เข้าสู่ระบบMalam itu, atmosfer di dalam kediaman mewah keluarga Utama terasa begitu menekan. Dengan langkah kaki yang lebar dan berdentum berat, Adrian melangkah menyusuri koridor lantai dua.Tanpa aba-aba atau mengetuk terlebih dahulu, ia mendorong kasar pintu kamar pribadi ayahnya.Di dalam ruangan bernuansa temaram itu, terlihat Adnan sedang duduk bersandar di atas sofa beludru berwarna abu-abu dengan pembawaan yang teramat santai.Adrian bisa melihat dengan jelas guratan luka memar yang keunguan di pipi kiri Adnan—sebuah jejak hantaman dari tongkat kayu kakeknya, Arkana yang mengamuk hebat setelah skandal perusakan panti asuhan terbongkar kemarin pagi.Tanpa basa-basi, Adrian berdiri tegak di tengah ruangan, menghujamkan tatapan mata yang menyala tajam ke arah Adnan."Tidak cukupkah Ayah melakukan perusakan di panti asuhan Bu Sania? Sekarang Ayah malah nekat menambah dosa dengan mencoba membunuh Bu Sarah?" ucap Adrian tanpa ragu sedikit pun, meluncurkan tuduhan langsung.Adnan tetap tak berg
Di area parkir yang remang dan sepi di sudut gedung Holy Entertainment, sebuah gerakan konstan terdeteksi dari dalam sebuah mobil dengan kaca gelap.Guncangan samar itu berpusat di kursi belakang, di mana Indra dan Nabilla sedang memadu kasih dengan begitu intens, hingga riak gerakannya merambat sampai ke luar mobil."Apa kita... harus melakukannya di sini, Dra? Kita bisa pergi ke hotel... hah... hah..." ucap Nabilla terengah-engah, mencoba mengatur napasnya yang memburu di sela-sela gerakan intim mereka.Indra mendongak, menatap wanita di hadapannya dengan sepasang netra biru yang tampak polos namun sarat akan ggairah"Aku belum pernah mencobanya di dalam mobil, Noona," bisik Indra manja.Nabilla seketika menghentikan gerakannya sejenak."Jadi, kau ingin menjelajahi tempat-tempat baru bersamaku? Ini akan menjadi petualangan yang hebat," canda Nabilla dengan tawa yang tertahan di tenggorokan.Indra tertawa renyah. Ia kemudian meraih bagian belakang tubuh Nabilla, meremasnya dengan gem
Siang itu, di dalam ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan tempat Zain mendekam, atmosfer terasa begitu pengap dan dilingkupi kegelisahan yang pekat.Laila duduk berhadapan dengan putranya, merasai sepasang tangannya sendiri bergetar dingin akibat kecemasan yang terus memburu batinnya sejak pagi.Brak!Secara tidak terduga, Zain menggebrak permukaan meja kayu di hadapan mereka dengan sangat keras, menciptakan dentuman nyaring yang seketika memecah keheningan ruangan yang diawasi ketat oleh seorang petugas kepolisian di sudut pintu."Apa maksud Ibu?! Brankas itu kosong?! Itu tidak mungkin, Bu! Aku jelas-jelas menyimpan seluruh dokumen aset dan kartu penting di dalam sana!" Zain meninggikan volume suaranya, melotot gusar dengan napas yang memburu tidak beraturan.Zain mencengkeram kepalanya yang mendadak terasa berdenyut hebat akibat frustrasi gila yang menghimpit dadanya.Laila menunduk, bahunya merosot lesu seraya menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan."Ibu sudah mencari ke se
Siang itu, di dalam kediamannya yang sunyi, Saifanny sedang menempelkan ponsel di telinga, terlibat dalam obrolan serius bersama Bima mengenai langkah taktis mereka selanjutnya."Itulah yang kemarin kami bicarakan. Aku tidak menyangka Arkana pada akhirnya akan tetap melindungi Adnan. Aku terlalu naif karena berpikir pria tua itu bisa dijadikan kekuatan utamaku untuk balas dendam," ucap Saifanny, suaranya terdengar datar namun menyiratkan kekecewaan yang mendalam.Ia duduk bersandar di atas sofa, tangan kanannya mendekap erat secangkir teh hangat yang menguar aroma melati."Bagaimanapun juga, Adnan adalah putra kandungnya. Arkana tidak akan membiarkan keturunannya mendekam di balik jeruji besi. Hmm jadi... apa rencana berikutnya?" tanya Bima di seberang sambungan telepon.Saifanny meneguk tehnya perlahan, merasakan kehangatan cairan itu melewati tenggorokannya yang kaku."Kita harus membuat dia bangkrut, Bim. Memotong akses finansialnya, dengan begitu Adnan tidak akan lagi memiliki kek
Andien merasakan sentuhan lembap yang teramat hangat mendarat di permukaan bibirnya.Ketika perlahan membuka kedua kelopak matanya, sosok Bima sudah berada tepat di hadapannya, dengan jarak wajah yang hanya terpaut beberapa sentimeter saja.Bima menyunggingkan sebuah senyuman manis—sebuah lengkungan kurva langka yang hampir tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.Jemari tangannya bergerak perlahan, mengelus lembut pipi Andien yang merona."Selamat pagi, Cantik," ucap Bima dengan untaian nada yang teramat lembut.Pria itu kemudian memajukan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Andien."Haruskah kita nunda buat mendaki gunung? Karena sejujurnya... yang aku inginkan sekarang hanyalah berbaring lebih lama di sini bersamamu." Ucap Bima.Andien seketika meledakkan tawa renyah mendengar untaian kalimat tersebut.Di telinganya, ucapan Bima terdengar sangat cringe dan menggelikan, merusak atmosfer romantis yang coba dibangun.Namun, Bima menolak menerima tawa ejekan tersebut. Seca
Pagi hari itu, suasana asri pedesaan menyambut langkah kaki Andien dan Bima. Keduanya berdiri tegak di depan sebuah rumah panggung kayu besar yang kokoh, dengan dua buah koper kecil di genggaman tangan masing-masing.Udara pegunungan yang bersih perlahan mengikis sisa-sisa kepenatan dari ketegangan ibu kota."Aku memang minta kamu milih tempat berlibur, tapi kenapa rumah orang tuaku?" tanya Bima, menatap bingung bangunan di hadapannya.Andien menoleh, menyunggingkan senyuman puas yang teramat manis. "Kau sudah mengenal kakekku, ayahku, bahkan kakakku. Tidak adil jika aku tidak kenal orang tuamu, Bima."Saat Andien mulai melangkah penuh semangat mendekati pintu utama, Bima dengan sigap menahan lengannya."Tunggu. Sebelum kita melangkah masuk, aku ingin bertanya satu. Kamu... sudah tahu tentang berita pengrusakan di panti asuhan Bu Sania semalam?" tanya Bima tiba-tiba, meneliti ekspresi wajah wanita di hadapannya.Andien mengangguk pelan tanpa riak kepanikan. "Aku tahu, Kak Fanny sudah







