Se connecterSometimes, love isn't just about a feeling. It's not just hugs and kisses. It's not just I love you's and I miss you's. There's more to love if we choose to see what's beyond it. There's sacrifices. Yeah, a sacrifice is truly one of the truest forms of love. Kasi naman, hindi ka naman magsasakripisyo kung hindi mo mahal, diba? You choose to sacrifice because there's more at stake than your feelings alone. Kaya kahit mahirap at masakit, you will always end up choosing the right thing to do. Iyon ang nasa isip ni Hope. Kapag magmamahal siya, she will be more than willing to sacrifice for that person. Dala-dala niya ang thought na 'yon everyday. What she didn't know is that it is easier to say it than do it. Kasi naman, she was never in love before. Hindi niya alam na ganoon pala kahirap kapag nasa sitwasyon ka na. Then there goes Sir Troy who came to her life one day. Bigla-bigla. Walang sign. Walang babala. Iyon na sana, kaso reality has its own way of slapping her. He's an instructor. She's his student. It's forbidden. Now, she's stuck between fighting for that love and letting go. Alin ba ang dapat gawin?
Voir plus"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG"Ganito ka ba ka-bored 'nong wala kaming dalawa ni Love?" Halos mapatalon ako sa kinauupuan ko nang biglang sumulpot si Faith sa kwarto ko. Tahimik lang akong naggigitara, nag-iisip kung anong tutugtugin nang bigla siyag magsalita. Napahawak tuloy ako sa dibdib ko dahil sa gulat."Ay, sorry. Nabigla ata kita," she added. She sat on my bed."Bakit? Bored na bored ka na ba?" I asked. Kahapon nang umuwi siya, tulog agad ang ginawa niya pagkatapos naming pagsaluhan ang dala niyang mga pagkain. Napagod daw siya sa activities nila. Buong araw din 'yong tulog niya. Gusto ko pa nga sanang mag-aya ng gala sa mall o kung saan pero hindi ko naman maaya kasi ang himbing ng tulog niya.I also wanted to ask Troy. Kaso nang makauwi sa kanila ay may lakad sila ni Tracy. Nagpapasama daw kung saan.Tumango si Faith sa tanong ko. "Anong ginawa mo 'nong na-bored ka habang wala kami?"'I invited my boyfriend over,' I wanted to reply. Pero syempre hindi ko ginawa. Matalino si Faith, at kung sabihin ko man
I woke up with something heavy on my stomach. Nang idilat ko ang mga mata ko ay mukha ni Troy ang bumungad sa akin. Naalala ko ang nangyari kagabi at awtomatikong namula iyong mukha ko. It was my first time and I didn't expect it to happen last night. Well, when I invited him over, I had the idea it could happen. But still, things happened unexpectedly.Hindi ako gumalaw agad, sa takot na magising siya. Mahimbing pa naman ang tulog niya. Ayokong maistorbo ang tulog niya kasi alam kong pagod siya sa trabaho. Hindi man iyon kita sa mukha niya–na gwapo pa rin ang walang bakas ng stress, ayoko pa ring magising siya.But my phone, which is sitting on my side table, pinged. Dahan-dahan ko iyong inabot.Pagkabukas ay pangalan ni Faith ang bumungad sa akin.'Pauwi na ako. Can you cook? Or should I bring a takeout?'Agad nanlaki ang mga mata ko sa nabasa. Dahil sa bigla ay ginising ko agad si Troy. I hate to stop him from sleeping so soundlessly, pero papauwi na si Faith! Hindi niya kami pweden
Para akong nawalan ng lakas nang yumakap sa akin si Troy. He planted kisses on my forehead and cheeks before looking me in the eyes. “I love you,” he murmured. Hindi ko na mabilang kung ilang beses niya sinabi iyon sa akin. I totally lost count, but that doesn’t matter. Mahal namin ang isa’t-isa and this moment just feels so right for us. “Was it good?” He asked. Was it good? Very much. Para akong mababaliw na hindi ko maintindihan. It feels so good that I totally forgot that this relationship has consequences. Lahat naman ata. Iyon nga lang, mas marami ang sa amin. But it really doesn’t matter now. Sa ngayon, gusto ko lang makasama siya nang matagal habang wala pang pasok. “Yes,” I replied. Troy smiled, the kind of smile that melts me every time. I could see that happiness in his eyes and for me, that’s very important. I want him to always be happy. He kissed me again on the lips, his tongue now playing with mine. He was so good at it and I’d like to think I’m getting good at it
"Are you sure about this?" He asked, his expression kind of looks pained. Nasasaktan ko ba siya sa paraan ng pag-upo ko sa kanya?While that thought was in my head, I still nodded at his question. Sigurado ako. Simula nang pumayag akong pumunta siya dito, alam kong may mangyayari. That thought was in my head and while I tried to deny it, I know deep inside of me that I want it to happen.There’s no one else I want to do my first time with, but with him.Troy tucked the few hairs that covered my face to the back of my ear. Andoon muli ang parang nasasaktan na ekspresyon niya. Nang makita iyon ay sinubukan kong tumayo at lumayo sa kanya.“Did you change your mind?”“Ha? Hindi,” I replied. He then held me tight, but gently. “Am I hurting you?”“What? No.”“It looks like you’re…” And the thought finally sinked in. “Oh.”Troy smiled, mischief now dancing in his eyes. “You think I’m hurting because you’re sitting on me?” He asked with a playful smile. “Eh kasi…” I hesitated. I couldn’t find
My sisters were cool about Troy and I's relationship. Ramdam kong kinakabahan sila sa amin, kahit naman ako eh. But I just don't know why I can't let him go. Hindi ko ata kaya. Minsan na nga lang akong magkagusto nang ganito, papalampasin ko pa?
I never wanted to keep anything from my friends. Ayokong bigyan sila ng rason para isipin nilang wala akong tiwala sa kanila. Sasabihin ko naman sa kanila. I was just trying to gather all my courage before doing so.
"Why do you want to become a doctor?" Troy asked.It's Saturday and we're at a coffee shop outside the city. We know it's still risky to go out together but we're being extra careful. I'm actua
I haven't confessed in my whole life. I didn't think I even liked someone before. Hindi naman kasi ako 'yong tipong madaling magkagusto. I had crushes, yes, but it never reached the point where I felt like this.






![Hot ang Deadly 'Equilibrium Series I' [Tagalog]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)











Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.