Share

Bab 2

Author: Abibu
Ucapan Rishika yang tanpa arah membuat Jenson semakin panik. "Sayang, kenapa tiba-tiba bahas ini?"

Dia tidak mengerti kenapa Rishika tiba-tiba berkata seperti itu. Setelah berpikir sejenak, dia seolah-olah memahami sesuatu. "Apa ada yang mengomporimu?"

Setelah berkata begitu, tanpa menunggu jawaban, dia langsung berdiri dengan wajah suram dan menelepon seseorang. "Panggil semua perempuan yang pernah berhubungan denganku dalam waktu dekat ini."

Tak lama setelah telepon ditutup, para pelayan vila dan karyawan perusahaan semuanya dikumpulkan. Melihat mereka berbaris rapi, Jenson berkata dengan wajah dingin.

"Kalian semua ceritakan dengan jelas kepada istriku, semua interaksiku dengan kalian. Jangan ada yang disembunyikan."

Mereka saling memandang. Salah satu pelayan yang mengenakan seragam dan berdiri di tengah-tengah segera melangkah maju.

"Aku cuma ketemu Tuan Jenson satu kali akhir-akhir ini. Saat itu Nyonya sedang menstruasi, Tuan Jenson minta aku mengajarinya buat air jahe gula merah, bahkan menanyakan secara rinci banyak hal tentang hal yang harus diperhatikan saat menstruasi. Semuanya hanya untuk meredakan rasa sakit Nyonya."

Melihat sudah ada yang mulai bicara, yang lain pun ikut maju satu per satu.

"Aku baru masuk kerja belum lama. Pertama kali bertemu Tuan Jenson adalah ketika beliau menyadari Nyonya akhir-akhir ini agak murung. Tuan ingin menghibur Nyonya, jadi bertanya kepada kami hadiah apa yang bisa membuat Nyonya senang."

"Tuan Jenson mencariku karena tahu Nyonya beberapa hari ini nggak makan dengan baik. Beliau berulang kali menyuruhku membuat berbagai kue pembuka selera untuk Nyonya."

Mereka berbicara bersahut-sahutan, tetapi semua yang mereka katakan pada dasarnya menunjukkan satu hal, yaitu Jenson mencari mereka semua demi Rishika.

Saat itu, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Semua orang menoleh ke sumber suara dan melihat Suzie, sekretaris CEO yang mengenakan rok ketat.

"Maaf, tadi ada urusan pribadi, jadi datang terlambat."

Setelah mendengar percakapan sebelumnya, lalu melihat para pelayan dan karyawan yang berkumpul, Suzie tersenyum dan berjalan ke arah Rishika.

Dia berkata, "Bu, tenang saja. Interaksi Pak Jenson denganku pada dasarnya hanya urusan pekerjaan. Semua orang tahu Pak Jenson hanya mencintaimu. Selain urusan resmi, beliau bahkan hampir nggak bicara dengan kami. Mana mungkin ada hubungan lain dengan kami?"

Mendengar itu, Rishika akhirnya mengangkat matanya.

Suzie tersenyum manis, sikapnya sopan dan hormat. Jika dia tidak melihatnya sendiri, mustahil dia akan tahu bahwa antara Suzie dan Jenson ada hubungan terlarang yang tidak bisa diungkapkan. Dan lebih mustahil lagi untuk memahami bahwa di balik senyumannya yang lembut itu, tersembunyi provokasi.

Saat Rishika terus menatap Suzie, urat di pelipis Jenson sedikit menegang. Dia berkata dengan suara berat, "Kalian bekerja untukku, harus paham satu hal. Istriku adalah kelemahanku. Kesalahan dalam pekerjaan masih bisa kutoleransi, tapi kalau ada yang nggak tahu diri dan berani bicara sembarangan di depan istriku, hanya ada satu akibatnya."

Semua orang segera berkata tidak berani, lalu perlahan mulai bubar. Saat Suzie juga menghilang dari pandangan mereka, Jenson menarik Rishika kembali ke dalam pelukannya.

"Sekarang kamu percaya padaku, 'kan?" Entah karena ilusi Rishika atau bukan, saat Jenson berbicara lagi, suaranya terasa sedikit bergetar. "Sayang, mulai sekarang jangan pernah lagi mengatakan hal seperti ingin pergi atau menghilang. Aku bisa mati."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 24

    Rishika segera menata sisa peralatan elektronik, lalu tersenyum sambil menarik sebuah kursi yang baru saja dibongkar dan duduk di samping Theodore.Dengan bantuan Rishika, kecepatan membuka paket akhirnya meningkat. Tak lama kemudian, paket terakhir pun selesai dibuka. Rishika meregangkan tubuh, lalu menatap Theodore sambil tersenyum."Theo, terima kasih. Kalau nggak ada kamu, hari ini pasti nggak akan selancar ini."Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus, tanpa terasa menjaga jarak. Theodore berusaha terlihat tenang, tetapi ujung telinganya sudah memerah tanpa dia sadari.Telinga yang memerah itu sangat mencolok di kulitnya yang putih. Rishika langsung menyadarinya. Dia sedikit bingung, lalu tanpa sadar bertanya, "Kamu kepanasan? Mau buka jendela biar lebih sejuk?"Awalnya dia mengira Theodore hanya kelelahan, tetapi saat melihat telinganya semakin merah setelah mendengar pertanyaannya, dia langsung menyadari sesuatu.Jantung Rishika berdegup kencang, suaranya seperti menggema

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 23

    Setelah selesai berbelanja, Rishika dan Theodore membawa pulang "hasil perang" mereka yang melimpah.Sekantong besar makanan itu pada akhirnya juga dibawa oleh Theodore. Jika dihitung-hitung, dalam perjalanan ini Rishika mengeluarkan cukup banyak uang, tetapi justru menjadi orang yang paling santai.Mereka tiba di rumah tepat waktu. Baru saja Rishika memasukkan bahan makanan ke kulkas, bel pintu pun berbunyi. Saat dia hendak berbalik untuk membuka pintu, Theodore sudah lebih dulu mendekati pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata itu adalah layanan pengiriman yang tadi sudah mereka pesan.Setelah semua barang diantar masuk, melihat ruang tamu yang kini penuh dan sesak, Rishika tak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Panen kali ini benar-benar luar biasa."Dulu dia jarang belanja sebanyak ini. Namun harus diakui, melihat satu ruang tamu penuh barang seperti ini memberikan rasa puas tersendiri. Hanya saja, ketika mulai merapikan, barulah dia merasa pusing.Begitu banyak perabot, membuka

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 22

    Di Melbourne.Dengan bantuan Theodore, Rishika membeli apartemen yang berada tepat di sebelah miliknya.Apartemennya tidak besar, tetapi untuk ditinggali seorang diri sudah lebih dari cukup. Hanya saja karena baru pindah, masih banyak barang yang perlu dibeli.Kebetulan di dekat sana ada sebuah mal besar, jadi Rishika pergi berbelanja bersama Theodore.Barang-barang di supermarket sangat lengkap. Dari kebutuhan makan, pakaian, hingga keperluan sehari-hari. Hal ini membuatnya tidak perlu repot berpindah-pindah tempat. Namun, setelah membeli banyak barang, Rishika mulai khawatir bagaimana cara membawanya pulang."Nggak perlu khawatir, supermarket ini punya layanan antar satu jam. Kamu hanya perlu bayar biaya pengiriman."Melihat wajahnya yang murung, Theodore tak bisa menahan senyuman, lalu menjelaskan. Saat dia menoleh dan melihat pipi Rishika yang menggembung kesal, dia justru tertegun.Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran, sangat imut!Tatapan langsungnya membuat pipi Rishika sedikit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 21

    Malam itu juga, Jenson langsung kembali ke tanah air. Sesampainya di kotanya, dia mengemudi mengikuti navigasi hingga menemukan sanatorium tempat Suzie berada saat ini.Kumuh, kotor, berisik, itulah kesan pertamanya terhadap tempat ini.Dengan setelan jas mahal yang dikenakannya, begitu Jenson melangkah masuk, dia langsung menarik perhatian semua orang.Tidak heran, penampilannya benar-benar tidak cocok dengan tempat ini. Orang-orang yang datang ke sini kebanyakan tidak punya uang, tidak memiliki keluarga yang merawat, bahkan tidak mampu mengurus diri sendiri. Makanya, mereka dikirim ke sini.Sementara Jenson jelas bukan orang miskin. Begitu dia mengeluarkan beberapa lembar uang, para perawat di sanatorium langsung mengerubunginya dengan sikap penuh perhatian. Mereka mendekat dan menanyakan siapa yang ingin dia temui, bahkan menawarkan diri untuk memanggil orang itu keluar karena kondisi di dalam kotor."Antar aku menemui Suzie." Dengan wajah dingin, Jenson menolak tawaran perawat dan

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 20

    Mendengar rentetan pertanyaan yang terus dilontarkan, wajah Jenson semakin pucat. Dia terus menggeleng, ingin mengatakan bukan begitu. Namun, melihat reaksinya, Rishika hanya mencibir dingin."Kenapa? Kamu masih mau bilang kamu mencintaiku? Mencintaiku sambil membuat wanita lain hamil? Jenson, cintamu itu benar-benar sampah!"Begitu kalimat terakhir itu jatuh, wajah Jenson benar-benar kehilangan warna. Satu-satunya yang merah hanyalah kedua matanya. Dia menatap dengan penuh permohonan. Suaranya serak saat memberikan penjelasan terakhir, berharap mendapat sedikit belas kasihan dari Rishika."Aku nggak membiarkan Suzie melahirkan anakku .... Aku membawanya ke rumah sakit dan menggugurkan anak itu. Aku benar-benar sudah sadar salah. Setelah itu aku juga nggak pernah menghubunginya lagi. Rishi, kamu percaya padaku ya?"Rishika menggeleng pelan. Di matanya tersembunyi rasa jijik yang dalam. "Aku percaya kamu menggugurkan anak itu dan nggak menghubunginya lagi. Tapi Jenson, kamu tahu nggak,

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 19

    Selama dalam perdebatan mereka, jika Rishika menunjukkan sedikit saja ketidaknyamanan, Theodore akan langsung maju dan membawanya pergi.Soal pria yang mengatakan bahwa mereka belum bercerai itu, siapa juga yang peduli?"Rishi, maafkan aku kali ini ya? Aku janji, aku nggak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan Suzie, bahkan sudah pecat dia. Jangan marah lagi padaku, ikut aku pulang ya?"Dia berbicara dengan begitu tulus. Jika orang yang tidak tahu kebenaran melihatnya, mungkin juga akan ikut membujuk, menyuruhnya memaafkannya.Kecuali Theodore. Dia tidak mendengar semuanya dengan jelas, hanya menangkap beberapa kata kunci, lalu menyusunnya menjadi sebuah gambaran.Pria di depan yang bermata merah, tampak rendah hati, dan memohon ini, sebenarnya adalah pria yang berselingkuh dan sedang memohon pengampunan dari pasangan sahnya.Dia berdiri di samping, mencibir dingin, melemparkan tatapan sinis pada Jenson.Jenson melihatnya dan menjadi kesa

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 5

    Kepanikan di mata Jenson tidak tampak dibuat-buat, tetapi Rishika justru merasa lucu. Kalau dia pergi, bukankah itu justru memberi tempat untuk Suzie? Lantas, untuk apa Jenson berpura-pura panik seperti ini?Namun, pada akhirnya dia tidak mengucapkan hal itu. Dia hanya menjawab dengan nada yang sang

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 4

    Entah sudah berapa lama mereka berciuman, akhirnya Jenson melepaskan Suzie. Dia menekan wanita itu ke sudut dinding. Suaranya serak dan rendah. "Kenapa kamu menggodaku? Sudah kubilang, di depan Rishi, kamu nggak boleh berlebihan."Suzie tidak menjawab pertanyaannya. Dia justru memeluk leher Jenson s

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 3

    Rishika tidak berkata apa-apa. Dia hanya merasakan pelukan hangat Jenson, sementara di dalam hatinya, rasa dingin dan sakit saling bercampur tanpa henti.Sehebat itu akting Jenson. Jika dia tidak pernah melihat langsung adegan Jenson bersama wanita lain, mungkin di bawah penjelasan Jenson yang begit

  • Cinta Abadi yang Lenyap Ditelan Kebohongan   Bab 1

    "Anda yakin ingin menghapus semua informasi pribadi? Setelah penghapusan berhasil, Anda akan benar-benar menghilang dari dunia ini, tanpa jejak sama sekali!"Melihat perempuan di hadapannya yang baru berusia 20-an membawa berkas permohonan untuk menghapus data identitas, ekspresi petugas tampak sang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status