LOGINDinnda nyaris gila kala sang suami dan adik madu yang tengah hamil menyiksa mental dan fisiknya terus-menerus. Untungnya, sahabat Dinda datang dan menyadarkannya untuk bangkit! Hanya saja, mengapa dalam perjalanan balas dendamnya, Adam--sepupu sahabatnya yang terkenal sebagai pemilik perusahaan dingin--mendadak ikut membantu Dinda?
View MoreChapter 1-Illegitimate Child
I hurriedly walked down the hallway to reach my father’s office when I heard from my department’s manager that my stepsister, Paula, was presenting a proposal to the supervisors. I knew that it was mine. When I came in today and sat in my cubicle, opening my computer, I noticed that my presentation was gone from my desktop. It was deleted. I checked my other folders and the recycle bin, but it was gone. There was no trace of it. I looked over at Janine in the other cubicle and asked if she had seen anyone coming to my desk.
“Paula said she had to retrieve a file your father asked her to bring,” Janine replied, and I was not surprised. Paula reasoned that it was not true. She bypassed my system. This was not the first time that Paula was able to trespass on my computer’s security and steal a file from me. I was preparing that proposal to present to the supervisors after getting approval from the manager. But it seems like she had known about this before. I went to ask the manager if Paula had presented her with a proposal.
“Yes, she did, three days ago. And it was brilliant so I approved it immediately since the development team really needed a solution immediately. So I scheduled her to present it to the supervisors today.” the manager answered, munching on her granola bar with her black-rimmed thick eyeglasses sitting on the bridge of her nose. I did not bother telling her the truth anymore since I knew that she would not care, as long as our department produces results, then no matter who did it, it was fine and all the same.
“She stole my proposal again, Dad. It was my idea, it was my work.” I complained to him when I entered his office. He is the head of our small company, but it is already a failing publishing company and we are struggling to save it.
“Do not accuse your sister. She will never do that, Claire. Every time your sister brings something good to the table you always claim that it was yours! Why are you always so greedy? You only think about yourself, you selfish brat!” And as always, as I have expected, he will never take my side, he will never believe me.
“Because it was mine, and I –” I was cut off when he looked at the opening door of his office and his favorite daughter stepped in with a huge sweet smile on her face, ignoring my existence as if she had done nothing wrong. His frown relaxed and his face softened to greet her daughter.
“Ah, there you are my brilliant daughter! How was the presentation?” Dad asked.
“Oh, it was fine, the supervisors liked it. They told me to connect with the development team to proceed with the implementation of it.” Paula replied and looked at me, saying, “You’re here, Claire.” she smiled, like a sweet innocent angel.
A pretentious devil on the inside.
“You stole my proposal,” I uttered blankly.
“How many times have you accused me of stealing your presentations? This is not the first time, Claire, and I am not just going to let you accuse me again this time. Do you have a proof that I stole it? Why are you always like this? You are my big sister and you should be proud of me as well, like Dad, but w-why?” and there you go again, your pitiful cries that had always fooled our father.
Dad looked at me with his glaring eyes, as if I just hurt his lovely daughter in front of him. It has always been like this ever since we were kids; I was the bully, and she was the victim.
But only God knows that I had never done anything to her.
I grew up being hated by the family for I was just an illegitimate child, a daughter of my father from a different woman before he married Paula’s mom whom he truly loved. My mom died when I was three and I was taken home then by my father where I met his wife and Paula who was 1 year old at that time. She hated me, my stepmom, and I could not do anything about it, I was living under their roof, and eating the food they buy. So… I had to swallow everything.
“Get out, and I do not want to hear anything from you about this again. Just be grateful that your sister is actually a good help in the company. Unlike you who had done nothing else but complain! You’re like your stupid mother, ignorant and useless.” he spat, slamming the folder in his hand against the mahogany table.
His words struck a pain in my heart. He has no right to talk about my mother like that, to disrespect her. She is long gone and should be in peace, not be disrespected by him.
I clenched my fist and held my tongue, I did not want to argue with him anymore, for I knew I would never win. So with a heavy heart, I left the office and walked out of the building to visit my favorite coffee shop nearby.
“A cappuccino for Miss Claire!” the barista announced and I stood up to take my coffee and went back to my seat near a window that gave me a view of the busy street.
I opened my iPad and logged in to my bank account, checking how much money I had saved, and if it would be enough already to leave the house. I am tired of living with Daddy and his family, they may be providing me a roof over me and food on my table but the cost I am paying is too much. I cannot bear to risk every ounce of my mental and emotional well-being with that family. I am grateful to my Dad for taking me in when I was a kid but I just cannot bear it anymore.
It is time to leave the house and live on my own and on my own terms.
However, it seems that the numbers in my savings account do not agree with me.
I sighed.
Bab93Disaat Dinda sibuk mengurus bayinya, begitu juga dengan ibu mertuanya, yang nampak terbuai bahagia, dengan kehadiran cucu yang begitu dia damba.Hidup bahagia, seakan kini berpihak pada Dinda. Melihat ibu mertua yang dulunya begitu membencinya, kini berubah 99%, baik dan sangat memperhatikannya, Dinda sangat bersukur dengan hidupnya kini.Dinda pun seakan lupa. Ada hati yang masih terluka, ada hati yang masih tidak rela.Maura mengurung diri di dalam kamar, meratapi takdir yang tidak adil padanya. Dia yang istri pertama, tapi dia pula yang sangat terluka.Meskipun dari awal dia tahu, bahwa suami yang sangat dia cintai, mencintai wanita lain dengan gilanya. Tapi berkat bujuk rayu ibu mertua. Maura yakin bisa membuat suaminya akan mencintainya.Nyatanya? Maura jatuh dan hancur dalam harapannya. Kemunculan Dinda di rumah tangganya, membuat hati Maura hancur dan terluka. Maura jelas tidak terima, dan membenci Dinda teramat dalam di dasar hatinya.Kebencian itulah, yang menjadi api de
Bab92 "Maura!!" Suara Adam memanggil wanita itu. Pelayan Maura yang bernama Neneng pun menghentikan laju langkah mereka, dan memutar badan mengarah ke Adam yang berjalan mendekati mereka. Wajah Maura begitu sendu, memandang Adam. "Biar aku antar," seru Adam, membuat Maura langsung menggelengkan kepala. "Tidak usah, kami sudah memesan taxi online." "Batalkan! Lagian Dinda juga sudah mau pulang, kita bareng saja," ujar Adam lagi memaksa. "Aku tidak mau, menganggu kebahagiaan kamu, Mas. Selamat ya, akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah, aku turut bahagia untuk kalian," ucap Maura, dengan mata berkabut. "Maafkan saya, Maura." Lelaki itu menjadi serba salah, menghadapi situasi ini. Dilain sisi, sebagai lelaki yang beristri, tentu saja memiliki keturunan, adalah suatu kebahágiaannya. "Kamu juga menjadi ibu, Maura." "Tidak, aku tidak akan pernah menjadi ibu, Mas. Selamanya, aku hanya wanita cacat, yang kehilangan segalanya," lirih Maura. "Neng, ayo," pinta Maura. Neng pun mengan
Wajah mereka semua begitu berseri, bibir mereka pun melengkungkan senyum, hanya Maura yang menatap sendu ke arahku."Ada apa ini?" tanyaku penasaran. Seingatku, aku sempat pingsan setelah muntah- muntah tadi, entah berapa lama aku pingsan. Tapi ketika sadar, aku dibuat mereka semua bingung."Selamat ya, Nak. Kamu akan segera memberikan ibu cucu," seru ibu mertua dengan bahagia. Ada ketulusan dimatanya."Hah, aku hamil, Bu?" Sulit rasanya kupercaya. Disaat hati ingin mundur, malah hamil.Antara bahagia, juga dilema. Kulirik ke arah Maura, yang terlihat memaksakan bibirnya untuk tersenyum."Maura, kamu akan menjadi seorang ibu, Nak. Dan Adam, Adam akan menjadi ayah. Dan saya, saya akan menjadi seorang nenek. Akhirnya keluarga kami akan memiliki generasi penerus," seru ibu mertua tanpa henti.Aku terdiam dan membeku. "Mulai hari ini, ibu akan khusus mengurus Dinda, dan ibu akan menjadi nenek siaga," lanjutnya begitu bersemangat. "Ibu, jangan berlebihan," pinta kak Adam."Tidak ada yan
Hubungan ini, benar- benar sudah tidak bisa dipertahankan. Aku tidak mungkin tetap disini, berada di dalam rumah orang, yang begitu benci dengan keberadaanku. Rasanya sangat menyakitkan sekali, setiap melihat tatapan kebenciannya, ucapan- ucapan pedasnya. Sekalipun cinta kak Adam hanyalah untukku, aku tetap merasa tidak nyaman. Cukup lama aku menangis, hingga tanpa aku sadari lagi, aku tertidur. ***^^*** Ketukkan dipintu kamar, membuatku terbangun dari tidur. Cahaya panas matahari yang mulai naik, menerpa wajahku. Aku melirik jam dinding, sudah menunjukkan jam 10 siang. "Astaga, siang sekali aku bangunnya," gumamku. Ketukan dipintu kamar kembali terdengar. "Jangan- jangan tante Amara lagi didepan pintu," batinku. Aku beringsut turun dari kasur, menuju pintu kamar. Perlahan, aku membukanya. "Kamu kesiangan," sapa wanita yang kini berada tepat didepan pintu kamarku. Wanita yang duduk dikursi roda ini nampak cantik hari ini. Dia mengenakan make up tipis, dengan pakaian yang c
"Ya Allah, Iren mana lagi!" gumamku sambil terus berjalan cepat.Satu tanganku masih sibuk menghubungi Iren. Namun, tidak kunjung ada jawaban juga. Ya Allah, habislah aku kalau sampai tertangkap lagi. "Please, angkat Ren, angkat!" lirihku. "Woy, Dinda ...." Terdengar suara teriakkan Astri, memb
"Cepat bikin sarapan!" titah Ibu mertua tiba-tiba. Aku pun langsung berdiri dan mengusap air mataku. Meskipun rasa sakit masih begitu terasa di seluruh tubuh, aku tetap berusaha waras. Aku tidak boleh panik ketakutan lagi! "Eh mau ke mana?" cegah Astri ketika aku berniat melangkah ke dapur. "I
"Aku mau ngambil tas Ibu," jawabku kemudian meraih tas- tas yang tergelatak di lantai, tepat di dekatnya. Panik sekali wajahnya tadi! Tenang, Mas! Sekarang, aku justru tidak akan keluar dari pintu rumah ini sebelum memastikan kamu, Astri, dan ibumu mendapat balasan atas penyiksaanku. Kuperhatika
“Dinda!”Belum sempat aku berjalan menuju dapur, Mas Aditya lagi-lagi berteriak. Ternyata, dia memintaku membuatkannya minuman teh hangat.Pikiran tidak waras kembali membisik. Aku tersenyum dan dengan gembira membuatkannya “minuman spesial”.Setelah selesai, kubawa naik menuju lantai dua dan mem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore