تسجيل الدخولDenzel melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk menatap wajah Audrey yang sudah memerah sempurna dengan bibir yang bengkak dan mata yang sayu karena nafsu. "Kamu sangat cantik saat terlihat berantakan seperti ini, Audrey. Dan aku ingin membuatmu jauh lebih berantakan lagi." Denzel merendahkan tubuhnya, lidahnya mulai bermain di atas goa indah milik Audrey yang sudah siap di balik kain tipis. Setiap sentuhan lidah Denzel membuat tubuh Audrey melengkung ke atas, jemarinya mencengkeram tepi meja marmer hingga buku jarinya memutih. "Aaaakh! Denzel! Di sana... Ssshh... Terus..." Denzel tidak berhenti. Ia menggunakan tangannya untuk menyingkap rok span Audrey, menarik paksa kain sutra terakhir yang menghalangi aksesnya. Begitu perlindungan terakhir itu tanggal, Denzel melihat goa rahasia Audrey yang sudah lembab dan berkilau di bawah cahaya temaram, siap untuk menerima huniannya. "Kamu sudah sangat siap untukku, sayang," bisik Denzel dengan seringai kemenangan. Ia segera melepa
"Lakukan apa yang kamu mau, Sayang. Gedung ini boleh kamu desain ulang. Aku akan menyediakan alatnya," bisik Denzel dengan nada yang membuat para staf di sana pura-pura sibuk menatap layar masing-masing karena malu. Pertemuan bisnis itu berlangsung cukup intens selama dua jam. Audrey sangat profesional, memberikan masukan-masukan estetika gedung, sementara Denzel fokus pada aspek keamanan dan keuntungan properti. Namun, di tengah diskusi, Denzel seringkali memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang tidak terlihat, meremas pelan tangan Audrey di bawah meja, atau sekedar mengusap punggungnya dengan gerakan sensual yang mengganggu konsentrasi Audrey. ‘Astaga, Denzel. Jangannya duka sekali jalan-jalan..’ gerutunya dalam hati. Setelah urusan proyek selesai, Denzel membawa mereka menuju penthouse pribadi yang terletak di puncak gedung apartemen yang sudah selesai dibangun tak jauh dari sana. Penthouse itu terlihat mewah. Dindingnya terbuat dari kaca satu arah yang memperlihatk
Pagi ini, Audrey terbangun dalam pelukan Denzel yang sangat erat. Ia menatap wajah suaminya yang tampak sangat tenang saat tidur. Di sudut ruangan, Kenneth sudah terbangun dan sedang asyik bermain dengan jarinya sendiri di dalam boks, tidak menangis sama sekali seolah tahu orang tuanya butuh waktu. Audrey tersenyum, ia mencium dada Denzel yang penuh dengan bekas cakaran halus darinya semalam. "Selamat datang di babak baru, Tuan Shaquille," bisik Audrey pelan. Denzel membuka matanya, sebuah senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Selamat datang di wilayahku yang sebenarnya, Nyonya Shaquille. Permainan yang sesungguhnya... Baru saja dimulai.” Roda pesawat jet Shaquille Group menyentuh landasan pacu dengan mulus, menimbulkan suara deru mesin yang perlahan mengecil saat pilot melakukan pengereman. Audrey merasakan getaran itu di bawah kakinya, menandakan bahwa perjalanan ribuan mil di atas awan telah berakhir. Di sampingnya, Denzel sudah berdiri tegap, mengenakan jas hitamnya kemb
Suara resleting gaun Audrey yang terbuka sempurna seakan menggema dalam ruangan itu. Gaun mahal itu meluncur jatuh dari bahu Audrey, tergeletak di lantai begitu saja b seakan tak berarti apa-apa. Kini, Audrey hanya mengenakan kain penghalang terakhir bermotif renda transparan berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Denzel menelan saliva susah payah. Matanya seketika gelap mantap Audrey berkilat penuh gairah. Ia menyusupkan tangannya ke pinggang Audrey, menarik wanita itu agar berdiri dari meja rias dan langsung menekannya ke dinding kabin yang dilapisi kulit lembut. "Kamu selalu terlihat semakin seksi di bawah lampu temaram seperti ini, Audrey," bisik Denzel serak. Ia mulai menciumi bahu Audrey, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan, tanda kepemilikan yang tak pernah tertinggal. “Sshhh.. Aahhh..” Audrey mengerang, tangannya menyusup ke rambut hitam Denzel, menariknya agar ciuman itu berpin
Denzel menarik tangan Audrey dan mencium telapak tangannya dengan intens. "Aku hanya sedang berpikir, apakah aku sudah menyiapkan perlindungan yang cukup untukmu. Aku merasa tidak akan pernah cukup, Audrey. Kamu terlalu berharga." "Sshhh... Kita akan baik-baik saja. Kamu, aku, dan Kenneth. Kita satu tim, Denzel.." hibur Audrey. Saat sampai di bandara pribadi, sebuah jet mewah dengan logo Shaquille Group sudah menunggu dengan mesin yang sudah menyala. Aksa dan Fiona langsung naik lebih dulu setelah melewati pemeriksaan keamanan yang super ketat. Denzel menahan Audrey sejenak di bawah tangga pesawat. Angin malam menerbangkan rambut Audrey yang tergerai. Di bawah sorotan lampu landasan yang terang, Denzel menatap Audrey dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan gairah dan rasa kepemilikan yang luar biasa. "Audrey, begitu kita masuk ke pesawat itu, hidupmu akan berubah total untuk beberapa bula
Kabar mengenai keberangkatan Denzel, Audrey, Aksa, dan Fiona ke Eropa dalam waktu singkat seperti ledakan bom di tengah ketenangan Mansion Lama Shaquille. Suasana yang biasanya dipenuhi tawa ringan atau diskusi bisnis, kini berubah menjadi kesibukan yang luar biasa. Di lantai atas, Audrey sedang berdiri di depan tumpukan koper besar di kamar utama. Ia menatap deretan pakaian Kenneth yang sedang dimasukkan ke dalam koper khusus oleh beberapa pelayan. Perasaannya campur aduk. Ada rasa antusias untuk memulai lembaran baru sebagai desainer utama proyek Eropa, namun ada bagian kecil di hatinya yang merasa berat meninggalkan Sarah dan Elena yang sedang berjuang dengan kehamilan mereka di sini. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Elena masuk dengan langkah yang sedikit pelan, wajahnya tampak muram. Ia langsung menghambur ke arah Audrey dan memeluknya erat. "Kenapa mendadak sekali, Ma? Aku baru saja merasa senang kita bisa berku
Aiden membalas pelukan itu dengan penuh emosi. Ia menggendong tubuh Elena, membawa wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat. "Aku sudah janji padamu, kan? Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Elena.” Aiden membopong Elena dan mendudukkannya di ranjang, lalu ia berlutut di depannya. Ia mengambi
Tawa Aiden masih menggema di ruang makan saat Audrey tiba-tiba terdiam. Wajahnya yang semula ceria berubah drastis menjadi pucat. Ia meletakkan garpunya dengan tangan gemetar, sementara tangan kirinya mencengkram pinggiran meja makan dengan sangat kuat. "Aw... Sshhh..." rintih Audrey pelan, namun
Suasana pagi di dermaga tampak semakin sibuk meski masalah material sudah mulai ditangani. Aiden memerintahkan pembongkaran total pada bagian yang retak dipimpin Elena sebagai arsitek dalam proyek itu. Namun, fokus utama pagi itu bukan hanya masalah beton karena Aiden sempat melihat Trustin sudah b
Aiden menarik tangan Elena dengan langkah lebar menuju bangunan utama Villa. Gairahnya yang sempat tersulut di bawah pohon kelapa tadi nyaris mencapai ubun-ubun. Elena hanya bisa mengikuti sambil sesekali membenahi rambutnya yang sedikit berantakan, wajahnya masih memerah akibat cumbuan panas di pa







