Home / Romansa / Dokter Obgyn itu Suamiku / Bab 9 Bayaran Mahal

Share

Bab 9 Bayaran Mahal

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-06 13:00:14

Tatapan tajam yang menusuk dari mata Fahmi, mampu membuat suami pasien itu takut. Semula, ia berani membalas tatapan Fahmi, lama-lama kalah juga.

Pria besar tinggi itu, akhirnya berjalan angkuh keluar ruangan, meninggalkan istri dan anaknya.

Dengan agak susah, pasien ibu hamil mencoba turun sendiri dari ranjang, setelah tadi Nabila dilarang membantu oleh suaminya.

Walaupun masih dalam keadaan syok, Nabila masih bisa cepat tanggap menolong pasien tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 11 Es Cendol Penguat Mental

    Nabila masih tertegun. Ia menyandarkan bahu kirinya di dinding. Tubuhnya terasa lemah, padahal tadi baru saja makan siang bersama Fahmi. Ia bingung, tak tahu harus bagaimana. Mau masuk ke dalam ruang jaga instalasi, tapi tidak sanggup untuk bertemu rekan-rekannya. Mau pulang pun jam kerja belum selesai, tapi tadi Fahmi berkata, ia boleh pulang lebih cepat. Namun, tenaga dan pikirannya tak mampu mengendarai motor. Ia tak bisa fokus. Saat masih di poli tadi, Fahmi menanyakan dirinya, apakah yakin mau ke ruang jaga instalasi. Mungkin saja, kalau tadi Nabila memilih pulang atau tetap di ruangan Fahmi, ia tidak akan mendengar perkataan demi perkataan yang membuatnya terluka. Nabila menelan ludahnya. Ia masih terdiam terpaku di tempat. Seluruh tulangnya seperti dicopot satu persatu. Ingin rasanya ia kabur dari sini. “Nabila?” suara halus yang tak asing membuat tubuh Nabila bergerak sedikit. Ia agak terkejut saat tiba-tiba ada yang menyebut

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 10 Jadi Istri yang Baik

    “Bayarannya mahal.” Begitulah yang Fahmi ucapkan, saat Nabila bertanya lagi perihal bagaimana dan berapa gadis itu harus membayar semua kebaikan-kebaikan yang dilakukan Fahmi untuknya.Nabila membelalak. Ia tak salah dengar. Mentalnya yang masih terguncang akibat insiden kemarin, mendengar itu semakin membuatnya menciut. ‘Berarti semua yang dilakukan itu nggak tulus’, batin Nabila. Ada setitik kecewa menyusup hatinya. Nabila menunduk, ia memelintir ujung scrubnya. Di kepalanya berpikir, apakah gajinya cukup untuk membayar semua kebaikan Fahmi. Wajah manis berbingkai hijab itu nampak murung. Kemudian, ia perlahan beranjak dari hadapan atasan yang juga calon suaminya. Ia meraih tas, lalu memakainya di punggung. “Permisi, Dok…” ucap Nabila lirih berbalut kecewa. Namun, langkahnya terhenti, seperti ada yang menahan. Nabila kembali berbalik menghadap Fahmi. Ia menatap calon suaminya dengan tatapan kecewa, bingung, sedih, cam

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 9 Bayaran Mahal

    Tatapan tajam yang menusuk dari mata Fahmi, mampu membuat suami pasien itu takut. Semula, ia berani membalas tatapan Fahmi, lama-lama kalah juga. Pria besar tinggi itu, akhirnya berjalan angkuh keluar ruangan, meninggalkan istri dan anaknya. Dengan agak susah, pasien ibu hamil mencoba turun sendiri dari ranjang, setelah tadi Nabila dilarang membantu oleh suaminya. Walaupun masih dalam keadaan syok, Nabila masih bisa cepat tanggap menolong pasien tersebut. “Makasih, ya, Mbak,” ucap pasien dengan sopan dan halus. “Sama-sama, Bu,” balas Nabila. Pasien ibu hamil itu berdiri di hadapan Fahmi. Ia sedikit membungkuk, dengan kedua tangan tertangkup di dada. “Dokter, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ucapnya lirih. Fahmi mengangguk dengan sedikit senyum tersungging. Ia memaklumi hal itu, namun tetap bertindak tegas atas perlakuan kasar tersebut. Kemudian, pasien memutar tubuhnya menghadap Nabila. Ia melakuk

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya. “Kaget banget, ya, Nab? Sorry, sorry…” ujar Merina merasa tak enak hati. Nabila mengatur napasnya, lalu tersenyum getir. “Ngomong-ngomong, kamu kemarin gimana? Nggak apa-apa kan? Katanya, Dokter Fahmi nolongin kamu, ya? Wah… pasti keren banget beliau! Pasti kamu seneng banget ditolongin sama beliau kan?” cerocos Merina heboh sendiri. Nabila tak menjawab rentetan pertanyaan Merina. Ia masih tersenyum getir seperti sebelumnya. “Eh tahu nggak, Nab? Banyak banget yang ngomongin kamu. Pokoknya heboh banget deh, kamu jadi viral serumah sakit ini,” lanjut Merina. Ia pun sama hebohnya, tetap terus mengoceh meskipun lawannya sudah jengah. “Nabila,

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan napas dengan lega saat mendengar jawaban Fahmi. Ini adalah jawaban yang objektif. Siapa pun korban pelecehan, tak peduli itu pasangan, anak, keluarga, maupun orang lain, semuanya harus ditolong. “Terima kasih, Dok…” ucap Nabila masih dengan suara yang serak dan lirih. “Sama-sama,” balas Fahmi singkat tapi halus. Nabila menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kini, ia merasa cukup baikan. Aroma mobil Fahmi yang lembut terasa menenangkan jiwa dan pikirannya. Rasanya sedikit terkikis trauma dan jijik itu. Nabila menggerakkan tubuhnya ke belakang, hendak mengambil barangnya. Di saat yang bersamaan, Fahmi melakukan hal yang sam

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah tajam mengerikan.“Lepasin gue!” bentak pria itu, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Fahmi.Namun Fahmi justru mencengkeram lebih kuat.“Kamu pikir saya nggak lihat?” katanya pelan.Belum sempat pria itu bersuara, pintu lift terbuka. Semua orang langsung keluar, tapi tatapannya tak lepas dari Fahmi dan pria itu.BUG!Tinju pria itu melayang, tapi Fahmi berhasil menahannya dengan cepat. Penumpang lain langsung panik.“Ya Allah … dokter Fahmi kenapa?”“Apa yang terjadi?”Suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas di telinga Nabila, membuatnya semakin gemetar. Kepalanya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status