Share

Berhenti Menawanku Tuan Mafia
Berhenti Menawanku Tuan Mafia
Author: Aamz Kyure

Bab 01

Author: Aamz Kyure
last update publish date: 2026-08-02 10:48:03

“Saya tidak bisa melakukannya, Tuan. Saya hanya pelayan di rumah ini.” Mayra menunduk dalam, jari-jarinya meremas ujung celemek.

Di hadapannya, Matthias masih menggenggam gaun berwarna biru laut. Potongannya anggun, dengan kain yang berkilau lembut di bawah cahaya ruangan.

Warna biru itu rasanya tidak asing, Mayra pernah melihat foto yang ada di kamar milik istri Matthias. Di sana istri Matthias mengenakan dress selutut warna biru laut.

Kenapa Tuan Hayes menyuruhnya memakai gaun dengan warna yang merupakan favorit istrinya?

“Pakai,” ulang Matthias singkat.

Mayra mengangkat wajah dengan ragu. “Tuan, saya takut gaun ini—”

“Cepat pakai dan jangan membuat Tuan Hayes menunggu.”

Suara Elias, kepala pelayan, terdengar dari samping. Mayra menelan kembali ucapannya. Jika bahkan Elias menyuruhnya menurut, ia tahu tidak ada gunanya membantah lagi.

Akhirnya, Mayra mengulurkan tangan dan menerima gaun tersebut dengan hati-hati.

“B–baik, Tuan. Akan saya pakai.” Mayra kemudian bergegas menuju ruang ganti.

Selama tiga minggu bekerja di kediaman Matthias Hayes, Mayra sudah belajar bahwa pria itu bukan seseorang yang bisa dibantah. Matthias dikenal dingin, kejam, dan berkuasa. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat siapa pun berada dalam masalah besar.

Namun, Mayra tidak punya banyak pilihan. Ia membutuhkan uang untuk memenuhi semua tuntutan ibunya, termasuk membayar biaya sekolah adik laki-lakinya. Dan gaji yang ditawarkan Matthias jauh lebih besar daripada pekerjaan lain yang bisa ia dapatkan, sehingga ia terpaksa bertahan di tempat ini.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan gaun biru laut yang membalut tubuhnya. Kainnya terasa begitu lembut, tetapi Mayra justru semakin gugup ketika menyadari beberapa memar ungu di lengannya masih terlihat jelas. Itu semua adalah bekas pukulan ibunya.

Mayra buru-buru menarik ujung lengan gaun, berharap bisa menyembunyikannya. Namun, dari tatapan Matthias yang masih duduk di sofa kulit mewah, ia tahu pria itu sudah melihatnya.

Mayra berdiri kaku di tempatnya. Ia melihat pandangan Matthias tertahan pada wajahnya beberapa saat sebelum beralih kembali ke lengannya.

“Elias, tinggalkan kami,” titah Matthias tanpa membuang pandangan dari Mayra sedikitpun.

“Baik, Tuan.” Elias segera keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Mayra menelan ludah. Kini hanya tersisa dirinya dan Matthias di ruangan itu. Entah kenapa, keheningan tersebut terasa jauh lebih menekan daripada sebelumnya.

Matthias bangkit dari sofa dan berjalan mendekatinya. Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Mayra tanpa sadar mundur sedikit.

“Kenapa lenganmu?” tanya Matthias tenang.

Mayra terdiam sesaat sebelum menjawab, “Maaf Tuan, saya hanya tidak ingin membuat Tuan tidak nyaman melihatnya. Tapi, Tuan tenang saja, luka ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya dan akan segera sembuh.”

Tatapan Matthias kembali jatuh pada memar di lengannya. Rahangnya mengeras tipis sebelum pandangannya kembali tertuju pada Mayra.

“Siapa yang melakukannya?”

Mayra membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Matthias akan menanyakan hal itu.

“Ini...” Mayra menggenggam ujung gaunnya erat. “Saya hanya sedikit ceroboh, Tuan.”

Tatapan Matthias berubah semakin tajam. Ia sedikit mencondongkan tubuh, membuat Mayra tanpa sadar menahan napas.

“Aku tidak bertanya bagaimana kau mendapatkannya. Aku bertanya siapa yang melakukannya.”

Mayra hanya terdiam. Bibirnya beberapa kali terbuka, tetapi tak satupun jawaban keluar. Jari-jarinya semakin erat menggenggam ujung gaun.

Matthias menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Kau boleh pergi.”

Mayra sedikit tertegun, seolah tidak menyangka akan dilepaskan semudah itu.

“Terima kasih, Tuan.” Ia membungkuk kecil, lalu menatap gaun yang masih dikenakannya. “Untuk gaun ini, saya akan mencucinya sampai bersih dan segera mengembalikannya kepada Tuan.”

Matthias tidak menjawab.

Mayra kembali membungkuk sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Ia hanya berharap tidak ada sedikitpun noda atau kerusakan pada gaun semahal itu. Kalau sampai terjadi sesuatu, ia tidak yakin bisa menanggung akibatnya.

Saat menginjakkan kaki di dapur dengan gaun biru laut yang masih dikenakannya, Mayra langsung merasakan tatapan para pelayan tertuju padanya.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Tuan Hayes menyuruhnya memakai gaun mahal itu, padahal dia baru beberapa minggu bekerja di sini?” bisik seorang pelayan dengan nada iri.

“Dia bahkan diterima tanpa seleksi,” sahut pelayan lain sambil melirik Mayra dari atas ke bawah. “Jangan-jangan Tuan Hayes memang tertarik padanya.”

“Kalau begitu, selera Tuan Hayes semakin buruk.” Pelayan ketiga terkekeh sinis. “Apa yang istimewa dari perempuan seperti dia?”

Mayra mempercepat langkah, berusaha mengabaikan mereka. Namun, seorang pelayan perempuan yang sejak tadi ikut memperhatikannya sengaja melangkah ke depan dan menghadang jalan Mayra.

“Kau pikir setelah memakai gaun itu, kedudukanmu langsung berbeda dari kami?” sindir pelayan perempuan itu.

Mayra menggeleng cepat. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu.”

“Lalu kenapa Tuan Hayes menyuruhmu memakai gaun istrinya?” Pelayan perempuan itu menatap Mayra dengan curiga.

“Aku tidak tahu, aku hanya menjalankan perintah beliau.”

Jawaban Mayra justru membuat dua pelayan yang berdiri di belakang perempuan itu tertawa sinis.

“Jangan pura-pura polos.” Pelayan perempuan yang menghadang Mayra mendengus. “Baru beberapa minggu bekerja, tapi sudah berani memakai barang milik Nyonya Hayes.”

Mayra menggenggam ujung gaunnya. “Aku benar-benar tidak tahu apa maksud Tuan Hayes. Jadi, tolong jangan salah paham.”

“Jangan salah paham?” Pelayan perempuan itu mencibir. “Kau yang tiba-tiba datang ke sini dan langsung mendapat perlakuan khusus. Sekarang kau masih mau berpura-pura tidak tahu apa-apa?”

Mayra mundur selangkah ketika pelayan perempuan itu semakin mendekat.

“Aku tidak pernah meminta perlakuan khusus apa pun.”

Pelayan perempuan yang berdiri di hadapan Mayra menatap gaun biru laut yang dikenakannya dengan tatapan penuh kebencian.

“Kalau begitu, lepas gaun itu.”

Mayra membeku. “A-apa?”

“Lepaskan.” Perempuan itu kembali meraih lengan gaun Mayra.

“Jangan, nanti gaunnya rusak.” Mayra spontan mundur selangkah. Tangannya refleks menahan kain gaun di bagian lengannya.

Gaun semahal ini jelas bukan sesuatu yang mampu Mayra ganti jika sampai robek atau terkena noda. Bahkan jika hanya sedikit kotor, Mayra tidak tahu bagaimana harus mempertanggungjawabkannya kepada Matthias.

“Saya akan mengembalikannya sendiri setelah selesai memakainya. Jadi, tolong jangan tarik,” lanjut Mayra.

