Masuk“Itu karena … Ibu memiliki kepekaan terhadap sihir gelap. Dia datang dari garis keturunan yang sama dengan Clara, meski dia selalu menolak jalan gelap itu. Dan kabarnya yang aku dengar, Putri Mahkota Lysandra juga memiliki semacam kemampuan penyembuh untuk sihir gelap. Jika ada yang bisa membedakan sihir pada liontin itu hanya dengan melihatnya, itu adalah ibuku.”
Mata Xylas berbinar penuh rencana. “Kau harus memastikan boneka itu memakai liontinnya saat kalian menghadiri pesta minum teh bersama. Dan kau harus membujuk Ibu untuk memeriksanya, tanpa menimbulkan kecurigaan.”Itu adalah permintaan yang hampir mustahil. Memanipulasi Janda Permaisuri dengan cara paling licik? Tapi Lysandra mengerti maksud Xylas. Jika Seraphina bisa mengatakan adanya sihir pada liontin itu, mereka akan memiliki bukti yang sah untuk menyita dan memeriksanya.Sebuah langkah yang jauh lebih elegan daripada pencurian terang-terangan.“Saya akan mencoba,Mereka mulai menyusun rencana untuk memasuki hutan kecil yang dikutuk itu. Xylas mengendarai kuda bersama Lysandra. Sedangkan Roland dengan Frederick menggunakan kuda mereka masing-masing.Hutan itu bukan sekadar tempat yang gelap. Tempat itu adalah sebuah entitas yang menelan cahaya. Bahkan sinar matahari siang yang terang tampak redup dan terdistorsi saat melewati kanopi daun hitam-keabuan yang berputar-putar. Suara kuda mereka terdengar teredam, dan udara terasa basah serta diam.Terlalu sunyi.Tidak ada kicau burung, tidak ada desah serangga.Shadow, kuda Xylas yang hitam legam, mendengkus gelisah, mengais tanah dengan cakarnya. Xylas tidak memaksanya. Dia melompat turun, lalu dengan hati-hati membantu Lysandra turun. Sentuhannya di pinggangnya berlangsung lebih lama dari yang diperlukan, sebuah kontak terakhir yang penuh arti sebelum mereka masuk.“Tempat ini ... rasanya terkutuk,” gumam Frederick, mata birunya yang tajam menyapu pepohonan.“Karena memang dikutuk,” jawab Roland d
Lysandra duduk tegak, rasa lemahnya hilang digantikan oleh kewaspadaan yang tajam. “Ratu Utara mungkin menginginkan saya,” ucapnya, suaranya datar.Xylas menggenggam kain hingga kepalannya putih. “Tidak akan pernah terjadi selama aku masih berkuasa.”“Tapi itu masuk akal,” kata Lysandra, berdiri meski kakinya masih goyah. Xylas segera membantunya, tangannya yang kuat melingkari pinggangnya. “Dia kehilangan bonekanya. Dia kehilangan liontinnya atau dia berpikir dia kehilangannya. Dia membutuhkan komponen kunci untuk ritualnya, apa pun itu. Dan saya ... saya mungkin kesalahan yang dia butuhkan untuk dimanfaatkan.”“Tidak akan,” geram Xylas, suaranya penuh amarah. “Kau adalah milik Kerajaan Barat. Dan kau adalah milikku.”“Kumpulkan pasukan. Semua Pengawal Elit. Kita bergerak menuju reruntuhan kuil itu sebelum bulan baru,” katanya.“Yang Mulia, itu mungkin jebakan,” Frederick mengingatkan “Tentu saja itu jebakan,” sambar Xylas. “Tapi dia membuat satu kesalahan.”Xylas menatap Lysandra,
Xylas tidak beranjak sama sekali. Setelah menidurkan Lysandra di ranjangnya, dia tetap berlutut di sampingnya, tatapannya tak lepas dari wajah pucat Lysandra. Amarah yang membara seperti lahar di dalam dadanya, tapi di atas itu semua ada sebuah rasa lega yang begitu besar hingga terasa menyakitkan. Dia hampir kehilangan dia.Hampir saja.Tanpa kata-kata, tangannya yang masih gemetar naik untuk menyentuh pipi Lysandra. Sentuhannya sangat lembut, sebuah kontras yang mencolok dengan kekerasan yang baru saja dia berikan terhadap Inggrid. Ibu jarinya dengan hati-hati mengusap setitik lumpur di tulang pipinya, lalu berhenti di bibirnya yang kering dan pecah-pecah.“Lyra,” gumamnya, nama itu keluar seperti doa dan pengakuan bersamaan.Lalu, dia membungkuk.Bibirnya menyentuh lembut bibir Lysandra.Ciuman itu tidak seperti yang sebelumnya. Bukan klaim posesif, bukan ujian, bukan ledakan emosi yang bingung. C
Lysandra mencari keberadaan Ratu Utara, Clara, di kamar khusus tamu kerajaan. Saat langkahnya masuk ke area itu, suara seseorang membuatnya terkejut.“Kau pikir kau menang, Lyra?” kata suara itu.Lysandra menoleh. Namun, belum sempat dia mengetahui wajah pemilik suara itu, seseorang telah membekap mulut dan hidungnya dengan kain berisi obat penenang.Lysandra terkulai lemas seketika.“Cepat, bawa dia ke penjara bawah tanah!” seru orang itu.“Tamat sudah riwayatmu, Lyra!!” Inggrid, pemilik suara itu memerintahkan.Lyra hanya melihat remang-remang. Lalu, semuanya gelap.Kemudian, kesadaran yang samar-samar, berdenyut menyakitkan di pelipisnya. Bau tanah lembab, jamur, dan kotoran yang membusuk memenuhi hidung Lysandra sebelum dia bisa membuka matanya. Suara tetesan air yang lambat dan berirama bergema di kejauhan. Rantai dingin membelit pergelangan tangannya, mengikatnya ke dinding batu y
“Itu karena … Ibu memiliki kepekaan terhadap sihir gelap. Dia datang dari garis keturunan yang sama dengan Clara, meski dia selalu menolak jalan gelap itu. Dan kabarnya yang aku dengar, Putri Mahkota Lysandra juga memiliki semacam kemampuan penyembuh untuk sihir gelap. Jika ada yang bisa membedakan sihir pada liontin itu hanya dengan melihatnya, itu adalah ibuku.”Mata Xylas berbinar penuh rencana. “Kau harus memastikan boneka itu memakai liontinnya saat kalian menghadiri pesta minum teh bersama. Dan kau harus membujuk Ibu untuk memeriksanya, tanpa menimbulkan kecurigaan.”Itu adalah permintaan yang hampir mustahil. Memanipulasi Janda Permaisuri dengan cara paling licik? Tapi Lysandra mengerti maksud Xylas. Jika Seraphina bisa mengatakan adanya sihir pada liontin itu, mereka akan memiliki bukti yang sah untuk menyita dan memeriksanya.Sebuah langkah yang jauh lebih elegan daripada pencurian terang-terangan.“Saya akan mencoba,
Lysandra sengaja membawa buku catatan kecil sambil berjalan ke arah taman. Dia melihat dari kejauhan Putri Mahkota palsu itu sedang sendirian.‘Kebetulan sekali,’ pikir Lysandra.Dia mempercepat langkah untuk mendekati Putri Mahkota palsu itu.Putri Mahkota palsu itu duduk di bangku marmer di bawah kanopi bunga melati, tangannya terlipat rapi di pangkuan, menatap ke arah air mancur dengan ekspresi kosong yang sempurna. Dia melamun.Namun bagi Lysandra yang mengenal setiap kebiasaan tubuhnya sendiri, ada kekakuan di sana, sebuah ketegangan di bahu yang seharusnya rileks. Seolah-olah boneka itu sedang menunggu perintah.“Yang Mulia,” ucap Lysandra dengan suara yang cukup keras untuk didengar, sambil membungkuk dengan hormat saat dia mendekat.Si penipu itu menoleh, dan mata cokelat itu, mata Lysandra sendiri—menyipit sedikit. Ada kilatan pengenalan, lalu kebingungan, dan akhirnya kesal yang tertahan. “







