공유

Bab 108

작가: Nabila Ara
last update 게시일: 2026-10-17 16:31:24

Sore itu, Tara duduk di bangku kayu dekat garasi. Sudah hampir dua jam sejak mereka pulang dari restoran, tapi pintu kamar Luna di lantai dua masih tertutup rapat.

Tara sudah dua kali naik ke atas. Dua kali pula ia berdiri di depan pintu kamar itu dengan tangan terangkat, siap mengetuk. Dan dua kali pula ia turun lagi tanpa melakukan apa-apa.

Ia takut Luna masih ingin sendiri. Ia juga takut kehadirannya justru membuat gadis itu semakin teringat kejadian di restoran tadi.

“Haaah,” Tara mengembus
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 153

    Pagi ini seluruh kota di hebohkan oleh video yang membuat para warga terkejut.Di layar-layar televisi rumah makan, di ponsel orang-orang yang berdesakan di halte bus, hingga di layar raksasa yang terpasang di persimpangan jalan protokol, wajah seorang pembawa berita muncul dengan ekspresi serius.“Pemirsa, pagi ini kami menghadirkan kabar yang mengejutkan. Kasus kecelakaan yang menewaskan pasangan suami istri pendiri Askara grup, Adiwangsa Askara dan Kirana Askara, dua puluh tahun lalu, ternyata bukan kecelakaan biasa. Bukti terbaru mengungkap bahwa peristiwa itu adalah pembunuhan berencana.”Orang-orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing perlahan berhenti melangkah. Seorang tukang ojek mematikan mesin motornya. Para pegawai kantoran yang menunggu lampu hijau mendongak ke arah layar raksasa itu.Layar berganti menampilkan rekaman CCTV yang buram dan bergetar. Sebuah jalan tol di malam hari, basah oleh sisa hujan. Sebuah sedan putih melaju di lajur kiri.Di bahu jalan, tid

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 152

    “Luna, istirahat dulu ya,” bujuk Gilang.Luna masih terus berdiri di depan ruang ICU. Pandangannya tidak beralih dari sana. Bahkan sejak tadi Gilang terus membujuknya untuk mengganti baju atau sekadar duduk, Luna tidak mengindahkannya.Gilang menghela napas panjang karena Luna begitu keras kepala. Ia bingung harus membujuk Luna dengan cara apa lagi. Ia tidak kenal dengan teman dekat Luna maupun siapa pun yang dekat dengan gadis itu.Akhirnya Gilang menjauh dari Luna karena ia ingin menghubungi orang kepercayaannya yang mengurus Hardiman dan orang-orang Hardiman yang sudah diamankan oleh pihak kepolisian.Hardiman dan orang-orangnya memang sudah diamankan oleh polisi, dan Gilang mempercayakan urusan itu pada orang kepercayaannya.Gilang mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Kiano.“Tuan, Hardiman dan orang-orangnya sudah di kantor polisi,” terdengar suara Kiano dari seberang sana.“Kamu terus pantau mereka di sana. Aku belum bisa ke sana karena harus mengurus Tuan Tara di rumah sak

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 151

    Tubuh Luna masih gemetar. Bajunya penuh dengan darah Tara. Air matanya tidak bisa berhenti sejak tadi. Tatapannya tidak beralih dari pintu ruang pemeriksaan.Di dalam sana, Tara masih diperiksa oleh para dokter.Tadi begitu ambulans datang, Tara langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Luna sama sekali tidak mau jauh dari Tara. Ia ikut masuk ke dalam ambulans yang membawa pria itu.Gilang tidak ikut dalam ambulans, tetapi ia menyusul dengan mobilnya.“Tuhan, tolong selamatkan Tara,” batin Luna.Sudah tiga puluh menit Tara berada di ruang pemeriksaan, tetapi dokter belum keluar sama sekali.Saat ini ia sangat takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Tara.Di depan ruang pemeriksaan itu hanya ada Luna dan Gilang.Luna duduk di kursi tunggu yang dingin. Kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Darah Tara yang mengering di sela jemarinya terasa kaku dan lengket. Ia tidak berani membersihkannya. Seolah kalau darah itu hilang, Tara juga akan ikut hilang.Di dalam ambulans tadi, Luna te

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 150

    Waktu seolah berhenti.Di dalam gudang itu, tidak ada yang bergerak. Hanya suara ombak yang memukul dermaga di luar sana, dan napas Luna yang tersengal di balik lakban.Ujung pistol itu menekan pelipis Luna. Dingin. Begitu dingin hingga seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.Luna menatap Tara. Pria itu berdiri hanya empat langkah darinya. Begitu dekat. Tapi rasanya begitu jauh.“Lepaskan dia, Hardiman,” ucap Tara pelan. Kedua tangannya terangkat sedikit, menunjukkan ia tidak membawa apa-apa. “Kamu mau aku, kan? Aku di sini. Ambil aku saja.”“Diam!” bentak Hardiman. Tangannya yang memegang pistol bergetar. “Kamu sudah menghancurkan semuanya! Dua puluh tahun aku membangun hidupku, dan kamu menghancurkannya dalam satu malam!”Dari sudut matanya, Tara melihat Gilang bergeser perlahan ke samping. Sangat pelan. Mendekati Hardiman dari sisi kiri yang gelap.Tara harus mengulur waktu. Ia harus membuat Hardiman menatapnya. Hanya dirinya.“Larasati,” ucap Tara tiba-tiba.Hardiman tersentak. M

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 149

    Pukul dua belas kurang lima menit, mobil yang Tara kendarai berhenti di depan Gedung tua dekat dengan dermaga.Dermaga itu gelap dan sunyi. Hanya ada suara ombak yang memukul tiang-tiang kayu di bawah dermaga, dan angin laut yang berembus dingin membawa bau garam.Tara turun dari mobil. Ia tidak lagi memakai kaus polos dan celana kain seperti biasanya. Malam ini ia mengenakan kemeja hitam dan jas gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia berdiri sebagai Askara.Di balik jasnya, rompi antipeluru melekat erat di tubuhnya. Dan di telinganya, sebuah alat komunikasi kecil yang hampir tidak terlihat.“Aku sudah di depan,” bisik Tara.“Kami sudah di posisi,” jawab suara Gilang di telinganya, nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Di bawah dermaga belakang. Tunggu sinyalmu.”Tara menarik napas dalam-dalam. Lalu ia berjalan menuju pintu gudang.Dua pria bertubuh besar menghadangnya. Salah satu dari mereka menggeledah tubuh Tar

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 148

    Luna terbangun dengan kepala berdenyut hebat.Udara di sekitarnya dingin dan lembap. Bau karat, oli, dan air laut menusuk hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi tali kasar mengikat pergelangannya erat di belakang sandaran kursi. Mulutnya masih tertutup lakban.Perlahan, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan.Ia berada di sebuah gudang besar. Dinding-dindingnya terbuat dari seng berkarat dengan beberapa lubang kecil yang membiarkan cahaya senja masuk. Di sudut ruangan, tumpukan peti kayu tua menjulang tinggi. Dari kejauhan terdengar debur ombak.Pelabuhan.Luna menelan ludah. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Langkah kaki terdengar mendekat. Pelan dan teratur.Hardiman muncul dari balik tumpukan peti. Ia masih mengenakan setelan jas rapi, seolah baru saja keluar dari rapat penting, bukan dari tempat penyekapan. Di belakangnya, dua pria bertubuh besar berdiri dengan senjata terselip di pinggang.Hardiman menarik sebuah kursi dan duduk di depan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status