“Berani sekali kau membantahku.”

Perempuan itu kembali mengulurkan tangan dan mencengkeram ujung kain gaun Mayra. Mayra buru-buru menahannya, tubuhnya menegang karena takut gaun itu sampai rusak.

Namun, sebelum perempuan itu sempat menariknya, suara dingin terdengar dari arah pintu.

“Berhenti.”

Seluruh penghuni dapur langsung terdiam.

Mayra perlahan menoleh. Matthias berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam yang membuat suasana dapur seketika membeku.

Perempuan itu langsung melepaskan kain gaun Mayra dan menundukkan kepala.

“T-Tuan Hayes…”

Matthias tidak menjawab. Tatapannya beralih pada perempuan itu, lalu turun sekilas pada tangan Mayra yang masih mencengkram ujung gaunnya.

“Siapa yang menyuruhmu menyentuhnya?”

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 26

    "Kenapa?" Suara Matthias tiba-tiba terdengar, dan matanya kini tertuju penuh pada Mayra. "Ada yang ingin kau katakan?”Mayra sedikit gelagapan, entah apa yang membuat wajahnya seketika memanas. Jantungnya pun tiba-tiba berdetak tak beraturan, membuatnya semakin tak berani menatap Matthias terlalu lama. Di saat seperti ini, rasanya Mayra sangat tidak tenang. Ia menahan napas sebentar, berusaha menyusun pikiran yang tiba-tiba terasa berantakan."Tidak ada, Tuan." Mayra berpura-pura sibuk menatap ke arah jendela seolah sedang fokus mengamati pemandangan."Katakan saja." Matthias tidak membiarkan Mayra menghindar. "Kau sedang mencoba membohongiku?”Napas Mayra seketika tercekat di tenggorokannya, ia buru-buru menggeleng dengan panik. "Saya tidak akan berani berbohong pada Tuan.”“Lalu?” Sebelah alis Matthias sedikit terangkat.“Saya hanya berpikir … saya tidak seharusnya menanyakan hal yang mungkin membuat Tuan tersinggung.” Mayra menatap lurus ke arah lututnya, berharap Matthias mengerti

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 25

    "Tuan Hayes, senang bisa bertemu denganmu." Jane menghampiri Matthias dengan senyum yang anggun dan hangat.Ayah Jane memang punya kerja sama dengan perusahaan milik Matthias, wajar saja jika Jane ikut pergi bersama ayahnya. Di kesempatan ini Jane punya banyak sekali kesempatan untuk dekat dengan Matthias.Mayra berdiri agak di belakang, menunduk sedikit sambil menahan perasaan aneh yang merambat di hatinya. Semacam sesak yang samar, ia tahu seharusnya dirinya tidak merasa seperti itu.Matthias hanya menanggapi Jane dengan sikap dingin seperti biasa."Ayahku ingin bicara denganmu, bagaimana kalau kita ke sana?" Jane berniat meraih lengan Matthias, namun Matthias langsung menghindar.Matthias sedikit mundur selangkah dengan tangan yang tetap ada di saku celananya.Jane berusaha menahan rasa canggungnya, lalu tersenyum kembali. "Tidak masalah, kita bisa mengobrol sebentar di sini.”Jane menarik tangannya perlahan, berusaha terlihat seolah tidak terjadi apa-apa, meski matanya sekilas men

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 24

    Matthias memandang sapu tangan itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mayra dengan wajah yang masih tenang. "Matahari kecil ini, buatanmu?”Jantung Mayra tiba‑tiba berdebar lebih kencang, ia tidak menyangka Matthias akan memperhatikan detail sekecil itu. “Ya, Tuan.”Matthias mengusap perlahan tepi bordir dengan ujung jari, raut wajahnya tetap datar dan tidak ada senyum sedikitpun. “Kau tidak mungkin membuatnya dalam satu hari, kan?”Tangan Mayra mendadak dingin, seolah pertanyaan yang diajukan Matthias bukanlah hal yang sederhana. Ia menahan napas sejenak, menunduk agar Matthias tidak melihat pipinya yang memerah. bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia mengerjakannya sebelum hari ulang tahun Matthias tiba."Saya …" Mayra tergagap, mendadak tidak tahu harus berkata apa seolah semua kalimat mendadak lenyap dari kepalanya.Sorot mata Matthias tak terbaca, sementara rahangnya sedikit mengeras halus. "Sapu tangan ini harusnya untuk orang lain?”Mayra menggeleng cepat, matany

