แชร์

Chapter 6

ผู้เขียน: Kang Hafidz
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-21 23:33:09

NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]

John_Chatter : [Berita yang mana?]

Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]

Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]

Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]

John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]

Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]

NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]

NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]

John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]

Bonafide^^  : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]

NeckCynder : [DM aku]

Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]

John_Chatter : [Cek DM-mu]

NoNymus : [Bro...]

Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]

John_Chatter : [Aku tak peduli.]

Krak!

“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”

Bianca memegang smartphone Sera dengan satu tangan.

Layar smartphone itu kemudian retak.

“...Kau terlihat sangat bersenang-senang, Agent Sera.”

Sera menelan ludah.

“Kapten...”

Bianca mengangkat alis.

“Atau sebaiknya kupanggil NeckCynder?”

“Ehehe... Kapten, i-itu cuma lelucon.”

“Lelucon? Lelucon kau bilang?”

Bianca lalu menunjukkan layar smartphone yang telah rusak.

“Ini sudah Part 3, Sera.”

“...”

“Kenapa ada Part 3 kalau ini hanya lelucon! Dan bahkan kau mendownloadnya!”

“I-itu ceritanya bagus jadi...”

“Aku menyita smartphone-mu.”

Tiba-tiba Sera memegang kaki Bianca.

“Uwaaa... tolong jangan kapten! Aku tak bisa hidup tanpa smartphone-ku!”

“Tsk, ini salahmu karena main smartphone saat sedang rapat darurat.”

“Please kapten, pwease...”

“Tidak, dan lepaskan kakiku aku akan pulang ke rumahku. John sialan itu membuatku sakit kepala sampai aku lupa tidur.”

“T-tapi...”

“Tidak ada tapi-tapian!”

Setelah kakinya lepas dari tangan Sera, Bianca lalu pergi dari kantor Enforcer di pusat ibukota.

Begitu keluar dari kantor, Bianca akhirnya bisa menghela napas panjang.

Tidak ada lagi suara laporan dari operator.

Tidak ada lagi suara agen yang memanggil namanya.

Tidak ada lagi nama John Trickster.

Setidaknya untuk beberapa menit.

Ia memasuki mobilnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi pengemudi.

“Haaah...”

Hari yang melelahkan.

Pengejaran semalam saja sudah menguras sebagian besar staminanya. Ditambah rapat darurat pagi ini dan kelakuan Sera yang entah kenapa selalu menemukan cara untuk membuat kepalanya sakit.

Bianca menyalakan mesin.

“Sial, Aku cuma ingin tidur.”

Sayangnya, pikirannya kembali teringat pada pria bertopeng putih itu.

John Trickster.

Mobil yang ia kendarai kini berjalan pulang ke rumah.

Setelah sampai di depan rumah, dia lalu keluar dari mobil untuk membuka garasinya.

“Hah... sebentar lagi malam ya?”

Bianca kemudian melihat-lihat sebentar area di sekitar rumah untuk memeriksa area itu.

“Ada kafe baru ya? Aku baru tahu. Entah sudah berapa minggu belum pulang ke rumah?”

Dia lalu kembali ke dalam mobil untuk memasukkannya ke garasi.

“Ini semua gara-gara pencuri sialan itu! Lain kali akan kuincar lehernya!”

Achoo!

Bunyi bersin yang cukup keras menggema dari dalam kafe yang sepi.

‘Sepertinya ada yang sedang bicara tentang diriku.”

Well...

Aku yang tampan ini memang banyak yang naksir.

“Waktunya tutup ya?”

Aku lalu membalikkan tanda buka di pintu kafe.

Maria bilang klien-ku akan menemuiku langsung disini. Jadi, lebih baik tutup lebih awal.

Setelah itu aku kembali ke dapur untuk membersihkan cangkir.

Ckring!

“Permisi... “

Aku menoleh ke asal suara itu dan menemukan ada seorang pria.

Pria itu mungkin berusia sekitar empat puluhan.

Tubuhnya cukup tinggi dan tegap, dengan bahu yang masih terlihat kokoh meskipun beberapa helai uban mulai memenuhi bagian pelipis rambut hitam kecokelatannya.

Sepasang mata cokelat gelap menatapku dengan tenang.

Pakaiannya sederhana seperti kemeja putih, rompi gelap, dan mantel abu-abu tua. Tidak terlihat seperti orang kaya, tetapi jelas bukan pakaian murah

“Ada yang bisa kubantu?”

“Maria memintaku untuk pergi kesini.”

“Hoo... jadi kaulah kliennya, benar?”

“Ya, itu aku.”

“Silahkan duduk,Tuan.”

Pria itu kemudian duduk di meja depan.

Aku lalu mengambil sesuatu dari brankas tersembunyi yang ada di balik kulkas.

“Ini adalah Armament yang kau inginkan. Ada banyak benda dengan spesifikasi yang mirip dengan deskripsimu, jadi aku mengambil keempatnya.”

Benda yang kuletakkan di depannya adalah empat liontin yang terbuat dari perak dan campuran kristal sihir di ornamennya.

“Bagaimana? Apa ada benda yang kau cari?”

“Ya, benda itu disini.”

Dia lalu mengambil liontin dengan kristal ruby yang membentuk bunga.

Untuk beberapa detik dia hanya menatap liontin itu.

Pak Gav membuka liontin itu secara perlahan.

Begitu bagian dalamnya terbuka, ekspresinya berubah.

Untuk beberapa detik dia hanya diam.

Aku pun ikut melihat foto kecil di dalamnya.

Seorang pria muda.

Seorang wanita yang tersenyum.

Dan seorang anak kecil yang berdiri di tengah mereka.

Foto dari sebuah keluarga.

“Ini...”

Suara pria itu terdengar jauh lebih pelan.

“Ini adalah liontin milik istriku.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Di dalamnya ada foto kami bertiga.”

Tangannya mulai bergetar.

“Aku, istriku... dan anak kami.”

Pria itu mulai tertawa kecil. Tapi aku tahu itu bukan tawa bahagia.

“Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat benda ini.”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Aku kehilangan mereka.”

Aku terdiam.

Biasanya aku akan melontarkan lelucon untuk menghilangkan suasana canggung.

Tapi kali ini...Entah kenapa aku tidak sanggup.

Aku hanya mengambil teko di meja dan menuangkan teh ke dalam cangkirnya.

“Minumlah dulu.”

“...Terima kasih.”

Aku sebenarnya ingin meminta dia untuk menceritakannya kepadaku kisah sedihnya.

Namun aku merasa ini bukan waktu yang tepat.

Setelah ia mulai tenang, pria itu lalu meminta maaf.

“Maaf, aku tanpa sadar menangis duluan.”

“Tidak apa-apa. Ini sapu tangan untukmu, tuan”

“Panggil aku Gav.”

“Ya Tuan Gav?, Maria bilang jika kau itu mengaku sebagai teman ayahku, padahal aku hanya menggunakan nama John Trickster selama ini. Bagaimana kau mengetahuinya, Tuan?”

“Kau menggunakan revolver yang kurakit.”

“Hoo... ini?”

Aku berkata sambil menunjukkan revolver yang cukup besar daripada revolver biasa.

Setelah itu aku meletakkan revolver itu di meja.

“Revolver ini sebenarnya kubuat dari informasi yang ada di teks-teks peninggalan Old Calendar.”

“Zaman sebelum New Calendar, ya?”

“Benar, revolver ini kubuat berdasarkan senjata zaman itu, RSh-12. Dan aku hanya membuat ini saja”

“Hoo... Jadi itu sebabnya ini sangat langka.”

“Revolver itu juga sebenarnya adalah bukti kesepakatan antara aku dan ayahmu, Arzene Doyle.”

“Kesepakatan?”

 “Ya, waktu itu aku ingin dia meminjamkan ciptaannya kepadaku, dan aku akan memberikan ciptaanku padanya.”

“Apa yang ayahku pinjamkan padamu?”

“Ini.”

Pak Gav mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.

Sebuah benda tipis berwarna hitam keperakan.

Ia lalu meletakkan sebuah kartu di atas meja

Dan apa yang kulihat disitu adalah...

Kartu Tarot?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 9

    Di depanku berdiri seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Wajahnya masih cantik seperti yang kuingat, hanya saja kini beberapa helai rambut putih mulai muncul di dekat pelipisnya.Mengenakan celemek bunga di atas pakaian rumah yang sederhana, tak ada seorang pun yang akan menyangka kalau wanita yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa ini mampu membuat kepalaku hampir terlepas dengan satu pukulan Aura.Inilah ibuku, Irene Doyle.“Anak kurang ajar! Masih hidup kau rupanya?!”“Eerrghh... huff... tentu saja aku...masih hidup.”Tapi sepertinya aku akan benar-benar mati barusan.Pukulan ibu membuatku terpelanting sampai wajahku mencium tanah.Arghhh...Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun kepalaku yang berputar memaksaku dalam posisi setengah berbaring.Untung saja kepalaku masih terpasang, aku masih membutuhkan otak geniusku.“Ibu... suara apa itu? Apa yang kau lakukan?”Dari belakang Ibu muncul seorang gadis berambut

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 8

    Meski kubilang aku akan memecahkan penemuan milik ayahku, aku cuma menemukan sedikit petunjuk tentang kartu ini.Sejauh yang aku tahu, Ayahku memang adalah pengoleksi kartu-kartu. Aku pernah melihat ia menyimpan koleksi kartunya dalam sebuah Card Album yang seperti buku.Masalahnya adalah benda itu kalau tidak salah jumlahnya ada puluhan dan ada di rumahku di kota Mesarthim, jadi aku harus pulang ke rumahku untuk melihatnya.Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk dengan benda itu.Yap.Semua ini juga agar aku menjadi Villain rank B dan agar aku tidak terbunuh oleh perusahaan yang entah apa namanya itu.Dan karena itulah sekarang aku sedang duduk terpaku melihat jendela kereta levitasi di samping kananku.Kota kelahiranku, Mesarthim memiliki jarak yang cukup jauh dari ibukota Hamal tempatku mencari kerja.Di republik Arcion ini, kebanyakan orang menggunakan kereta sebagai transportasi umum. Ya, sebenarnya ada 2 jenis kereta yang biasa digunakan oleh orang-orang.Pertama adalah kereta

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 7

    Kartu Tarot...Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.“Bolehkah aku mengambilnya?”“Ambillah”Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.TingBunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.Dan benar saja...Lapisan luarnya kemung

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 6

    NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]John_Chatter : [Berita yang mana?]Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]Bonafide^^ : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]NeckCynder : [DM aku]Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]John_Chatter : [Cek DM-mu]NoNymus : [Bro...]Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]John_Chatter : [Aku tak peduli.]Krak!“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”Bianca memegang smartphone Sera d

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 5

    Ckring.Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.‘Ah ketiduran lagi.’Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”“Tidak apa-apa.”Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”“Ya silahkan.”Mar

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 4

    Hari itu aku merasa seperti terkena prank, untung saja uangnya nyata.“AISHA, bawa perlengkapanku ke markas.”“Baik, Master.”Sebuah suara datang dari drone yang berbentuk elang besar di sampingku.“Aku akan kesulitan jika kau tidak membawaku tadi, terima kasih.”“Sama-sama, apa kau perlu bantuan lain?”“Cukup, itu saja.”Aku lalu melepas jubah dan sepatu yang kukenakan.Setelah itu, aku meletakkan semuanya ke dalam koper kecil yang ada di bawah kaki drone.“Ini.”Drone itu menerima koper dengan kakinya dan kemudian terbang dengan sayapnya.“Sial, aku hampir mati kali ini.”Aku masih bisa merasakan bilah pedang tadi di pundakku.Kalau aku terlambat menarik pelatuk, mungkin sekarang aku sudah kehilangan lengan.Aku menuangkan healing potion ke luka di pundakku.“Tsk... hampir saja tanganku terpotong.”Aku lalu menyeka darah dan cairan potion dengan kain dari saku celanaku“Wanita itu benar-benar akan membunuhku.”Kemudian, aku segera mengenakan pakaian biasa dan berjalan menuju jalan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status