ホーム / Young Adult / Cinta Gita / BAB 79 IKUT KE SURABAYA

共有

BAB 79 IKUT KE SURABAYA

作者: Yoongina
last update 公開日: 2026-05-27 19:37:44

Pagi ini, setelah Ale menghubungiku untuk berpamitan sebelum ia masuk ke asrama pelatihan, aku langsung melangkahkan kaki menuju kantor Papa. Aku perlu bicara langsung dengannya mengenai rencana pernikahan kami.

​"Pagi, Kak Indah," sapaku pada sekretaris Papa yang sedang duduk di dekat pintu ruang kerja.

​"Pagi, Gita. Tumben ke sini," sahut Kak Indah dengan wajah berseri-seri. "Pasti mau membahas persiapan pernikahan dengan atlet sepak bola itu, ya? Aku sempat baca beritanya, loh. Caleandra
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Cinta Gita   BAB 80 KEBERANGKATAN

    "Apa benar Papa yang mengajakmu?" tanya Ale melalui sambungan telepon, malam sebelum keberangkatanku ke Surabaya. ​"I—iya, Kak. Papa... sudah bilang begitu, kan?" jawabku hati-hati. Nada suaranya yang terdengar curiga membuat jantungku berdebar kencang. Aku harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak terdengar gugup. ​Aku tahu Ale pasti akan curiga. Pertama, aku tidak pernah sekalipun tertarik ikut Papa tugas ke luar kota. Kedua, kota yang kami tuju adalah Surabaya—kota tempat keluarga Andreas tinggal sekarang. ​"Apa aku perlu memberi tahu Pakde dan Budeku di sana?" tanya Ale kemudian dengan nada datar, menawarkan agar aku berkunjung ke rumah kerabatnya yang merupakan orang tua Salsa. "Tidak usah Kak. Papa tidak akan sempat untuk mampir, karena beliau harus mendampingi Pak Menteri selama di sana." "Kalau agenda kerja nya begitu padat, kenapa dia mengajakmu?" 'Sial!' pikirku. Aku tidak menyadari kalau tawaran Ale adalah jebakan. "Aku—" "Jujur padaku, Gita. Apa kamu yan

  • Cinta Gita   BAB 79 IKUT KE SURABAYA

    Pagi ini, setelah Ale menghubungiku untuk berpamitan sebelum ia masuk ke asrama pelatihan, aku langsung melangkahkan kaki menuju kantor Papa. Aku perlu bicara langsung dengannya mengenai rencana pernikahan kami. ​"Pagi, Kak Indah," sapaku pada sekretaris Papa yang sedang duduk di dekat pintu ruang kerja. ​"Pagi, Gita. Tumben ke sini," sahut Kak Indah dengan wajah berseri-seri. "Pasti mau membahas persiapan pernikahan dengan atlet sepak bola itu, ya? Aku sempat baca beritanya, loh. Caleandra itu pacar kamu, kan?" ​Aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi antusiasmenya. "I—iya, Kak. Papa ada di dalam? Soalnya dari tadi aku telepon enggak diangkat." ​"Bapak sedang menghadap Pak Menteri. Kamu tunggu saja di ruangannya, sebentar lagi juga kembali," ujar Kak Indah ramah sambil berdiri untuk membukakan pintu ruang kerja Papa untukku. ​"Terima kasih, Kak." ​Aku melangkah masuk dan memilih duduk di sofa ruang tamu yang tertata rapi di depan meja kerja Papa yang berukuran besar. Ru

  • Cinta Gita   BAB 78 HARI TERAKHIR

    "Ingat pesan aku, besok surat pengunduran diri itu sudah harus ada di meja Nanda, kabari aku. Setelah itu, kamu bisa minta bantuan Aya atau Mama untuk mempersiapkan pernikahan kita bulan depan." Ujar Ale panjang lebar saat malam terakhirnya sebelum masuk ke asrama pelatihan. Aku hanya mengangguk pelan, tidak bisa bicara apa-apa. Karena bicarapun akan percuma. Ale tidak mau mendengarkan permintaanku. "Untuk baju pengantin, aku sudah fitting duluan kemarin sama Mama." "Kak, aku perlu bicara sama Papa soal ini." "Aku sudah bicara dan Papamu setuju." Sela Ale cepat. "Tapi aku sebagai anak kandungnya juga perlu bicara, Kak. Bahkan dengan Mama pun aku belum bicara, kamu tahu kan Mamaku sekarang tinggal di rumah Kak Ana." Ale terdiam, tampak mempertimbangkan. Aku tahu, Ale pasti tidak ingin aku bicara pada orang tuaku untuk mengundur pernikahan. Walau kalimat itu memang sempat terlintas di kepalaku, tapi aku urungkan demi ketenanganku sendiri. Bagaimanapun, kedua orang tuaku tidak aka

  • Cinta Gita   BAB 77 PENGUNDURAN DIRI

    Aku menarik lembaran kertas kusam itu dengan tangan yang mendadak gemetar. Tulisan di sana berformat laporan investigasi resmi yang belum tuntas, lengkap dengan cap bertuliskan 'Rahasia'. Mataku bergerak cepat, menyusuri baris demi baris kata yang tercetak di atasnya. ​Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak saat membaca nama korban yang tertera di sana: BASKORO ADI seorang perwira polisi yang dinyatakan meninggal dalam "kecelakaan tunggal" di Surabaya beberapa tahun lalu. Mataku beralih pada foto hitam putih seorang perwira yang memakai seragam lengkap. "Ayahnya Andreas!" lirihku menahan suara agar tidak ada yang mendengar. ​Namun, ada satu hal yang membuat dahiku berkerut dalam. Lembar lanjutan investigasi internal yang terselip di bawahnya menyatakan bahwa kematian sang perwira bukanlah kecelakaan murni, melainkan ada indikasi pembunuhan berencana demi membungkam sebuah kasus besar dan menjaga nama baik seorang penguasa. Di lembar itu, terdapat coretan tinta merah berupa

  • Cinta Gita   BAB 76 LEMBARAN YANG TERCAMPUR

    "Gue enggak paham sama teman-teman gue di Jakarta. Ada masalah apa sih, sampai diajak kumpul aja pada susah banget. Terutama Gita!" kesal Widi saat kami melakukan panggilan video dalam grup. ​Mataku tertuju pada satu orang yang ada di pojok kanan layar, Azizah. Dia terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali aku bertemu dengannya, sebelum Bian melarangnya untuk berteman lagi denganku. ​"Woi, malah pada diam semua!" tegur Widi lagi. "Gue enggak mau tahu ya, pokoknya karena gue sama Ipul sudah pulang ke Jakarta, kita harus pergi sama-sama!" ​"Gue enggak akan bisa pergi, Wid," sahutku pelan. ​"Tuh, bener kan! Pasti Gita duluan. Kenapa sih, Git? Kita setahun sekali aja belum tentu bisa kumpul loh." ​"Gita enggak bakal dibolehin sama cowoknya. Gue juga sampai sekarang enggak dibolehin sama Bian," balas Azizah. ​Ucapannya membuatku terpaku. Ternyata Azizah masih dilarang untuk bergaul denganku, padahal sebentar lagi aku akan menikah dengan Ale. ​"Wid, sori banget ya, tapi

  • Cinta Gita   BAB 75 ANDAI WAKTU BISA BERPUTAR

    "Kalau untuk bulan depan apa kamu bisa minta ijin melangsungkan pernikahan, Le?" tanya Papa Ale ditengah-tengah makan malam kami. Ale meletakkan garpunya dengan hati-hati. Aku melirik sekilas kearahnya dengan jantung berdebar, berharap jawaban yang akan keluar dari mulut Ale, sesuai dengan harapanku. Rahang Ale bergerak pelan, menyelesaikan kunyahan potongan daging dalam mulutnya, sebelum menjawab, "Aku sudah bersurat untuk meminta ijin melangsungkan pernikahan ke manajemen tim, Pa." "Lalu?" "Aku diberi ijin hanya dua hari, jadi setelah hari H pernikahan, besoknya aku sudah harus kembali ke kamp." Hatiku mencelos. Aku menarik nafas pelan untuk menenangkan diri agar tidak melayangkan protes yang sudah menumpuk di dada. Untungnya Andreas dan Salsa tidak ada di sini. Mungkin Salsa sedang merawat Andreas yang babak belur karena perbuatan Ale. Papa Ale mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalau begitu persiapannya harus matang dan cepat. Kamu tahu kita harus mengundang banyak tamu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status