ログインDinnda nyaris gila kala sang suami dan adik madu yang tengah hamil menyiksa mental dan fisiknya terus-menerus. Untungnya, sahabat Dinda datang dan menyadarkannya untuk bangkit! Hanya saja, mengapa dalam perjalanan balas dendamnya, Adam--sepupu sahabatnya yang terkenal sebagai pemilik perusahaan dingin--mendadak ikut membantu Dinda?
もっと見るEighteen Years Ago
The Shadow Pack burned that night; the storm came first, then came the lightning. It split the sky in two; thunder shook the very foundation of the pack, like the growl of a vengeful god. The rain lashed out, falling heavily, but it didn't quench the fire swallowing the packhouse whole. The flames devoured the Alpha's mansion and everything that stood in their way. Hidden in the hollow oak tree is a child with jet-black hair clutching a leather-bound book to her chest. The pages smelled like burnt ink and blood; the cries of the people filled the air. "Run, Eliana!" Her mother's voice, filled with pain, echoed in her mind. "Run, don't look back!" She screamed. The child scrambled off the oak tree with tears almost blinding her; she made a run for it. The white-haired woman with icy silver eyes wielding a flaming sword appeared in the ruin. "Where is she?" she barked at Kimberly, the fated mate of Alpha Orin Stormwolf. The Alpha was gutted open on his throne by Damon Blackclaw, the Alpha of the enemy pack, and his Beta, Brian Paw. "You will never find her," she barked, laughing at her foolery. "Call out to her," the moon priestess whispered. "Never..." Before she could finish, the moon priestess drove the flaming sword into her. Kimberly groaned in pain and died. Eliana, hiding behind a tree, saw the flaming sword buried in her mother's chest, went mad with fury, and her silver eyes glowed faintly as the moon had touched them. She made to avenge her mother when a hand suddenly gripped her from behind. Holding her mouth with one hand while holding her back with the other. "Shhh," the voice hushed, begging her not to fight him anymore. "You have to survive and grow strong, and when the blood moon rises, the stormwolf will make them pay for what they have done." Kristen chanted the prophecy to her, hoping it would calm her rage down. Immediately she saw Damon; her rage was instantly replaced by fear. She had seen Damon gut the Alpha open in the throne room. "Find the brat," Damon ordered his men. "The Stormwolf Whelp dies tonight, or we all burn tomorrow." A whimper cut through the silence; they all turned. "Run," Kristen whispered in her ear. Eliana lunged to the rear tunnel, the one only the alpha's bloodline knew of. She made it three steps to the tunnel when the moon priestess appeared behind her like a harbinger of doom, with the flaming sword in her hand. "Found you," she whispered. Then she swung the sword at Eliana, and it found her; the force pushed her into the tunnel, and a gust of wind, unnatural and howling, swept her into the darkness. Just as the tunnel collapsed behind her. Damon roared in fury, but the moon priestess gripped his hand. "No child could survive that; if the sword and the fall didn't kill her, the marshes would swallow the last of her, be rest assured." Above them, the crescent moon bled crimson, a sign the moon goddess was watching them. And wrath, as all wolves knew, was a storm that always returned.Bab93Disaat Dinda sibuk mengurus bayinya, begitu juga dengan ibu mertuanya, yang nampak terbuai bahagia, dengan kehadiran cucu yang begitu dia damba.Hidup bahagia, seakan kini berpihak pada Dinda. Melihat ibu mertua yang dulunya begitu membencinya, kini berubah 99%, baik dan sangat memperhatikannya, Dinda sangat bersukur dengan hidupnya kini.Dinda pun seakan lupa. Ada hati yang masih terluka, ada hati yang masih tidak rela.Maura mengurung diri di dalam kamar, meratapi takdir yang tidak adil padanya. Dia yang istri pertama, tapi dia pula yang sangat terluka.Meskipun dari awal dia tahu, bahwa suami yang sangat dia cintai, mencintai wanita lain dengan gilanya. Tapi berkat bujuk rayu ibu mertua. Maura yakin bisa membuat suaminya akan mencintainya.Nyatanya? Maura jatuh dan hancur dalam harapannya. Kemunculan Dinda di rumah tangganya, membuat hati Maura hancur dan terluka. Maura jelas tidak terima, dan membenci Dinda teramat dalam di dasar hatinya.Kebencian itulah, yang menjadi api de
