Compartilhar

Peperangan

Autor: QuinzeeQ
last update Data de publicação: 2026-04-02 14:41:04

“Tuan. Aku harus pergi sekarang,” ucap Ming Zhu.

Liang Wei mengangguk dengan berat. “Kau harus ingat untuk pulang kerumah,” bisiknya.

Perjalanan menuju kerajaan sebelah dimulai sebelum matahari benar-benar tinggi. Ming Zhu mengenakan pakaian sederhana, menyamarkan dirinya sebagai wanita biasa. Beberapa pengawal bayangan mengikuti dari jarak jauh atas perintah Liang Wei meski ia tidak menoleh satu kali pun ke arah mereka.

Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja mening
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   menyerang markas han qiye

    Malam masih menggantung ketika langkah tergesa terdengar di lorong kediaman Liang Wei. Pintu kamar diketuk cepat. “Tuan! Aku membawa kabar penting.” Su Mu. Ming Zhu yang tengah membantu Liang Wei merapikan jubahnya segera membuka pintu. Wajah Su Mu tampak serius tidak seperti biasanya. “Ada apa?” tanya Ming Zhu. Su Mu masuk, lalu memberi hormat singkat. “Tuan, Nona Ming. Kita menemukan jejak baru terkait penyelundupan itu,” ujarnya cepat. Liang Wei mengambil tongkatnya dan mulai berdiri dengan bantuan Ming Zhu. Meski pandangannya mulai kabur, ketenangannya tetap terasa. “Katakan,” ucap Liang Wei. Su Mu mengeluarkan gulungan kecil. “Barang selundupan itu bukan hanya senjata, tapi juga obat-obatan langka dari wilayah barat. Semuanya masuk lewat jalur sungai utara.” Ming Zhu mengernyit. “Jalur itu diawasi ketat. Tidak mungkin tanpa orang dalam.” Su Mu mengangguk. “Dan kami menemukan tanda pada peti—lambang keluarga dagang yang berada di bawah perlindungan ista

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kondisi mata Liang Wei

    Pagi itu, di kediaman Liang Wei sangat kacau. Beberapa pelayan saling bergosip tentang kondisi tuan mereka. Dan beberapa pengawal mulai memperketat penjagaan atas perintah dari Liang Wei sendiri. Disisi lain, Tabib tengah berlari kearah kamar Liang Wei bersama dengan Su Mu. Beberapa saat kemudian, tabib masuk dengan tergesa. Ia langsung mendekat, memeriksa dengan serius. Wajahnya perlahan mengeras. “Racunnya, masih menyebar,” gumamnya. Ming Zhu menatapnya tajam. “Kau bilang ini bisa ditahan,” ujar Ming Zhu. “Seharusnya,” jawab tabib. “Tapi ini bukan racun biasa. Sepertinya sudah bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat.” Su Mu yang baru masuk langsung mendecak. “ Jadi sekarang, apa yang harus kita lakukan?” Tabib menarik napas panjang. “Kita harus mempercepat penanganan. Kalau tidak—“ Ia tidak melanjutkan. Namun semua orang mengerti. Sunyi jatuh. Berat. Ming Zhu kembali ke sisi Liang Wei. Lebih dekat. “Bisakah kau melihatku?” tanyanya pelan. Liang Wei menoleh ke

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menjaga Liang Wei

    “Siapkan ramuan penawar. Cepat,” ucap Tabib pada pelayan. Pelayan segera pergi. Su Mu mengusap wajahnya kasar. “Hebat. Di saat seperti ini,” Liang Wei berdiri perlahan. Sedikit goyah— namun tetap berdiri. Ming Zhu langsung menahannya. “Jangan bergerak.” “Aku masih bisa berdiri,” jawab Liang Wei. “Su Mu. Ambilkan tongkatku,” ucap Liang Wei. “Baik Tuan,” ucap Su Mu. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Di dalam kamar, cahaya dibuat redup. Tirai ditutup untuk menahan silau. Aroma herbal memenuhi udara lebih tajam dari sebelumnya. Liang Wei duduk bersandar, mata setengah terpejam. Bukan karena ingin tidur tapi karena itu satu-satunya cara meredam rasa perih. Di sampingnya, Ming Zhu duduk diam. Tidak pergi. Tidak berbicara. Hanya ada. Tabib datang kembali membawa semangkuk ramuan baru. Warnanya lebih gelap, aromanya lebih pahit. “Ini untuk menahan penyebaran racun,” katanya. “Akan sedikit menyakitkan,” lanjutnya. Su Mu yang bersandar di dekat pintu mendeng

