แชร์

170. Ke Rumah Sakit

ผู้เขียน: Kafkaika
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-20 18:46:56

“Ma… tadi aku—”

“Mika, jangan ganggu! Mama sedang menelpon teman Mama.”

Kalimat itu memotong ucapan Mikayla begitu saja. Gadis itu langsung mencebik, bibirnya maju dengan wajah sebal. Padahal ada sesuatu yang penting ingin dia sampaikan—sesuatu yang sejak tadi membuat dadanya terasa sesak.

Mikayla baru saja pulang dan berniat mengatakan apa yang terjadi. Namun sang mama kini tampak sibuk lagi, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Veny kembali menghubungi beberapa kawan lama yang dulu sempat dekat dengannya. Basa-basi ringan, tawa dibuat-buat, intinya hanya satu: mencari celah agar bisa kembali aktif di dunia pekerjaan. Sudah hampir setahun berlalu sejak perceraian itu. Gosip seharusnya sudah tenggelam, pikirnya.

“Iya, Jeng… kalau lewat bisa kok mampir. Aku cuma tinggal sama putriku sekarang. Ya… gimana lagi, Jeng. Janda aku ini,” tukas Veny dengan nada setengah bercanda, setengah memancing simpati.

Mikayla masih duduk di kejauhan. Tangannya saling menggenggam, matanya sesekali melirik ke
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
ayolah kak kaf,tambah babnya
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
yah ko.cuman satu bab
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   225. Masih Disalahkan

    Axel sudah berada di samping Aura ketika ia membuka mata. Bayi lucu itu tersenyum lebar begitu melihat sang mama terjaga dan menatapnya dengan lembut, seolah takut Aura menghilang lagi jika ia lengah sedetik saja.“Ma-ma-ma-mam…” celoteh Axel dengan bibir mungilnya.Hati Aura langsung meleleh. Ia mendekatkan tubuh, merengkuh sang buah hati dengan penuh rindu.“Sayangnya mama…” Aura menciumi pipi gembul itu berulang kali. “Mama udah kangen sekali sama Axel. Sini, mama peluk lagi perut peyut endutnya.”Axel tertawa kegelian ketika perutnya digelitiki. Tawa polos itu memenuhi kamar. Pras yang baru masuk pun tersenyum dan langsung bergabung, tak mau ketinggalan momen hangat bersama anak dan istrinya.Melihat Aura sudah tampak baikan, Pras kembali menyinggung hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya—tentang kepastian kehamilan itu.Aura mengernyit. Ia heran Pras masih bertanya langsung padanya. Bukankah Pras bisa dengan mudah mengetahui semuanya lewat Riko? Namun mungkin memang ada hal ya

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   224. Memarahi Aura

    Ketika perjalanan menuju kantor polisi, tiba-tiba Mikayla tepar. Tubuhnya bergetar hebat, kejang-kejang, sementara mulutnya mengeluarkan busa. Suasana yang semula riuh mendadak berubah panik. Semua orang di sekitar terkejut, beberapa berteriak meminta bantuan.Polisi tanpa menunggu lama langsung membawa Mikayla ke rumah sakit terdekat. Di sanalah Pras dan Riko sudah menunggu kedatangan mereka.Pras tentu tahu apa yang terjadi. Orang suruhan Riko yang bertugas mengawasi Mikayla langsung melapor begitu kejadian itu berlangsung. Tidak ada satu detik pun yang terlewat dari pengawasannya.Namun ada satu hal yang terus mengusik kepala Pras—sesuatu yang tak kunjung bisa ia cerna.Kenapa Aura ikut-ikutan tertangkap dalam operasi bandar narkoba itu?Setelah menyelesaikan sedikit salah paham dengan pihak kepolisian, akhirnya Pras membawa Aura pulang.Sepanjang perjalanan, Pras terlihat sangat dingin. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh. Sementara itu Aura yan

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   223. Kejadian Tak Terduga

    Langkah Aura terasa begitu ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan. Senyum yang sempat hilang kini kembali merekah di wajahnya. Tata, yang sudah setia menunggu, langsung bangkit menyambut sang nyonya dengan tatapan bertanya-tanya.“Sudah selesai, Bu?” tanyanya hati-hati.“Sudah, Ta. Ayo…” ujar Aura tanpa menghentikan langkah, seolah ingin segera meninggalkan bau obat-obatan di klinik itu.Tata membuntuti di belakang. Meski rasa penasarannya membuncah, ia menahan diri untuk tidak bertanya. Ia sadar posisinya; mendesak majikan tentang masalah pribadi seperti kehamilan bisa dianggap sangat tidak sopan.“Kita langsung pulang, Bu?” tanya Tata lagi saat mereka sudah di parkiran.“Hmm, aku telepon Neni dulu ya. Kalau Axel tidak rewel, kita lanjut ke tujuan awal ke salon. Tapi kalau dia mencari-cariku, kita pulang saja,” ujar Aura sembari merogoh ponsel dari tas tangannya.Setelah mendapat laporan bahwa Axel sedang asyik bermain dan tenang, Aura pun mantap meminta Tata mengantarnya ke salon.

