LOGIN"AMBER, BERHENTI!" teriak Juan.
Ia berlari ingin menghentikan Amber yang menyayat tangannya sendiri. Terlambat, Amber benar-benar memotong nadinya sendiri. "Apa yang kau lakukan?! Kau, gila! Bono! Bono, panggil ambulance!" titah Juan tidak kuasa menahan tangis. "Apa yang kau lakukan, Amber?!" Juan mengguncang tubuh Amber yang sudah tidak sadarkan diri. Hingga tujuh menit kemudian, suara ambulance mendekat dan Bono tampak berlari membuka pagar rumahnya Juan. Dekat cekatan Juan mengangkat tubuh Amber dan menggendongnya. Ia berlari, setiap detik adalah penentuan atas hidup matinya Amber. "Tolong, Dokter, darahnya tidak berhenti. Aku, aku sudah menekan lukanya," lapor Juan dengan tubuh gemetar. "Tuan, ikutlah kami," pinta salah satu perawat. "Ya, aku tidak akan meninggalkannya," ucap Juan menaTiga hari sebelum berita yang viral semakin menghancurkan hati Jessica. Juan dalam keputus asaan, tengah tersudutkan oleh beberapa paparazi yang memadati lorong rumah sakit.Semua ini bukan kebetulan, semua sudah dirancang oleh Amber secara sempurna. Dia tau, hanya Juan yang dapat menghancurkan Jessica. Dirinya bahkan tidak perlu memiliki alasan untuk melakukan hal gila ini. "Lihatlah perbuatanmu! Seluruh wartawan datang untuk meliput skandal gilamu. Kau sudah mengkhianati satu-satunya wanita tulus yang sangat mencintai keluarga ini, Juan!" Cherris tampak semakin menyudutkan adiknya yang masih terdiam memikirkan bagaimana kabarnya Jessica jika sampai berita ini dibacanya. "Juan, apa kau tuli?! Katakan sesuatu, bagaimana kalau sampai Amber ada apa-apa! Kau harus bertanggung jawab terhadap keluarganya!" cecar Cherris tiada henti. Tidak tahan mendengar omelan Cherris yang tak berujung. Ia pun berdiri tegak dari kursinya, berjalan mendekati Cherris dengan tatapan tegas dan rahangnya
"AMBER, BERHENTI!" teriak Juan. Ia berlari ingin menghentikan Amber yang menyayat tangannya sendiri. Terlambat, Amber benar-benar memotong nadinya sendiri. "Apa yang kau lakukan?! Kau, gila! Bono! Bono, panggil ambulance!" titah Juan tidak kuasa menahan tangis. "Apa yang kau lakukan, Amber?!" Juan mengguncang tubuh Amber yang sudah tidak sadarkan diri. Hingga tujuh menit kemudian, suara ambulance mendekat dan Bono tampak berlari membuka pagar rumahnya Juan. Dekat cekatan Juan mengangkat tubuh Amber dan menggendongnya. Ia berlari, setiap detik adalah penentuan atas hidup matinya Amber. "Tolong, Dokter, darahnya tidak berhenti. Aku, aku sudah menekan lukanya," lapor Juan dengan tubuh gemetar. "Tuan, ikutlah kami," pinta salah satu perawat. "Ya, aku tidak akan meninggalkannya," ucap Juan mena
"Nona Jessica, adalah adik kandung tuan muda Xairus. Apa, selama ini ... anda tidak tau, siapa wanita yang anda nikahi itu?" ungkap salah satu penjaga yang tampak geram menatap Juan. Bak tersambar petir di siang bolong, kedua mata Juan terbelalak lebar. Bagaimana mungkin selama ini dia tidak tau, bahkan mencari tau pun ... tidak pernah ada di pikirannya. Wanita yang disia-siakannya adalah adik kandung Xairus. Pemilik perusahaan terbaik di Eropa, sedang dirinya hanyalah seorang CEO yang tidak memiliki privilege nama besar. "Romanov, nama belakang mereka sama. Bodoh! Aku sangat bodoh selama ini, karna menganggapnya sebuah kebetulan belaka," desisnya tak kuasa menahan geram atas kebodohannya sendiri. "Yah Tuan, anda memang bodoh! Sekarang pergilah, jangan membuat pekerjaan kami semakin bertambah!" usir penjaga tersebut seraya membuka pintu mobilnya. Namun, Juan sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Dia hanya diam, dia tampak berpikir. "Tuan, jika anda berpikir untuk r
Kedua mata Cherris pun melebar, bahkan Dania tampak menegang mendengar ultimatum tak biasa dari bibir Juan. "Diamlah, Cherris. Juan sudah terlalu tersiksa di dalam sini, kita makhlumi saja tindakannya, jangan terlalu diambil hati," bisik Dania pada Cherris saat melihat punggung Juan menjauh sambil meremas sebuah berkas di tangannya. "Aku yakin, dia pasti seperti ini karena terpengaruh oleh wanita jalang itu, Ma. Aku tidak akan memaafkan dia, jika bertemu akan aku hajar dia habis-habisan," geram Cherris yang kesal dipermalukan oleh Juan sedemikian rupa. Dania terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Cherris sambil menarik tangan anaknya dan mengikuti Juan dari belakang. "Akan aku cari tau, di mana dia tinggal sekarang. Aku akan meminta anak-anak di gudang untuk menakutinya. Tenang saja, akan mama buat dia jera dan menjauh selamanya dari Juan," desis Dania, menenangkan hati Cherris yang tampak tersenyum sinis seraya terus memaksakan langkahnya. Sampailah rombongan Juan ke rumahny
Jessica terhenyak saat mendengar pertanyaan Oleg, dia sudah terlalu lelah untuk memikirkan masa depannya saat ini. Bagaimana mungkin dia akan menolak keinginan pertama Oleg, setelah dia memutuskan kontak dengan Oleg selama tiga tahun ini. Menatap tatapan penuh harap, akhirnya Jessica memberanikan diri untuk memegang tangan keriput Oleg dan tersenyum sendu. "Jika itu dapat membuat aku bahagia dan membuat Opa tenang, aku bersedia," jawab Jessica dengan suara yang bergetar. Mendengarnya Oleg segera menghela nafas lega dan mengusap lembut rambut Jessica. "Makanlah, istirahatlah dulu. Opa akan segera mengatur pertemuanmu dengan pria itu jika kau sudah merasa lebih sehat," jawab Oleg lalu menuangkan air ke dalam gelas cucunya. Kepasrahan Jessica kini menuntunnya pada kehidupan baru yang tidak pernah dia harapkan. Dia akan dijodohkan oleh pria pilihan Oleg. Entah siapa, dan apakah pria itu akan lebih baik dari pada Juan. Jessica tidak tau dan tidak mau tau. "Tolong, bantulah aku satu hal
"Juan, aku percaya ... waktu yang kita lalui beberapa saat yang lalu adalah waktu yang paling indah dan berharga dalam hubungan kita. Namun, aku tau ... dan kini menyadarinya, bahwa ... seberharga apapun waktu yang kita lewati bersama. Tidak akan lebih berharga dari keberadaan Amber bagimu. Untuk itu, aku memutuskan untuk mengalah. Bahagialah bersama wanita yang sudah memiliki hatimu. Sayang, wanita itu bukanlah diriku. Jangan cari aku ke mana pun, karna kau tidak akan menemukan aku, Xairus dan Maxton, pun tidak tau aku ke mana. Selamat Tinggal, Juan." Jantung Juan mencelos saat membaca surat yang ditinggalkan oleh Jessica untuknya. Hatinya sakit, kali ini dia tau, jika dirinya benar-benar kehilangan Jessica. Jika wanita yang selama ini memujanya telah muak dengan sikapnya. "Jessica, di mana kau berada?" Juan bahkan tidak mengindahkan peringatan Jessica, ia segera mengambil kunci mobil dan malam itu juga bertolak menuju ke mansionnya Xairus. Ia kejar keberadaan Jessica, sampai se