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penyelundupan

    Detik berikutnya— CLANG! Pedang Ming Zhu bergerak. Namun bukan untuk membunuh. Han Qiye sudah menghindar setengah langkah, senyumnya kembali dingin. Dalam sekejap, suasana berubah—tenang yang tegang menjadi ledakan aksi. Dari lorong samping— langkah kaki terdengar. Banyak. Ming Zhu langsung menyadari. “Jadi ini rencanamu?” katanya dingin. Han Qiye tertawa pelan. “Kau pikir aku hanya menunggumu, tanpa menyiapkan sesuatu yang lebih menarik?” Pintu-pintu samping terbuka. Beberapa orang berlari masuk bukan prajurit biasa. Mereka membawa peti-peti kayu. Cepat. Terburu-buru. Seolah sedang memindahkan sesuatu. Mata Ming Zhu langsung menangkap detail itu. “Penyelundupan,” gumamnya. Han Qiye tidak menyangkal. “Pendanaan perang tidak datang sendiri,” ujarnya santai. “Senjata, racun, logam langka semua harus bergerak tanpa diketahui istana.” Ming Zhu menyipitkan mata. Jadi ini bukan hanya soal dirinya. Ini jauh lebih besar. Di luar Liang Wei merasakan pergerakan mendadak di sisi bangun

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Isi Hati Han Qiye

    Malam turun perlahan, membawa bayangan yang lebih pekat dari sebelumnya. Di halaman dalam kediaman Liang Wei, cahaya lentera bergoyang pelan. Persiapan berjalan diam-diam kuda disiapkan, senjata diperiksa, dan orang-orang bergerak tanpa banyak suara. Di sudut yang lebih sepi Ming Zhu berdiri, merapikan ikatan di pergelangan tangannya. Pakaiannya ringan, siap untuk bergerak kapan saja. Langkah kaki mendekat. Ia tidak menoleh. “Kau masih punya waktu untuk mundur,” suara Liang Wei terdengar rendah. Ming Zhu tersenyum tipis. “Kalau aku mau mundur aku tidak akan sampai sejauh ini,” ucapnya Liang Wei berhenti di sampingnya. Hening sejenak. Namun kali ini— ia tidak langsung bicara soal rencana. “Ada satu hal yang belum kau jelaskan,” ucap Liang Wei. Ming Zhu akhirnya menoleh. Tatapan Liang Wei dalam. “Han Qiye.” Nama itu terasa berat. “Dia tidak hanya mengenalmu,” lanjut Liang Wei. “Cara dia memandangmu itu bukan sekadar musuh.” Ming Zhu terdiam. Tatapannya perlahan menja

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Rencana serangan balik

    Kamar itu kembali sunyi. Ming Yue masih tertidur di ranjang, napasnya tenang, sementara cahaya pagi semakin terang menyelimuti ruangan. Liang Wei berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ming Zhu masih di dekat ranjang namun pikirannya jelas tidak lagi di sana. Beberapa detik berlalu. Lalu Ming Zhu melangkah pelan mendekat. “Sudah pagi Tuan. Dan kau belum beristirahat sama sekali,” ucap Ming Zhu.. Liang Wei menoleh. “Dan kau pun sama,” ucap Liang Wei. Ming Zhu menghela napas tipis. “Aku hampir kehilangan dia.” “Dan aku hampir kehilanganmu,” ujar Liang Wei. Jawaban itu datang tanpa jeda. Ming Zhu terdiam. Tatapannya perlahan terangkat, bertemu dengan mata Liang Wei. Tidak ada lagi jarak dingin seperti sebelumnya. Hanya sisa-sisa ketegangan dan sesuatu yang lebih dalam. “Aku tahu kau akan datang,” kata Ming Zhu pelan. Liang Wei mendekat satu langkah. “Kau terdengar terlalu yakin.” “Karena itu kau. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun,” ucap Ming Zhu. Jawaban sederh

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perang Berdarah Dua Saudari

    “Aku yang disiksa , kelaparan dijalanan, sampai akhirnya dia yang menemukanku.” Hening. Angin berhembus pelan, membawa ketegangan yang semakin tajam. “Dia memberiku kekuatan Dan alasan untuk tetap hidup.” Mata Ming Yue kembali dingin. “Dan sekarang, dia memintaku membawamu,” lanjutnya. Mi

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Udang dibalik batu

    Ming Zhu langsung mengangkat wajahnya. Pria berjubah hitam itu berdiri di hadapannya Han Qiye. Wajahnya kini terlihat jelas di bawah cahayatajam, tenang dan penuh kepastian. Seolah hasil ini sudah ia perkirakan sejak awal. “Aku sudah bilang,” “kau tidak akan bisa pergi sejauh ini,” lanjutnya sa

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Istana tetangga

    “Kau sudah berubah,” ucap Liang Wei. “Berubah bagaimana?” “Tidak seperti awal bekerja disini,” ujar Liang Wei. Ming Zhu tak menjawab. “Kau benar-benar tahu posisimu sebagai seorang Putri,” ucap Liang Wei. Tangan pria itu naik dan mulai mengelus pipi Ming Zhu. “Jangan bahas ini sekarang

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Upaya Putri Ketiga

    Semua potongan yang selama ini terasa samar kini menjadi jelas cara dia bertarung, ketenangannya di situasi berbahaya, bahkan aroma khas yang dulu membuat Liang Wei merasa aneh namun familiar. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah seseorang yang sejak awal hidup dalam bahaya. “Kenapa tidak memberitah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status