Share

Kamar

Author: Weena Young
last update publish date: 2026-10-03 19:38:21

"Berhenti menyentuhku, Casey! Aku bukan mainanmu." pekik Melody seraya meronta sekuat tenaga, memutar tubuhnya demi melepaskan diri dari cengkeraman Casey yang terasa makin menghimpit di dalam kabin mobil yang sempit.

Napas Melody berburu cepat, dadanya naik turun meluapkan kekesalan yang sudah membubung tinggi. Namun, bukannya melonggarkan pegangannya, Casey justru makin mempererat kunci jemarinya di pergelangan tangan Melody. Sorot mata pria itu meredup, menyisakan kilatan dingin yang membaha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
Casey sadar tidak ya kalau Melody hamidun
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Kamar

    "Berhenti menyentuhku, Casey! Aku bukan mainanmu." pekik Melody seraya meronta sekuat tenaga, memutar tubuhnya demi melepaskan diri dari cengkeraman Casey yang terasa makin menghimpit di dalam kabin mobil yang sempit.Napas Melody berburu cepat, dadanya naik turun meluapkan kekesalan yang sudah membubung tinggi. Namun, bukannya melonggarkan pegangannya, Casey justru makin mempererat kunci jemarinya di pergelangan tangan Melody. Sorot mata pria itu meredup, menyisakan kilatan dingin yang membahayakan. Amarah yang sejak tadi tertahan di dadanya kini benar-benar berada di puncak.Gosip panas yang beredar luas di berbagai media sejak kemarin tentang kebersamaan Melody dengan Harvey di parkiran Apartement Melody, dimana dalam video amatir yang di ambil oleh fans memperlihatkan aktor papan atas yang tengah berada di puncak popularitas itu tampak begitu dekat dengan Melody, dan berita itu sudah cukup membakar emosi Casey hingga ke ubun-ubun. Ditambah lagi dengan penolakan mentah-mentah dari

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Tanggung Jawab

    "Pria yang jauh lebih hebat?" sahut Kakek Whitney, memecah keheningan yang sempat tercipta. Pria tua itu tertawa canggung, berusaha menjaga suasana agar tidak kembali memanas. "Tentu saja, Casey. Keluarga kita juga tidak ingin Melody mendapatkan pria yang sembarangan. Tapi soal kamu yang mau mengambil alih tanggung jawab Melody... bukankah itu agak berlebihan? Bagaimanapun, dia masih punya ayah dan keluarga besar di sini." Ayah Melody yang merasa mendapatkan sedikit dukungan dari Kakek langsung membetulkan posisi duduknya. "Benar kata Kakekmu, Casey. Om paham kamu peduli pada sepupumu ini. Tapi Melody punya hak waris dan tanggung jawab di Whitney Group. Pembatalan pertunangan dengan Arthur saja sudah berdampak pada beberapa kerja sama bisnis kita. Kamu tidak bisa begitu saja mengambil keputusan atas hidupnya." Casey tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir teh di meja, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakannya yang tenang

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Kehangatan Casey

    "Siapa berani menyentuh Melody!!"Gema suara dingin itu menggelegar di seluruh aula. Tangan ayah Melody yang tadinya sudah melayang di udara seketika membeku. Seluruh keluarga Whitney mendadak merinding dan langsung menoleh ke arah pintu yang terkulai rusak.Di sana, Casey berdiri tegap dengan jas hitamnya yang rapi. Tatapannya sangat tajam dan dingin. Di belakangnya, empat pengawal berbadan tegap berseragam hitam masuk dengan cepat dan mengepung area aula.Melihat Casey berdiri nyata di depan matanya, otak Melody langsung berputar keras. "Kenapa Casey ada di sini? Bukannya dia sedang bermesraan dengan wanitanya di luar negeri biar gak aku ganggu? Ngapain dia sok baik datang membelaku?" bisik Melody dalam hati penuh curiga.Melody memperhatikan setiap langkah Casey yang makin mendekat. Tanpa ragu, Casey langsung merangkul pinggang Melody dengan cepat dan erat."Maaf aku terlambat..." bisik Casey pelan di dekat telinga Melody.Melody yang masih kesal berusaha sekuat tenaga melepaskan c

