เข้าสู่ระบบCkring.
Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.
Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.
Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.
‘Ah ketiduran lagi.’
Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.
Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.
Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.
“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”
“Tidak apa-apa.”
Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.
Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.
Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.
Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.
“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”
“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”
“Ya silahkan.”
Maria lalu berjalan ke kamar mandi yang ada di belakang.
Ketiduran di kafe ini sampai empat kali membuatnya tahu bagaimana tata letak kafe ini.
Dia lalu menyalakan kran dan mencuci mukanya di tempat cuci tangan.
‘Akhirnya bisa tidur’
Maria menghela nafas lega sambil melihat wajahnya di cermin.
Disana dia melihat kantung matanya sedikit menghilang.
Biasanya dia akan menutupinya dengan make up agar tidak diketahui orang lain.
‘Make up-ku masih di mobil, mungkin nanti saja.’
Sudah lebih dari satu minggu Maria kesulitan tidur.
Tugas dan pekerjaan yang dimilikinya membuat pikiran dan kewaspadaannya meningkat terlalu tinggi.
Setelah mengusap dengan kain yang dia bawa di sakunya, dia lalu berjalan ke dapur kafe.
Disana wangi kopi telah memenuhi ruangan.
Dia lalu duduk di meja tempat dia duduk barusan.
Maria melihat pemuda itu sedang menyeduh kopi hitam dengan cukup terampil.
Setelah menyeduh kopi, pemuda itu berjalan ke arahnya sambil membawa dua cangkir kopi dan beberapa roti panggang.
“Ini, sarapan untukmu.”
“Aku akan membayarnya.”
“Tak perlu, anggaplah balas budi karena telah memberiku tumpangan.”
“...Baiklah.”
Maria lalu menambahkan susu ke kopinya agar tidak terlalu pahit.
Dia lalu meminum kopinya secara perlahan.
“Hm... Aku merasa kau lebih cocok menjadi barista daripada menjadi Villain.”
“Well... Aku pernah menjadi barista saat bekerja paruh waktu di Altaris, dan gajinya dibawah standar. Jadi aku langsung berhenti setelah dua bulan disana”
“Altaris ya... “
“Makanlah rotinya.”
“Yeah...”
Maria lalu mengambil roti panggang itu dengan tangan kanannya.
“Honey Toast?”
“Ya, cocok untuk sarapan.”
Maria lalu menggigit roti itu.
Kress.
Sensasi yang renyah dan rasa manis dari madu terasa di lidahnya membuat dia merasa tenang.
Perlahan suasana di antara keduanya begitu tenang dengan suara renyah roti.
“Ingin menonton TV?”
Maria mengangguk dan mengiyakan tawaran pemuda itu.
“AISHA, tolong nyalakan TV-nya.”
“Ya, Master.”
Bunyi mesin dari area dapur menjawab perintah pemuda itu.
TV yang berada di pojok atas dapur kemudian menyala dengan sendirinya.
“Pemirsa, kami melaporkan dari tempat kejadian. Tepatnya di rumah gubernur ibukota Hamal, rumah Tuan James Faylith.”
“Ah, itu rumah yang kemarin kurampok.”
“Haha... ini hanya sebuah kesalahpahaman.”
“Namun, bukankah rumah bapak telah dirampok oleh John Trickster, Pak James?”
“Hah! John Trickster itu hanyalah Villain kampungan! Dia itu cuma Villain yang sembarangan merampok rumah orang!”
“Tetapi pak, selama ini korban John Trickster adalah pelaku korupsi. Apakah bapak merasa melakukan korupsi?”
“Tentu saja tidak! Aku hanya dipanggil sebagai korban pencurian saja.”
“Cukup Pak James, silahkan masuk ke mobil.”
“Dengarkan ini! Villain tetaplah Villain!”
“Baik pemirsa, itulah komentar dari Pak gubernur ibukota kita. Setelah ini saya serahkan pada kantor pusat.”
“Baik, menyusul berita ini. Selanjutnya ada kenaikan rank John Trickster yang sebelumnya adalah Rank D menjadi Rank C...”
Maria kemudian menghabiskan kopinya.
“Jadi? Bagaimana rasanya menjadi terkenal?”
“Rasanya menyebalkan, terlalu terkenal membuatku dikejar oleh nenek tua itu. Dan apa-apaan dengan nama John Trickster itu! Mereka bahkan menolak menggantinya.”
“Silver Star... Bianca Lestrade ya? Aku merasa dia punya dendam padamu.”
“Dendam? Aku merasa itu lebih ke kutukan. Kapten macam apa yang terus-terusan mengejar Villain yang sama sampai sebelas kali.”
“I-itu memang agak berlebihan.”
Maria lalu berdiri dari kursinya.
“Itu saja, aku masih perlu mengerjakan tugasku selanjutnya.”
“Yeah...”
Dia kemudian berjalan meninggalkan meja dan mendekati pintu kafe.
Ckring.
Maria membuka pintu kafe namun sempat berhenti.
“Ini mengingatkanku sesuatu, ini adalah hari terakhir aku membantumu menjadi Villain. Jadi, mungkin saja ini perpisahan kita.”
“Apa mungkin kita bisa bertemu lagi?”
“Jika kau masih hidup dan berhasil meraih rank B, mungkin saja. Perusahaan akan mengirim sesuatu padamu satu bulan nanti.”
“Baiklah...sampai jumpa satu bulan lagi, Maria.”
“Sepertinya kau cukup optimis, baguslah... sampai jumpa, Ash Doyle.”
Maria lalu pergi meninggalkan kafe kecil itu.
Pip.
Dia membuka kunci mobil dan masuk ke dalamnya.
‘Dengan ini, dia sudah tidak bisa kembali ke kehidupannya yang lama, ya?’
Maria pun pergi dari kafe itu dengan mobilnya.
"Sepertinya aku sebagai Proxy tidak perlu membunuh kandidat lagi”
Melihat Maria pergi, Ash pun membersihkan cangkir dan piring dari meja.
“Ya dan kali ini kita akan melihat klarifikasi dari Kapten Bianca Lestrade yang telah mengejar John Trickster tadi malam.”
“Ehem, sebelumnya kami mohon maaf karena pengejaran kami semalam menemui kegagalan. Walau kami hampir sempat menangkapnya dan dia terluka, tetap saja dia sedikit lihai untuk lolos.”
“Sedikit lihai? Tapi kapten kau sudah mengejarnya sebelas kali dan berujung kegagalan. Bagaimana anda akan menjelaskan itu?”
“Mau sebelas kali atau ratusan kali, jika aku mendengar namanya aku akan langsung pergi ke sana!”
Ash yang mendengar hal itu langsung mendecakkan lidahnya.
“Tsk. Dasar nenek stalker.”
Achoo...
Kapten Bianca mendadak bersin saat di depan kamera.
Ini membuat para pers hening dan...
“Ohh! Apa kau menangkap itu? Kapten Bianca barusan bersin.”
“Semoga dia diberkati.”
“Akhirnya aku bisa melihat keimutan dari kapten Bianca yang terkenal cantik dan elegan.”
“Uoogh... cepat jadikan foto atau video bersin tadi headline utama berita kita.”
“Si-siap!”
“T-tunggu! Jangan! Tolong Jangan!”
Dan berita pencurian John Trickster yang terkenal mendadak tertutup oleh berita bersin kapten Bianca, sang Silver Star.
Di depanku berdiri seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Wajahnya masih cantik seperti yang kuingat, hanya saja kini beberapa helai rambut putih mulai muncul di dekat pelipisnya.Mengenakan celemek bunga di atas pakaian rumah yang sederhana, tak ada seorang pun yang akan menyangka kalau wanita yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa ini mampu membuat kepalaku hampir terlepas dengan satu pukulan Aura.Inilah ibuku, Irene Doyle.“Anak kurang ajar! Masih hidup kau rupanya?!”“Eerrghh... huff... tentu saja aku...masih hidup.”Tapi sepertinya aku akan benar-benar mati barusan.Pukulan ibu membuatku terpelanting sampai wajahku mencium tanah.Arghhh...Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun kepalaku yang berputar memaksaku dalam posisi setengah berbaring.Untung saja kepalaku masih terpasang, aku masih membutuhkan otak geniusku.“Ibu... suara apa itu? Apa yang kau lakukan?”Dari belakang Ibu muncul seorang gadis berambut
Meski kubilang aku akan memecahkan penemuan milik ayahku, aku cuma menemukan sedikit petunjuk tentang kartu ini.Sejauh yang aku tahu, Ayahku memang adalah pengoleksi kartu-kartu. Aku pernah melihat ia menyimpan koleksi kartunya dalam sebuah Card Album yang seperti buku.Masalahnya adalah benda itu kalau tidak salah jumlahnya ada puluhan dan ada di rumahku di kota Mesarthim, jadi aku harus pulang ke rumahku untuk melihatnya.Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk dengan benda itu.Yap.Semua ini juga agar aku menjadi Villain rank B dan agar aku tidak terbunuh oleh perusahaan yang entah apa namanya itu.Dan karena itulah sekarang aku sedang duduk terpaku melihat jendela kereta levitasi di samping kananku.Kota kelahiranku, Mesarthim memiliki jarak yang cukup jauh dari ibukota Hamal tempatku mencari kerja.Di republik Arcion ini, kebanyakan orang menggunakan kereta sebagai transportasi umum. Ya, sebenarnya ada 2 jenis kereta yang biasa digunakan oleh orang-orang.Pertama adalah kereta
Kartu Tarot...Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.“Bolehkah aku mengambilnya?”“Ambillah”Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.TingBunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.Dan benar saja...Lapisan luarnya kemung
NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]John_Chatter : [Berita yang mana?]Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]Bonafide^^ : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]NeckCynder : [DM aku]Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]John_Chatter : [Cek DM-mu]NoNymus : [Bro...]Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]John_Chatter : [Aku tak peduli.]Krak!“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”Bianca memegang smartphone Sera d
Ckring.Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.‘Ah ketiduran lagi.’Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”“Tidak apa-apa.”Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”“Ya silahkan.”Mar
Hari itu aku merasa seperti terkena prank, untung saja uangnya nyata.“AISHA, bawa perlengkapanku ke markas.”“Baik, Master.”Sebuah suara datang dari drone yang berbentuk elang besar di sampingku.“Aku akan kesulitan jika kau tidak membawaku tadi, terima kasih.”“Sama-sama, apa kau perlu bantuan lain?”“Cukup, itu saja.”Aku lalu melepas jubah dan sepatu yang kukenakan.Setelah itu, aku meletakkan semuanya ke dalam koper kecil yang ada di bawah kaki drone.“Ini.”Drone itu menerima koper dengan kakinya dan kemudian terbang dengan sayapnya.“Sial, aku hampir mati kali ini.”Aku masih bisa merasakan bilah pedang tadi di pundakku.Kalau aku terlambat menarik pelatuk, mungkin sekarang aku sudah kehilangan lengan.Aku menuangkan healing potion ke luka di pundakku.“Tsk... hampir saja tanganku terpotong.”Aku lalu menyeka darah dan cairan potion dengan kain dari saku celanaku“Wanita itu benar-benar akan membunuhku.”Kemudian, aku segera mengenakan pakaian biasa dan berjalan menuju jalan







