Mag-log inRisa harus menerima takdir hidupnya yang membuatnya menanggung beban berat, termasuk cemooh dari lingkungan tempat tinggal juga keluarga. Hanya kedua orang tuanya yang mau menerima kondisinya. "Kamu hamil anak siapa, Ris?" Ibunya terus bertanya, namun Risa bungkam. Tak ada yang tau, jika ia diancam, ditekan supaya tidak memberi tau siapa ayah dari anak yang ia kandung dan laki-laki itu sudah mengubur masa depannya dengan seenak hati. Bisakah Risa terus bungkam, atau ia sudah berencana akan membongkar semuanya suatu hari nanti?
view more"Kamu enggak masak, Dek?" tanya Rusman pada istrinya, Yuni.
Yuni yang sedang melipat pakaian menoleh ke arah suaminya.
"Enggak, Bang. Kan, pagi tadi aku udah bilang kalau beras kita udah abis dan aku udah gak pegang uang lagi." sahut Yuni dengan suara datar.
"Ya Allah, Abang lupa, Dek. Maaf, ya?" Rusman menepuk dahinya sendiri lalu turut menjatuhkan diri di depan sang istri.
"Adek pasti lapar seharian belum makan. Sebentar, Abang ke rumah wak Harjo dulu, ya, minta singkong." ucapnya mengusap bahu istrinya. Yuni hanya mengangguk pelan, tak lupa ia ulas senyum agar suaminya tahu bahwa ia pun tak keberatan dengan keadaan mereka.
Rusman dengan cepat bangkit lalu melangkah cepat menuju rumah tetangganya untuk meminta singkong.
"Assalamualaikum, Wak!" salamnya saat sudah sampai di rumah yang ia tuju.
"Walaikumsalam ... " terdengar salam jawaban dari dalam rumah. Tak lama, muncul seorang lelaki paruh baya memakai sarung dan peci.
"Oh, kamu, Man. Masuk sini!" ajaknya saat melihat Rusman berdiri di ambang pintu.
"Gak usah, Wak. Saya ke sini mau minta singkong, Uwak. Boleh tidak, Wak?" ucapnya sungkan.
"Oh, singkong? Boleh, ambil saja. Itu yang di belakang yang udah layak makan, sok atuh, ambil saja!" sahut sang pemilik kebun singkong.
"Alhamdulillah, terimakasih, Wak!"
"Hayuk, Uwak temanin. Kamu ada bawa cangkul tidak? Kalau tidak, itu di belakang ada cangkul." tunjuk Harjo ke arah dalam rumahnya.
Rusman segera mengekor pemilik rumah untuk ke halaman belakang rumah itu. Rumah sederhana yang memang di kelilingi oleh kebun singkong. Ada juga aneka sayur mayur ditanam oleh pemilik rumah itu.
Dengan bantuan sang pemilik rumah, Rusman berhasil mencabut dua pohon singkong yang berbuah cukup banyak. Ia berpikir bisa ia makan sampai esok hari.
"Wah, banyak isinya, Wak!" kagum Rusman melihat isi pohon singkong yang ia cabut itu.
"Iya, alhamdulillah. Ini singkong mentega, warnanya kuning dan pulen kalau direbus, Man. Sok atuh, masukin karung semua!"
"Semua, Wak?"
"Iyalah, bawa saja semua."
Rusman gegas memasukkan singkong ke dalam karung bekas wadah beras itu, dengan senyum mengembang menghiasi wajah lelahnya.
Setelahnya, ia bergegas kembali pulang setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih pada pemilik kebun. Bahkan, Harjo berpesan jika sewaktu-waktu Rusman membutuhkan singkong untuk mengambilnya tanpa sungkan. Bahkan, saat dia tak di rumah sekalipun.
"Dek, ini singkongnya." ucap Rusman dengan suara agak keras sebab dirinya langsung menuju dapur melalui pintu belakang sedangkan sang istri ada di kamar paling depan.
"Iya, Bang!" teriak Yuni menyahut, lalu bergegas menyusul suaminya di belakang.
"Kamu bikin apinya saja, Dek, biar ini Abang yang kupas!" titah Rusman, Yuni mengangguk setuju. Lalu ia bersiap duduk di depan tungku untuk membuat apinya.
***
"Dek, maafkan Abang yang hari ini pulang tidak bawa uang. Kata Pak Amir, kerja hari ini akan dibayar besok sekalian." ujar Rusman mengusap punggung Yuni saat keduanya tengah duduk di depan tungku api menunggu singkong matang.
"Iya, gak papa, Bang. Mau gimana lagi?" sahutnya menanggapi.
"Abang benar-benar minta maaf, Dek," lanjut Rusman penuh sesal melihat raut sendu sang istri. Yuni hanya tersenyum saja menanggapi.
Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Bahkan, untuk sekedar berdebatpun ia sudah tak ada tenaga lagi.
Sejak Rusman diberhentikan secara tiba-tiba dari pabrik roti tempatnya mengais rejeki dulu, kehidupan mereka benar-benar berubah drastis. Terlebih, usai Bu Rusni -mertua Yuni- jatuh sakit. Hampir semua tabungan mereka habis untuk biaya perawatan sang ibu. Dan sisanya, hanya cukup untuk biaya hidup sederhana mereka selama 2 minggu saja.
Rusman bekerja sebagai buruh serabutan dikarenakan usia yang tak lagi muda untuk melamar pekerjaan di pabrik-pabrik. Terkadang dia menjadi kuli panggul di pasar, terkadang menjadi buruh petik kelapa, kadang membersihkan kandang ternak tetangga dan apa saja yang menghasilkan uang dia lakoni asalkan halal.
Sedangkan, Yuni bekerja sebagai buruh di pabrik teh dengan gaji bulanan yang tak seberapa, sebab ia harus menanggung cicilan di Bank yang mereka pakai untuk biaya sekolah kedua anak mereka.
Anak pertama mereka kini tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas negeri karena mendapat beasiswa prestasi. Dan anak kedua mereka masih duduk di bangku SMA. Keduanya masih sama-sama membutuhkan biaya besar sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk berleha-leha.
"Assalamualaikum ... " terdengar salam dari luar dan sontak mereka menjawab serentak.
"Walaikumsalam ... "
"Loh, Neng, kok sudah pulang?" tanya Rusman pada Santi, anak keduanya yang masih kelas 2 SMA.
"Iya, Pak. Para guru ada rapat dadakan katanya," sahut Santi sembari mencium punggung tangan orang tuanya.
"Ibu masak apa?" tanyanya melihat ke arah tungku api.
"Singkong, Neng. Sana ganti baju dulu, terus sholat dulu, ya!" titah Yuni pada anak gadisnya.
"Santi lagi enggak sholat, Bu, lagi halangan." sahut Santi lagi.
"Yasudah, ganti bajunya. Nanti kotor,"
Santi gegas berlalu ke kamarnya, kamar berukuran 3x3 yang terletak di sebelah kanan ruang tamu kecil keluarga mereka. Ia begitu maklum dengan keadaan ekonomi keluarga mereka yang jauh dari kata layak. Pernah dia meminta pada orang tuanya untuk berhenti sekolah dan ingin ikut bekerja saja agar bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Tetapi dengan tegas Rusman menolak, begitupun Adji, kakaknya yang sekarang tengah menempuh pendidikan di kota.
"Neng, singkongnya udah mateng ini!" panggil Yuni pada putri bungsunya.
"Iya, Bu!"
Gegas Santi berganti pakaian lalu keluar dari kamarnya dan bergabung dengan ibu bapaknya untuk menikmati singkong yang masih mengebulkan asap sebagai pengisi perut hari ini.
"Neng, si Aa' ada telepon tidak?" tanya Rusman sambil mengunyah singkong.
"Ada, Pak, tadi pagi. Katanya, sekarang si Aa' teh kuliah nyambi kerja gitu." jelas Santi pada orang tuanya.
"Iya?" tanya Yuni memastikan.
"Iya, katanya besok lusa mau pulang pas libur."
"Alhamdulillah kalau begitu, Neng. Ibu sudah kangen sama si Aa'." ujar Yuni dengan mata berbinar merindukan sosok anak sulungnya.
Hari berganti begitu cepat, hari ini hari Jumat dimana sang anak sulung akan pulang dari kota.
"Bang, uang yang kemarin sudah habis buat beli kebutuhan kita. Yang dari Yu Hamidah sudah dikasih belum uangnya? Soalnya berasnya habis, Bang. Mana si Aa nanti pulang, kan kasihan kalau dia pulang enggak ada apapun." ucap Yuni pelan pada suaminya.
"Kata Yu Hamidah sih katanya nanti sekalian kalau sudah selesai kerjaan, Abang. Palingan besok, Dek. Beras saja yang habis? Bumbu dapur gimana? Masih?"
"Bumbu dapur masih ada, Bang. Beras saja."
"Kalau gitu, coba nanti Abang ke rumah Emak ya, pinjam beras dulu lusa kita ganti. Gimana?" usul Rusman, Yuni diam sejenak memikirkan konsekuensinya berurusan dengan mertuanya.
Siapa yang tak kenal Bu Rusni di kampung itu, mertua Yuni ini orangnya pelit bukan main. Tak hanya pada orang lain, pada anaknya sendiri saja ia begitu perhitungan. Padahal, waktu Bu Rusni sakit, merekalah yang merawat. Makanya, Yuni sangat enggan berurusan dengan mertuanya itu. Disamping pelit, mulutnya lemes dan beracun, tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Tetapi dia tak punya pilihan lain, daripada anak sulungnya pulang dan tidak ada apapun untuk dimakan. Padahal, anak sulungnya itu pulang sebulan sekali.
"Tapi, Bang--" Yuni nampak ragu menerima usulan suaminya.
"Kamu tenang saja, biar Abang yang bujuk Emak. Semoga, Emak sedang khilaf hari ini." hibur Rusman menenangkan sang istri.
Akhirnya mau tak mau Yuni mengangguk juga. Tak ada pilihan lain selain datang pada mertuanya untuk meminjam beras, sebab ia sudah terlalu malu jika harus datang ke tetangganya dan juga ia tak mau berhutang di warung.
Siang itu Rusman bergegas ke rumah ibunya, dengan debaran di dada ia beranikan diri untuk datang ke sana. Rumah mereka masih satu kampung hanya beda RT saja. Jadilah bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Siang nan terik tak menyurutkan langkah kakinya menuju rumah besar ibunya.
"Assalamualaikum ... " salamnya saat sudah sampai di teras rumah ibunya.
"Walaikumsalam ... " terdengar salam balasan dari dalam dan Rusman tahu itu suara ibunya.
Tak lama, wanita sepuh bertubuh gempal itu keluar. Raut wajahnya tak bersahabat kala melihat anak keduanya ada di ambang pintu rumahnya.
"Tumben datang, Man?" ketusnya. Rusman segera menyalimi ibunya itu dengan takzim.
"Iya, Mak. Emak sehat?" tanyanya basa-basi.
"Ada apa?" todongnya langsung tanpa mengindahkan pertanyaan Rusman. Bahkan tak mempersilahkan anaknya itu masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Em, begini, Mak. Rusman mau pinjam beras dulu 1 kg saja, lusa Rusman ganti." dengan segenap keberanian Rusman berucap.
Senyum meremehkan terbit dari bibir wanita sepuh itu.
"Kamu itu, Man-Man, datang ke sini kalau cuma ada maunya. Memangnya istrimu itu gak ada uang sekedar beli beras?" ketus Bu Rusni lalu menjatuhkan diri di kursi teras. Mau tak mau Rusman mengikutinya duduk di sebelah Bu Rusni.
"Uang Yuni sudah dipakai buat bayar cicilan Bank, Mak. Emak, kan tahu sendiri cicilan kami banyak. Sedangkan Rusman belum dibayar sama Yu Hamidah." jelas Rusman.
"Kamu sih, bebal, Man. Coba kamu menikah sama Rusminah, sudah enak hidupmu. Sawah luas di mana-mana, punya toko grosir besar di kelurahan ini. Terjamin hidupmu, tapi kamu malah milih si Yuni itu. Jadi begini, kan, hidupmu."
"Mak--"
"Apa? Masih mau membela wanita miskin itu? Kalian juga, bodoh! Sudah tahu miskin, pakai gaya-gayaan sekolahin anak sampai kuliah di kota. Kalian pikir, kuliah gak pakai uang? Kalau sudah begini, datang juga ke Emak. Halah, Man-Man, bodoh jangan dipelihara terus." ocehnya panjang dengan nada suara ketus membuat Rusman menunduk saja.
Padahal, waktu Bu Rusni sakit, merekalah yang merawat sekaligus yang mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakitnya. Namun, lagi-lagi kata 'bakti' sebagai kata keramat yang terucap dari mulut wanita sepuh itu. Yang membuat Rusman maupun Yuni diam tak berkutik dan pasrah saja dengan makian darinya.
Hinaan serta makian kerap singgah kepada Yuni sebab dirinya berasal dari keluarga miskin yang beruntung karena dipilih Rusman sebagai istri.
"Emak ada atau tidak? Kalau tidak ada, Rusman pinjam Wak Suli saja. Tidak perlu mengungkit masa lalu, toh, sekarang kami memang sedang berjuang agar Adji dan Santi tidak bernasib sama seperti ibu bapaknya. Maaf kalau sudah menggangu waktu Emak." putus Rusman menyerah. Lalu ia bangkit dari duduknya.
Saat kakinya menapaki tanah halaman kembali suara ibunya terdengar.
"Tunggu di sini!" ketusnya lalu membawa diri masuk ke dalam.
Tak seberapa lama ia keluar dengan membawa kantong kresek berisi beras yang diminta Rusman tadi.
"Nih! Bilang ke istri miskinmu itu, tidak perlu lagi menyuruhmu datang padaku minta-minta, kayak pengemis saja!" omelnya.
Hati Rusman terluka, dikatakan pengemis oleh ibunya sendiri. Ingin ia tolak beras itu tetapi ia butuh demi anak sulungnya yang dalam hitungan jam ke depan akan pulang.
Demi anak sulungnya, ia kalahkan harga dirinya sendiri. Dengan tangan gemetar dan mata berkabut ia terima juga beras itu untuk ia bawa pulang. Entah salah apa dirinya sampai sang ibu begitu tega padanya.
Bahkan, ia sangat menyadari jika perlakuan ibunya jauh berbeda dengan kakak dan adiknya. Kakaknya begitu dimanjakan, bahkan tak segan menjual sawah demi membelikan rumah kala kakaknya baru saja menikah dengan anak seorang mantan kepala desa.
Begitupun untuk sang adik, juga tak segan-segan menggelontorkan uang banyak untuk membuatkan toko dan apapun yang diminta adiknya itu, padahal mereka sama-sama sudah berkeluarga. Sedangkan untuk dirinya, meminjam beras 1 kg saja harus dimaki dan dihina lebih dulu.
Tanpa terasa, air matanya mengalir sepanjang jalan menuju rumah sederhananya. Namun, segera ia hapus begitu rumahnya terlihat agar sang istri tak curiga.
Mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah, nampak sang istri sudah bersiap dengan seragam kerjanya. Karena kebetulan dia mendapat shift siang.
"Gimana, Bang?" sambut Yuni penuh harap. Rusman tak menjawab melainkan mengangkat kantung yang ia bawa.
"Alhamdulillah ... " girang Yuni lantas dengan semangat menerima kantung beras itu untuk segera ia masak sebelum ia berangkat kerja.
Diikuti Rusman dibelakangnya, ia segera mengambil wadah untuk mencuci beras itu. Namun, saat kantong kresek itu dia buka, seketika dia menangis tanpa suara, menatap isi kantong dengan tatapan nanar. Pun dengan Rusman yang memerah wajahnya, ia mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya.
"Astaghfirullahhalazim ... Tega sekali Emak!"
bersambung ...
