LOGINPagi itu, Bima melangkah tenang menuju sebuah kafe bernuansa taman yang menjadi tempat biasa ia bertemu dengan Saifanny. Setelah kejadian makan malam yang canggung sekaligus menegangkan semalam, Ririn terus-menerus menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya tanpa henti. Namun, Bima hanya membalas singkat seperti biasanya. Bima memasuki salah satu ruang VIP kafe dengan langkah lambat. Begitu pintu digeser, ia mendapati Saifanny sudah duduk menunggu dengan secangkir cappuccino di hadapannya, lengkap dengan segelas espresso pahit yang sengaja dipesan untuknya. Bima mendudukkan diri perlahan tepat berhadapan dengan Saifanny, sembari meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah. "Jadi, apa yang kamu curigai? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menyelidiki Pak Marcus lagi?" tanya Bima langsung pada intinya, tanpa basa-basi. Saifanny menarik napas dalam-dalam, raut wajahnya diliputi kecurigaan. "Kemarin aku membaca laporan mingguan dari pengawas proyek. Ada dua kuli yang mendadak mengundur
Malam itu, di sebuah hotel bintang lima dengan gaya klasik nan elegan, Bima melangkah tenang menyusuri restoran utama.Tempat itu adalah lokasi yang dipilih oleh Ririn untuk makan malam bersama.Sebagai orang yang selalu mengurus akomodasi dan perjalanan dinas Adrian, Bima tahu betul restoran ini sangat eksklusif karena menu yang disajikan selalu berbeda setiap harinya."Sepertinya gaji di Manggala Tech cukup tinggi, sampai seorang asisten bisa mengajak makan malam di tempat eksklusif seperti ini," batin Bima, menakar situasi.Bima berjalan pelan saat menangkap sosok Ririn yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.Wanita itu duduk di meja bundar paling kiri, tepat di dekat sebuah jendela besar bergaya vintage dengan bingkai berwarna krem.Ririn tampil sangat anggun malam ini; gaun malam berwarna soft pink membungkus tubuhnya, memberikan kesan feminin dan manis.Penampilan itu kontras dengan Bima yang hanya mengenakan setelan kerja sehari-harinya yang kaku.Bima mendudukkan diri di ku
Sore itu, langkah tegap Indra membelah koridor Holy Entertainment.Pria muda itu langsung bergerak cepat menuju ruangan kerja Nabilla dengan emosi yang masih tertahan di dada.Namun, baru saja kakinya melintasi lorong sunyi dekat toilet, sebuah suara bariton yang teramat dingin mendadak menghentikan langkah kakinya."Kau sepertinya selalu keluar masuk gedung ini sesuka hatimu ya," cetus seseorang dari balik pintu toilet pria.Di sana, Jovian sedang berdiri kokoh sembari mengeringkan tangannya menggunakan selembar handuk kecil.Dengan gestur yang angkuh, aktor papan atas berusia 32 tahun itu membuang kasar handuk tersebut ke dalam tempat sampah di sebelahnya.Indra membalikkan tubuhnya, melempar tatapan tajam yang mengintimidasi ke arah Jovian.Namun, Jovian sama sekali tidak merasa terancam. Sebaliknya, pria dengan visual oriental menawan itu justru melangkah maju penuh percaya diri hingga jarak di antara tubuh mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.Jovian mendekatkan wajahnya
Pagi itu, Saifanny terbangun dari tidurnya dengan kesadaran yang perlahan terkumpul.Sepasang matanya refleks melirik ke samping ranjang, namun area di sebelahnya sudah kosong melompong. Adrian sudah tidak ada di sana.Saifanny mengedipkan matanya cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di hadapannya.Detik itu juga, napasnya seolah tertahan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi."Sekolah Syahdan!" teriak Saifanny panik.Ia segera melompat dari tempat tidur dan berlari kencang menuju kamar putranya. Namun, dugaannya salah; Syahdan sudah tidak ada di sana.Seragam sekolah dan tas punggungnya pun sudah lenyap dari gantungan. Dengan tangan gemetar, Saifanny segera menyambar ponselnya di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Adrian langsung terpampang di layar:"Aku mengantar Syahdan ke sekolah. Kau istirahatlah."Saifanny mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia terbangun selewat pukul 05.00 pagi.Kelelahan batin dan fis
Malam itu, Saifanny dan Syahdan akhirnya pulang diantar oleh Adrian. Saifanny memutuskan untuk membiarkan Marcus dan Mabelle berdua saja di ruang VIP rumah sakit, memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu setelah sepekan tak bertemu akibat tragedi proyek.Satu jam perjalanan pulang terasa sunyi. Di kursi belakang, Syahdan sudah menguap berkali-kali karena kelelahan yang teramat sangat.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Saifanny menoleh ke arah Adrian."Mampirlah untuk minum teh," ucap Saifanny pelan.Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Syahdan langsung berlari menuju kamarnya dengan terburu-buru; didera rasa kantuk yang berat, bocah itu hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.Sementara itu, Saifanny dan Adrian duduk di sofa ruang tengah. Saifanny meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja konsol, lalu segera meraih ponselnya.Ia mulai memeriksa laporan pekerjaan di lahan proyek panti jompo. Selama seminggu ini, ia hanya memantau laporan sec
Seminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai Saifanny lembut.Marcus tersenyum ramah, bersandar nyaman di balik kasur putih rumah sakit. Matanya tampak menerawang ingatannya."Hmm... Aku suka nasi goreng. Kalau makanan manis, aku suka mangga. Mungkin karena aku berasal dari keluarga Manggala, haha."Tawa singkat Marcus seketika membuat Saifanny ikut melepaskan tawa kecil."Baiklah, aku akan membelikanmu mangga nanti," ucap Saifanny sembari melanjutkan kupasan apelnya.Saifanny menyerahkan apel yang sudah dipotong rapi di at
Pagi itu, keheningan di dalam ruang ICU rumah sakit terasa begitu mencekam, hanya diinterupsi oleh bunyi beraturan dari alat monitor jantung yang terhubung pada tubuh Sarah.Indra duduk mematung di sisi ranjang, kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan sang ibu yang terasa teramat dingin.Se
Bima melangkah masuk ke dalam apartemen pribadinya dengan rasa pegal yang mendera sekujur tubuh. Hari ini Adrian mendadak mangkir dari kantor, memaksa Bima untuk pontang-panting merampungkan seluruh tumpukan pekerjaan sahabatnya itu seorang diri. Bima meregangkan kedua tangannya ke atas demi mel
Siang itu, di dalam ruang VIP sebuah restoran bintang lima yang sunyi, Saifanny duduk berhadapan dengan Bima.Awalnya Bima berniat mengajak Andien untuk bergabung, namun wanita itu menolak halus karena ingin menghabiskan waktu bersama Adrian di apartemennya.Makan siang di antara mereka sempat dili
Siang itu, di dalam kediaman megah keluarga Utama, atmosfer terasa begitu mencekam hingga menusuk tulang.Di salah satu sudut ruangan, Arkana Jaya Utama berdiri tegak sembari menyeka permukaan tongkat kayu berharganya menggunakan selembar kain putih.Kain itu perlahan ternoda merah, menyerap sisa d







