เข้าสู่ระบบselamat siang. jangan lupa komentarnya ya biar semangat 💪🏻💪🏻🤍🤍💜💜
Sudah 3 hari berlalu sejak kepulangan Karala dari Perancis. Kembali ke realita kehidupan ya tetap harus berjalan dengan semestinya, siang ini Karala dan asistennya, Lina sedang berada di salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk melakukan makan siang setelah mengunjungi pembangunan gallery milik Jeep Kools. "Gimana kabar adikmu, Lin? Apalah operasinya lancar?" Karala menatap Lina yang duduk di sebelahnya. "Alhamdulillah. Operasinya lancar, Bu Karala." Jawab Lina sambil mengangguk. Adik bungsunya yang masih kelas dua SMP terpaksa harus menjalani operasi usus buntu beberapa hari yang lalu. Meski biayanya sudah di tanggung oleh perusahaan, Karala dengan sendirinya memberikan tambahan biaya yang cukup besar untuknya dan keluarga. "Orang tua saya juga mengucap terima kasih untuk kebaikan hati Bu Karala yang sudah membantu kami. Kalau Bu Karala bersedia, ibu saya berencana membawakan beberapa makanan buatannya sendiri untuk anda sebagai tanda terima kasih." Karala tersenyum. Li
Liburan selama sepekan di Perancis akhirnya hampir selesai. Setelah puas menikmati waktu berdua dengan berkunjung ke berbagai tempat, melakukan hal-hal romantis dan mencoba hal baru yang menyenangkan, malam ini Jeremy dan karala akan pulang ke Indonesia. Sudah waktunya mereka kembali ke dunia nyata lagi. Setelah pagi berenang bersama dan beristirahat, sore harinya terlihat karala sedang mempacking pakaian ke dalam koper. Rambutnya yang panjang terlihat bergoyang dengan lembut saat melangkahkan kaki menuju lemari. Dari bibir seksi perempuan itu terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan pelan. "Sesuai permintaanmu beberapa waktu lalu, sayang. Saya sudah mendapatkan hasilnya." Karala langsung menoleh saat mendengar suara Jeremy yang menggema di dalam kamar mereka. Keberadaan lelaki itu cukup mengejutkan karena tiba-tiba muncul setelah meninggalkannya hampir dua jam ke ruang gym untuk berolahraga. "Apa?" Jeremy tersenyum misterius lalu menyerahkan sebuah iPad pada Karala yang l
Langit malam Paris terlihat begitu cantik dari balkon suite mewah yang berada di lantai tiga belas, salah satu hotel bintang lima yang ada pusat kota. Dari ketinggiannya, dapat terlihat dengan jelas gemerlap lampu-lampu kota yang tampak bercahaya dan menerangi sepanjang jalan yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan klasik khas Eropa yang berdiri megah di bawahnya. Sementara di kejauhan, menara Eiffel terlihat berdiri menjulang tinggi dan begitu indah dengan nyala cahaya keemasannya yang memanjakan mata. Angin dingin malam itu terus masuk dengan perlahan dari pintu balkon yang di biarkan terbuka hingga membuat tirai putih panjang di dalam ruangan tersebut bergerak dengan lembut. Sayangnya, suhu yang terasa menggigil tersebut justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dalam suite mewah, tempat dimana Jeremy dan Karala menginap yang suasananya terasa semakin panas membara. "Akhh .... Akhhh....!!!" Suara erangan Karala yang sensual, terdengar memenuhi ruangan, bersamaan dengan
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore ketika langit Jakarta sudah mulai menggelap. Hiruk pikuk jalanan ibu kota yang selalu sibuk tampak semakin padat karena dipenuhi oleh banyaknya kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang. Di lantai tiga puluh Gedung Zahid Group, Jeremy Zahid terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya. Dengan jas hitam yang tergantung rapi di sisi ruangan, lelaki itu baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen terakhir sebelum keberangkatannya tengah malam ini ke Perancis. "Pastikan tidak seorang pun mengganggu saya selama liburan. Bahkan dari Andira dan keluarga saya, Han." Ujar Jeremy sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Menghela nafas dengan perlahan, perutnya mulai terasa lapar setelah bekerja seharian. Johan yang sedang berdiri di depan meja Jeremy langsung mengangguk. Menjadi asisten lelaki itu selama bertahun-tahun tentu saja membuatnya tahu persis hubungan yang seperti apa antara sang bos dan pewaris Naratama itu. "Baik, Pak." "Pastikan juga
Lampu kristal berukuran besar menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima, Smith Hotel yang malam itu telah dipenuhi oleh para sosialita, publik figur hingga pengusaha-pengusaha ternama. Alunan musik jazz mengalun pelan bercampur dentingan gelas champagne dan suara percakapan para tamu undangan yang saling bersahutan.Di tengah ruangan utama, deretan etalase kaca panjang memamerkan koleksi perhiasan terbaru dari brand luxury internasional yang bernama Bvndari. Perusahaan terkenal itu baru saja melakukan private launching di Jakarta. Berlian, emerald hingga sapphire dengan potongan eksklusif dipajang di atas bantalan hitam mewah dan dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan bersarung tangan putih.Acara tersebut bukan hanya sekadar peluncuran koleksi perhiasan. Namun juga menjadi tempat berkumpulnya para kalangan elite untuk memperlihatkan koneksi, status sosial dan kehidupan sempurna mereka.Termasuk Andira Zahid yang juga hadir bersama teman-teman sosialitanya. M
Karala melangkah masuk ke dalam ruangan CEO sekaligus Presiden Naratama Group yang berada di lantai 27. Hartanto Naratama terlihat sedang menandatangani beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Setelah beberapa detik, barulah lelaki paruh baya itu mengangkat kepala untuk menatap putrinya. "Papa mendengar dari asistenmu kalau lusa kamu akan berangkat ke luar negeri?" Tanya Hartanto dengan kening berkerut. Dipandangi Karala dengan serius. Wajah sang putri benar-benar mirip dengan sang mantan istri. "Iya. Saya harus menghadiri pesta pernikahan salah satu teman baik di Australia, Pak." Jawab Karala dengan tenang. Sudah barang tentu kalau dia sedang berdusta saat ini. Hartanto mendengkus tidak suka. Penjelasan Karala rasanya tidak memuaskannya. "Apakah kehadiranmu sangat penting sampai kamu harus meninggalkan pekerjaan di perusahaan, Kara? Timeline proyekmu tidak kecil apa lagi di hari menjelang pertunangan." Karala tersenyum. Sudah dia duga kalau hal ini akan mengganggu ayahnya. Lel
"Dare." Karala menaikkan alisnya mendengar jawaban Jeremy. Melihat kepribadian sang kekasih, sudah dia duga kalau lelaki itu akan memilih Dare. Jeremy Zahid jelas lebih menyukai melakukan sesuatu dari pada berkata jujur pada mereka. "Kalau begitu aku yang akan mengajukan permintaan." Andira mem
"Happy birthday to you ..." "Happy birthday to you ..." "Happy birthday to you ..." Ucapan selamat ulang tahun menggema memenuhi ruangan yang telah di booking khusus itu. Semua orang yang ada disana menyanyikan dengan serentak, diiringi tepuk tangan dan musik yang semakin membuat suasana menja
Malam sudah menunjukan hampir pukul 23.00 ketika Jeremy terlihat berdiri sendirian di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu sedang menghisap sebatang rokok sambil menghembuskan asapnya yang mengepul di udara. Ditemani angin malam yang mulai terasa seju
Tak lama kemudian, meeting yang di tunggu-tunggu itu segera di mulai. Asisten Hartanto dan beberapa orang lainnya terlihat mulai meletakan beberapa berkas ke atas meja, tepat di depan semua yang ada di sana. "Terima kasih untuk yang sudah hadir pada hari ini." Sebagai pembukaan rapat, suara Harta







