INICIAR SESIÓNDenzel memundurkan kursi penumpang yang diduduki Audrey hingga mendatar. Ia berpindah posisi, mengungkung tubuh Audrey di bawahnya dalam ruang mobil yang sempit namun terasa sangat intim. "Aku tidak bisa menahannya sejak di ruang rapat tadi. Melihatmu bicara dengan penuh percaya diri... Kamu sangat menggoda saat sedang bekerja, Audrey," geram Denzel. Tangannya mulai bekerja pada kancing-kancing blus Audrey. Satu per satu terbuka, memperlihatkan kulit putih mulus istrinya yang kini meremang karena udara dingin AC mobil dan panas dari sentuhan Denzel. "Denzel... Bagaimana kalau ada yang lewat?" Audrey mencoba melihat keluar jendela yang tertutup kaca film sangat gelap. "Tidak akan ada yang melihat. Dan kalaupun ada, mereka tidak akan berani mendekat," Denzel membenamkan wajahnya di leher Audrey, memberikan hisapan-hisapan kuat yang dipastikan akan meninggalkan jejak baru. "Aaaahhh... Denzel... Ssshh..." Tubuh Audrey melengkung saat tangan Denzel mulai meraba pahanya, menyelin
Audrey bergerak pelan, tubuhnya terasa remuk, setiap inci kulitnya seolah masih merekam sentuhan kasar namun memabukkan dari Denzel semalam. Ia membuka mata dan langsung disambut oleh pemandangan dada bidang polos milik suaminya. Denzel sudah terbangun, bersandar pada headboard ranjang sambil menatap Audrey dengan tatapan yang seperti biasa, penuh cinta dan gairah yang tidak pernah padam. "Selamat pagi, Nyonya Shaquille. Tidurmu nyenyak setelah 'olahraga' berat semalam?" suara Denzel terdengar sangat serak, berat, dan sensual di telinga Audrey. Audrey merona, ia menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahunya yang penuh dengan tanda merah. "Denzel... Jam berapa sekarang? Bukankah kita ada janji bertemu dengan tim arsitek lokal pagi ini?" Denzel melirik jam tangan mewah yang sudah ia kenakan di pergelangan tangannya, meski tubuh atasnya masih polos. "Pukul tujuh. Kita punya waktu dua jam sebelum mobil menjemput. Dan jangan khawatir tentang jalanmu, aku sudah menyiapkan supl
Denzel melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk menatap wajah Audrey yang sudah memerah sempurna dengan bibir yang bengkak dan mata yang sayu karena nafsu. "Kamu sangat cantik saat terlihat berantakan seperti ini, Audrey. Dan aku ingin membuatmu jauh lebih berantakan lagi." Denzel merendahkan tubuhnya, lidahnya mulai bermain di atas goa indah milik Audrey yang sudah siap di balik kain tipis. Setiap sentuhan lidah Denzel membuat tubuh Audrey melengkung ke atas, jemarinya mencengkeram tepi meja marmer hingga buku jarinya memutih. "Aaaakh! Denzel! Di sana... Ssshh... Terus..." Denzel tidak berhenti. Ia menggunakan tangannya untuk menyingkap rok span Audrey, menarik paksa kain sutra terakhir yang menghalangi aksesnya. Begitu perlindungan terakhir itu tanggal, Denzel melihat goa rahasia Audrey yang sudah lembab dan berkilau di bawah cahaya temaram, siap untuk menerima huniannya. "Kamu sudah sangat siap untukku, sayang," bisik Denzel dengan seringai kemenangan. Ia segera melepa
"Lakukan apa yang kamu mau, Sayang. Gedung ini boleh kamu desain ulang. Aku akan menyediakan alatnya," bisik Denzel dengan nada yang membuat para staf di sana pura-pura sibuk menatap layar masing-masing karena malu. Pertemuan bisnis itu berlangsung cukup intens selama dua jam. Audrey sangat profesional, memberikan masukan-masukan estetika gedung, sementara Denzel fokus pada aspek keamanan dan keuntungan properti. Namun, di tengah diskusi, Denzel seringkali memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang tidak terlihat, meremas pelan tangan Audrey di bawah meja, atau sekedar mengusap punggungnya dengan gerakan sensual yang mengganggu konsentrasi Audrey. ‘Astaga, Denzel. Jangannya duka sekali jalan-jalan..’ gerutunya dalam hati. Setelah urusan proyek selesai, Denzel membawa mereka menuju penthouse pribadi yang terletak di puncak gedung apartemen yang sudah selesai dibangun tak jauh dari sana. Penthouse itu terlihat mewah. Dindingnya terbuat dari kaca satu arah yang memperlihatk
