LOGINPaginya, Lysandra sedang sarapan bersama Xylas saat Giselle datang langsung ke kamar Xylas.Xylas meletakkan pisau makannya, tampak kesal dengan gangguan kecil itu. “Apa yang membawamu pagi buta seperti ini, Giselle? Apa kau bermain-main dengan ampunan dari Lyra?”“Ampun, Yang Mulia. Saya mendapat surat dari Duke utusan Kerajaan Utara,” Giselle mendekat, menyerahkan gulungan surat pada Xylas.“Eisen?” tanya Xylas.“Benar, Yang Mulia,” jawab Giselle.“Kau bisa pergi,” kata Xylas, mengusir Giselle secara tidak langsung.Giselle semula hendak menolak, tetapi tatapan tajam Xylas membuatnya mundur.“Saya pamit, Yang Mulia,” katanya lalu membungkuk sebelum beranjak pergi.Surat dari Duke Eisen, penguasa wilayah utara yang keras dan praktis yang berbatasan langsung dengan domain Ratu Utara, bukanlah sebuah ancaman terselubung seperti milik Duke Henrick. Isinya langsung dan suram.
“Dan kita juga masih harus mencari Ratu Utara. Dan ... Duke Henrick juga …” bisik Lysandra.“Kau benar. Tapi bukan berarti aku bisa menunda untuk menyatakan perasaan padamu,” balas Xylas.Lysandra berkedip. “Saya ... ingin menjadi lebih kuat, Yang Mulia. Tolong ajari saya lebih kuat.”“Tentu. Kau bebas mempelajari apa pun. Cara berkuda, memanah, berpedang, atau sihir.”Lysandra menarik diri dari pelukan Xulas, tatapannya mantap meski pipinya masih basah oleh air mata.“Semuanya,” katanya, dengan suara tegas. “Saya ingin mempelajari semuanya. Saya ingin menjadi seseorang yang tidak perlu selalu Anda selamatkan. Seseorang yang bisa berdiri di samping Anda bukan hanya sebagai penasihat di ruang takhta, tetapi sebagai sekutu di medan perang.”Kata-kata itu membangkitkan kebanggaan yang dalam di dada Xylas. Dia melihat tekad keberanian di mata wanita itu, tekad yang sama yang membuatnya bertahan dari kema
Lysandra kembali ke kamarnya. Kamar Kaisar. Namun malam itu, Lysandra tidak bisa tidur.Dia akhirnya berjalan ke arah balkon, berdiri di balkon kamar yang sekarang mereka bagi, menatap bulan yang tertutup awan. Pikirannya dipenuhi oleh labirin cermin, oleh suara Clara yang marah, dan oleh kenyataan bahwa dia sekarang memiliki kekuasaan tetapi juga tanggung jawab yang lebih besar.Dia mendengar langkah kaki di belakangnya, lalu merasakan kehangatan saat Xylas berdiri di sampingnya, menyandangkan selimut di bahunya. “Tidak bisa tidur?”“Ada banyak hal yang saya pikirkan, Yang Mulia,” sahutnya.Xylas berdiri di sampingnya, juga menatap kegelapan. “Aku juga.”Xylas terdiam sejenak. “Aku telah memerintahkan agar liontin asli milik Putri Mahkota Lysandra yang sudah tidak bersinar itu disimpan di ruang harta karun yang paling aman. Itu adalah miliknya. Suatu hari, mungkin aku bisa memberikan liontin itu pada pemiliknya lagi. Meskipun aku tahu, itu mungkin mustahil.”Lysandra tersentak. Xylas
Pelukan itu tidak seperti sebelumnya. Bukan pelukan posesif, bukan pelukan kemenangan yang penuh gairah. Pelukan itu adalah pelukan yang penuh dengan kelegaan yang begitu besar hingga hampir membuat tubuhnya lemas.Xylas merangkulnya dengan erat, wajahnya tertanam di lekuk lehernya, tubuhnya yang besar sedikit gemetar. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya memeluk, seolah-olah dengan kehangatan dan kekuatannya dia bisa menghapus semua ketakutan, semua kedinginan penjara bawah tanah, dan semua teror labirin cermin.Lysandra membeku sejenak, lalu merespons. Tangannya merangkul punggungnya yang luas, mencengkeram jubahnya yang kotor debu dan sesuatu yang lebih gelap. Di pelukannya, dia bisa merasakan ketegangan yang akhirnya mengendur, gemetar halus dari adrenalin yang surut, dan yang paling mengejutkan, dia merasakan kelembutan. Di sini, di tengah reruntuhan sihir yang hancur, Kaisar yang ditakuti itu terlihat seperti seorang pria biasa yang r
Mereka mulai menyusun rencana untuk memasuki hutan kecil yang dikutuk itu. Xylas mengendarai kuda bersama Lysandra. Sedangkan Roland dengan Frederick menggunakan kuda mereka masing-masing.Hutan itu bukan sekadar tempat yang gelap. Tempat itu adalah sebuah entitas yang menelan cahaya. Bahkan sinar matahari siang yang terang tampak redup dan terdistorsi saat melewati kanopi daun hitam-keabuan yang berputar-putar. Suara kuda mereka terdengar teredam, dan udara terasa basah serta diam.Terlalu sunyi.Tidak ada kicau burung, tidak ada desah serangga.Shadow, kuda Xylas yang hitam legam, mendengkus gelisah, mengais tanah dengan cakarnya. Xylas tidak memaksanya. Dia melompat turun, lalu dengan hati-hati membantu Lysandra turun. Sentuhannya di pinggangnya berlangsung lebih lama dari yang diperlukan, sebuah kontak terakhir yang penuh arti sebelum mereka masuk.“Tempat ini ... rasanya terkutuk,” gumam Frederick, mata birunya yang tajam menyapu pepohonan.“Karena memang dikutuk,” jawab Roland d
Lysandra duduk tegak, rasa lemahnya hilang digantikan oleh kewaspadaan yang tajam. “Ratu Utara mungkin menginginkan saya,” ucapnya, suaranya datar.Xylas menggenggam kain hingga kepalannya putih. “Tidak akan pernah terjadi selama aku masih berkuasa.”“Tapi itu masuk akal,” kata Lysandra, berdiri meski kakinya masih goyah. Xylas segera membantunya, tangannya yang kuat melingkari pinggangnya. “Dia kehilangan bonekanya. Dia kehilangan liontinnya atau dia berpikir dia kehilangannya. Dia membutuhkan komponen kunci untuk ritualnya, apa pun itu. Dan saya ... saya mungkin kesalahan yang dia butuhkan untuk dimanfaatkan.”“Tidak akan,” geram Xylas, suaranya penuh amarah. “Kau adalah milik Kerajaan Barat. Dan kau adalah milikku.”“Kumpulkan pasukan. Semua Pengawal Elit. Kita bergerak menuju reruntuhan kuil itu sebelum bulan baru,” katanya.“Yang Mulia, itu mungkin jebakan,” Frederick mengingatkan “Tentu saja itu jebakan,” sambar Xylas. “Tapi dia membuat satu kesalahan.”Xylas menatap Lysandra,







