공유

Peluh

작가: Falisha Ashia
last update 게시일: 2025-09-16 16:12:00

“Nggak, ini… istri temanku. Aku cuma mau tahu aja gimana perasaan suaminya itu,” kataku, terbata.

Haris menyipitkan mata, menatapku lekat-lekat seperti sedang membaca isi kepalaku. “Tapi kenapa kamu sangat ingin tahu, Rey? Kamu ngomongnya itu, kayak kamu pemeran utamanya.”

Aku tercekat. Tangan gemetaran, keringat dingin mulai membasahi pelipis. Aku paksa bibirku tersenyum, walau jelas terlihat kaku. “Nggak, aku cuma penasaran aja. Menarik gitu lho… gimana rasanya seorang suami menghadapi situasi begitu. Lagian… aku juga membayangkan, kalau… kalau itu terjadi ke istriku…” Suaraku makin mengecil, nyaris hilang.

Aku buru-buru menunduk, pura-pura merapikan baju kerja. Jantungku berdetak keras, seolah bisa terdengar orang di sekitarku. Ada rasa takut ketahuan, tapi juga rasa bersalah karena barusan aku tanpa sadar mengakui kalau aku pernah membayangkannya.

Haris tersenyum miring, lalu menepuk bahuku pelan. “Rey, jangan dibayangin. Nanti kamu bisa gila sendiri. Istrimu itu nggak akan pernah begitu. Kalau kamu paksa atau nekat, yang ada kalian malah bertengkar. Percaya deh.”

Aku ikut tersenyum, walau hambar. “Iya, aku ngerti.”

Tapi pikiranku jelas tidak di situ. Kata-kata Haris tak cukup menghentikan imajinasi yang terus menari di kepalaku. Wajah Amanda, suara desahannya, bahkan bayangan tubuhnya dengan pria lain—semua berputar tanpa henti. Aku ingin berhenti memikirkan itu, tapi semakin kucoba, justru semakin nyata.

Haris berdiri, siap pergi. Namun baru dua langkah, dia berhenti lagi dan berbalik. Tatapannya penuh rahasia, lalu ia menunduk mendekat ke telingaku.

“Kamu nggak usah jauh-jauh ke temanku. Kalau emang ingin tahu, coba cari tahu dari Bu Livia.” Suaranya pelan tapi tajam. “Banyak yang bilang kalau dia itu… suka sama laki-laki dan perempuan. Kalau beruntung, kamu bisa dapat cerita langsung darinya.”

Aku tersentak. “Apa? Bu Livia?!” suaraku hampir meninggi.

Livia adalah manajer hotel ini. Atasan langsungku. Seorang wanita yang dikenal disiplin, tegas, dan karismatik. Mendengar gosip seperti itu tentangnya membuatku nyaris tak percaya.

“Jangan bercanda, Haris. Itu nggak lucu. Kalau aku beneran nanya hal begitu ke dia, dan dia marah, aku bisa langsung dipecat.”

Haris mengangkat tangan, seolah membela diri. “Aku cuma bilang apa yang aku dengar. Bukan cuma satu orang, Rey. Ada beberapa yang bisik-bisik soal itu. Aku sih nggak peduli, yang penting kerjaan aman. Tapi kalau kamu kepo, ya silakan cari tahu sendiri. Tanggung resikonya. Kalau nggak siap, ya udah, pura-pura aja nggak pernah tahu.”

Selesai berkata begitu, Haris pergi begitu saja, meninggalkanku yang masih terpaku.

Aku terdiam, pikiranku kacau. Kata-katanya terus bergema di kepalaku. Bu Livia… suka dengan laki-laki dan perempuan? Benarkah? Atau hanya gosip murahan yang menyebar di kalangan karyawan?

Sepanjang hari, aku bekerja dengan pikiran melayang-layang. Tugas yang seharusnya mudah jadi terasa berantakan. Aku beberapa kali ditegur supervisor karena tidak fokus.

Saat berjalan melewati lantai kantor manajemen, aku berhenti tepat di depan ruangan Bu Livia. Pintu ruangannya tertutup rapat. Aku menoleh sekali, lalu buru-buru memalingkan wajah, mencoba menepis rasa penasaran.

Namun, kata-kata Haris muncul lagi, berulang-ulang: “Kamu bisa mulai dari Bu Livia…”

Aku menelan ludah. Kenapa aku jadi penasaran setengah mati begini?

Tiba-tiba

KLEK!

Pintu ruangan itu terbuka dari dalam. Aku kaget, berusaha berlari menjauh.

“Rey!” suara itu jelas, tegas, tapi sekaligus membuatku kaku di tempat.

Aku menoleh cepat. Bu Livia berdiri di ambang pintu, menatapku langsung.

“A-ada apa, Bu?” tanyaku, gugup. Suaraku parau, dan aku yakin ekspresiku terlihat seperti anak kecil ketahuan mencuri permen. Aku takut dia menyadari kalau barusan aku berdiri memperhatikan ruangannya.

Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah penampilannya. Rambutnya agak berantakan, wajahnya basah keringat. Kemeja putih yang ia kenakan terbuka di bagian atas, dua kancing terlepas. Leher jenjangnya terlihat jelas, dan kulit di balik kemeja tampak licin karena peluh.

Sejenak aku terpaku, tidak bisa memalingkan pandangan.

“Rey.” Suaranya memanggil lagi, kali ini lebih lembut. “Tolong bantu saya mengambil berkas-berkas di atas lemari. Tingginya kelewatan, saya nggak bisa jangkau.”

“Oh iya, Bu.” Aku langsung masuk, menaruh nampan ke meja, lalu menuju lemari yang ia maksud.

Sambil berdiri di belakangku, Livia mengibas-ngibaskan kerah kemejanya, menariknya agar udara masuk. Aku mendengar napasnya berat, seolah baru saja selesai olahraga.

“Gerah banget, dari tadi nggak bisa konsen kerja,” katanya. Tangannya menarik kemeja, membuat bagian dadanya semakin terbuka. Dua bukit besar itu jelas terlihat samar dari sudut mataku, berkilau sedikit oleh keringat.

Aku menahan napas. Jari-jariku gemetar saat meraih berkas di atas lemari. Tapi yang membuatku semakin panik adalah saat aku menurunkan berkas itu dan tanpa sengaja menatap wajahnya.

Livia sedang menatapku balik. Matanya tajam, tapi penuh tanda tanya. Bibirnya terangkat samar, entah senyum atau ejekan.

“Apa yang kamu lihat, Rey?” tanyanya pelan, tapi menusuk.

Aku tercekat. Tenggorokanku kering. Rasanya semua darah di tubuhku mengalir deras ke wajah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Juniar silondae
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Elmon Sanam
...️...️...️...️ lanjutkan kak
goodnovel comment avatar
chia bahir
hhhhmmmmm ............
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Napas Terakhir (TAMAT)

    Darah hitam kental yang menyembur dari mulutku membasahi dada dan seprai putih, menebarkan aroma karat logam yang tajam ke seluruh penjuru kamar.Setiap kali aku mencoba meraup udara, paru-paruku serasa diiris oleh ribuan beling kaca. Qi Deviation yang kupicu karena ledakan amarah, kecemburuan, dan rasa putus asa yang ekstrem telah menghancurkan organ vitalku hingga tak tersisa. Jantungku berdetak tak beraturan, semakin lama semakin melambat.Di detik-detik terakhir yang menyiksa ini, rasa sakit di tubuhku tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa sakit yang mengoyak jiwaku.Mataku yang melotot tak bisa berkedip, dipaksa menjadi saksi bisu kehancuran duniaku. Di sofa sana, Lucas menatapku dengan mata merah Crimson-nya. Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun belas kasihan, apalagi rasa duka seorang ayah. Baginya, aku hanyalah seekor anjing peliharaan yang sudah habis masa pakainya.Dan di pelukan iblis itu... Amanda dan Livia.Istri-istriku yang selalu kupuja sebagai dewi yang suci, kin