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   222. Hamil Lagi?

    Tata, yang sedang fokus menyetir, sesekali melirik dari spion tengah. Ia menangkap gurat keresahan yang sangat jelas di wajah majikannya.“Ada apa, Bu?” tanya Tata pelan, mencoba memecah kesunyian.Aura tersentak dari lamunannya dan menggeleng cepat. “Enggak, Ta. Enggak ada apa-apa.”Namun, hanya butuh beberapa detik bagi Aura untuk akhirnya menyerah pada rasa penasarannya sendiri. Ia butuh pendapat orang lain. “Ta... menurutmu ada kemungkinan enggak, orang yang sudah KB tapi masih bisa hamil?”Tata menoleh sebentar, kini ia paham mengapa nyonya cantiknya itu tampak begitu resah sejak tadi.“Ada saja, Bu. Tetanggaku bahkan sudah steril, tapi malah hamil di luar kandungan,” jawab Tata apa adanya.“Eh, kok bisa?!” Aura terkejut, matanya membulat.“Enggak paham juga, Bu. Namanya juga rencana manusia, tapi kalau Tuhan sudah punya kehendak lain, kita bisa apa?” tutur Tata bijak.Aura kembali terdiam, menatap kosong ke arah jalanan yang ramai. Pikirannya melayang. Yang sudah steril saja mas

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   221. Hamil Lagi?

    “Ada apa, Mas?” Aura menatap Pras dengan tatapan menuntut penjelasan. Jantungnya masih berdegup kencang, membayangkan hal terburuk terjadi pada Mikayla.Bukannya menjawab, Pras justru melangkah lebar menuju balkon, membelakangi Aura. Sikap diam itu membuat rasa penasaran Aura berubah menjadi kecemasan yang menyesakkan. Namun, saat ia membuntuti Pras ke balkon dan mencuri dengar percakapannya di telepon, ternyata dugaannya meleset.“Bodoh dia. Bisa-bisanya dikadalin sama kekasihnya sendiri,” desis Pras dingin ke arah ponselnya.Aura menghela napas panjang, bahunya merosot lega. Setidaknya, itu bukan tentang Mikayla. Jika terjadi sesuatu yang fatal pada gadis itu karena ulahnya tadi, Aura pasti akan dihantui rasa bersalah seumur hidup.“Aku juga sih... sok-sokan mau melawan dengan bersikap kejam. Padahal rasa bersalahnya minta ampun,” gumam Aura dalam hati.Ia menyadari bahwa menjadi sosok yang tegas butuh latihan mental yang kuat. Ia teringat masa lalunya, saat ia pertama kali terjebak

  • Dalam Pelukan Hangat Paman Suamiku   220. Biar Saja Tahu(2)

    Dengan langkah penuh amarah yang bergema di lorong, Veny keluar dari kamarnya. Ia menekan tombol lift dengan kasar, tak sabar ingin segera sampai ke lantai kamar Aura. Pikirannya kalut; ia tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Kalaupun Mikayla harus tahu kenyataan itu, biarlah keluar dari mulutnya sendiri, bukan dari wanita itu!“Aura! Keluar kau!” teriaknya menggelegar sambil menggedor pintu kamar Aura tanpa ampun.Para pembantu yang melihatnya hanya bisa menunduk, sudah terlalu terbiasa dengan amukan Veny yang meledak-ledak. Tak ada yang berani mendekat, apalagi mencoba melerai. Mereka tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing, takut jika salah langkah, nasib mereka akan berakhir seperti pelayan sebelumnya yang habis dimaki tanpa sebab.“Mau apa kau berdiri di sana, hah?! Tidak punya pekerjaan kamu?” Veny melototi seorang pelayan yang kebetulan hendak lewat di depannya.“Maaf, Bu... permisi...” Pelayan itu langsung melipir pergi dengan wajah pucat.Veny kembali menghantam pintu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status