LOGINAluna Yudhistira memilih bercerai dari Ryu Zavier Ragnala karena ingin membebaskan pria itu dari pernikahan mereka. Setelah bercerai, Aluna memilih meninggalkan semua kehidupan sebelumnya dan menjalani kehidupan barunya di tempat lain, seorang diri karena dirinya sudah sebatang kara. Namun, Aluna melupakan satu hal, malam penyatuan mereka sebelum perceraian dengan Ryu yang membuatnya melahirkan bayi tampan mirip mantan suaminya. Sebenarnya ia bisa saja memberi tahu mantan suaminya itu, tetapi ia tidak memilih hal itu karena menganggap hal itu adalah kesalahan masa lalunya dan dia yang akan bertanggungjawab sendiri untuk membesarkan sang anak. Setelah tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka semua dengan awal sebuah kesalahan juga. Kesalahan apa dan bagaimana reaksi Ryu ketika bertemu dengan sang anak?
View MoreBab 1
[Mulai hari ini dengan segenap kesadaran, Saya Gilang Sentawibara menceraikan istri saya Nia Nirmala dengan talak tiga.]
Gawai mewahku terjatuh dari genggaman. Dada sesak, napas tercekat. Status di F******k suamiku membuat duniaku hitam. Pusing mendera, hingga tak ada kalimat positif yang melintas di dalam kepalaku.
Kling!
Kling!
Kling!
Notifikasi w******p, f******k, SMS dan aplikasi lainnya terus berdering tiada henti. Dengan tangan gemetar mencoba melihat beberapa pesan yang masuk.
[Nia, lihat status suamimu!!!] Chat dari salah satu sahabatku.
[Nia, kalian berantem? Kenapa di publik begini?] Isi chat dari iparku.
[Buk Nia, Pak Gilang kenapa?] Ya Tuhan! Rekan kerja Mas Gilang juga ikut bertanya.
[Dek, kenapa suamimu?] Chat dari Kakak tertuaku.
Ya Allah! Puluhan chat lain menumpuk. Aku tidak berani membukanya lagi. Ada apa dengan Mas Gilang sebenarnya?
Kuabaikan ratusan pesan yang tentunya pertanyaan yang belum bisa aku jawab. Segera kucari kontak Mas Gilang. Berulang kali, aku menghubunginya. Namun, sekalipun tidak masuk.
Mas kamu kemana? Gelisah melanda. Lidah kelu tak bisa berucap. Kaki tak bisa kugerakkan. Apa mungkin ini prank? Tidak! Mana ada prank segila ini. Talak tiga, bukan main-main. Tidak ada kata rujuk kecuali harus menikah dengan pria lain.
Apa jangan-jangan akun Mas Gilang di hack orang? Tidak mungkin juga, kalau iya, pastinya Mas Gilang sudah menghubungiku. Malah sekarang nomornya tidak aktif.
Aaarggh!
Aku menarik napas dalam. Berusaha tenang, meski detak jantung tak lagi normal. Ini ada yang tidak beres. Mas Gilang mencintaiku. Dia tak mungkin membuatku kecewa. Tidak.
Tok! Tok! Tok!
"Nia! Nia! Buka pintunya!" Suara teriakan Ibu mertuaku jelas terdengar.
Dengan langkah gontai menuruni tangga. Uratku menegang, sulit untuk berjalan.
"Nia, buka pintunya, Nak!" teriak wanita yang 12 tahun menjadi mertuaku. Wanita tanpa cacat dan cela. Mencintaiku layaknya putri kandung dia sendiri.
"Sebentar, Bu!" Suaraku parau.
Bergegas kuputar kunci, pintu didorong sebelum kubuka. Wajah mertuaku terlihat panik. Dia mendorong tubuhku pelan untuk masuk ke dalam. Kemudian, kembali mengunci pintu rapat.
"Nia, kamu berantem sama Gilang? Kenapa, Nak? Kenapa harus di publik seperti itu?" todong Ibu mertua. Kuhela napas kasar.
"Tidak, Bu. Nia tidak berantem. Nia juga tidak tahu kenapa bisa begini." Tangisku tumpah seketika.
"Kamu sudah menghubungi Gilang. Ibu berulang kali mencoba, tapi gagal," keluh Ibu dengan wajah lesu.
"Sama, Bu. Mas Gilang juga tidak mengabari Nia. Ditelpon juga nggak nyambung."
"Sebelumnya kalian ada berantem?" tanya Ibu memastikan.
"Tidak, Bu. Kami tidak pernah berantem. Sama sekali tidak pernah," ungkapku.
"Yakin? Kamu tidak melakukan hal yang mengecewakan Gilang, 'kan?" tanya Ibu lagi. Sepertinya dia belum puasa dengan ucapanku.
"Beneran, Bu. Mas Gilang tidak pernah bilang apa-apa. Hubungan kami biasa saja, Bu," balasku yakin.
Ibu menghubungi pihak kantor. Nyatanya Mas Gilang tidak masuk kerja. Semua tugasnya dibebankan pada anak buahnya. Berita lebih mencengangkan, Mas Gilang cuti selama sepuluh hari.
Aku bergegas lari menuju kamar. Biasanya kalau dia pergi ke luar kota atau luar negeri akan membawa banyak perlengkapan. Namun, kali ini dia tidak bilang apa-apa padaku.
"Nia mau kemana?" tanya Ibu. Wanita senja itu berlari mengikutiku menuju kamar.
Kakiku lemas ketika koper Mas Gilang tak tertangkap oleh indera penglihatanku. Kuseret langkah menuju lemari bajunya. Ya Allah, sebagian bajunya tidak berada di tempatnya.
"Bu, Mas Gilang pergi, Bu," lirihku.
"Pergi kemana?" tanya Ibu yang ikutan panik.
"Entah, Bu. Nia tidak tahu." Aku menangis histeris. Ibu berusaha menenangkanku.
"Kapan terakhir kali kalian bertemu?" interogasi Ibu.
"Tadi pagi, Bu. Sebelum Nia berangkat mengajar di panti asuhan. Mas Gilang tidak pesan apa-apa. Dia bersikap biasa saja. Tadi pagi memang duluan Nia yang berangkat," ungkapku pada mertua.
"Ini aneh. Kenapa Gilang seperti ini?"
"Bu, kita cari Mas Gilang, ya? Ayo Bu!" rengekku.
"Kita cari kemana, Nia?" tanya Ibu bingung.
"Nggak mau tahu, Bu. Nia harus ketemu sama Mas Gilang. Nia harus tanya kejelasan talak itu, Bu. Nia malu masalah ini diketahui semua orang ...."
"Ya, seantero negeri," sahut ibu mertuaku.
"Bu, Ayo!" Aku bangkit dan meraih pergelangan Ibu mertuaku. Dia tidak protes mengikutiku turun ke lantai dasar rumahku.
"Nak, kita mau cari Gilang kemana? Sebentar lagi malam, Nia. Percuma saja muter-muter nggak jelas," ucap mertuaku pelan. Dibelainya wajahku berulang kali.
Aku terus merenggek bak anak kecil tak kebagian permen. Pokoknya, aku harus mencari keberadaan Mas Gilang. Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini. Malu sampai ke ubun-ubun.
Kling!
Kling!
Kling!
Notifikasi WhatsAppku dan Ibu berbunyi berbarengan. Chat masuk dari grup keluarga besar Mas Gilang.
[Nia, Gilang kenapa? Kamu dimana sekarang?] Pertanyaan dari kakak tertua Mas Gilang.
[Kak Nia! Yang sabar ini belum tentu benar.] Ucapan penyemangat dari adik bungsu Mas Gilang.
[Iya, Mbak. Mungkin F* Mas Gilang di hack orang tak bertanggung jawab. Mas Gilang itu baik, sangat baik.] Kalimat pujian dari ipar Mas Gilang.
Arrrghhh!
"Bu, semua orang sudah tahu masalah ini? Apa salah Nia, Bu?" tanyaku dengan isakan tangis.
Ibu tidak menjawab. Jemarinya menari-nari atas benda pipih kesayangannya. Entah apa yang dia lakukan. Setelah, jemarinya lepas dari layar gawai. Suara notifikasi whatsAppku kembali berbunyi.
[Ibu dan Nia di rumah Gilang. Tidak ada yang tahu kemana Gilang. Keadaan Nia memprihatinkan.]
Ternyata, ibu dari tadi membalas pesan di group keluarganya.
Hanya butuh beberapa detik, balasan dari keluarga Mas Gilang.
[Nia dan Ibu tetap di rumah. Kami akan ke sana. Jangan kemana-mana, sebentar lagi malam.] Kakak tertua Mas Gilang mengingatkan.
Kuhempaskan tubuh ke sofa. Aku tak tahu bagaimana cara menumpahkan lara. Nyeri dada tak mampu kulukis dengan kata.
"Bu, tampar Nia, Bu! Tampar," pintaku pada mertua. Aku berharap, jika ini semua hanya mimpi.
Ibu mertua meletakkan gawainya atas meja. Melangkah mendekat. Dijatuhkan bokongnya di dekatku. Bukan tamparan yang kuterima. Namun sentuhan halus.
"Nak, tenang. Ibu panik juga, kita semua malu dengan ulah Gilang. Kamu tenang, kalau kamu panik, Ibu juga ikutan panik, Nak." Ibu membingkai wajahku dengan kedua tangan lembutnya. Mata kami beradu, kutemukan keteduhan di dalamnya.
Ditarik tubuhku dalam pelukannya. Diusap punggungku perlahan. Ibu menenangkanku dengan kalimat penyemangat. Ayat-ayat Al-Quran di dengungkan di telingaku. Keluarga Mas Gilang sangat agamis. Segala yang dikerjakan selalu sesuai dengan Hukum Islam. Kelakuan Mas Gilang hari ini, berbanding terbalik dengan kepribadiannya.
"Assalamua'laikum!"
"Nia, Itu suara Lukman," ujar ibu.
Ibu bangkit tanpa menunggu balasan dariku. Dia berjalan tergesa untuk membukakan pintu. Aku hanya mampu berlinang air mata. Pikiran kalut, hati serara diiris sembilu. Detak jantung sama sekali tidak normal.
Aku melirik ke pintu depan. Selain Mas Lukman ada juga Mbak Tari_istrinya. Mereka melangkah mendekat. Mbak Tari menghambur memelukku. Tangisku kembali tumpah.
"Bu, Gilang tidak cerita apa-apa sama Ibu?" selidik Mas Lukman.
"Tidak, Nak. Jumpa dengannya pun minggu lalu, ketika jumpa keluarga," ungkap Ibu.
"Sama kamu, Nia?"
"Ti---tidak ada Mas," jawabku terbata.
"Ini aneh. Sangat aneh. Kalian selama ini baik-baik saja. Kenapa langsung bisa seperti ini?" tanya Mbak Tari.
Aku mengeleng tidak tahu. Mas Gilang tidak pernah menunjukkan tanda apa-apa. Hubunganku dengan Mas Gilang biasa saja. Kami berdua menjalani rumah tangga semestinya. Kesibukan kami juga banyak menyita waktu.
Mas Gilang menjalankan perusahaan keluarga. Kesepakatan bersama keluarganya. Hasilnya cuma perlu dibagikan dengan Ibu. Semenjak Ayah mertua tidak ada lagi. Tanggung jawab merawat Ibu sepenuhnya jatuh di pundak putra-putrinya.
Aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan, aku ikut mengurus segala keperluan ibu. Hal itu, membuat semua saudara Mas Gilang menyayangiku tanpa batas dalam kasih sayang. Kalau masalah batasan mahram atau bukan itu poin utama yang harus dijaga dalam keluarga suamiku.
"Assalamua'laikum!"
“Ayah …!”“Mami …!”“Yayah …!”“Mimi …!”Suara-suara berisik itu membuat Aluna mengeliat. “Mas, ayo bangun! Anak-anak sudah pulang itu,” tutur Aluna seraya memukul lengan Bian yang menempel erat di tubuhnya polosnya.“Biarin aja, nanti mereka juga diem sendiri,” ucap Bian tidak peduli.“Mas …!” hardik Aluna sebab Bian mengabaikannya. “Bangun …!”Bian berdecak pelan sebelum melepaskan tangannya dari tubuh Aluna. Bangkit dan mendudukan tubuhnya, lalu menyalakan lampu kamar. Laki-laki itu kemudian memunguti kaos dan celana pendeknya yang tergeletak di lantai. Memakainya dengan cepat dan hendak membuka pintu yang masih terkunci dari dalam. Sementara Aluna berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.Saat pintu dibuka, ketiga anaknya sedang berdiri dengan wajah berseri.“Sudah pulang?” tanya Bian memandang bergantian ke arah Tegar, Langit dan Awan.“Tante belikan banyak makanan, Ayah,” sahut Langit sembari memperlihatkan satu kantung plastik berisi camilan dan susu.“Mama juga belik
“Apa keputusanmu tidak bisa diubah, Mbak?” tanya Alan dengan wajah yang lesu, lalu menghembuskan napas pelan.Segala upaya sudah dilakukan tetapi masih tidak bisa membuat Renata tersentuh dengan sikap dan tindakan yang dilakukan Alan.Renata mengelengkan kepalanya. “Tidak, kamu masih muda dan bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku.”“Kamulah yang terbaik buat aku, Mbak,” sahut Alan tegas, tidak ada keraguan sama sekali di hatinya.Renata hanya tertawa, kemudian beranjak berdiri. Pembicaraan ini pasti tidak akan menemukan titik temu karena keduanya saling keras kepala.“Mbak, aku belum selesai bicara.” Alan bergegas menghampiri Renata. “Tidak masalah kalau kamu tidak bisa mencintaiku, Mbak. Pelan-pelan aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku,” ucap Alan, menarik siku lengan Renata dengan pelan. Laki-laki itu masih bersikeras untuk membujuk Renata.Sekali lagi Renata mengeleng tegas. Tidak ada cinta di hatinya untuk Alan, jadi buat apa menerima pinangan dari lelaki itu. Yan
“Mohon maaf Ibu, bisa masuk ke ruangan dokter,” ucap seorang perawat yang datang menghampiri Renata.“Hah, ada apa?” Renata tertegun. Namun, tiga detik kemudian wanita itu beranjak berdiri, sebab dihantui rasa penasaran yang tinggi. “Sebentar aku masuk dulu!” ucapnya pada Aluna sebelum pergi.Pintu berwarna putih itu, Renata buka dengan segera. Seketika mulutnya ternganga melihat pemandangan di depannya. “Kenapa bisa seperti ini?” ucapnya setelah mendekat. Lalu dengan cepat mengambil tisu untuk menolong Alan.“Tadi tiba-tiba Mauren mau muntah, rencananya mau aku ajak ke kamar mandi ternyata dia gak bisa nahan dan berakhirlah seperti ini,” jelas Alan sambil membersihkan bekas muntahan di brankar dengan tisu. Sementara Renata dengan spontan membersihkan baju Mauren.“Dokter Renata!”Renata mendongak dan menatap seseorang setelah namanya di panggil.“Dokter Wahyu!” gumamnya lirih. Dan saat itu juga kenangan Ryu memenuhi pikirannya. Tanpa sadar sudut matanya berembun dan ia melangkah mund
“Sus, tolong anak saya!” ucap Alan ketika tiba di klinik.Laki-laki itu berjalan mendekati meja resepsionis sambil mengendong Mauren. Ya, Mauren terlepas dari gendongan hanya saat berada di dalam mobil saja. Renata juga binggung dengan sikap tiba-tiba putrinya itu. Aneh, itulah yang terlintas di pikirannya.Seorang gadis yang duduk di balik meja resepsionis itu mendongak dan bertemu tatap dengan Alan yang wajahnya terlihat cemas.“Iya, bisa daftar dulu ya,” ucapnya sopan.Alan lalu melirik Renata yang hanya mengekor di belakangnya. “Mi, tolong isi ini,” ucap Alan dan menunjuk dagunya pada satu lembar kertas yang ada di meja, di depannya.Renata pun mendekat dan mengisi form di depannya dalam diam. Sebab, tadi di mobil sudah berdebat dengan Alan. Tidak perlu datang ke klinik karena ia akan mengompres Mauren dan akan memberikan obat penurun panas.“Mohon tunggu sebentar, kurang tiga panggilan lagi, setelah itu putri Bapak ya,” ucapnya sambil tersenyum ramah.Renata sudah seringkali berh
“Ah, apa dia tidak memiliki makanan apapun di sini?” gumam Renata saat membuka kulkas dan tidak menemukan apapun di sana kecuali dua botol air mineral berukuran sedang di pintu kulkas.“Mami …!” teriak Mauren.Suara Mauren itu mengagetkan Renata. Wanita itu buru-buru berlari menuju kamar dan mendap
“Mau turun, gak?”“No!” jawab Renata, ia memilih bertahan di dalam mobil saja daripada harus bersama dengan Alan.“Oke,” jawab Alan lalu menutup pintu mobil. Lelaki itu berjalan ke arah belakang dan membuka pintunya.“Alan, mau dibawa ke mana Mauren?” seru Renata. Seketika kepanikan melandanya . “B
“Kamu mau buat aku malu, Alan Sanjaya?”Begitu keluar dari gedung, Renata menarik tangan lelaki itu untuk mengikutinya. Melangkahkan kakinya menjauh dari kerumunan orang-orang. Setelah sampai di ujung koridor yang sepi, wanita itu menghentikan langkahnya sembari berkaca pinggang. Kekesalannya sudah
“Sayang, ayo kita foto dulu.” Bian mengandeng tangan Aluna mengajaknya ke arah dekor yang sengaja disiapkan untuk acara ijab kabulnya tadi. “Langit dan Tegar mana ya?” Netra Bian menatap kesana kemari, mencari keberadaan kedua putranya itu.“Mereka kayaknya di depan, Mas,” sahut Aluna.“Zi, tolong pan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.