แชร์

220. Senjata Makan Tuan

ผู้เขียน: OTHOR CENTIL
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-02 16:00:17

"Bagaimana? Jadi memecat saya?"

Raline tidak membiarkan keheningan itu berlanjut. Ia mendongak angkuh, menantang keputusan Damar.

Lalu, ia tatap wajah Damar yang memerah, sarat akan kemarahan yang kini harus ditahan.

Sedangkan Damar sudah memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan membuang waktu dan uang untuk memecat Raline.

Damar hanya perlu membuat Raline tidak betah bekerja di sini. Ia akan mengubah neraka Raline dari luar menjadi neraka yang lebih menyakitkan dari dalam.

"Tidak." Damar merespons dengan nada datar, senyuman tipis di wajahnya tidak mencapai mata. "Kamu boleh kembali. Silakan kerjakan pekerjaanmu sesuai kontrak yang berlaku."

Setelah bicara begitu, Damar mengibarkan telapak tangannya. Sebuah gestur penguasa yang mengusir bawahan. Ia pun melirik tajam pada Daisy yang nyaris saja dia pecat.

"Dan kamu, Daisy, kembalilah ke ruanganmu!"

“Baik, Tuan.”

Pelototan Dama
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • ENAK, PAK DOSEN!   492. Berhasil Melewati Fase Kritis, Tapi ....

    Di depan ruang perawatan Sagara, Ara, Damar dan Diana menatap para petugas medis—entah itu perawat atau dokter, silih berganti masuk ke ruang ICU. Mereka berdiri dengan gusar, ikut mondar mandir dengan tegang dan bahkan tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana. “Bunda, maafin aku, Bun.” “Nak Ara, gak usah merasa bersalah terus. Semua yang terjadi sama Sagara itu sudah kehendak takdir,” kata Diana dengan lembut. Ia mengusap punggung Ara dan bahunya, memberikan sedikit rasa tenang meskipun ia sendiri tidak tenang sama sekali. Meski Diana mengusap punggungnya, tapi pikiran Ara tidak bisa berhenti memikirkan Damar. Detik berikutnya, kedua orang tuanya datang dan Ara langsung memeluk mereka. “Ara ….” “Mi, Pi … aku yang buat Sagara begini.” “Jangan salahkan dirimu sendiri.” Kim menasehati putrinya. Ia telah mendengar semua yang terjadi.

  • ENAK, PAK DOSEN!   491. Hemodialisis

    “Setelah melakukan uji laboratorium ...,” Dokter berkacamata itu menghela napas berat, lalu meletakkan selembar kertas hasil uji toksikologi di atas meja agar ayah dari pasiennya itu ikut melihat hasilnya. “Kami menemukan jejak Thallium Sulfate dalam aliran darah Tuan Muda Sagara, Tuan.”Damar mengerutkan kening, menunggu penjelasan lebih lanjut. Tapi lantaran resah, bibir pun tak sabar unuk menanyakan, “Thallium Sulfate? Apa itu?” “Ini adalah sejenis logam berat yang sangat toksik. Sifatnya tidak berasa dan tidak berbau, sehingga pasien tidak akan menyadari saat zat ini masuk ke tubuhnya,” jelas dokter dengan nada serius. Dia menunjukkan sesuatu pada Damar dari tab-nya, menunjukkan contoh cairan Thallium Sulfate yang dimaksud, sambil terus memberikan pemahaman bagi ayah pasien yang sangat awam mengenai ini. Damar mengamati gambar di tab dokter tersebut. Saat matanya menelisik jenis zat yang berbahaya itu, telinganya tetap mendengar dengan seksama p

  • ENAK, PAK DOSEN!   490. Thallium Sulfate

    “Kenapa kamu membiarkan perawat tidak jelas masuk ke sini, Nak? Sadarkah apa yang kamu lakukan ini salah? Membiarkan sembarang orang masuk, itu tindak kelalaian,” cecar Damar dengan tatapan yang menghujam jantung Ara. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan. Tapi, ia hanya kecewa karena Ara yang secerdas itu bisa-bisanya lalai. Terlebih lagi anak buahnya yang tidak becus membuatnya makin emosi. Entahlah, Damar merasa kepalanya ingin meledak sekarang!Sedangkan Ara sendiri tersentak mendengar ucapan Damar. Tatapan Damar seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang nyaris merenggut nyawa putranya.Lirih cicitan keluar dari bibirnya, “M–maaf, Om. Aku … aku gak tahu kalau ini bakalan terjadi. Aku sempat curiga, Om. Tapi kupikir karena dia melakukan hal yang wajar sebagai seorang tenaga medis—seperti mengecek tekanan darah, menanyakan makanannya habis atau tidak, dan ada keluhan apa, kurasa itu wajar, ‘kan? Makanya aku

  • ENAK, PAK DOSEN!   489. Meragukan Kredibilitas

    Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk

  • ENAK, PAK DOSEN!   488. Please, Jangan Pergi

    “Ya Tuhan! Garaaaa!”Laptop di pangkuannya jatuh begitu saja ke lantai. Ara berlari kalap, menekan tombol darurat berkali-kali sambil berusaha menahan tubuh Sagara yang berguncang hebat di atas ranjang. Matanya membelalak ngeri melihat kondisi pria itu. Ia baru sadar bahwa tidur tenang Sagara sebelumnya adalah awal dari reaksi maut yang disuntikkan suster tadi.“Gara, bangun, Gar! Garaaa! Bangun!” teriaknya parau, namun tak ada satu pun tenaga medis yang muncul dalam kurun waktu setengah menit.Kehabisan waktu, Ara berlari keluar ruangan. Dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu tersentak melihat Ara yang pucat pasi.“Nona, ada apa?”“Apakah terjadi sesuatu?”“Ya! Gara ... dia ….” Ara megap-megap mencoba mengatur napas. Jujur, Ara panik dan takut. Ia takut disalahkan oleh keluarga Sagara mengingat dia lah yang mempersilahkan suster itu masuk tanpa diperiksa terlebih dahulu. Demi Tuha

  • ENAK, PAK DOSEN!   487. Kejang

    Di rumah, Diana dan Damar sedang bersiap-siap. Waktu menunjuk ke angka 6.40 petang. “Yang ….”“Ya, Mas?” Diana yang baru saja selesai sholat, langsung melipat mukena dan sajadahnya. Meletakkannya ke atas meja khusus kemudian menghampiri sang suami. “Ada apa, Mas? Kok teriak-teriak?”“Kita ke rumah sakit sekarang, Yang. Aku ganti baju dulu. Tunggu di bawah, suruh Alex siapkan mobil.” Damar mengajak tiba-tiba, membuat Diana curiga. Ia menyentuh lengan suaminya dan bertanya, “Kok buru-buru banget sih, Mas? Ada apa? Apa ada kepentingan sampai harus ke sana sebelum jadwalnya? Bukannya di sana udah ada Ara, ya, Mas?”Damar mengangguk, “Iya, Yang. Tapi ….” Menggeleng, entah kenapa perasaannya tidak enak. Lalu, ia katakan pada Diana sejujurnya, “Tapi, kok aku ngerasa ada yang mengganjal gitu, Yang. Aku pengen lihat Sagara segera.”“Mungkin karena Mas gak ketemu Sagara seharian, makanya Mas khawatir.”“Bisa jadi sih, Yang.”“Ya udah. Ayo kalau gitu. Aku tinggal pakai hijab. Mas siap-siap aja

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status