LOGINPermintaan Mahira hanya satu pada Semesta yaitu mengembalikan sang suami kepada cinta pertamanya saat dia meninggal hari ini. Dan Semesta memberinya kesempatan kembali ke enam tahun silam, tetapi ada sesuatu yang tak bisa dia hindari. Mahira tetap menjadi seorang istri dari Birendra, tetapi dirinya adalah istri kedua yang dijodohkan. Mahira adalah istri kedua dari suaminya yang sekarang. Sedangkan kakak madunya dinyatakan meninggal karena kecelakaan. "Kau yang menyebabkan Sarayu meninggal. Sekarang kau harus menanggung akibatnya." Karena tak tahu apapun. Mahira memilih belajar bersikap cuek, abai dan tak peduli kepada Birendra hingga membuat pria itu kebingungan. Di satu sisi, Mahira dicintai oleh rekan kerjanya yang mencintainya secara diam-diam. Pilihan apa yang dibuat Mahira? Kembali rujuk dengan sang suami atau menjalin hubungan yang baru? Mampukah Mahira mengungkap insiden yang mengakibat dirinya kembali ke masa lalu dan meninggalnya Sarayu?
View MoreAku menatap cermin besar di kamarku. Gaun putih sederhana menyentuh lantai, menjuntai lembut mengikuti gerak tubuhku yang bergetar pelan. Jemariku dingin, padahal AC kamar sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Bukan karena gugup, melainkan karena hati ini masih tak percaya—akhirnya aku menikah dengan Arya. Semesta mengabulkan permintaanku agar bertemu kembali dengan cara yang aneh bahkan aku tak bisa mempercayai. Mungkin kisahku dan Arya bagaikan sebuah cerita fantasi di dunia film. Sama halnya dengan diriku yang ditakdirkan untuk kembali ke masa lalu, begitu pula Arya yang meminta pada semesta agar dipertemukan kembali denganku. Doanya memang terkabul, tetapi ada konsekuensinya dari permintaan tersebut. Dia kehilangan ingatan sementara. ["Ketika aku terjatuh dari gedung itu. Satu doaku yang ingin Tuhan dengar. Aku ingin kembali ke masa lalu saat aku bertemu denganmu pertama kali."] ["Aku memang bertemu denganmu ketika kamu menangis di lorong rumah sakit. Aku tak ingat siapa dir
"Akhirnya selesai juga."Aku menatap pantulan diriku di kaca ruang operasi yang sudah sepi sembari bergumam. Topi bedah masih menempel di kepala dan masker medis tergantung longgar di leher. Kulihat diriku wajahku yang mulai lelah di pantulan cermin.Namun tak ada penyesalan saat aku mengambil sebuah keputusan tersebut, ini hidup yang kupilih—sebagai seorang dokter bedah dan sebagai ibu dari anak yang sedang menunggu di rumah.“Dokter Mahira." Suara suster Winda menyadarkanku dari lamunan.“Operasi tadi luar biasa. Anda sungguh hebat, Dok," pujinya yang membuat aku merasa tak layak menerima kalimat tersebut.Aku tersenyum tipis, mengangguk. “Terima kasih, Sus. Kalian juga hebat karena kita satu tim yang solid," kataku sembari memberi pujian pada mereka."Ini sudah operasi ketiga yang anda lakukan, Mahira. Sekarang pulanglah. Dokter Jaka yang akan menggantikanmu nanti," ujar dokter Agustin seraya melangkah memasuki ruang operasi."Iya Dok. Pulanglah, anda sudah terlihat lelah. Tenang
"Takdir itu tak bisa diubah dan akan menghampiri setiap insan manusia.""Ini sudah takdir ayahmu. Jangan merasa bersalah.""Allah menempatkan ayahmu di sisi-Nya."Kerabat ayah dan teman-teman sesama TKI datang ke pemakaman ayah. Mereka menguatkan aku di hari yang paling menyedihkan. Andai mereka tahu, aku tak bisa kuat seperti yang mereka katakan.Saat kabar itu datang—bahwa Ayahku dan Ayah Dani meninggal bersamaan dalam kecelakaan itu, rasanya seperti seseorang mencabut seluruh napas dari paru-paruku. Dan seakan belum cukup, Ibu Tari... koma. Antara hidup dan mati layaknya menggantungkan harapan kami di benang yang nyaris putus.Aku mengunci diri di kamar. Dua hari. Dua malam. Aku tidak bicara. Tidak makan. Bahkan air mataku pun seakan berhenti mengalir. Yang tersisa hanya kebisuan dan rasa marah—pada dunia, pada semesta dan juga pada takdir."Kenapa Ayah harus semobil dengan mereka?""Sebenarnya Ayah mau ke mana?"Aku tak menyangka jika ayah semobil dengan kedua orang tua Mas Birend
["Mahira, kamu bisa ke rumah sore ini? Ada yang mau aku bicarakan denganmu."]"Rumah ayah Dani atau ke rumahnya Mas di jalan Cempaka?"["Datanglah ke jalan Cempaka."]Pagi ini aku mendapat notif pesan dari Mas Birendra. Dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Katanya ada yang sesuatu yang hendak dia bicarakan. Aku langsung membalas pesannya dan mengiyakan permintaannya.Setelah menyelesaikan tugasku, aku segera melangkah pergi menemui Mas Birendra di rumahnya. Aku mengambil kunci mobil. Sudah dua bulan ini aku belajar lagi menyetir setelah pernah mengalami trauma."Selamat sore, Mbak Hira. Lama tidak ke sini.""Senang bisa melihat Mbak Hira lagi."Sesampainya di depan pintu gerbang rumah Mas Birendra, aku disambut hangat para pekerja di sini. Dulu sebelum Mas Birendra menikah dengan Sarayu, aku sering ke sini bersama ibu Tari hanya untuk beberes dan menyetok makanan, karena tempat kerja Mas Birendra lebih dekat daripada di rumah utama."Ah iya Pak. Hira juga kangen sama kalian," sapa
Setelah mendapat telepon dari Sumiati, Mahira segera bergegas menuju rumah tanpa memedulikan makan siangnya. Langkahnya dia percepat dan penuh kecemasan. Perasaannya campur aduk selama perjalanan pulang, mencoba membayangkan apa yang sebenarnya terjadi.Ketika mobil online berhenti di depan rumah,
Setelah perbincangan panjang dengan Dokter Arya di ruang konsultasi, aku menatap wajah Mas Birendra. Wajahnya kaku, meski bibirnya melontarkan ucapan terima kasih kepada Arya. Namun, sorot matanya yang sesekali melirik tajam ke arah Arya tidak bisa disembunyikan."Birendra, aku meminta tolong. Perh
Mahira berdiri di dekat jendela ruang istirahat dokter. Matanya menatap kosong ke taman kecil di luar, tetapi pikirannya jauh melayang ke hari kecelakaan yang mengubah hidupnya setahun lalu.Tangan kanannya menyentuh luka bekas operasi di kepalanya, sentuhan ringan itu membawanya kembali ke kilasan
Arya belum pulang setelah tadi hendak mengantarkan Mahira pulang. Dia memilih menemui Sanur sang sepupu di dalam kafe. Arya tahu Sanur tak menyukai kehadirannya yang tiba-tiba, tetapi dia harus membicarakan hal penting.Arya mengajak Sanur ke ruangan yang privat di kafe tersebut agar pembicaraan mere






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore