เข้าสู่ระบบKartu Tarot...
Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.
Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.
“Bolehkah aku mengambilnya?”
“Ambillah”
Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.
Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.
“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”
Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.
Ting
Bunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.
Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.
Dan benar saja...
Lapisan luarnya kemungkinan besar merupakan paduan logam adamantium dan perak.
Adamantium biasanya dipilih karena memiliki stabilitas mana yang luar biasa serta hampir mustahil berubah bentuk akibat tekanan mana.
Sedangkan perak...
Yah, hampir semua mahasiswa Magic Engineering tahu kalau logam itu memiliki konduktivitas mana yang sangat baik. Jalur Magic Circuit presisi tinggi hampir selalu menggunakan material tersebut.
Aku membalik kartu itu.
Di bagian depannya tergambar seorang pria berjubah putih berdiri di balik sebuah altar batu. Tangan kanannya terangkat menunjuk ke langit. Sedangkan tangan kirinya mengarah lurus ke bumi.
Di atas kepala pria itu melayang sebuah simbol berbentuk angka delapan yang terbaring.
Aku pernah melihat simbol itu di buku matematika lama di Altaris.
‘∞’
Sebuah simbol tak terhingga.
Di atas altar tempat pria itu berdiri terdapat empat benda. Sebuah tongkat, Sebuah pedang, Sebuah cawan dan sebuah koin berukir lambang bintang bersudut lima.
Keempat benda itu tersusun rapi seolah sedang menunggu seseorang untuk menggunakannya.
Di belakang pria berjubah putih itu, bunga-bunga putih dan merah bermekaran memenuhi tanah, kontras dengan langit yang bersih tanpa awan. Ilustrasi ini terlihat begitu hidup.
“Ini... bahkan seluruh ilustrasi ini adalah Magic Circuit?”
Di bagian paling bawah kartu tertulis dua kata menggunakan huruf kapital.
THE MAGICIAN
Huruf-huruf itu tampaknya juga terukir. Namun dengan sesuatu yang berbeda.
Kata itu seolah menyatu dengan logam kartu sejak awal pembuatannya.
“Ini harusnya adalah benda dengan nilai tinggi, kenapa kau memberikannya padaku?”
“Aku tidak memberikannya.”
“Hah?”
“Itu milik ayahmu. Aku hanya mengembalikannya.”
“Kalau begitu kenapa selama ini ada padamu?”
Pak Gav kemudian terdiam.
“Aku sebelumnya meminta ayahmu untuk meminjamkanku Armament yang memiliki kemampuan searching dan detection skala besar.”
“Armament?”
“Ya, dan ayahmu meminjamkan kartu ini padaku.”
“Jadi, kartu ini bisa membuatmu melakukan sihir searching dan sebagainya?
“Tidak, kartu Tarot yang sedang kau pegang mungkin saja bisa melakukan sesuatu lebih dari itu.”
“Apa maksudmu?”
“Sejauh ini yang kulakukan pada hanyalah menggunakan sihir searching dan detection skala besar yang telah diatur oleh ayahmu, aku tidak bisa menggunakan sihir apapun lagi dengan kartu itu.”
Kalau begitu ada kemungkinan jika aku bisa menggunakan sihir lain dengan kartu ini.
Tapi...mana dalam kartu ini perlahan memudar?
“Kau pasti sudah merasakan mananya semakin menghilang.”
“Ya.”
“Ada sebuah Magic Circuit yang rusak di kartu itu, itu adalah salahku. Maafkan aku.”
Pak Gav lalu menundukkan kepalanya di hadapanku.
“Itu terjadi karena aku diserang oleh seorang Enforcer, ketika baru saja mengaktifkan kartu itu.”
“Apa yang kau cari dengan kartu ini?”
“Anakku. Aku telah menyadari jika istriku sebenarnya sudah meninggal dua tahun lalu.”
“Sebelum aku menggunakan kartu ini untuk mencari jejak anakku. Kartu ini ternyata telah rusak.”
“Pak Gav...”
“Itu adalah kesalahanku, dan tolong apakah kau bisa memperbaiki kartu itu? aku akan membayarnya dengan apapun yang kumiliki.”
Aku agak bermasalah melihat pria yang agak tua sepertinya menunduk seperti ini.
“AISHA”
“Aku ingin kau mencari petunjuk dari kartu ini dengan mengakses database ayahku.”
“Baik.”
“Pak Gav, jujur saja aku tidak mempunyai sedikitpun informasi tentang kartu ini. Jadi aku mungkin perlu waktu untuk memperbaikinya.”
“Tidak masalah. Aku hanya perlu memastikan kartu itu kembali berfungsi.”
Pak Gav lalu mengangkat kepalanya dan melihat jam.
“Mungkin sudah saatnya aku untuk pergi.”
“Kau bisa disini lebih lama Pak Gav.”
“Tidak, itu akan merepotkanmu nanti.”
Pak Gav lalu berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu
“Selamat tinggal. Dan tolong jaga revolver itu untukku.”
“Ya.”
Aku kembali fokus pada apa yang ada di tanganku.
Untuk pertama kalinya sejak lulus dari Altaris...
Aku menemukan sesuatu yang membuat jantungku berdebar bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa penasaran.
Skala Magic circuit ini tidak diragukan lagi bisa menjadi senjataku untuk menjadi Villain atau bahkan menjadikanku Villain rank B. Tapi masalahnya adalah...
Meski aku tahu mungkin kartu ini memiliki kekuatan luar biasa tapi aku belum tahu apa aku bisa memperbaiki dan memanfaatkan kekuatan ini.
“Master, aku menemukan jika terdapat kartu lain dengan bentuk Magic Circuit yang sama ada di kota halamanmu.”
“Hmm... dimana itu berada?”
“Di dalam ruang kerja Ayahmu, master”
“Jadi aku perlu pulang ke Mesarthim, ya”
Haahh...
“Kau harusnya juga bisa meninggalkan modal uang untukku, ayah.”
Baiklah... mari lihat bagaimana aku akan memecahkan misteri masterpiece-mu ini.
Kalau kupikir lagi, ada sesuatu yang aneh yang kurasakan darinya.
“Mungkin cuma perasaanku saja.”
Pria yang baru saja meninggalkan kafe itu berjalan melewati gang sempit.
“Heh, bocah yang sangat mudah dibodohi.”
Dari belakang Gav kemudian muncul seseorang.
“Lalu? Bagaimana statusnya?”
“Kartu itu sudah berhasil kita serahkan ke target.”
“Bocah itu menerimanya tanpa curiga sedikit pun, ya?”
“Benar, sekarang kita hanya perlu menunggu kartu itu diperbaiki saja”
Pria di samping Gav itu tersenyum lebar.
“Hoh, kalau begitu kita masuk tahap ke dua, Sir Gav?”
“Hah? Apa-apaan itu tahap kedua?”
“Well... kita cuma menunggu dia memperbaikinya, dan mencurinya untuk tahap terakhir?”
“Hmm... masuk akal juga. Tapi tidak, kau masih perlu mengikutinya sampai kartu itu jadi.”
“A-apa? Hei itu tidak adil.”
“Rank-mu itu lebih kecil dariku, bodoh”
“Tsk, baiklah baiklah.”
“Jangan membuat kesalahan Zaban.”
Kedua pria itu lalu pergi meninggalkan gang sempit disana.
Di depanku berdiri seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Wajahnya masih cantik seperti yang kuingat, hanya saja kini beberapa helai rambut putih mulai muncul di dekat pelipisnya.Mengenakan celemek bunga di atas pakaian rumah yang sederhana, tak ada seorang pun yang akan menyangka kalau wanita yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa ini mampu membuat kepalaku hampir terlepas dengan satu pukulan Aura.Inilah ibuku, Irene Doyle.“Anak kurang ajar! Masih hidup kau rupanya?!”“Eerrghh... huff... tentu saja aku...masih hidup.”Tapi sepertinya aku akan benar-benar mati barusan.Pukulan ibu membuatku terpelanting sampai wajahku mencium tanah.Arghhh...Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun kepalaku yang berputar memaksaku dalam posisi setengah berbaring.Untung saja kepalaku masih terpasang, aku masih membutuhkan otak geniusku.“Ibu... suara apa itu? Apa yang kau lakukan?”Dari belakang Ibu muncul seorang gadis berambut
Meski kubilang aku akan memecahkan penemuan milik ayahku, aku cuma menemukan sedikit petunjuk tentang kartu ini.Sejauh yang aku tahu, Ayahku memang adalah pengoleksi kartu-kartu. Aku pernah melihat ia menyimpan koleksi kartunya dalam sebuah Card Album yang seperti buku.Masalahnya adalah benda itu kalau tidak salah jumlahnya ada puluhan dan ada di rumahku di kota Mesarthim, jadi aku harus pulang ke rumahku untuk melihatnya.Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk dengan benda itu.Yap.Semua ini juga agar aku menjadi Villain rank B dan agar aku tidak terbunuh oleh perusahaan yang entah apa namanya itu.Dan karena itulah sekarang aku sedang duduk terpaku melihat jendela kereta levitasi di samping kananku.Kota kelahiranku, Mesarthim memiliki jarak yang cukup jauh dari ibukota Hamal tempatku mencari kerja.Di republik Arcion ini, kebanyakan orang menggunakan kereta sebagai transportasi umum. Ya, sebenarnya ada 2 jenis kereta yang biasa digunakan oleh orang-orang.Pertama adalah kereta
Kartu Tarot...Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.“Bolehkah aku mengambilnya?”“Ambillah”Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.TingBunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.Dan benar saja...Lapisan luarnya kemung
NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]John_Chatter : [Berita yang mana?]Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]Bonafide^^ : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]NeckCynder : [DM aku]Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]John_Chatter : [Cek DM-mu]NoNymus : [Bro...]Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]John_Chatter : [Aku tak peduli.]Krak!“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”Bianca memegang smartphone Sera d
Ckring.Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.‘Ah ketiduran lagi.’Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”“Tidak apa-apa.”Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”“Ya silahkan.”Mar
Hari itu aku merasa seperti terkena prank, untung saja uangnya nyata.“AISHA, bawa perlengkapanku ke markas.”“Baik, Master.”Sebuah suara datang dari drone yang berbentuk elang besar di sampingku.“Aku akan kesulitan jika kau tidak membawaku tadi, terima kasih.”“Sama-sama, apa kau perlu bantuan lain?”“Cukup, itu saja.”Aku lalu melepas jubah dan sepatu yang kukenakan.Setelah itu, aku meletakkan semuanya ke dalam koper kecil yang ada di bawah kaki drone.“Ini.”Drone itu menerima koper dengan kakinya dan kemudian terbang dengan sayapnya.“Sial, aku hampir mati kali ini.”Aku masih bisa merasakan bilah pedang tadi di pundakku.Kalau aku terlambat menarik pelatuk, mungkin sekarang aku sudah kehilangan lengan.Aku menuangkan healing potion ke luka di pundakku.“Tsk... hampir saja tanganku terpotong.”Aku lalu menyeka darah dan cairan potion dengan kain dari saku celanaku“Wanita itu benar-benar akan membunuhku.”Kemudian, aku segera mengenakan pakaian biasa dan berjalan menuju jalan







