Share

Peperangan

Author: QuinzeeQ
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-02 14:41:04

“Tuan. Aku harus pergi sekarang,” ucap Ming Zhu.

Liang Wei mengangguk dengan berat. “Kau harus ingat untuk pulang kerumah,” bisiknya.

Perjalanan menuju kerajaan sebelah dimulai sebelum matahari benar-benar tinggi. Ming Zhu mengenakan pakaian sederhana, menyamarkan dirinya sebagai wanita biasa. Beberapa pengawal bayangan mengikuti dari jarak jauh atas perintah Liang Wei meski ia tidak menoleh satu kali pun ke arah mereka.

Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja mening
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Penjaga makam

    Kini semuanya menjadi masuk akal. Mengapa Wang Ji'an bersusah payah mencari Ming Zhu. Mengapa Pangeran Rui tidak pernah menyerah memburunya. Mereka membutuhkan darah pewaris Dinasti Ming. Ming Zhu menarik napas panjang. Kemudian tanpa ragu, ia mengeluarkan belati kecil. Namun sebelum bilah itu menyentuh telapak tangannya, Liang Wei menahan pergelangan tangannya. "Tunggu,” ucapnya pelan. Ming Zhu menatapnya. "Bagaimana jika ini jebakan?" ucap Liang Wei. Jenderal Luo segera menjawab, "Jika tidak dibuka sekarang, kita akan kehilangan kesempatan, Pangeran,” ujar Jenderal Lup. Liang Wei tetap tidak melepaskan tangannya. Tatapannya mengarah ke dinding batu. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Lalu, Mo Lin yang sedang mengamati sekitar tiba-tiba berseru pelan. "Yang Mulia,” ucapnya pelan. Semua menoleh. Mo Lin menunjuk ke arah tanah di dekat gerbang batu. Ada bercak darah yang masih segar. Tidak jauh darinya tergeletak sebuah pedang patah. Hei Yan memung

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Peperangan

    Fajar mulai menyingsing di balik Pegunungan Baiyun. Dari atas tebing, rombongan Liang Wei masih mengamati dua pasukan yang saling berhadapan di lembah. Untuk sementara, tidak ada yang bergerak. Ketegangan di bawah justru memberi waktu bagi mereka untuk beristirahat sejenak. Hei Yan, Su Mu, Mo Lin, dan Ye Shuang berpencar memeriksa jalur yang akan mereka lalui berikutnya. Tuan Tianyi memanfaatkan waktu itu untuk memeriksa kembali luka lama Ming Zhu. "Syukurlah lukanya sudah menyatu dengan baik," gumamnya. "Tetapi jangan memaksakan diri bertarung terlalu lama,” lanjutnya dengan sedikit sewot. Ming Zhu mengangguk. "Aku mengerti, Tuan. Terimakasih,” balas Ming Zhu. Setelah Tuan Tianyi pergi, Ming Zhu berjalan perlahan menuju sebuah batu besar di tepi tebing. Dari sana, reruntuhan bekas wilayah Dinasti Ming tampak samar di kejauhan. Liang Wei menghampirinya tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan menikmati embusan angin pagi. "Apa yang k

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Perjalanan ke gunung baiyun

    Malam itu juga tanpa membuang waktu, rombongan Liang Wei segera meninggalkan desa di bawah pimpinan Jenderal Luo. Mereka tidak membawa banyak perbekalan. Kecepatan jauh lebih penting daripada kenyamanan. Langit dipenuhi awan gelap. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan, menerangi jalan setapak menuju Pegunungan Baiyun. Jenderal Luo berlari di barisan paling depan. "Jika perkiraanku benar, pasukan Wang Ji'an mengambil Jalur Naga Batu,” ucapnya. "Apakah itu jalan tercepat?" tanya Liang Wei. "Bukan, Yang Mulia,” jawab Jenderal Luo. "Kalau begitu kenapa mereka memilihnya?" tanya Liang Wei. "Karena jalur itu cukup lebar untuk dilalui ratusan prajurit,” jelas Jenderal Luo. "Tetapi ada jalan lain yang lebih sempit. Hanya orang-orang Dinasti Ming yang mengetahuinya,” lanjutnya. Ming Zhu langsung memahami maksudnya. "Jalur itu akan memotong perjalanan mereka,” ucap Ming Zhu cepat. Jenderal Luo mengangguk. "Benar, Yang Mulia,” ucap Jenderal Luo. Liang Wei seger