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 23

    "Hantu." Matthias terkesan seperti sedang melawak, namun raut wajahnya tetap datar dan suaranya tenang.Mayra terdiam sejenak, tidak yakin apakah dia baru saja diberi candaan atau justru ditegur dengan cara yang aneh. Ia juga bingung bagaimana cara menanggapinya."Untukmu." Suaranya terdengar rendah dan singkat, namun ada penekan halus di ujung kalimatnya."Tapi Tuan—""Kau tidak menginginkannya?" potongnya cepat, seakan tak memberi ruang untuk penolakan.Mayra terdiam. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, kenapa Tuan memberikannya begitu saja? Seolah-olah pria itu tahu kalau ia memang menginginkannya. Tapi tentu saja itu mustahil. Bagaimana mungkin tuannya memperhatikan hal sekecil itu tentang dirinya? Pikirnya sambil menunduk, berusaha menepis perasaan aneh itu.Tatapan Mayra kini tertuju pada kue kering di piring itu. Daripada nanti terbuang percuma, jelas jauh lebih baik jika ia memakannya sekarang. Mayra tersenyum tipis pada dirinya sendiri, setidaknya dengan begitu ia tidak menyi

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 22

    “Apa?” tanya Matthias dengan sebelah alis yang sedikit terangkat.Padahal tadi Mayra sudah sangat percaya diri, bahkan sudah berulang kali berlatih di dalam hati agar bisa mengucapkan kalimatnya dengan benar. Ia ingin mengambil cuti untuk hari esok. Tapi begitu berdiri di hadapan pria itu, keberaniannya perlahan menipis.Kata-kata Mayra tertahan di ujung lidah, dan ia hanya bisa menghindari tatapan pria itu dengan jantung yang berdebar kencang. Meskipun begitu, Mayra tidak bisa mengurungkan niatnya."Saya ingin mengambil cuti untuk hari esok, Tuan." Kata-kata itu akhirnya terucap, setelah Mayra menelan ludah dan menenangkan diri sejenak."Tidak boleh." Matthias langsung menolaknya mentah-mentah, seakan kata-kata itu sudah siap di ujung lidahnya sebelum Mayra selesai berbicara.Hati Mayra berdebar cemas, namun ia memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tahu … apa ada alasan khusus, Tuan?”Matthias hanya diam, tatapannya masih dingin seperti sebelumnya.Mayra menarik napas pelan,

  • Berhenti Menawanku Tuan Mafia   Bab 21

    "Ini bukan untuk siapa-siapa," jawab Mayra buru-buru, wajahnya memerah seketika tanpa alasan yang jelas.Mayra segera menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya, berharap Ivy tidak akan menanyainya lebih jauh lagi. Jangan sampai Ivy tahu sosok yang ingin dirinya berikan sapu tangan itu.Mayra menelan ludah gugup, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa sangat malu dan tidak tenang. Ia harus menyimpan rahasia itu rapat-rapat."Lihat apa?" Mayra mendorong pelan bahu Ivy sambil memalingkan wajah sedikit. "Tidak ada yang menarik untuk dilihat.”Ivy masih tersenyum dengan tujuan menggoda Mayra. “Kau membordir sapu tangan untuk seseorang yang kau suka, itu sangat menarik.”"Jangan bicara sembarangan," bisik Mayra sepelan mungkin, matanya melirik ke kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar."Kenapa gugup begitu? Aku cuma bercanda." Ivy tertawa tanpa suara, matanya berbinar nakal. "Tapi … apa orang yang kau sukai benar-benar ada di kediaman ini?”Mayra langsung membekap mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status