LOGINlewat sebuah proyek di Bali, akhirnya Tania dan Felix kembali bertemu. felix yang tidak bisa melupakan Tania sebagai cinta pertamanya, sedangkan Tania yang benci setengah mati pada Felix karena pria itu selalu menatapnya dengan pandangan berbeda.
View MoreSeraphina's POV
The rhythmic click of my stilettos echoed through the grand hall as I ascended the stairs, each step carrying me closer to my destiny. Today would be etched into history—the day I finally claimed the mate the Moon Goddess had chosen for me.
And there he stood.
Darius Harlow—heir to the Blue Ridge Pack, my childhood friend, my first love, and soon, my eternal mate. Dressed in a black tuxedo that hugged his powerful frame, he watched me with an intensity that stole my breath. His emerald-green eyes, the most mesmerizing shade I'd ever seen, locked onto mine, unblinking.
A rush of warmth spread through my chest. After ten years of sacrifices—pouring my wealth, strength, and soul into securing his place as heir—this moment made every struggle worth it.
As I reached for his outstretched hand, a jolt of electricity surged through my fingertips, racing straight to my heart. The mate bond flared to life between us, fierce and undeniable.
He's mine.
And I'm his.
Finally.
"You're stunning," Darius murmured, his lips curling into that familiar, mischievous smirk. Heat flooded my cheeks, and I bit back a giddy laugh.
The ceremony was nothing short of extravagant. Pack members from both territories filled the hall, their cheers vibrating through the air. My parents, Alpha Bastian and Luna Athena, stood proudly beside Darius's parents, Alpha Julian and Luna Soraya. Their approving gazes only deepened the joy swelling inside me.
Elder Delon Rahen of the Blue Ridge Pack stepped forward, his voice resonating through the sacred space.
"Under the moonlight, before the spirits of our ancestors, and by the blood of your pack—do you, Darius Harlow, choose this woman as your Luna, your soulbound mate, and the guardian of your power?"
Darius never looked away from me. His grip on my hand tightened as he answered, voice rough with emotion.
"With my blood, my soul, and my body—I choose her. Today and forever."
Tears pricked my eyes, threatening to spill over.
Then the Elder turned to me.
"And you, Seraphina Luminara—do you accept this bond? Will you stand as his mate and protector of the pack he leads?"
I inhaled deeply, my heart pounding in sync with Darius's.
"With all my heart, I accept. I will be his mate, his strength, and his sanctuary."
The hall erupted in cheers, but all I heard was the steady rhythm of Darius's heartbeat—and his whisper, meant only for me.
"From this moment on, you are my true mate. You are my home."
Then his lips met mine, sealing our bond in front of the world. A single tear slipped free as warmth flooded my chest.
I was no longer just Seraphina Luminara.
I was Luna of the Blue Ridge Pack.
The rightful mate of Alpha Darius Harlow.
Joy overflowed in my heart when we returned to our wedding room after the ceremony was over. The wedding suite was a dream—bathed in candlelight, the bed strewn with crimson rose petals. The sweet floral scent was nothing compared to the intoxicating cedar-and-spice aroma that clung to Darius, making my head spin.
'I can't wait any longer, Sera,' Lily, my wolf, purred in my mind. 'He's ours now.'
I sat on the edge of the bed, pulse racing as Darius locked the door behind us. The silence was deafening, my nerves alight with anticipation.
"Hey." His voice was soft as he sat beside me, tilting my chin up. "Nervous?"
I shook my head, though my traitorous heartbeat betrayed me. "Just… adjusting. We were friends for so long, and now—"
"Now we're mates." His thumb brushed my lower lip, sending a shiver down my spine.
He leaned in, inhaling deeply. "Vanilla and milk," he murmured. "Your true scent."
I laughed, breathless. "And you smell like—"
Before I could finish, he pressed a teasing kiss to my cheek.
"Thief!" I swatted his chest, giggling as he caught my wrist and pulled me down onto the bed with him.
For a moment, everything was perfect.
Then, he was somehow already on top of me—our gaze locked, and a strong urge to have him completely pulled at my soul. Our breaths quickened, and I closed my eyes as Darius moved his head forward.
However—
A sharp sting pierced my neck.
I gasped, jerking back. My fingers flew to the spot, pulling out a syringe.
Purplish-green liquid glistened in the dim light.
Wolf's bane.
My blood turned to ice.
"D-Darius?" My voice trembled.
His smile twisted into something cold—something cruel.
"You owe me a life," he hissed.
The poison hit like a blade to the gut. Fire erupted through my veins, seizing my muscles, locking my limbs. A scream tore from my throat as my wolf howled in agony inside me.
Why? Why would our mate do this?
I collapsed to the floor, writhing. Tears blurred my vision, but I still saw him—looming over me, his face a mask of hatred.
"Y-you'll regret this," I choked out. "M-my father will—"
"Your father is weak," Darius snarled. "And so are you."
The acrid stench of gasoline filled the air. I watched in horror as he drenched the room, the liquid soaking into my wedding gown.
No. No, no, NO—
"P-please…" I begged, my voice barely a whisper.
He crouched beside me, gripping my hair, forcing me to meet his merciless gaze.
"This is for Vesper."
The name was a dagger to my heart.
Vesper Eclipse—his mistress. The woman who'd died in a plane crash three months ago.
The woman he'd never stopped loving.
A match flickered in his hand.
"Burn in hell, Seraphina."
Then he dropped it.
Flames roared to life, swallowing the room, the heat searing my skin. My wolf's cries echoed in my skull, but worse than the pain was the betrayal.
Ten years of love.
Ten years of loyalty.
All ending in fire and blood.
As the smoke choked my lungs, one thought consumed me:
If I survive this… I'll make him pay.
Gue nggak nyangka jika Tania menyetujui ajakan gue untuk jalan-jalan ke taman bermain. Gue pikir dia bakalan menolak mentah-mentah seperti biasanya, tapi ternyata kini dia sudah bersiap. Celana jeans dipadukan dengan kaos pendek membuatnya terlihat segar pagi ini.“Siap?” Tanya gue ketika kami sudah berada di baik kemudi. Gue lirik dia yang duduk tenang di kursinya.“As you can see.” Jawabnya sambil memasang seat belt.Gue mengulas senyum, lantas menghidupkan kendaraan. Tak berselang lama, mobil BMW gue sudah keluar dari basement, memebelah jalan raya yang relative sepi ketika liburan seperti ini.Berbeda dengan jalanan yang lumayan lengang, taman bermain justru penuh dengan lautan manusia. Mumpung libur, mereka pasti menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga sebelum akhirnya kembali pada rutinitas padat mereka yang mencekik keesokan harinya.“Lo mau hiburan apa Tania?” gue memutar pandangan ke sekelili
TaniaCuti gue masih tersisa beberapa hari lagi, sebelum akhirnya gue kembali ke kantor dan menyibukkan diri dengan aktifitas pekerjaan seperti biasanya. Cuti yang rencananya sebagai liburan bulan madu gue, kini hanya berakhir di apartement. Tidur, makan, lihat TV, ngelamun. Setiap malam mama pasti datang menemani gue tidur di sini, sedangkan jika siang hari Rani yang akan datang ketika suaminya sibuk bekerja. Gue tahu jika mereka khawatir sama gue jika sendirian. Tapi tenang, patah hati nggak akan sampai buat gue bunuh diri.Gue memang masih sedih. Siapa coba yang tidak akan berduka ketika patah hati? Apalagi ketika ditinggalkan menjelang akad nikah. Namun gue adalah manusia yang berfikir rasional, tangisan gue atau apapun itu nggak akan merubah keadaan menjadi lebih baik. Jadi gue berusaha untuk bersikap biasa saja di depan orang-orang yang menyayangi gue, meskipun terkadang ada suatu waktu yang membuat gue tidak bisa menahan air mata, yaitu waktu menjelang tidur.
Jika biasanya setelah menikah suami istri akan tinggal serumah dan memulai kehidupan baru dengan bahagia, namun tidak dengan pernikahan gue. Status suami istri hanya ada di buku nikah, selebihnya kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Tania tinggal di apartementnya, sedang gue masih betah tinggal di hotel. Meskipun begitu, gue tidak serta merta cuek dengan gadis itu. Sesekali gue menanyakan pada Rani tentang keadaannya di apartement, atau bahkan terkadang gue menelpon mamanya Tania untuk menanyakan kabar gadis itu.Kabar pernikahan gue bukannya sesuatu yang dianggap biasa saja oleh orang-orang di sekeliling gue. Terlebih mama dan tentu saja Jessi. Awalnya mama marah-marah tidak jelas karena tak dikabari tentang pernikahan mendadak gue, namun setelah gue jelaskan semuanya—namun tentu saja bukan tentang keinginan gue bertanggung jawab untuk menutupi aib—akhirnya mama setuju untuk tidak kembali terbang ke Jakarta.Gue tahu jika sekarang Jessi berada dala
Tania.Siapa yang tidak terkejut ketika melihat seseorang yang kita cintai berada di dalam hotel dengan seorang wanita lain. Mungkin, ini lebih seperti mimpi buruk bagi gue. Ketika gue dicampakkan dengan alasan yang tidak jelas hanya melalui sebuah pesan singkat di saat ijab qobul sudah hampir dilaksanakan.Hati gue menjerit. Memberi dorongan bagi gue untuk melampiaskan semua sakit hati yang gue rasakan sekarang pada Altan, namun hati kecil gue berkata lain. Tidak pantas penghianat seperti dia mendapatkan apapun dari gue, bahkan pukulan dari tangan gue yang berharga ini.“Jadi, alasan lo ninggalin gue adalah karena wanita itu?” Tanya gue tenang. Tak ada lagi panggilan ‘aku-kamu’sekarang. Karena gue muak. Karena dia bukan orang yang pantas gue hargai sekarang.Altan menarik nafas lalu menunduk.“Iya.”Dan jawabannya seperti sambaran petir di hati gue. Dada gue sesak, ingin menangis. Namun sekali lagi, gue t
Felix.Gue melangkah keluar dari mobil dengan banyak pikiran. Bahkan tadi, gue tidak turun ketika mengantar mama ke rumah bibi. Ada banyak pertanyaan yang bergejolak di dada gue, dan gue nggak tahu kenapa semuanya tentang Tania. Gue tahu jika gue nggak berhak ikut campur masalah pribadinya,
Tania.Menjelang hari-H pernikahan, gue semakin gugup dan cemas. Gue enggak tahu apa hanya gue yang merasakan hal seperti ini, atau semua calon pengantin lainnya. Yang jelas, kecemasan gue ini sukses membuat gue sulit tidur dan tidak doyan makan.Gue mungkin sedang diserang syndrome m
Felix.Gue nggak nyangka kalau status gue berubah secepat ini dari lajang menjadi menikah. Suatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan dalam otak gue. Sebenarnya gue juga tidak bermaksud untuk menjadi pengganti suami bagi Tania. Hanya saja ketika melihatnya seperti tadi, perasaan gue bener
Tania.Moment yang paling membahagiakan bagi seorang wanita itu mungkin ada dua. Pertama, adalah hari pernikahannya dan kedua adalah lahirnya jabang bayi dari perutnya. Dan sekarang, gue sedang menapaki kebahagiaan pertama gue, yaitu menjadi pengantin. Hal yang gue impikan lebih dari apapun






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.