LOGINKeesokan harinya, Naomi kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi itu, dia baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua sosok yang sudah tidak asing lagi. Leon dan Maya.
Keduanya berdiri di dekat area lounge kantor sambil melihat beberapa dokumen. beberapa map terbuka di hadapan mereka, sementara beberapa lembar kertas penuh catatan tersebar di atas meja. Dari ekspresi mereka, keduanya terlihat sangat sibuk. Naomi yang awalnya hendak menghampiri akhirnya mengurungkan ni
Keesokan harinya, Naomi kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi itu, dia baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua sosok yang sudah tidak asing lagi. Leon dan Maya.Keduanya berdiri di dekat area lounge kantor sambil melihat beberapa dokumen. beberapa map terbuka di hadapan mereka, sementara beberapa lembar kertas penuh catatan tersebar di atas meja. Dari ekspresi mereka, keduanya terlihat sangat sibuk. Naomi yang awalnya hendak menghampiri akhirnya mengurungkan niat. Ia tidak ingin mengganggu.Naomi baru saja berbalik ketika Leon mengangkat wajah dan melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Leon langsung tersenyum."Sayang." panggil Leon dengan lantang.Naomi tersenyum balik. "Hai."Leon menutup mapnya sebentar dan berjalan menghampiri Naomi. Begitu sampai di hadapannya, Leon seperti biasa mencium kening Naomi dengan lembut."Kamu terlihat sibuk." ujar Naomi.Leon mengangguk. "Kami lagi buru-buru. Kliennya mau k
"Naomi!" Flora melambaikan tangan. "Sini!"Naomi menghampiri mereka."Punyamu sudah ada di mejamu." ujar Flora dengan semangat.Naomi mengernyit. "Punyaku?""Iya." jawab Flora. "Kamu dapat yang spesial." kekehnya.Naomi berjalan menuju mejanya. Begitu sampai, langkahnya berhenti. Di atas meja terdapat satu paket sushi yang langsung dikenalnya. Sushi kesukaannya. Di sebelahnya ada satu gelas matcha latte dingin. Naomi menatap makanan itu beberapa saat.Flora yang berdiri tidak jauh darinya langsung berkata, "Pesanan khusus. Kesukaan kamu."Naomi melihat sushi di depannya. Ia tahu siapa yang memesannya. Claudia pasti akan menyeragamkan pesanan. Jadi, itu pasti permintaan Mareeq. Entah kenapa, hatinya terasa sedikit hangat.Namun bersamaan dengan itu, ada rasa tidak nyaman yang ikut muncul. Dia harus berterima kasih. Naomi mengambil ponselnya. Ia membuka pesan pribadi dengan Mareeq.Naomi: Terima kasih untuk sushi dan match
"Kamu mau ke mana?" tanya Leon."Sky terrace. Mau cari udara."Leon mengangguk.Maya tersenyum kepada Naomi. "Hai.""Hai, Maya."Naomi melihat keduanya bergantian. Kemudian ia tersenyum tipis. "Kalian sudah kembali seperti semula."Maya hanya tersenyum.Leon tertawa kecil. "Bukan begitu." Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya. "Kami mendapatkan tugas bersama."Maya mengangguk.Leon menghela napas kecil. "Kliennya agak sulit.""Agak?" Maya tertawa."Oke. Sangat sulit." Leon merevisi.Naomi ikut tersenyum. Mereka benar-benarkembali arab seperti semula."Kami harus banyak koordinasi." Leon kemudian tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. "Eh, tapi kamu mungkin tahu klien ini."Naomi mengernyit. "Siapa?"Leon menyebut nama perusahaan tersebut. Lalu menyebut nama salah satu perwakilan proyek ini.Naomi langsung mengangguk. "Oh, aku tahu."Leon terlihat lega. "Syukur
"Terima kasih."Namun setelah jeda singkat, Claudia melanjutkan dengan nada yang terdengar lebih ringan."Setidaknya kamu masih punya Leon."Naomi menatapnya."Aku yakin setelah kejadian itu, Leon tidak akan membatalkan rencana pernikahan kalian."Suasana di sekitar mereka terasa sedikit berubah. Naomi terdiam sejenak sebelum menjawab. Claudia tersenyum kecil."Tapi sepertinya tidak, kan?""Claudia...""Kalian sangat serasi."Naomi menarik napas panjang. "Doakan saja yang terbaik."Claudia sedikit mengangkat alis. "Menurutku, setelah apa yang terjadi, justru sekarang Leon seharusnya semakin serius."Naomi menoleh. "Serius?"Claudia tersenyum. "Kalian sudah merencanakan pernikahan, kan? Jangan sampai semuanya berhenti hanya karena satu kejadian."Nada suaranya terdengar prihatin, tetapi ada sesuatu yang menusuk di balik kalimatnya. Naomi merasakan itu."Lagipula, kamu sudah kehilangan ba
Senin pagi, Naomi kembali ke kantor setelah beberapa hari mengambil cuti. Langkahnya terasa sedikit berat ketika memasuki gedung. Naomi menarik napas panjang. Ia harus kembali menjalani rutinitasnya.Ketika sampai di meja kerja, Flora yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung menoleh. Mata mereka bertemu. Flora terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dari kursinya."Naomi..." Flora berjalan mendekat dan memeluk Naomi.Naomi tersenyum kecil. "Hai."Flora kemudian melepas pelukannya. "Kamu sudah masuk?""Iya."Flora terlihat ragu untuk beberapa saat, seolah tidak yakin apakah ia seharusnya membicarakannya.Akhirnya ia berkata pelan, "Aku... turut sedih, Naomi."Senyum Naomi perlahan menghilang.Flora melanjutkan dengan suara lembut. "Aku benar-benar sedih.""Terima kasih."Flora mendekat dan menyentuh lengan Naomi. "Aku tahu mungkin enggak ada kata-kata yang bisa bikin semuanya jadi lebih baik."
Hari Minggu sore, setelah menghabiskan beberapa hari di rumah bersama Vino, Naomi akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Vino mengantarnya sampai ke lobi apartemen."Jika ada sesuatu kabari kakak." pesan Vino.Naomi mengangguk. "Hmm."Vino memperhatikan Naomi beberapa saat, seolah memastikan adiknya benar-benar baik-baik saja. "Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan."Naomi mengangguk lagi. "Kakak juga."Vino kemudian menepuk pelan kepala Naomi sebelum dia turun dari mobil. Naomi keluar dari mobil dan berjalan emuju pintu masuk ke lobi. Dia berdiri beberapa saat, memperhatikan kakaknya pergi.Sepanjang perjalanan menuju lantai apartemennya, Naomi merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Ia senang bisa kembali. Begitu pintu lift terbuka, Naomi berjalan menuju unitnya. Ia memasukkan kunci, memutarnya perlahan, lalu membuka pintu.Leon sudah berdiri tepat di hadapannya. Begitu melihat Naomi berdiri di ambang pintu dengan koper d
Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang