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Tirai Yang Terbuka

    Malam merangkak semakin larut. Rasa haus yang menyengat tenggorokan dan denyut nyeri dari tulang belakangku memaksaku menarik kesadaran dari pengaruh obat penenang.Aku membuka mata perlahan. Kamar utama kediaman Surya ini hanya diterangi oleh temaram cahaya rembulan yang menyusup dari balik celah gorden balkon. Sepi. Setidaknya, itulah yang kuinginkan.Namun, indra pendengaranku yang masih tajam sebagai seorang kultivator menangkap suara-suara ganjil. Suara desahan napas yang tertahan, decakan basah, dan rintihan pelan yang sangat kukenal.Aku memutar leherku yang kaku ke arah sumber suara. Tepat di sudut ruangan yang remang, di atas sofa kulit panjang yang hanya berjarak lima meter dari ranjang pesakitanku, bayangan tiga sosok manusia saling melilit.Jantungku berhenti berdetak selama satu detik penuh.Mataku membelalak, mencoba menembus kegelapan, meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah halusinasi akibat obat atau sisa ilusi dari serangan Frost Qi. Namun, cahaya bulan tiba-tiba menyin

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Wasiat Rey

    Bau obat-obatan dan dupa herbal memenuhi udara kamar tidur utama di kediaman keluarga Surya.Aku membuka mataku dengan susah payah. Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit berukir bergaya klasik yang tampak kabur.Aku mencoba menggerakkan tanganku, namun rasa sakit yang luar biasa menusuk dari dadaku, menjalar ke seluruh tulang belakangku bak ribuan jarum es yang ditusukkan ke dalam sumsum tulang."Ugh..." Aku mengerang tertahan. Tubuhku dari dada ke bawah mati rasa. Sepenuhnya lumpuh. Frost Qi milik monster dari Utara itu telah menghancurkan seluruh meridianku."Rey? Kau sudah sadar, Sayang?"Suara lembut Amanda terdengar di telingaku. Wajah cantiknya yang sembab karena menangis muncul di atas pandanganku.Di sebelahnya, Livia berdiri dengan mata yang tak kalah merah, menggigit bibirnya dengan tatapan yang sulit kuartikan.Aku memutar bola mataku perlahan. Di sudut ruangan, Papa Surya dan Mama Lydia berdiri dengan raut wajah tegang. Papa Surya terlihat pucat pasi, bisnis dan ny

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Kedatangan Lucas

    POV LiviaDinding es yang mengurungku memancarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, hawa dingin itu tidak sebanding dengan rasa putus asa yang membekukan hatiku saat melihat Rey kini merangkak di atas lantai marmer dengan mulut bersimbah darah."Rey..." isakku tertahan, memukul-mukul dinding es gaib itu dengan kedua tangan telanjangku.Pemuda berjubah putih itu tertawa meremehkan. Ia melangkah perlahan mengabaikan Rey yang sekarat, berjalan mendekat ke arah kurungan eskuMata pemuda itu menatapku dengan kilatan lapar yang menjijikkan, mengulitiku dari atas ke bawah seolah aku adalah hidangan penutup yang siap disantap."Berhentilah menangis untuk pecundang itu, Janda Cantik," ucap Tuan Muda dari Sekte Pedang Awan Putih. Ia mengangkat tangannya, bersiap menghancurkan dinding es ini untuk meraihku. "Mulai hari ini, kau akan melayaniku. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana rasanya berada di bawah ranjang seorang kultivator sej—"Ucapan pemuda itu terputus.KRAAAK!

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Runtuhnya Kesombongan Rey

    POV ReyPagi di kediaman keluarga Surya terasa begitu sempurna. Matahari bersinar cerah, kicauan burung terdengar dari taman belakang, dan aroma teh chamomile yang diseduh oleh Nyonya Besarku menguar hangat di udara ruang makan.Amanda meletakkan cangkir teh porselen itu di hadapanku dengan gerakan yang luar biasa anggun.Sejak semalam, ia menjadi sangat penurut. Matanya terus menunduk setiap kali aku menatapnya, seolah ia sepenuhnya tunduk pada wibawaku. Tentu saja, aku mengira ini adalah efek dari dominasiku semalaman.Di seberang meja, Papa Surya sibuk membaca koran pagi, sesekali melempar senyum bangga padaku. Sementara Mama Lydia... wanita paruh baya itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatapku.Setiap kali mata kami tak sengaja berserobok, ia langsung membuang muka dengan pipi memerah dan tangan gemetar, teringat bagaimana aku memaksanya mencium ujung sepatuku semalam.‘Ah, betapa indahnya hidup ini,’ batinku, menyesap teh dengan perasaan menang. Aku adalah R

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Riak Di Langit Utara

    POV LucasUdara fajar di Verdansk selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi seorang kultivator di tingkat Setengah Langkah Immortal, suhu ekstrem ini tak lebih dari sekadar embusan angin lalu.Aku berdiri di balkon utama Mansion Verdansk, bertelanjang dada dengan jubah mandi sutra hitam yang dibiarkan terbuka.Di belakangku, di atas ranjang yang berantakan, Angeline tertidur pulas setelah sesi "hukuman" yang luar biasa panjang dan liar semalaman.Aku menyalakan cerutu Kuba di tanganku, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap tebalnya ke udara fajar. Mataku yang memancarkan pendar merah Crimson menatap lurus menembus kabut pagi, mengarah jauh ke tenggara. Ke arah Kota Lunaris.Melalui koneksi benang Qi yang kutanamkan pada boneka porselen itu, aku bisa merasakan semuanya. Aku bisa merasakan keputusasaan Amanda yang berdiri gemetar di depan cermin, dan aku juga bisa merasakan arogansi putraku yang meledak-ledak saat ia memeluk istrinya, mengira ia adalah penguas

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Membangunkan Singa

    Aku berhenti sebentar tepat di depan Radit, membiarkan dia melihat kematian di mataku. Pria itu terkejut, matanya melebar saat menyadari keberanianku. Namun, sebelum otak lambannya bisa memproses rasa takut itu, aku sudah bergerak.Aku melepaskan pukulan hook kiri yang cepat dan bertenaga, mengarah

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Membuka Baju Di Hadapanku

    Amanda menatapku lama, seolah ingin membaca isi kepalaku. Tatapan itu tajam tapi lembut, seperti pisau yang dibalut sutra.Dia mengangkat alis, lalu tersenyum samar. “Iya, Livia memang cantik,” katanya akhirnya. “Kenapa? Kamu menyukainya?”Aku menatapnya balik. “Ini bukan masalah suka atau nggak su

    last update최신 업데이트 : 2026-03-17
  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Ayah Sang Penyelamat

    Ayah menatapku. Tatapannya bukan tatapan kasihan, tapi tatapan baja seorang jenderal di medan perang. "Minggir sedikit, Rey. Tahan kepalanya. Jangan biarkan dia bergerak satu milimeter pun," perintah Ayah tegas. Aku menurut seketika, memegang kepala Amanda dengan kedua tangan yang gemetar, berusa

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Aku Datang

    "Tapi bagaimana kondisimu, Tuan Muda?" tanya Jonathan, matanya tertuju pada bekas suntikan infus di punggung tanganku yang kini berdarah dan membiru. Darah segar itu merembes, membentuk noda merah kecil di lengan kemejaku, tapi aku sama sekali tidak merasakan perih.Aku melirik ke arah ponselku yan

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status