LOGIN
Keputusan mutlak dari sang founding fathers and mothers keluarga Matin tidak bisa diganggu gugat. Tiket penerbangan dan reservasi resor mewah sudah mendarat di ponsel Matin tanpa ampun. Mau tidak mau, pasangan pengantin baru itu harus siap-siap berkemas kilat hari itu juga.
Tapi masalahnya... bukan cuma soal koper! Pukul 09.30 WIB, suasana di lantai divisi marketing mendadak riuh oleh ketukan sepatu hak tinggi dan suara mesin printer. Di tengah kesibukan itu, Novia alias Via duduk terpaku di kubikelnya dengan tatapan kosong nan nanar menatap layar monitor. Otaknya masih 99% loading. Bulan madu malam ini? Yang benar saja?! Bukan cuma soal siap secara mental atau tidak—mengingat insiden 'roket subuh' kemarin masih menghantui harga dirinya—tapi ada satu masalah besar yang jauh lebih krusial: status mereka di kantor! Di perusahaan ini, Matin adalah sang CEO dingin, kejam, dan nyaris untouchable yang ditakuti sekantor. Sementara Via? Hanya staf biasa yang kalau telat semenit saja bisa kena pelototan maut dari manajer HRD. Pernikahan mereka kan dirahasiakan dari publik kantor demi menghindari drama gosip gosend gosip miring! Kalau tiba-tiba hari ini Via mengajukan cuti dadakan dengan alasan bulan madu, dan di saat yang sama sang CEO juga mendadak off... hm, butuh waktu berapa detik sebelum seluruh pegawai kantor menyimpulkan kalau mereka sedang dinas malam bersama di atas ranjang hotel bintang lima? Bisa-bisa reputasi Via sebagai karyawan teladan hancur lebur seketika! "Via! Woy, Novia!" Sebuah tepukan kencang di bahu sukses bikin Via loncat hampir mental dari kursi kerjanya. Di hadapannya kini sudah berdiri Sasa, rekan sekubikel sekaligus ratu gosip kantor, dengan mata menyipit penuh selidik. "Astaga, Sa! Jantung hampir copot tahu!" protes Via sambil mengelus dada, merapikan blusnya yang sedikit kusut. "Makanya, kalau dipanggil tuh nyaut. Kesambet apa lo dari pagi melamun mulu? Kerjaan laporan bulanan udah beres? Atau... jangan-jangan lo lagi mikirin Pak Matin ya?" bisik Sasa usil sambil menaik-naikkan alisnya. Via langsung tersedak ludahnya sendiri. Sial, cenayang banget nih anak! "Sembarangan lo! Mana ada gue mikirin bos kulkas itu. Otak gue lagi pusing mikirin revisi data, tahu!" elak Via sengit, berusaha mempertahankan akting se-natural mungkin. "Halah, alasan. Tapi ya, tadi pagi pas gue lewat ruang rapat lantai atas, gue sempat lihat Pak Matin lewat. Sumpah ya, itu cowok auranya serem banget hari ini. Rahangnya kencang kayak mau nelpon malaikat maut. Kayaknya lagi badmood tingkat dewa, deh. Mending lo jangan cari gara-gara kalau gak mau dipecat jadi gelandangan elit," saran Sasa memperingatkan. Via meringis dalam hati. Ya iyalah badmood, semalem ditodong emaknya nikah kilat, terus pagi ini dipaksa bulan madu tanpa persiapan psikologis. Kalau bisa, mungkin Matin udah lempar meja ruang makan pakai jurus bayangan tadi pagi. Belum sempat Via membalas, ponsel di atas meja bergetar hebat menampilkan satu pesan singkat dari nomor tak dikenal—yang isinya sudah pasti dari sang suami jadi-jadian: [Private Message] Ke ruangan saya sekarang. Bawa berkas evaluasi Q3. Dan ingat ekspresi muka kamu: jangan pasang tampang bloon kayak buronan habis ketangkap. Via mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas. Dasar bos arogan! Di rumah nurut sama mamanya, giliran di kantor belagu setengah mati. Dengan langkah setengah ogah-ogahan, Via membawa map biru berisi dokumen dan berjalan menuju lift pribadi CEO. Begitu tiba di lantai paling atas dan masuk ke ruang kerja megah bernuansa abu-abu monokrom itu, Via mendapati Matin sedang berdiri di balik meja kerjanya. Jas kerjanya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, memperlihatkan sedikit guratan leher tegas yang—uhuk—terlihat sangat berbahaya bagi kesehatan iman seorang istri baru. Matin mendongak. Tatapannya langsung terkunci pada Via dengan sorot tajam nan intimidatif. "Lama," sindir Matin dingin, suaranya berat dan menggetarkan ruangan kedap suara itu. Via menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah maju dengan dagu diangkat tinggi-tinggi, tak mau kalah mental. Begitu jarak aman tercapai, pertahanan profesionalnya langsung runtuh diganti decakan kesal. "Ih, sabar dikit, kenapa sih, Pak Bos? Baru juga lima menit!" protes Via sewot sambil meletakkan map di atas meja kerja. "Biasa aja dong mandangnya, gak usah pakai juling segala. Takut saya dikira mau diterkam singa." Matin menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut pening. Sifat dingin sang CEO mendadak luntur diganti ekspresi frustrasi akut. "Kamu sadar gak, Via... kita malam ini harus berangkat bulan madu konyol itu?" bisik Matin tajam, mencondongkan tubuhnya ke depan melewati meja. "Dan yang paling bikin saya stres dari tadi pagi: gimana caranya saya bikin alasan cuti di HRD tanpa bikin satu gedung kantor curiga kalau CEO-nya lagi cuti berduaan sama staf marketing-nya sendiri?" Mendengar itu, Via malah terkekeh geli. Rasa malunya mendadak ambyar diganti rasa puas melihat sang bos besar kebingungan setengah mati. "Nah, makanya! Makanya jangan sok jaim jadi orang!" balas Via dengan senyum kemenangan tipis. "Sekarang rasain akibatnya. Salah sendiri nurut aja waktu Bunda mutusin tanggal sepihak!" Matin mendelik tajam, nyaris menerkam Via lewat tatapannya. "Kamu ketawa di atas penderitaan saya, hm? Mau saya pastikan cuti kamu ditolak HRD biar kamu gak bisa ikut, terus saya tinggal sendirian ke bandara?" Mata Via langsung melotot panik. "Eh, jangan sembarangan ya! Kalau saya gak ikut, nanti Bunda ngadu ke Ayah, terus kamu beneran disuruh cuci piring pakai sikat WC seminggu penuh! Mau ditaruh di mana muka wibawa CEO PT Cakrawala Jaya ini, hah?!" Matin terdiam sejenak. Skakmat. Bayangan sikat WC di tangan langsung berkelebat di kepalanya. Suasana ruangan mendadak hening. Jarak mereka yang cukup dekat membuat aroma parfum maskulin bercampur mint dari tubuh Matin menyeruak masuk ke indra penciuman Via. Tanpa sadar, sorot mata tajam Matin perlahan melembut, berubah menjadi tatapan penuh selidik yang sarat akan sesuatu yang sulit diartikan. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah pelan memutari meja kerja hingga berdiri tepat di hadapan Via. Jantung Via langsung berdegup kencang tak karuan, serasa mau lepas dari rongga dada. "Ya sudah kalau begitu..." bisik Matin lirih, tangannya tiba-tiba terulur merapikan helaian rambut Via yang sedikit berantakan di dahi dengan sangat hati-hati. "Kalau kita ketahuan satu kantor... resiko ditanggung bersama, ya, Istri." Via menelan ludah susah payah, wajahnya memerah seketika hingga menembus telinga. Sialan. Kenapa jurus bisikan maut bos kulkas ini selalu berhasil melumpuhkan separuh kewarasannya?! Kira-kira, adegan kejar-kejaran kucing-kucingan ala karyawan vs bos di bandara nanti bakal se-reog apa ya, Bun? Mau lanjut ke bagian insiden pas di pesawat atau langsung pas sampai di tempat tujuan bulan madu?Di luar lobi hotel mewah milik keluarganya, Novia hanya bisa pasrah setengah mati saat tangan dingin Matin tiba-tiba menarik pergelangannya untuk check-out secara terburu-buru. Kejadian di meja makan saat sarapan tadi pagi masih berputar hebat di kepalanya—bagaimana tidak, Bunda Nisya dengan tanpa dosanya mendadak menodong mereka berdua untuk langsung berangkat bulan madu malam ini juga, sementara Matin langsung ngeles mati-matian dengan alasan setumpuk pekerjaan di kantor."M-Mas Matin, pelan-pelan..." cicit Novia gugup, berusaha menyeimbangi langkah lebar suaminya yang juga berstatus sebagai bos tempatnya bekerja.Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan cuma karena insiden subuh tadi yang membuat mukanya nyaris merah padam karena malu, tapi juga karena status baru mereka yang masih terasa begitu asing. Apalagi, Novia adalah sekretaris yang sejak dulu diam-diam sudah lama menyimpan rasa pada pria kaku di depannya itu. Berada dekat dengan Matin sebagai seorang istri, a
Setelah ritual cuci muka dan menetralisir rasa malu tingkat akut, Via keluar kamar menuju ruang makan privat di lantai dasar hotel mewah milik keluarga Matin. Di sana, seorang wanita paruh baya berpenampilan super elegan telah menanti. Bunda Nisya. Begitu melihat Via, mata wanita itu langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia bangkit dan merentangkan tangan, memeluk Via erat-erat dengan hangat. "Ya ampun, ini pasti Novia ya? Maaf ya, kemarin Bunda gak sempat ngecek kamu dan kondisi kamu habis pesta. Soalnya Bunda juga kecapean karena shock... emm, apa namanya, kejadian yang sebelumnya itu loh. Yang si Melissa, ya kan?" Bunda Nisya tersenyum lebar. "Tapi intinya, sekarang Bunda jadi ngerti kenapa Matin sampai milih kamu buat jadi pengganti si Melissa. Kamu emang manis dan baik banget, Nak." Via yang tadinya ciut langsung melunak. Ia tersenyum canggung sambil berucap lirih, "Eh, iya, Bun... aku Novia. Gak apa-apa kok, Bun, Via ngerti, pasti kaget banget tahu-tahu kejadian kemarin m
Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu
Kamar pengantin ini cantik banget. Sampai Via sempat ngira dirinya lagi syuting drama Korea yang judulnya Marriage With Benefits. Kelopak mawar berserakan di atas ranjang, tirai putih bergoyang lembut karena AC, dan aroma kembang tujuh rupa memenuhi udara seperti habis mandi bunga jamu-jamuan. Harusnya semua ini bikin siapa pun pengen peluk-pelukan sambil bilang, "Sayang, malam ini milik kita." Tapi sayang, pasangan pengantinnya malah lebih cocok jadi teman sekamar kosan: beda visi, beda misi, dan beda selimut juga kalau perlu. Via duduk di pinggir ranjang, ngeratapi nasib sambil ngelus-ngelus lipatan kebaya pengantinnya yang robek di bagian belakang. Satu jam yang lalu, ada tragedi 'sleting binal' yang menyebabkan suara sobekan brewek-wek memecah keheningan. Gara-garanya? Mas Matin, suaminya—yang lebih mirip CEO drakor galak daripada suami baru tampak ngeledek pas gadis itu gak sengaja berlari ke arahnya. Dan sekarang? Setelah insiden itu, tiba-tiba Masnya menghilang begitu
Tunggu dulu! Aku nggak bisa langsung nge-judge dia. Matin pasti juga butuh bantuan. Aku bisa jadi solusi, tapi kalau aku menyerah, dia juga bakal kesulitan. "Via," suara Matin memecah kebingunganku. Aku menarik napas dalam, lalu dengan penuh keyakinan, aku jawab. "Kalau Mas mau sembuh, kenapa nggak coba sama aku? Aku bisa bantu, asal Mas janji nggak cerai setelah enam bulan." Matin berpikir sejenak, lalu tersenyum miring. "Oke, kita coba. Tapi, kalau saya tetap nggak sembuh dalam enam bulan, kita harus cerai dengan baik-baik." "Deal!" jawabku dengan tegas. "Tapi, ada syarat lagi. Mas kan tahu kan saya ini anak yang dibuang. Saya bukan adik Mas Deva sebenarnya. Sebelum enam bulan, tolong temukan orang tua saya, ya? Maka saya anggap perjanjian kita impas. Bagaimana?" tanyaku mencoba mencari celah keberuntungan. Meski dengan menikah dengan Matin saja sudah membuat batinku kegirangan. Ya iyalah, menikah sama crush gitu, loh! Siapa yang gak mau? Matin mengangguk sambil tersenyu
"Ha... hah? Sa-saya?" suaraku melengking. Rasanya pertanyaan Matin benar-benar bikin aku jantungan. Bagaimana bisa dia menunjukku di tengah kekecauan ini? Ya iya sih, aku senang tapi ... kan? "Ya, kamu? Ya itu juga kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Tak ada rasa dan kesan yang berarti dari nadanya tapi sialnya bikin bulu kudukku meremang. "Sa-saya? Saya gak mungkin Mas. Jangan jadikan saya cadangan, saya merasa gak pantas," kataku menolak ragu karena terlalu syok si pria yang kuidamkan itu menunjukku. Rasanya jadi pengantin pengganti gak ada dalam kamus seorang fans sejati sepertiku. Aku ingin dicintai karena dia memilihku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan penuh ancaman. "Dek kamu serius? Dek, Mbak tahu kamu suka sama dia. Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Iya Via, kamu mau, kan? Mas yakin Matin baik buat ka







