Share

Bab 3

Author: Abibu
Rishika tidak berkata apa-apa. Dia hanya merasakan pelukan hangat Jenson, sementara di dalam hatinya, rasa dingin dan sakit saling bercampur tanpa henti.

Sehebat itu akting Jenson. Jika dia tidak pernah melihat langsung adegan Jenson bersama wanita lain, mungkin di bawah penjelasan Jenson yang begitu panjang dan penuh usaha itu, dia benar-benar akan memercayainya.

Sayangnya, fakta sudah terpampang jelas. Karena Jenson berkhianat, Rishika tidak butuh kesetiaannya lagi.

Mungkin karena perubahan sikap Rishika membuat Jenson merasa ada sesuatu yang tidak beres, beberapa hari berikutnya dia sengaja menunda semua urusan pekerjaan dan tetap di rumah menemaninya.

Demi membuatnya bahagia, berbagai barang mewah dan gaun dari peragaan busana terus mengalir masuk ke vila seperti air. Namun, seberapa banyak pun dia memberi, wajah Rishika tetap tidak menunjukkan senyuman.

Sampai suatu hari, Jenson menutup matanya secara misterius dan membawanya ke gedung tertinggi di pusat kota.

Ketika tangan yang menutupi penglihatannya dilepaskan, barulah terlihat bahwa itu adalah makan malam dengan cahaya lilin yang sudah Jenson persiapkan dengan sangat hati-hati.

Jika dulu, melihat kejutan seperti ini, Rishika akan bahagia dan terharu. Sekarang, dia hanya diam, duduk di kursi yang ditarik oleh Jenson, makan dengan tenang sambil mendengarkan Jenson mengenang masa lalu mereka.

"Rishi, kamu masih ingat nggak? Dulu aku melamarmu di sini. Pernikahannya kupersiapkan selama setengah tahun dan disiarkan ke seluruh dunia. Kamu masih ingat saat kamu menerima lamaranku, apa yang aku lakukan?"

Gerakan Rishika memotong steik terhenti sesaat, lalu dia menjawab pelan, "Kamu nangis."

Sudut bibir Jenson terangkat sedikit. "Ya, aku nangis."

Seberapa besar cinta seorang pria sampai dia menangis di depan begitu banyak kamera saat akhirnya bisa menikahi wanita yang dia cintai.

Mendengar masa lalu disebutkan, tidak mungkin hati Rishika sama sekali tidak tergerak. Mungkin dulu, Jenson benar-benar mencintainya dengan tulus.

Namun, sekarang semuanya sudah berubah. Orang di hadapannya juga bukan lagi Jenson yang dulu berkata akan mencintainya selamanya.

Rishika tenggelam dalam pikirannya, ketika tiba-tiba di depannya muncul sebuah kalung liontin giok hijau. Modelnya persis dengan perhiasan yang sebelumnya dilelang di Sotheby's dan dibeli dengan harga miliaran.

Rishika mengangkat kepala. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Jenson yang penuh cinta.

"Kalung ini namanya 'Forever Love'. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung merasa ini cocok denganmu. Aku juga suka namanya, maknanya aku akan mencintaimu seumur hidup."

Rishika termangu menatap matanya sejenak. Saat itu, Suzie tiba-tiba berjalan mendekat.

Suzie tersenyum ramah terlebih dahulu kepada Rishika, lalu mendekati Jenson dengan hormat. "Pak, semua yang diminta sudah dipersiapkan."

Jenson mengangguk, lalu menjentikkan jarinya.

Boom! Boom! Boom! Setelah dia menjentikkan jari, kembang api terus meluncur ke langit dan meledak, membentuk bunga-bunga cahaya yang indah di malam hari.

Suzie menatap Rishika dan berkata dengan nada kagum, "Bu, kembang api ini akan berlangsung selama satu hari satu malam. Pak Jenson tahu kamu suka kembang api, jadi ini adalah kejutan yang dia siapkan khusus untukmu."

Kembang api memang romantis. Rishika menyukainya. Namun, kembang api mudah padam, begitu juga cinta.

Angin bertiup, menjatuhkan tisu di depannya ke lantai. Tanpa sadar, Rishika membungkuk untuk mengambilnya, tetapi dari taplak meja yang tersibak, dia melihat di bawah meja makan, sepasang kaki berbalut stoking sedang menyentuh pelan celana Jenson.

Di sana hanya ada tiga orang dan itu bukan dirinya. Siapa yang melakukannya, sudah jelas. Yang membuat napasnya sesak adalah Jenson tidak menyingkirkan kaki itu. Sebaliknya, saat Suzie mulai menjauh, dia justru meraih pergelangan kakinya dengan tangan.

Tangan Jenson yang berurat jelas terlihat sangat sensual di balik stoking hitam itu. Dia mengusap perlahan pergelangan kaki Suzie, membuat tubuh wanita itu bergetar halus.

Kemudian, tangannya tidak berhenti di sana, melainkan bergerak naik perlahan mengikuti kaki itu, hampir saja menyentuh bagian bawah rok ketika Jenson tiba-tiba berdiri.

Ekspresi Jenson sama sekali tidak berubah. Tetap penuh cinta dan ada sedikit rasa bersalah. "Sayang, maaf, aku harus terima telepon mendadak. Tunggu sebentar di sini ya, nanti aku kembali menemanimu."

Setelah itu, dia pergi. Tak lama kemudian, Suzie juga menyusul. Melihat mereka pergi, Rishika tidak menunggu seperti yang dikatakan Jenson. Dia justru mengikuti mereka.

Akhirnya, dia berhenti di tangga menuju rooftop. Tidak jauh dari sana, Jenson sedang memeluk Suzie dan menciumnya dengan liar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 9

    Hari ketika Rishika keluar dari rumah sakit, Jenson tidak muncul. Dia hanya mengirim pesan bahwa hari itu ia tidak bisa datang karena ada urusan dan menyuruh sopir untuk menjemputnya.Rishika tidak membalas, karena sebelumnya dia sudah menerima pesan dari Suzie. Itu adalah sebuah foto.Dalam foto it

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 8

    Rishika berdiri di luar sepanjang malam. Dia diguyur hujan sambil mendengarkan semuanya.Sampai langit mulai terang, baterai ponselnya juga hampir habis, barulah dia berjalan pergi dengan tubuh kaku, menghentikan taksi untuk kembali ke vila.Para pelayan yang melihatnya basah kuyup langsung panik. M

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 7

    Karena masih ada Rishika, pertemuan kali ini tidak berlangsung lama. Melihat hari semakin malam, Jenson pun menghentikan acara dan lebih dulu membawa Rishika meninggalkan ruang VIP.Baru saja mereka sampai di bawah, ponselnya langsung berdering. Setelah melihat nama di layar, Jenson tanpa sadar meng

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 6

    Tokoh utama acara hari ini, Liron, menatap Jenson yang matanya penuh dengan Rishika, lalu tersenyum menggoda."Bro, kamu ini terlalu memanjakan istrimu sampai bikin orang iri setengah mati. Pantas saja kamu jadi nomor satu di daftar pria paling diinginkan wanita sedunia. Sebentar lagi aku juga nikah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status