang sapu tangan itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mayra dengan wajah yang masih tenang. "Matahari kecil ini, buatanmu?”Jantung Mayra tiba‑tiba berdebar lebih kencang, ia tidak menyangka Matthias akan memperhatikan detail sekecil itu. “Ya, Tuan.”Matthias mengusap perlahan tepi bordir dengan ujung jari, raut wajahnya tetap datar dan tidak ada senyum sedikitpun. “Kau tidak mungkin membuatnya dalam satu hari, kan?”Tangan Mayra mendadak dingin, seolah pertanyaan yang diajukan Matthias bukanlah hal yang sederhana. Ia menahan napas sejenak, menunduk agar Matthias tidak melihat pipinya yang memerah. bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia mengerjakannya sebelum hari ulang tahun Matthias tiba."Saya …" Mayra tergagap, mendadak tidak tahu harus berkata apa seolah semua kalimat mendadak lenyap dari kepalanya.Sorot mata Matthias tak terbaca, sementara rahangnya sedikit mengeras halus. "Sapu tangan ini harusnya untuk orang lain?”Mayra menggeleng cepat, matany
"Hantu." Matthias terkesan seperti sedang melawak, namun raut wajahnya tetap datar dan suaranya tenang.Mayra terdiam sejenak, tidak yakin apakah dia baru saja diberi candaan atau justru ditegur dengan cara yang aneh. Ia juga bingung bagaimana cara menanggapinya."Untukmu." Suaranya terdengar rendah dan singkat, namun ada penekan halus di ujung kalimatnya."Tapi Tuan—""Kau tidak menginginkannya?" potongnya cepat, seakan tak memberi ruang untuk penolakan.Mayra terdiam. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, kenapa Tuan memberikannya begitu saja? Seolah-olah pria itu tahu kalau ia memang menginginkannya. Tapi tentu saja itu mustahil. Bagaimana mungkin tuannya memperhatikan hal sekecil itu tentang dirinya? Pikirnya sambil menunduk, berusaha menepis perasaan aneh itu.Tatapan Mayra kini tertuju pada kue kering di piring itu. Daripada nanti terbuang percuma, jelas jauh lebih baik jika ia memakannya sekarang. Mayra tersenyum tipis pada dirinya sendiri, setidaknya dengan begitu ia tidak menyi
“Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan niatnya."Saya ingin mengambil cuti untuk hari esok, Tuan." Kata-kata itu akhirnya terucap, setelah Mayra menelan ludah dan menenangkan diri sejenak."Tidak boleh." Matthias langsung menolaknya mentah-mentah, seakan kata-kata itu sudah siap di ujung lidahnya sebelum Mayra selesai berbicara.Hati Mayra berdebar cemas, namun ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tahu … apa ada alasan khusus, Tuan?”Matthias hanya diam, tatapannya masih dingin seperti sebelumnya.Mayra menarik napas pelan,
"Ini bukan untuk siapa-siapa," jawab Mayra buru-buru, wajahnya memerah seketika tanpa alasan yang jelas.Mayra segera menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya, berharap Ivy tidak akan menanyainya lebih jauh lagi. Jangan sampai Ivy tahu sosok yang ingin dirinya berikan sapu tangan itu.Mayra menelan ludah gugup, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat malu dan tidak tenang. Ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat."Lihat apa?" Mayra mendorong pelan bahu Ivy sambil memalingkan wajah sedikit. "Tidak ada yang menarik untuk dilihat.”Ivy masih tersenyum dengan tujuan menggoda Mayra. “Kau membordir sapu tangan untuk seseorang yang kau suka, itu sangat menarik.”"Jangan bicara sembarangan," bisik Mayra sepelan mungkin, matanya melirik ke kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar."Kenapa gugup begitu? Aku cuma bercanda." Ivy tertawa tanpa suara, matanya berbinar nakal. "Tapi … apa orang yang kau sukai benar-benar ada di kediaman ini?”Mayra langsung membekap mu