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Mati Saja

    "Kenapa setiap berkumpul selalu saja keluarga ini ribut-ribut?"Suara berat sang ayah Melody menggelegar memenuhi seluruh sudut aula utama. Pria paruh baya itu berjalan tegap mendekati meja utama, mengedarkan pandangan dingin ke seluruh ruangan. Kedatangannya seketika membungkam perdebatan, membuat Paman Robert yang tadinya vokal perlahan mundur dan memilih diam. Tante Syeila pun menghela napas panjang, menundukkan kepala karena paham betul betapa dominan dan tidak adilnya abang tertuanya itu dalam urusan keluarga."Bagus kamu datang!" Kakek Whitney mengetukkan ujung tongkatnya keras. "Lihat putri bungsumu ini! Setelah membatalkan pertunangan secara sepihak dengan Arthur, sekarang namanya ramai di media bersama aktor luar! Keluarga kita sedang dipertaruhkan!""Bukan cuma itu,!" potong ibu tiri Melody cepat seraya merangkul suaminya dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih. "Melody datang ke sini bukannya sadar diri, tapi justru menghina saya dan menyerang Gwen! Dia bahkan menyindir

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Satu Keluarga Seribu Luka

    "Kalian semua memanggilku ke sini seolah aku ini seorang terdakwa?"Suara Melody memecah keheningan aula, mengalun tenang namun cukup tajam untuk membuat beberapa paman dan kakak tirinya menggeser duduk. Ia berdiri tegak tepat di tengah ruangan, memamerkan gaun merah marunnya tanpa ada sedikit pun gestur ragu.Melihat adik tirinya berdiri sendirian di tengah ruangan yang tegang itu, Tante Syeila, satu-satunya kerabat yang selalu bersikap hangat pada Melody, segera berdiri dari kursinya dengan raut wajah cemas sekaligus lega."Sudah, Mel... yuk duduk dulu di sini," panggil Tante Syeila lembut seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyambut kedatangan Melody dengan senyum tulus. "Kamu pasti capek baru sampai."Melody melembutkan sorot matanya sejenak ke arah Tante Syeila dan tersenyum tipis. "Makasih ya, Tante Syeila. Sebenarnya Melody juga gak suka keributan kok, Tante. Cuma mereka aja yang selalu nantangin Melody seolah mereka itu manusia suci.""Kamu ini bicara apa, Mel? Berdiri

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Tegas

    "Sebenarnya..." Melody menggantungkan kalimatnya, suaranya menciut dan sarat akan rasa bersalah. Ia menunduk, tak berani menatap langsung mata jernih milik pria di sampingnya. Ada rasa penyesalan yang mendalam membakar dadanya karena selama ini telah menyembunyikan identitas aslinya dan berpura-pura menjadi sekadar penjahit biasa. "Ehm... kenapa, Vey?" tanya Melody ragu-ragu, mencoba membaca respons pria di sebelahnya. Harvey tersenyum tipis, mengibaskan tangannya dengan santai seolah hal itu bukanlah masalah besar. "Ya enggak masalah, Mel. Dari awal kita ketemu, aku nggak peduli kamu anak konglomerat atau bukan. Mau kamu cuma penjahit biasa atau cucu klan ternama, buat aku sama saja. Lagi pula... kekayaanku juga sudah lebih dari cukup kok cuma buat sekadar menghidupi kamu nantinya." Mendengar kata-kata yang mengalir begitu santai namun sarat makna itu, Melody secara refleks menoleh ke arah Harvey. Namun, ia lupa betapa dekatnya posisi duduk mereka sejak sibuk memandangi layar pons

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status