공유

Bab 83 Hamil?

작가: AishAisyi
last update 게시일: 2026-10-03 09:00:45

Udara panas di sore hari masih terasa menyengat.

Warseno baru pulang dari rumah pujanggan desa bersama Wandari. Sepanjang jalan, para tetangga meledek saat melihat mereka berjalan berdua. Sementara Wandari hanya bisa tersenyum kikuk—senyum yang terlihat seperti tersipu-sipu.

Dari kejauhan, Rengganis melihat itu semua. Tangannya mengepal makin erat.

Saat di depan rumah, Warseno meminta Wandari istirahat di dalam. Ia sendiri duduk di bale bambu bersama Wiro untuk membicarakan sesu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 107 Lukisan

    Di dalam gelap, tubuh Wandari terasa ringan. Melayang. Seperti kapas yang ditiup angin, tak punya arah, tak punya beban. Kepalanya bergoyang pelan, mengikuti irama yang tak ia mengerti.Kesadarannya merayap masuk, serpihan demi serpihan. Tubuhnya terbaring lemas. Berat. Namun kelopak matanya menolak terbuka. Telinganya menangkap gemerisik. Kain. Kayu. Napas orang. Tapi otaknya masih berkabut, belum sanggup menamai suara-suara itu."Aku ke alun-alun kidul dulu. Aku harus memastikan Puspita sampai ke pendopo tabib dengan selamat," suara itu jernih sekarang. Berat. Familiar. Suara Bhaskara.Kelopaknya bergetar. Perlahan terangkat. Penglihatannya buram, lalu fokus. Lurus ke atas. Atap dari papan kayu, gelap.Darahnya membeku. Napasnya tercekat. (Apa ini peti mati? Apa aku sudah mati?) batinnya menjerit.Ia mencoba menggerakkan jari. Gagal. Ototnya seperti diikat. Yang bisa ia lakukan hanya berkedip. Sekali. Dua kali. Panik menampar dadanya."Duk!" Ben

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 106 Penglihatan

    Bhaskara membuka mata saat tabib memohon izin untuk memberikan jamu. Ia bangkit lalu menepi, membiarkan tempat itu menjadi longgar.Putra mahkota itu berjalan keluar dan menunggu di kursi depan lagi. Ia mengatur napas, mencoba kembali ke masa sekarang.Bhaskara melihat ke luar pendopo. Kuda-kuda sudah mulai segar. Prajurit dan abdi dalem juga sudah terlalu lama beristirahat. Sudah waktunya mereka melanjutkan perjalanan. Tapi Wandari masih lemah.Cukup lama ia diam untuk berpikir. Hingga tabib kembali keluar setelah selesai memberikan jamu kepada Wandari.Bhaskara berdiri menghadang langkah tabib. "Bagaimana keadaannya sekarang?"Tabib berhenti mendadak lalu membungkuk. "Nuwun sewu, Raden. Jamu baru kulo berikan. Dia masih belum sadar. Sepertinya harus dirawat paling tidak tiga hari," jelasnya.Bhaskara mengusap wajahnya kasar. "Jempana cadangan ada?" tanyanya."Ada satu, Raden. Tapi sederhana," jawab tabib.Bhaskara mengangguk, "Siapkan," perintahnya.

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 105 Tak Sadarkan Diri

    Angin panas berhembus menusuk kulit. Dedaunan berjatuhan perlahan hingga ke dasar tanah, membawa angan tak pasti akan kehilangan seorang istri yang paling dicintai.Di Sekarpari, Warseno tidur tengkurap di atas bantal Wandari. Di sana masih ada sedikit aromanya, mengobati rasa rindu yang terasa seperti kehilangan untuk kedua kalinya.(Harusnya aku pergi ke Kedung Arang sendirian. Wandari dan bayinya pasti masih tetap baik-baik saja di rumah ini kalau aku tidak nekat membawanya ke sana) batin Warseno.Warseno berubah posisi menjadi rebah.(Kenapa sampai sekarang belum ada utusan Kakang Bhaskara untuk mengantar Wandari. Apa mereka gagal menemukan Wandari. Atau Kakang memang tidak mau membantuku?) batinnya melayang ke mana-mana..Di atas kuda Aswadono, rupanya tidak hanya Wandari saja yang tegang. Bhaskara juga merasakan duduknya tidak nyaman sebab ada sesuatu yang mengganjal.Tatapannya masih lurus ke depan, berusaha menutupi gejolak yang telah lama tak pe

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 104 Ulat Bulu

    Waktu makan selesai. Semua bersiap pulang ke Surya Kencana. Prajurit mulai menyiapkan kuda dan menggulung tenda. Abdi dalem membereskan tenda sekaligus alat masak di dapur. Semuanya dimasukkan ke dalam peti lalu diangkut pedati.Wandari duduk di atas batu datar bawah pohon beringin karena tenda tempatnya bersembunyi sedang dibongkar. Ia duduk di sana dengan sesal yang dalam. "Kenapa aku memilih jalan ini saat kabur semalam. Harusnya aku mengambil jalan ke sisi kanan supaya tidak tersesat di hutan Wanawasa dan menjadi tawanan orang menyebalkan itu," gumamnya sambil meremas daun kering yang ia bawa dari depan tenda.Tiba-tiba Bhaskara datang lalu duduk di sebelah Wandari. "Jangan terus berlarian, Puspita. Aku lelah mengejarmu," ucapnya tanpa aba-aba.Wandari mendengus dengan wajah cemberut dan tidak mau memandang ke arah Bhaskara. "Kalau lelah ya sudah jangan dikejar. Biarkan saja saya diseruduk kijang," ucapnya.Bhaskara spontan tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdeng

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 103 Puppy Eyes

    Jauh dari Kedung Arang dan Hutan Wanawasa, Warseno menarik tali kekang. Megantara berbelok ke arah persimpangan Sekarpari. Laki-laki itu kembali ke rumah Wiro dengan langkah lesu, setelah tak berhasil menemukan Wandari di mana pun.Satu-satunya harapannya kini tinggal Bhaskara. "Mudah-mudahan Kakang Bhaskara benar-benar dapat menemukan Wandari," gumamnya pelan.Dalam pencarian ini bukan berarti ia tak mampu. Hanya saja, menelusuri Wanawasa butuh tim. Jika ia nekat masuk sendirian, yang ada ia sendiri yang tidak dapat keluar karena bertemu aneka binatang buas.Jadi, Warseno hanya dapat pasrah dan menggantungkan harapan pada Bhaskara. Tanpa ia ketahui, Wandari memang sudah diamankan Bhaskara sejak mereka tak sengaja bertemu pagi tadi.Lonceng delman berhenti berbunyi saat mereka tiba di halaman rumah. Warseno masih duduk lemas di kursi kusir. Ia merenung, memikirkan entah bagaimana reaksi bapak angkatnya saat tahu ia pulang seorang diri tanpa Wandari.Matanya terpe

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 102 Kabur

    Sesaat sebelumnya, Bhaskara memutuskan berlatih panahan saja daripada menggerutu tanpa arah. Ia memerintahkan pengawalnya menyiapkan busur dan sasaran.Satu. Dua. Tiga anak panah melesat dari busurnya, menancap lurus di papan. "Duk... duk... duk." Tapi matanya masih sesekali melirik ke arah tenda dapur. Ia mencoba mengalihkan pikiran, tapi justru pandangannya yang terus mencari.Cukup lama anak panah meluncur satu per satu. Hingga akhirnya ia melihat Puspita keluar dari tenda, berjalan sendirian. Bhaskara menurunkan busurnya. Alisnya bertaut saat melihat perempuan itu melangkah pelan, seperti mengendap-endap agar tak terlihat.Ia menyerahkan busur ke pengawal. "Simpan," ucapnya singkat. Lalu ia mengikuti langkah Puspita dari kejauhan.Ternyata perempuan itu tidak kabur. Ia hanya duduk di balik batang beringin tua yang lebar, hingga tubuhnya tertutup hampir sepenuhnya."Puspita..." panggilnya pelan.Tanpa menunggu jawaban, ia duduk di sebelahnya. Jarak mereka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status