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Kembalinya Jenderal Luo

    Kaisar dan Kasim tua itu saling melirik. “Yang Mulia, ini—“ Perkataan kasim itu terputus. “Permainan mereka telah dimulai,” sela Kaisar sembari menghela nafasnya. Sementara itu, jauh di selatan, di bekas wilayah Dinasti Ming. Desa kecil di kaki Pegunungan Baiyun masih diselimuti ketegangan setelah kemunculan pasukan berpanji gagak hitam. Namun anehnya, mereka tidak langsung menyerang. Jenderal bertopeng yang memimpin pasukan itu hanya menghentikan kudanya sekitar seratus langkah dari gerbang desa. Tatapannya lurus mengarah kepada Ming Zhu. "Putri Ming,” ucapnya. Suara beratnya bergema. "Ikutlah denganku,” lanjutnya. Hei Yan langsung tertawa sinis. "Kalau mau mengundang orang, setidaknya turun dulu dari kudanya!” seru Hei Yan. Su Mu mengangguk. "Dan bawa hadiah!” sambung Su Mu. "Diamlah!” celetuk Mo Lin Mo Lin menepuk kepala keduanya pelan. Di tengah candaan mereka, Liang Wei melangkah satu langkah ke depan Ming Zhu. Pedangnya masih berada dalam sarung.

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Teratai hitam

    Kaisar memandang peta besar Kekaisaran Xuanyin yang tergantung di dinding. Tatapannya kemudian bergeser ke arah selatan. Ke arah bekas wilayah Dinasti Ming. Tempat Liang Wei dan rombongannya sedang menuju. "Semoga kau lebih cepat menemukan kebenaran sebelum perang ini benar-benar pecah,” gumamnya. Di luar istana, genderang malam kembali dipukul. Menandakan bahwa Xuanyin telah memasuki keadaan siaga penuh. “Yang Mulia,” ucap Permaisuri. Kaisar menoleh dan mendapati Istrinya tengah berjalan kearahnya. “Ada apa? Ini sudah larut,” ucap Kaisar. Permaisuri menghela nafas. “Yang Mulia tahu bahwa ini sudah malam. Tapi kenapa masih belum beristirahat?” ucap Permaisuri. “Zhao’er kau seharusnya paham kenapa aku tidak bisa beristirahat,” ucap Kaisar. Permaisuri mendekat. Ia kemudian menggenggam tangan Kaisar. “Walau situasi sedang kacau seperti ini, Yang Mulia tidak boleh mengabaikan kesehatan sendiri,” ujar Permaisuri. Kaisar menghela nafasnya. “Aku khawatir dengan Liang W

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Desa Baiyun

    Kabut tipis menyelimuti hutan ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tidak seorang pun mengendurkan kewaspadaan. Jejak roda kereta dan lambang Teratai Biru yang ditemukan Ming Zhu menjadi bukti bahwa mereka tidak jauh dari seseorang yang mengetahui rahasia Dinasti Ming. Mo Lin berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Di belakangnya, Ye Shuang dan Hei Yan bergantian mengamati pepohonan di kanan dan kiri. Su Mu, seperti biasa, mencoba mencairkan suasana. "Kalau kita terus berjalan begini, aku yakin yang pertama menemukan makam bukan kita!” ujarnya. Hei Yan meliriknya. "Lalu siapa?" tanya Hei Yan. "Perutku,” jawab Su Mu cepat. Ming Yue tertawa kecil. "Sejak berangkat, yang kau pikirkan hanya makan,” ejek Ming Yue. "Aku hanya menjaga semangat tim saja, bukan begitu Yang Mulia?” ujar Su Mu. "Alasan,” balas Liang Wei singkat. Di tengah candaan mereka, Liang Wei memperhatikan Ming Zhu yang sejak tadi lebih banyak diam. Ia memperlambat langkah hingga berja

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menteri pertahanan Guo Shen

    SHHKKK! Sebuah anak panah berhasil merobek lengan Ming Zhu. “Ouch,” rintihnya. “Kau tidak papa?” ujar Liang Wei sembari menangkap Ming Zhu. “Aku baik-baik saja, Tuan,” ucapnya berbohong karena penglihatan Liang Wei tidak cukup jelas untuk melihat luka Ming Zhu. “Tuan, penyergapan!” ujar s

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Target pertama

    “Segera selesaikan masalah ini. Lebih cepat, lebih baik,” ujar Kaisar sebelum meninggalkan Aula. “Baik Yang Mulia!” ujar keempatnya serentak. Setelah Kaisar meninggalkan ruangan, Ming Zhu mendekat kearah Liang Wei dan membantu Pria itu berjalan keluar. “Apa rencana mu selanjutnya, Tuan?” ucap

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Panggilan dari istana

    “Tidak. Justru tepat waktu,” ucap Liang Wei. Ming Zhu dengan cepat bangkit dari ranjang dan berjalan kearah Ming Yue. “Berikan obatnya padaku, Kak,” ucap Ming Zhu. Nada suaranya kembali dingin. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja berbagi ranjang. Ming Yue berjalan masuk perlahan, masi

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Bisikan para pelayan

    “T-tapi aku bisa berjalan sendiri,” gugup Ming Zhu. “Aku tahu. Tapi malam ini, biar aku yang melakukannya,” bisik Liang Wei. Ming Zhu terdiam sejenak. Ia tidak benar-benar melawan meski alisnya sedikit berkerut, dan tatapannya tajam seperti biasa. Namun anehnya, ia tidak meminta diturunkan lagi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status