Bab92 "Maura!!" Suara Adam memanggil wanita itu. Pelayan Maura yang bernama Neneng pun menghentikan laju langkah mereka, dan memutar badan mengarah ke Adam yang berjalan mendekati mereka. Wajah Maura begitu sendu, memandang Adam. "Biar aku antar," seru Adam, membuat Maura langsung menggelengkan kepala. "Tidak usah, kami sudah memesan taxi online." "Batalkan! Lagian Dinda juga sudah mau pulang, kita bareng saja," ujar Adam lagi memaksa. "Aku tidak mau, menganggu kebahagiaan kamu, Mas. Selamat ya, akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah, aku turut bahagia untuk kalian," ucap Maura, dengan mata berkabut. "Maafkan saya, Maura." Lelaki itu menjadi serba salah, menghadapi situasi ini. Dilain sisi, sebagai lelaki yang beristri, tentu saja memiliki keturunan, adalah suatu kebahágiaannya. "Kamu juga menjadi ibu, Maura." "Tidak, aku tidak akan pernah menjadi ibu, Mas. Selamanya, aku hanya wanita cacat, yang kehilangan segalanya," lirih Maura. "Neng, ayo," pinta Maura. Neng pun mengan
Wajah mereka semua begitu berseri, bibir mereka pun melengkungkan senyum, hanya Maura yang menatap sendu ke arahku."Ada apa ini?" tanyaku penasaran. Seingatku, aku sempat pingsan setelah muntah- muntah tadi, entah berapa lama aku pingsan. Tapi ketika sadar, aku dibuat mereka semua bingung."Selamat ya, Nak. Kamu akan segera memberikan ibu cucu," seru ibu mertua dengan bahagia. Ada ketulusan dimatanya."Hah, aku hamil, Bu?" Sulit rasanya kupercaya. Disaat hati ingin mundur, malah hamil.Antara bahagia, juga dilema. Kulirik ke arah Maura, yang terlihat memaksakan bibirnya untuk tersenyum."Maura, kamu akan menjadi seorang ibu, Nak. Dan Adam, Adam akan menjadi ayah. Dan saya, saya akan menjadi seorang nenek. Akhirnya keluarga kami akan memiliki generasi penerus," seru ibu mertua tanpa henti.Aku terdiam dan membeku. "Mulai hari ini, ibu akan khusus mengurus Dinda, dan ibu akan menjadi nenek siaga," lanjutnya begitu bersemangat. "Ibu, jangan berlebihan," pinta kak Adam."Tidak ada yan
Hubungan ini, benar- benar sudah tidak bisa dipertahankan. Aku tidak mungkin tetap disini, berada di dalam rumah orang, yang begitu benci dengan keberadaanku. Rasanya sangat menyakitkan sekali, setiap melihat tatapan kebenciannya, ucapan- ucapan pedasnya. Sekalipun cinta kak Adam hanyalah untukku, aku tetap merasa tidak nyaman. Cukup lama aku menangis, hingga tanpa aku sadari lagi, aku tertidur. ***^^*** Ketukkan dipintu kamar, membuatku terbangun dari tidur. Cahaya panas matahari yang mulai naik, menerpa wajahku. Aku melirik jam dinding, sudah menunjukkan jam 10 siang. "Astaga, siang sekali aku bangunnya," gumamku. Ketukan dipintu kamar kembali terdengar. "Jangan- jangan tante Amara lagi didepan pintu," batinku. Aku beringsut turun dari kasur, menuju pintu kamar. Perlahan, aku membukanya. "Kamu kesiangan," sapa wanita yang kini berada tepat didepan pintu kamarku. Wanita yang duduk dikursi roda ini nampak cantik hari ini. Dia mengenakan make up tipis, dengan pakaian yang c
"Ya Allah, Iren mana lagi!" gumamku sambil terus berjalan cepat.Satu tanganku masih sibuk menghubungi Iren. Namun, tidak kunjung ada jawaban juga. Ya Allah, habislah aku kalau sampai tertangkap lagi. "Please, angkat Ren, angkat!" lirihku. "Woy, Dinda ...." Terdengar suara teriakkan Astri, memb
"Cepat bikin sarapan!" titah Ibu mertua tiba-tiba. Aku pun langsung berdiri dan mengusap air mataku. Meskipun rasa sakit masih begitu terasa di seluruh tubuh, aku tetap berusaha waras. Aku tidak boleh panik ketakutan lagi! "Eh mau ke mana?" cegah Astri ketika aku berniat melangkah ke dapur. "I
"Aku mau ngambil tas Ibu," jawabku kemudian meraih tas- tas yang tergelatak di lantai, tepat di dekatnya. Panik sekali wajahnya tadi! Tenang, Mas! Sekarang, aku justru tidak akan keluar dari pintu rumah ini sebelum memastikan kamu, Astri, dan ibumu mendapat balasan atas penyiksaanku. Kuperhatika
“Dinda!”Belum sempat aku berjalan menuju dapur, Mas Aditya lagi-lagi berteriak. Ternyata, dia memintaku membuatkannya minuman teh hangat.Pikiran tidak waras kembali membisik. Aku tersenyum dan dengan gembira membuatkannya “minuman spesial”.Setelah selesai, kubawa naik menuju lantai dua dan mem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと