LOGINIa mengepalkan jemarinya di atas pangkuan."Aku pernah melihat bagaimana kota berubah menjadi lautan api."Suara Helena tetap tenang. Justru terlalu tenang. Seolah semua itu telah ia pendam begitu lama hingga tidak lagi mampu diungkapkan dengan emosi."Aku pernah melihat orang-orang berlari tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri." Ia berhenti sejenak. "Lalu keesokan harinya... banyak di antara mereka tidak pernah bangun lagi."Dorote membeku di tempatnya. Ia tidak pernah mendengar Helena membicarakan masa lalunya seperti ini. Helena menundukkan pandangannya."Karena itu..." Ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan pernah bisa tenang setiap kali mendengar kata perang."Ruangan kembali hening.Dorote akhirnya memahami. Yang membuat Helena gelisah bukan semata-mata karena Rion mungkin akan berangkat ke medan perang. Melainkan karena perang sendiri telah meninggalkan luka yang tidak terlihat di dalam hati wanita itu. Dorote perlahan meletakkan tangannya di atas meja, tidak berani m
Helena memandang Rion yang masih berdiri di tengah aula. Sejak utusan istana menyampaikan kabar tentang pecahnya perang di perbatasan, suasana kastel berubah menjadi jauh lebih sunyi. Para pelayan yang tadi masih lalu-lalang kini hanya berdiri dengan kepala tertunduk, seolah tidak seorang pun berani memecahkan keheningan yang menyelimuti ruangan.Tatapan Helena tidak pernah lepas dari Rion. Entah mengapa, mendengar kabar itu membuat hatinya dipenuhi firasat yang tidak menyenangkan.Ia melangkah mendekat beberapa langkah, kemudian bertanya dengan suara pelan, "Anda akan pergi berperang?"Rion menoleh ke arahnya. Wajahnya tetap setenang biasanya, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun meski berita yang baru diterimanya cukup untuk mengguncang siapa saja."Aku belum tahu," jawabnya tenang. "Yang Mulia baru saja mengirimkan panggilan. Sebagai bangsawan, aku harus memenuhi panggilan itu terlebih dahulu."Helena mengangguk pelan, tetapi jawaban itu sama sekali tidak mengurangi kegelisahann
Pagi datang bersama sinar matahari yang perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar.Helena membuka matanya dengan perlahan. Selama beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, membiarkan kesadarannya kembali sepenuhnya. Udara pagi terasa sejuk dan tenang, jauh berbeda dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya semalam.Ia menghela napas pelan sebelum duduk di atas ranjang. Tanpa sadar, pandangannya langsung beralih ke arah nakas di samping tempat tidur.Mata Helena seketika membulat. Surat yang semalam ia letakkan di sana sudah tidak ada. Jemarinya tanpa sadar menyentuh permukaan nakas yang kini kosong. Tidak mungkin Dorote memindahkannya tanpa izin, dan tidak ada seorang pun yang masuk ke kamar itu selain...Rezef.Sudut bibir Helena perlahan terangkat. Berarti pria itu benar-benar mengambil suratnya. Ia tidak tahu apakah Rezef sudah membacanya atau belum. Ia juga tidak tahu apakah surat itu akan mendapat balasan. Namun setidaknya, surat itu tidak diabaikan begitu saj
Rion tidak langsung membantah ucapan Helena.Ia hanya menatap wanita itu dari seberang meja makan, sementara cahaya lilin yang bergoyang pelan membuat bayangan di wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya. Di luar jendela, malam telah turun sepenuhnya. Kastel Laurent yang megah kini tenggelam dalam kesunyian, hanya sesekali terdengar suara langkah pelayan yang berlalu di koridor.Helena menundukkan pandangan ke arah piringnya. Entah mengapa, percakapan yang awalnya membahas pergaulan bangsawan kini berakhir pada topik yang sama sekali tidak ingin ia pikirkan.Pernikahannya atau lebih tepatnya, pernikahan yang tidak pernah benar-benar terasa seperti pernikahan.Rion memutar gelas di tangannya , "Bisa saja lambat laun pernikahan politik yang kau jalani berubah menjadi pernikahan yang dipenuhi cinta."Helena tersenyum tipis. Namun kali ini senyumnya lebih menyerupai rasa tidak percaya."Aku tidak yakin."Rion mengangkat alis."Kenapa?"Helena terdiam beberapa saat. Pertanyaan itu terden
Kata-kata itu sederhana, cukup untuk membuat Dorote menundukkan kepala lebih dalam. Setelah itu tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Ruangan kembali hening. Helena mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan dokumen di atas meja, tetapi pikirannya masih tertahan pada cerita yang baru saja ia dengar. Entah mengapa, dari semua kisah yang didengarnya hari ini, sosok yang paling sulit ia lupakan justru adalah Rion.Pria itu selalu terlihat tenang.Dan kini Helena mulai bertanya-tanya berapa banyak hal yang harus dipendam seseorang hingga akhirnya mampu mengenakan ketenangan seperti sebuah topeng.***Makan malam malam itu berlangsung jauh lebih tenang dibanding biasanya. Meja makan yang panjang hanya ditempati oleh dua orang. Helena duduk di salah satu sisi, sementara Rion berada tidak jauh di hadapannya. Cahaya lilin memantulkan bayangan lembut di atas meja, menciptakan suasana yang cukup hangat meski percakapan di antara mereka tidak terlalu banyak.Helena sesekali mengangkat pandangann
Helena terdiam, dan Dorote menghela napas pelan seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah lama berlalu."Setelah Marchioness meninggal, tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka. Semua orang hanya mengatakan bahwa beliau terlalu menderita karena penyakitnya.""Tapi tidak ada yang benar-benar percaya?" Tanya Helena.Dorote ragu sejenak."Kami tidak tahu harus percaya apa."Jawaban itu justru membuat Helena semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan. Jika semua orang benar-benar percaya bahwa kematian itu disebabkan oleh penyakit dan keputusasaan, seharusnya tidak akan ada keraguan seperti ini bertahun-tahun kemudian."Apa Marquess tidak mengatakan apa pun?" tanya Helena.Dorote menggeleng."Beliau mengurusi pemakaman dan setelah itu tidak pernah membicarakan masalah tersebut lagi.""Dan Nyonya Eliza?"Dorote terlihat benar-benar berhati-hati."Nyonya Eliza tetap berada di kastel."Helena mengangkat alis."Tetap berada di kastel?""Ya." Dorote menundukkan pandangan. "Tidak
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tek
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan sel
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempa







