تسجيل الدخولUrsula had to escape from her father dahil pinipilit siya nitong ipakasal sa kanang-kamay nitong si Leon. Her father felt indebted to him because he saved his life on one of their encounters to the authority. Pero ang hindi alam ng ama ay masamang tao ang pinagkakatiwalaan nito dahil isang gabi na wala ito ay sinubukan siyang pagsamantalahan ni Leon at nang hindi siya pumayag ay sinaktan siya nito. Tumakbo siya ng tumakbo hanggang sa makarating sa isang kubo sa gitna ng sagingan at doon ay nakatulog siya. Nang magising ay nasa isang silid na siya at agad na bumulaga sa kanya ang mukha ng isang lalaki. The most handsome face she had ever seen. Hindi niya alam na posibleng makaramdam siya ng sense of security sa lalaking kakikilala pa lamang niya at iyon ang ibinibigay ng awra nito sa kanya. Agad na nahulog ang loob niya rito at hindi niya alam kung ano ang gagawin dahil nagpanggap siyang wala siyang naaalala kahit pa ang sarili niyang pangalan. Matatanggap kaya siya nito kapag nalaman nitong parte siya ng isang grupo na lumalaban sa gobyerno? Pero paano kung nahulog na rin pala ito sa kanya? Would he choose her dangerous love over his family?
عرض المزيد“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”MATAPOS ang almusal ay nagtungo na si Raikko sa loob ng bahay. Ang ina ay dumiretso sa kusina para magluto naman ng panangahalian. Paakyat na siya sa hagdanan nang matanaw niya si Rose. Nakatalikod ito sa gawi niya at tila nagpupunas ng mga display na figurine sa kahoy na estante. Napakunot noo siya nang maulinigan na tila may sinasabi ito. Dala ng kuryosidad ay naglakad siya palapit rito. “Sino naman ang nobya niya? Wala naman siyang ipinapakilala sa ‘min,” tila sarili nito ang kinakausap. “Teka ako ba ang tinutukoy niya?” sa isip-isip na tanong niya. Imbes na gambalainn ito ay tila nalibang pa ang binata na pakinggan at panoorin ito. Wala namang alikabok ang mga display pero tila ba galit na galit ito sa pagpupunas. Raikko rested his chin in his hand and stayed behind her. Akala niya ay may sasabihin pa ito pero bigla itong humarap. Napasinghap ito nang makita siyang prenteng nakatayo roon. “K-Kanina ka pa ba r-riyan?” nauutal na tanong nito. Imbes na sagutin ito ay naglakad s
MATAPOS ang nangyaring pista sa bayan ng Unisan ay nagsimula rin ang pag-usbong ng closeness sa pagitan nila Raikko at Rose. Tila nawala ang pader na humaharang sa pagitan nila. Naging komportable sila sa isa’t isa at sa araw-araw na kasama niya ito sa isang bubong ay nalaman niyang hindi ito mahirap pakitunguhan.Simple lang si Rose. Masayahin, mahinhin ngunit nakikita niya ang malakas na dating nito. Sa halos isang buwan na pananatili nito sa kanila ay malapit na ito sa lahat ng miyembro ng kanilang pamilya lalo na sa kaniyang ina.Sa katauhan nito ay tila nagkaroon ng anak na babae ang kanyang ina at gusto niya ang nakikitang kasiyahan sa huli. Gaya na lang ng araw na ‘yon na nadatnan niya sa garden ang ina at ang dalaga na magkasamang dinidiligan ang mga tanim na bulaklak.“O, hijo, nariyan ka pala. Ang aga mo yatang nagpunta sa farm?” tanong ni Rio nang makita siya. Bago pa lamang sumisikat ang araw at kagagaling niya lang sa sagingan.Humalik siya sa pisngi ng ina at nginitian
“ANONG sabi mo?!” Nagngangalit ang mga bagang na tanong ni Lucio kay Leon ng ipagbigay alam nito sa kanya ang kinaroroonan ni Ursula.Nasa tinitirahan niya siyang kubo at kararating lang nila Leon mula sa kapatagan. Agad na sumalubong sa kanya ang balita na nakita na ang nag-iisa niyang anak. Kalat na ang dilim sa labas at tanging huni na lang ng mga kuliglig ang naririnig nila.“Tama kayo ng narinig, amo. Tinakasan ako ni Ursula para sumama sa lalaking haciendero na ‘yon,” tila nagpapaawa pa si Leon nang sabihin ‘yon.Humigpit ang kapit ni Lucio sa ulo ng kwarenta y singko na nakasuksok sa tagiliran niya. Labis ang pag-aalalang nararamdaman niya iyon pala ay ligtas naman ang kanyang anak. Ang hindi lang niya lubos maisip ay kung paano nitong nagawang hindi magpaalam sa kanya. Bagay na hindi nito ginagawa. Hindi naglilihim si Ursula sa kanya. Maging ang tahasan nitong pagtutol sa pagpapakasal kay Leon ay alam niya. Ngunit wala siyang magawa dahil may utang na loob siya sa kanang kamay
“SINO BA ang babaeng ‘yan at parang tuwang-tuwa sa kanya ang mga De Mario?” tanong ng isang babae mula sa crowd habang masamang nakatingin sa dalagang kasayaw ngayon ni Raikko.“Nakakainggit naman siya. Kanina pa siya pinag-aagawan ng magkakapatid,” turan naman ng isa pa na tila nangangarap habang nanonood.“Anong nakakainggit diyan e, hindi naman siya maganda,” mataray na turan ng isa pa.“Saan ba nanggaling ‘yan? Mukhang hindi naman ‘yan tagarito,”Natigil sa paglalakad ang grupo ni Leon nang matanawan ang mga nagsasayaw sa gitna ng malawak na bakuran. Partikular na sa babae’t lalaki na magkadikit habang marahang sumasayaw.Humithit siya sa yosi at basta na lang iyong ibinuga sa mga kababaihang nasa harapan niya.“Ano ba ‘yan ang sakit naman sa ilong ng usok,” palatak ng isa sa mga ito at lumipat ng pwesto.Nakakaloko siyang ngumisi dahil iyon ang nais niya, ang umalis ang mga sagabal sa daan niya. Inilibot niya ang tingin sa paligid, hinahanap ang babaeng matagal na niyang hinahana
NAGKAKASAYAHAN ang lahat sa buong hacienda. Kalat na ang dilim pero buhay na buhay pa rin ang paligid dahil sa maliwanag na ilaw na nagmumula sa bawat poste, pati na rin sa malakas na disco music na nagmumula sa malalaking sound system.Ang mga matatanda ay tuwang-tuwa na nagsasayaw sa gitna ng mal
GAYA NG normal na araw sa hacienda abala ang lahat sa kani-kanyang trabaho. Kahit walang matang nakamasid ay sinisiguro nila na ginagawa nila ng maayos ang mga trabaho nila. Nais nilang suklian ang kabaitang ibinibigay sa kanila ng pamilyang De Mario. Sa kabila ng yaman ng mga ito ay hindi ito naka
KAHIT NA naamin na ni Ursula ang totoo kay Rio ay hindi pa rin niya maiwasang mag-alala. Ngayon na alam na nito na anak siya ng lider ng NPA ay alam niyang mag-aalala na ito ng sobra sa kaligtasan ng pamilya nito.Isang beses pa siyang napabuntong hininga habang nakatanaw sa labas mula sa malaking
TILA HINDI makapaniwala si Rio sa mga narinig niyang kwento ni Ursula. Buong durasyon na nagkukuwento ito ng nangyari rito ay nakaawang lang ang labi niya. Ni hindi niya magawang magtanong.Bilang isang ina natakot siya sa mga impormasyong isiniwalat nito sa kanya. Hindi niya maiwasang mag-alala pa


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
المراجعاتأكثر