LOGIN
"Datang gak, ya? Datang gak, ya? Addduh! Ilang aja gimana? Ilang juga enak!"
Aku berdiri di depan cermin dengan kegalauan yang luar biasa, menatap pantulan wajahku sendiri seperti orang yang baru saja kalah taruhan. Bukan karena bajuku kurang bagus, bukan juga karena rambutku susah diatur. Tapi karena hari ini... dia menikah. Matin. Rizaldi Matin Nugraha. Dia adalah bosku, sahabat kakakku dan juga pria yang kucintai berbelas tahun lamanya dari zaman aku SD. Aku ingat dulu, pertama kali jatuh sama dia hanya karena Matin senyum pas numpang isi air galon. Senyumannya yang tenang dan menawan bikin hatiku tertawan setiap ketemu dengannya. Bisa dikatakan, bagiku Matin sudah jadi idola yang melebihi artis-artis dunia. Namun, sayang setelah sekian belas tahun memendam rasa hingga akhirnya aku dewasa dan bisa menjadi sekretarisnya, sebulan yang lalu tiba-tiba tersiar kabar kalau dia akan menikah dengan perempuan pilihan ibunya. Oh Tuhan! Ini benar-benar neraka dunia. "Via! Ya ampun, kok belum beres? Ayo, Via entar telat ke nikahan Matin!" Di antara kedukaan mendalam dari seorang fans Matin, tiba-tiba aku mendengar suara kakak iparku, Sarah, menggelegar dari ruang tamu. "Inget loh, Matin itu bos dan juga sahabat kakakmu, jangan sampai kita gak ngeliat dia pas Matin ijab kabul! Ayo buruan!" Apa? Buruan? katanya. Cih, emang gak ber-pri keadikiparan! Andai dia tahu kalau saat rasanya hatiku kayak lagi dikukus, disiram kecap asin, dan terus ditumis pake kenangan masa lalu, pasti dia gak akan begitu. Ah, tapi kan, Mbak Sarah gak tahu dan gak akan ngerti perasaanku! Dia gak pernah tuh naksir diam-diam, ada juga dia mah ditaksir dan dikejar. Lihat aja, Deva--kakakku betapa bucinnya dia sama Mbak Sarah, kacau! Ish! Dan bodohnya, meski aku ingin marah tetap saja pada akhirnya aku ikut juga. Dengan perasaan campur aduk kayak es campur yang lupa dikasih susu, aku pun ikut ke venue tempat akad Matin dan Melisa dilaksanakan. Oh Tuhan, aku kehilangan. Gedung pernikahannya cantik. Dihiasi bunga putih dan pita emas, seperti lukisan kebahagiaan yang ditulis tanpa aku di dalamnya. Aku duduk di kursi deretan belakang, menyembunyikan diri di balik buket bunga dekorasi sambil menatap ke depan. Di sana, Matin duduk tenang, menunduk sedikit, mengenakan beskap abu-abu yang membuatnya terlihat... terlalu tampan untuk jadi milik orang lain. Dia masih seperti dulu. Dingin, tenang, dan misterius. Tapi buatku, dia itu pelan-pelan bikin candu. Kayak lagu galau yang enggak enak, tapi selalu pengin didengerin. Aku menarik napas dalam, mencoba tidak menangis. Tapi mataku panas. Perih. Dan waktu aku melihat perempuan itu duduk di sampingnya—Melisa, si calon pengantin wanita—hatiku seperti dicekik pakai pita emas. Kupeluk dompetku erat-erat. Dompet ini dulu pernah jatuh di mobil Matin, dan dia mengembalikannya dengan kalimat datar, "Jatuh." Cuma satu kata, tapi hatiku jatuh juga waktu itu. "Via?" Suara itu. Datar, berat, dan terlalu familiar. Aku menoleh pelan, dan nyaris jatuh dari kursi waktu sadar siapa yang berdiri di sampingku. "Matin?" Dia mengangguk kecil. "Terima kasih sudah datang." Aku nyaris tidak bisa menjawab. Bibirku gemetar, dan jantungku... rasanya udah pindah ke tenggorokan. "Sama-sama..." suaraku pelan, nyaris tenggelam di tengah denting musik pengiring acara. Kami saling menatap. Canggung. Dia masih dingin seperti biasa, tapi sorot matanya... ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Tiba-tiba ketika kami sedang bertatapan, dari arah depan, ayah Matin memanggil. "Matin! Sudah waktunya." Dan dia pun pergi. Meninggalkan aku dengan segala rasa yang belum sempat disampaikan. Aku menarik napas berat dan memilih melipir ke dekat Mas Deva dan Mbak Sarah yang sibuk makan zupa-zupa. Emang ya, pasangan ini benar-benar gak paham perasaan adiknya. "Hah." Aku menghembuskan napas berat sambil menatap ke depan. Melihat Matin yang tampak tampan tapi sayangnya bukan untukku karena aku tahu inilah saatnya. Tak berapa lama, akad nikah pun dimulai. Saat di mana nama Melisa akan disebut di depan penghulu, dan Matin akan menjadi miliknya sebentar lagi akan terlaksana. Secara sah. Secara hukum. Secara... menyakitkan dan aku harus ikhlas. "Udah, Nduk, dia bukan jodohmu, ntar Mas cariin ya," ujar Mas Deva tiba-tiba membuatku reflek mencubit pahanya dan dia pun memekik kesal. Bodo amat! Bisa-bisanya dia menggoda adiknya pas lagi patah hati. Kalau begini aku mending pergi aja ke kamar mandi. Namun, ketika aku mau beranjak pergi dan acara yang sakral itu hampir terjadi, tiba-tiba kami semua mendengar teriakan. "STOP HENTIKAN PERNIKAHAN INI! MELISA GAK BOLEH MENIKAH! DIA MENGANDUNG ANAK SAYA!" Heh? Siapa tuh yang ngomong kayak orang gila? Mendengar ada kegaduhan dan suara teriakan laki-laki yang mendadak menggema di ruangan. Semua mata menoleh ke sumber suara. Seorang pria berjaket hitam masuk ke area akad, wajahnya merah padam, emosinya meledak. "Apa maksudmu?" Suara ayah Melisa yang sejak tadi duduk di samping putrinya terdengar tegang. "Maksud saya! Saya gak bisa membiarkan pacar saya menikah! Karena saat ini Melisa tengah hamil dan anak dalam kandungan Melisa—itu anak saya! Saya pacarnya selama enam bulan terakhir!" Deg. Deg. Deg. Aku nyaris tidak bisa bernapas. WOW! Kejutan macam apa ini? Aku lihat Matin langsung menatap Melisa, wajahnya masih datar, tapi rahangnya mengeras. "Melisa, apa ini maksudnya? Kamu hamil?" tanya Matin bingung. Melisa panik. "Matin, nggak! Nggak itu... itu nggak bener! Dia bohong! Dia cuma..." "Kita punya foto!" teriak lelaki itu lagi, mengangkat ponsel. "Kita tinggal bareng selama dua bulan!" Orang-orang mulai berbisik. Suasana jadi kisruh. Ibu Melisa memegang dada, nyaris pingsan. Ayah Matin berdiri, mukanya merah. "Kami tidak bisa menerima ini. Pernikahan dibatalkan," kata beliau tegas. Melisa berteriak, "Jangan! Aku... aku mencintai Matin! Aku... aku bisa jelasin semuanya!" "Aku gak butuh penjelasan. Aku butuh kejujuran, dan kamu sudah gagal di situ," jawab Matin, dingin. Suasana makin gaduh. Penghulu bingung. Orang-orang menatap ke mana-mana. "Apa akad tetap dilaksanakan?" tanya panitia. Semua menoleh pada Matin. Dan dengan suara tenang, tanpa ekspresi, dia menjawab, "Lanjut. Tapi... aku mau ganti calon pengantin." Deg. Semua langsung heboh. Dan sebelum aku sempat berpikir, sebelum aku sempat menyelinap ke bawah meja... "Mau diganti dengan siapa, Nak?" tanya ayahnya pelan. Matin menatapku. Lurus. Dalam. Tanpa ragu. "Novia." Aku nyaris pingsan. "Ha... hah? A-aku?" suaraku melengking. "Ya, itu kalau kamu mau," lanjut Matin, masih menatapku. Aku berdiri, tergagap, mencari pintu keluar, tapi kakak iparku Sarah sudah berdiri di belakangku dengan tatapan "Kalau kamu nolak, kamu gak bakal dapat lagi idolamu loh, Dek." Lah, dia tahu kalau aku suka Matin? Kok bisa? "Via, kamu mau?" ulang Matin. Suaranya kali ini... lebih pelan, lebih hangat. Aku tak bisa bicara. Bibirku membatu. Tapi air mataku jatuh. Bukan karena sedih. Tapi karena tidak percaya. Tuhan ternyata suka bikin plot twist. Dan aku pun mengangguk dengan bodohnya. "I-iya... aku mau," jawaku dengan suara yang bergetar hebat. Bagaikan sulap, beberapa menit kemudian, aku duduk di depan penghulu, tangan gemetar, dada sesak, dan wajah Matin hanya sejengkal di sampingku. Aku? Jadi pengantin? Aku??? Dengan Matin? Ah, pasti ini bercanda! Bukannya aku tadi datang jadi tamu kok tiba-tiba jadi manten?"Mas.""Hm?""Aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang Mas rencanakan."Jari-jarinya yang semula santai perlahan menegang.Aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang."Aku juga tahu Mas menikahiku karena keadaan. Awalnya, aku pikir setelah semuanya berlalu, kita bisa menjalani kehidupan seperti pasangan suami istri pada umumnya."Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan."Ternyata, tinggal serumah dengan Mas lebih sulit daripada mengerjakan soal ujian.""Memangnya kamu sering mengerjakan ujian?"Aku mendongak.Astaga.Dari sekian banyak kalimat yang bisa keluar dari mulutnya, kenapa justru itu yang ia pilih?"Mas, aku sedang serius.""Saya juga.""Bagian mana yang serius?""Bagian kamu mengeluh."Aku memejamkan mata sebentar.Ya Allah, berikan aku kesabaran seluas samudra untuk menghadapi suami sendiri.Namun, ketika kembali menatapnya, aku tidak lagi menemukan keinginan untuk bercanda di wajahnya."Aku tidak meminta Mas mencintaiku," lanjutku. "Aku juga tidak memaks
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Mas Matin, aku merasa benar-benar tidak mengenal pria yang tidur satu ranjang denganku.Bukan karena aku tidak tahu namanya, pekerjaannya, atau kebiasaannya yang selalu memasang wajah dingin. Aku tahu semua itu. Namun, ada bagian dari dirinya yang terasa begitu jauh, seolah-olah selama ini aku hanya mengenal seseorang yang sengaja ia ciptakan untuk menutupi siapa dirinya sebenarnya.Dan yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa pria itu sepertinya tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan kami.Aku teringat bagaimana pernikahan ini bermula.Melisa. Perempuan yang sebelumnya menjadi calon istri Mas Matin. Perselingkuhan perempuan itu terbongkar ketika persiapan pernikahan mereka sudah berjalan cukup jauh. Aku masih ingat bagaimana sahabat kakakku itu datang dengan wajah dingin, lalu mengatakan bahwa pernikahan harus tetap dilaksanakan.Aku pikir ia sedang bercanda.Siapa yang mau menikahi perempuan yang bahkan tidak dici
Aku masih berdiri mematung dalam dekapan Mas Matin ketika pria itu akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melipat kertas ancaman tadi, lalu memasukkannya ke saku celana dengan gerakan cepat."Mas, kita harus lapor polisi, kan?" tanyaku hati-hati."Nanti."Jawabannya singkat. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi seseorang."Raka, gue butuh bantuan lo."Aku mengamati wajahnya yang berubah serius. Tidak ada lagi sisa kecanggungan akibat kejadian di pesawat tadi. Pria yang berdiri di hadapanku sekarang terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa menghadapi situasi berbahaya."Cek CCTV kompleks dari satu jam terakhir. Ada mobil hitam masuk tanpa menyalakan lampu. Cari tahu siapa pemiliknya."Ia berhenti sejenak, mendengarkan jawaban dari seberang sana."Jangan bergerak sendiri. Kalau ada yang mencurigakan, hubungi gue. Jangan ambil tindakan sebelum gue datang."Setelah menutup telepon, Mas Matin memeriksa kunci jendela, kemudian berjalan menuju p
Suara pramugari yang terdengar lewat pengeras suara kabin sukses membuyarkan lamunan romantis kami. Sontak, aku menarik diri perlahan, merapikan letak kerudungku yang sedikit miring, sementara Mas Matin menegakkan kembali punggungnya. Meski wajahnya kembali memasang topeng dingin andalannya, aku sempat menangkap rona merah tipis di ujung telinganya.Perjalanan darat dari bandara menuju rumah terasa begitu senyap. Hujan telah reda, menyisakan jejak basah di sepanjang aspal kota. Namun, di dalam mobil, pikiranku sama sekali tidak tertuju pada jalanan yang lengang.“Dia tidak bohong, Via memang istri saya.”Kalimat itu, ditambah pelukan protektifnya saat turbulensi tadi, terus berputar di kepalaku bagaikan kaset rusak. Pria yang mengaku punya trauma dan tidak bisa menyentuh wanita itu justru dua kali melanggar batasnya sendiri—demi aku.Begitu tiba di rumah, suasana hening langsung menyambut. Mas Matin langsung pamit menuju ruang kerjanya dengan alasan ada urusan kantor yang belum selesa
Wanita bernama Helen itu seketika gelagapan. Wajahnya yang tadi berhias senyum genit nan percaya diri kini pias, merah padam menahan malu. Tanpa berani menatap kami lagi, ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membenarkan selimutnya dan menyandarkan kepala ke arah jendela. Syukurin! Makanya, jangan suka menilai buku dari sampulnya, apalagi berani menggoda suami orang.Namun, kemenanganku atas Helen menguap begitu saja, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang kini memonopoli seluruh sarafku.Tangan Mas Matin masih menangkup sisi wajahku. Ibu jarinya yang sedikit kasar—jejak masa lalunya yang keras—tanpa sadar mengusap lembut tulang pipiku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali, perlahan, seolah ada keengganan di sana.Aku menelan ludah, tubuhku kaku tak bisa digerakkan. Suhu pendingin kabin pesawat yang sedari tadi menusuk tulang mendadak tak terasa lagi, kalah telak oleh hawa panas yang menjalar cepat dari leher hingga ke kedua telingaku."Dia tidak bohong, Via memang
Bulan madu dengan crush. Mungkin itulah judul perjalananku kali ini. Sesudah pertemuan singkat kami dengan Pak Ando dan Bu Rini di rumah sederhana tadi, entah mengapa Mas Matin tampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Lelaki itu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan banyak hal—terutama setelah bayang-bayang masa lalunya sebagai seorang mantan gangster kembali berkelebat di kepalanya.Tak terasa setengah jam sudah pesawat kami mengudara, membelah langit pagi yang tampak kelabu dan tidak bersahabat. Hujan lebat mengguyur badan pesawat, membuat suasana di kabin terasa semakin sendu, semendung wajah Mas Matin yang duduk persis di sampingku. Sejak pertemuan tadi, ia hanya melemparkan pandang ke arah jendela yang tak menampilkan pemandangan indah apa pun.Aku melirik pergelangan tangan, mendapati sisa penerbangan yang masih cukup panjang. Rasanya amat menyiksa jika harus terjebak dalam keheningan canggung seperti ini. Mau mengajak bicara duluan pun rasanya agak ciut, seba