Restu “Ma,” panggil Arlan sambil memeluk wanita yang sudah membesarkannya. Keduanya berpelukan semakin erat, melepas rindu setelah Arlan pergi hampir dua bulan lamanya dari rumah itu. Nadia masih menggandeng tangan Kenan yang mengangkat kepala, menatap Arlan dan calon neneknya mengharu biru. Mereka duduk bersama, Arlan dan Nadia juga diperkenalkan dengan calon suami Lisa. “Mama senang, Arlan mau mengerti dan memaafkan Mama.” “Arlan … minta maaf, Ma. Ini semua—“ “Mama paham, Lan,” selanya. “Kita makan siang, yuk. Mama masak sup buntut sapi kesukaan kamu. Nadia, bisa bantu Mama siapkan?” “Iya, Ma, bisa.” Nadia beranjak, walau ada pembantu, tetapi wanita itu ingin Nadia ikut serta menyiapkan, bukan tanpa alasan, ia mau dekat dengan calon menantunya yang sudah ia kenal sejak kecil—semenjak keluarga besar tau jika Nadia anak Arkana. “Ma, apa Mama nggak masalah kalau nanti pernikahana kami dilakukan di rumah orang tua Nadia?” ujarnya sambil menata piring. “Iya, sayang, kenapa harus d
Arlan mondar mandir berjalan di ruang tengah rumah Nadia, bahkan hal itu membuat Kenan terus menatap calon papa sambungnya dengan heran. "Papa, kenapa dari tadi mondar mandir?" tanyanya sambil mewarnai buku gambar. "Nggak apa-apa, Nan. Udah selesai PRnya?" Arlan mendekat, duduk sembari mengusap kepala Kenan penuh kasih sayang. Arlan begitu menyayangi Kenan, benar-benar seperti darah dagingnya sendiri. Nadia berjalan dari arah tangga, ia sudah selesai membersihkan diri. Pekerjaan di butik membuatnya harus pulang jam 8 malam. "Nan, PRnya udah selesai?" Nadia duduk di sebelah Arlan."Sedikit lagi, Ma," jawab Kenan yang masih fokus mewarnai ikan paus. "Setelah selesai tidur, ya," pesan Nadia. "Oke." Kenan mengacungkan ibu jari. Nadia bersandar manja pada bahu kekar Arlan, lalu mengendus bahu tunangannya. "Wangi," bisik Nadia. Arlan menoleh, tersenyum. Ia tadi menjemput Nadia setelah dari kosan, naik ojek online sampai ke butik. Dari butik baru lah ia yang mengemudikan mobil Nadia. "
Arlan belum mendapatkan pekerjaan, semenjak meninggalkan semua yang sebelumnya dimiliki, ia kini tinggal di kosan sederhana sambil terus mengirim lamaran kerja. Ponselnya berbunyi, satu pesan singkat membuatnya mengalihkan pandangan dari laptop hasil dipinjamkan Nadia. Setelah pergi, Arlan bahkan membuka rekening baru untuk mulai menyimpan uangnya. Tetapi kenyataannya ia meminjam uang Nadia untuk mulai hidup barunya. Arlan berdecak, tak mau menggubris pesan singkat itu. Fokusnya kembali menatap laptop, kepintarannya tidak selalu mudah mencari pekerjaan, walau banyak orang menganggapnya begitu. Menjelang siang, Arlan menjemput Kenan, bocah itu tampak senang, bahkan melompat memeluk Arlan yang berjongkok. "Papa nggak kerja?" Pertanyaan polos terucap. Arlan mengusap kepala Kenan lembut. "Libur. Eh, Nan, kita pulang naik buwsay, yuk, seru pasti," ajaknya. "Sama Mama boleh?" Kening Kenan berkerut, seumur-umur, ia bahkan belum pernah naik motor dibonceng siapapun, apalagi busway. "Bo
Acara lamaran dilaksanakan di salah satu restoran favorit Arkana. Nadia yang booking sejak seminggu lalu. Ia dan Kenan tampak rapi dengan busana formal, bahkan Kenan meminta memakai kemeja dengan dasi kupu-kupu. Menggemaskan. Keluarga Nadia sudah hadir, menunggu kedatangan Arlan beserta mama dan keluarga inti lainnya. Risa tersenyum saat melihat putrinya cantik juga dewasa. Tak salah memilih Arlan untuk dijadikan suami. "Nadia, jangan gugup," kata Risa. "Nggak, Bun ... Nadia cuma nggak nyangka kalau sekarang bisa ada diposisi ini dan udah ada Kenan," seloroh Nadia mencoba tampak tenang. "Arlan itu anak baik. Jadi dia pasti nggak akan bikin kamu kecewa." Arkana menyahut. Nadia mengangguk. Keluarga lainnya yang hadir hanya kakak tertua Arkana, karena kedua orang tuanya sudah tidak ada, jadilah sulung dari keluarga yang mewakilkan. Dua saudara kandung Arkana lainnya berhalangan hadir. Menit berganti jam, Nadia mulai gelisah karena Arlan tidak menjawab teleponnya juga membalas chat.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu