LOGINPada akhirnya, hari yang paling tidak dinantikan Bita pun tiba.
Semalaman Bita sudah berusaha membangun kembali semangatnya. Namun begitu menyeret koper keluar rumah, seluruh antusiasme yang susah payah ia kumpulkan semalam seolah lenyap begitu saja mendapati di pekarangan rumah seberang, Mami dan Vino tampak sedang berkebun bersama."Ada apa nih?" seru Mami begitu melihat beberapa koper mulai dimasukkan ke bagasi mobil. Wanita itu segera menghampiri pagar yang membatasi ked“Sayang banget Vino lagi nggak ada di sini, Ta. Kalau ada, udah lari kayak orang cepirit ngeliat lo!”Celetukan Martin dari gazebo membuat langkah Bita yang hendak menuju kantin terhenti.Sejak keluar dari gedung tadi, matanya sebenarnya sudah sibuk menyapu area gazebo dan sekitarnya. Beberapa anak Manajemen memang sedang berkumpul di sana, tetapi sosok yang sejak tadi diam-diam ia cari tidak kunjung terlihat.Dan sekarang Martin justru menyinggung soal ketidakhadiran Vino. Bita hampir saja bertanya keberadaannya sebelum buru-buru mengerem mulut sendiri.Untung Sasha lebih dulu angkat suara. “Emang temen lo itu ke mana?”Bita nyaris ingin memeluk Sasha karena sudah mewakili pertanyaannya.“Makanya belakangan ini dia jarang kelihatan di kampus,” lanjut Martin. “Bukan cuma karena sibuk casting. Kadang ada briefing di agency, fitting, latihan, belum kalau ada panggilan buat audisi mendadak.”Martin melirik sekilas ke arah B
“Casting-nya untuk campaign fashion," ujar Naya begitu mereka tiba di lokasi. “Jadi kemungkinan kamu bakal diminta memperkenalkan diri, ambil beberapa digitals, jalan, terus mengikuti arahan mereka untuk pose. Jangan terlalu dipikirin. Ikuti instruksinya aja.”Vino mengangguk. “Oke.”Hari ini Vino mendapat jadwal casting modeling pertamanya sejak resmi menjadi talent Apex. Naya mengirimkan brief casting tersebut semalam, lengkap dengan waktu dan lokasi yang harus didatangi. Karena ini merupakan casting pertamanya, Naya memutuskan untuk mendampinginya langsung. “Dan satu lagi, jangan bandingin diri kamu sama kandidat lain.” Naya tersenyum tipis. “Karena kamu bakal lihat banyak orang yang kelihatannya lebih berpengalaman. Fokus sama apa yang bisa kamu lakukan.” Vino kembali mengangguk. Mereka kemudian masuk ke area casting. Begitu sampai, Vino langsung menyadari satu hal. Kandidatnya jauh lebih banyak dari
“Dasar bocah nakal! Nakal!” Vino seketika terlonjak dari tidurnya. Matanya mengerjap panik bergerak acak menatap meja belajar, buku-buku yang berserakan, lembaran kertas, lalu beralih pada wajah berang Mami di hadapannya. Belum sempat memahami apa yang terjadi, pukulan kembali mendarat di punggungnya. “Mami!” “Apa? Mau marah?” tantang Clara dengan dagu terangkat. Lengan bajunya bahkan sudah digulung sampai siku, sementara kedua tangannya berkacak pinggang. “Harusnya Mami yang marah karena bisa-bisanya kamu nyebur ke dunia hiburan tanpa bilang-bilang sama Mami?! Dasar bocah gemblung!” Pukulan berikutnya kembali melayang hingga rasa kantuk yang mendera Vino sepenuhnya menguap. Ia buru-buru mengangkat kedua tangan untuk melindungi diri. “Vino nggak sempat bilang, Mi!” jeritnya, berhasil menghentikan pukulan Clara. “Nggak sempat kamu bilang?!” Mata Clara melotot. “Sudah sebulan kamu
Vino mengetuk pintu sebelum membukanya setelah mendapat izin dari dalam. Namun langkahnya langsung terhenti sesaat ketika melihat siapa saja yang ada di dalam. Adrian ternyata tidak sendirian. Reynald duduk santai di salah satu sofa bersama Adrian, keduanya tampak sedang berbincang. Begitu melihat Vino masuk, Adrian langsung menoleh dan menunjuk ke arahnya. “Nah, tuh. Lihat sendiri anaknya.” Reynald ikut menoleh. “Ngapain ngejogrog di situ? Masuk," tegur Adrian. Vino menutup pintunya dan segera masuk. Ikut duduk bersama keduanya saat dipersilakan Adrian. "Capek?” tanya Reynald. Ada percik kekhawatiran yang Vino baca dari sorot matanya. “Lumayan, Om," jawab Vino sambil menyengir kuda. “Masih mau lanjut?” Vin
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita segera menyapa Vino sesaat setelah laki-laki itu memasuki gedung Apex dan berhenti di depan meja resepsionis. “Pagi. Saya Vino. Saya ada jadwal onboarding sebagai talent baru.” Resepsionis mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada layar komputer di hadapannya. “Alvino Kusuma Anggara?” “Benar.” “Baik, Mas Vino. Sebentar, ya. Saya hubungi tim Talent Management terlebih dahulu.” Vino mengangguk. Resepsionis kemudian meraih gagang telepon di samping monitor dan menekan beberapa tombol. Tak lama kemudian, ia mulai berbicara dengan seseorang di ujung sambungan. Beberapa saat kemudian, suara resepsionis kembali terdengar. “Mas Vino?” Vino segera menoleh. “Ya?” “Orang dari Talent Management-nya sedang
Bita bersenandung ringan ketika memasuki pekarangan rumah. Namun baru beberapa meter melaju, ia tiba-tiba memekik saat ban motor kesayangannya, si Pink, tak sengaja menginjak kotoran kucing.“Mama!”Tak berapa lama, Anggun keluar dari dalam rumah dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya langsung panik. “Kenapa, Ta? Habis nabrak pejalan kaki? Kucing yang nyelonong lewat? Atau habis jatuh di jalan? Ya ampun, mana yang sakit?”“Kucing Pak Wahyu kok dibiarin main di pekarangan rumah, sih, Ma? Tainya jadi ke mana-mana, tuh. Di situ juga ada!” Bita menunjuk beberapa titik di halaman yang dipenuhi kotoran kucing. Anggun langsung mengusap dada lega. “Mama kira apaan.” Lalu matanya beralih pada Bita yang meringis jijik. “Lha, wong kamu sendiri yang dulu sempat bawa kucingnya ke rumah buat diobatin. Jadinya sekarang dia tiap hari nyariin kamu. Udah sayang sama kamu, pengin main lagi pasti.”Bita menggersah kesal. “Sayang sih sayang. Tapi dia berak
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