Pagi ini, Audrey terbangun dalam pelukan Denzel yang sangat erat. Ia menatap wajah suaminya yang tampak sangat tenang saat tidur. Di sudut ruangan, Kenneth sudah terbangun dan sedang asyik bermain dengan jarinya sendiri di dalam boks, tidak menangis sama sekali seolah tahu orang tuanya butuh waktu. Audrey tersenyum, ia mencium dada Denzel yang penuh dengan bekas cakaran halus darinya semalam. "Selamat datang di babak baru, Tuan Shaquille," bisik Audrey pelan. Denzel membuka matanya, sebuah senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Selamat datang di wilayahku yang sebenarnya, Nyonya Shaquille. Permainan yang sesungguhnya... Baru saja dimulai.” Roda pesawat jet Shaquille Group menyentuh landasan pacu dengan mulus, menimbulkan suara deru mesin yang perlahan mengecil saat pilot melakukan pengereman. Audrey merasakan getaran itu di bawah kakinya, menandakan bahwa perjalanan ribuan mil di atas awan telah berakhir. Di sampingnya, Denzel sudah berdiri tegap, mengenakan jas hitamnya kemb
Suara resleting gaun Audrey yang terbuka sempurna seakan menggema dalam ruangan itu. Gaun mahal itu meluncur jatuh dari bahu Audrey, tergeletak di lantai begitu saja b seakan tak berarti apa-apa. Kini, Audrey hanya mengenakan kain penghalang terakhir bermotif renda transparan berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Denzel menelan saliva susah payah. Matanya seketika gelap mantap Audrey berkilat penuh gairah. Ia menyusupkan tangannya ke pinggang Audrey, menarik wanita itu agar berdiri dari meja rias dan langsung menekannya ke dinding kabin yang dilapisi kulit lembut. "Kamu selalu terlihat semakin seksi di bawah lampu temaram seperti ini, Audrey," bisik Denzel serak. Ia mulai menciumi bahu Audrey, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda kemerahan, tanda kepemilikan yang tak pernah tertinggal. “Sshhh.. Aahhh..” Audrey mengerang, tangannya menyusup ke rambut hitam Denzel, menariknya agar ciuman itu berpin
Pagi ini, Aiden datang ke lapangan lebih awal. Ia menemukan Elena sedang berdiri di ujung dermaga, rambutnya berantakan tertiup angin laut yang kencang. Wanita itu tampak sedang berdebat dengan seorang mandor bangunan. "Aku sudah bilang, fondasi di sisi barat harus diperkuat! Pasang surut di sin
Denzel terdiam sejenak, ia sedikit ragu menjawab pertanyaan Aksa. “Tidak ada masalah, hanya saja setelah tidak bekerja di sini tidak ada kabar dari Bu Ratna. Seingat ku saat Bu Ratna berhenti kerja, saat Aiden masih satu tahun dan anaknya.. Usia 2 tahun..” “Jadi Elena mungkin sudah mengenal Aiden?
Aksa tidak memberikan kesempatan bagi Fiona untuk melayangkan protes lebih jauh. Ia segera melumat bibir Fiona dengan ciuman yang dalam dan menuntut, gairah Aksa terasa begitu nyata. Selama ini ia selalu bersikap tenang dan profesional, namun malam ini hasratnya pada Fiona begitu tidak tertahankan.
Pagi ini, Denzel yang tampak sangat segar setelah ‘pertempuran’ panjang semalam. Ia menoleh ke samping, menatap Audrey yang masih terlelap dengan nafas teratur. Denzel mengecup kening istrinya dengan lembut, memastikan selimut tetap menutupi bahu polos Audrey yang dipenuhi tanda kepemilikannya.De







