MasukBeberapa menit kemudian, pembelian 20 unit mobil Porsche telah selesai. "Tuan Muda, semuanya sudah selesai. Jadi kita bisa mulai," ucap Emily, sambil duduk di pangkuan Erfan. Tangannya di lingkarkan di leher Erfan, sikapnya itu tampak sangat menggoda. Erfan melirik Inka yang masih duduk di sampingnya. "Apa kamu mau menonton?" tanya Erfan dengan nada main-main. Inka bangkit berdiri, raut wajahnya sedikit cemberut. "Tuan Muda, jangan lupa! Kalau Tuan Muda ke Kota Hua, Tuan Muda harus mengabariku," ucap Inka dengan tegas. "Hey, ini seperti aku yang punya hutang kepadanya. Padahal dia lah yang punya hutang tubuh kepadaku," gumam Erfan di dalam hati dengan nada heran. Pada akhirnya, Erfan mengangguk kepalanya sebagian jawaban. Inka menyunggingkan senyuman menggoda, sambil mengangkat rok mini nya dengan jarinya ke atas. Sampai, Erfan bisa melihat jelas, CD renda ungu yang di kenakan wanita itu. Karena CD itu sangat tipis, Erfan bisa melihat samar-samar belahan apem serta bentuk ape
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di dealer mobil. Erfan mengajak para wanita itu untuk masuk, namun mereka memilih tetap menunggu di dalam mobil, karena Bu Dita enggan ikut masuk. Pada akhirnya, Erfan masuk seorang diri ke dalam dealer tersebut. Sesampainya di dalam dealer, Erfan langsung disambut oleh dua sales wanita berpenampilan menarik. Namun, di antara mereka, dia tak melihat Sania ~ sales yang biasanya melayaninya. Kedua sales yang menghampiri Erfan tampak jelas sudah mengenalnya. "Selamat datang Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu," ucap sales wanita berambut coklat. "Saya ingin membeli mobil Porsche 20 unit, apa dealer ini biasa menyediakannya?" tanya Erfan tanpa basa basi. Mendengar itu, kedua sales itu mematung sejenak. Tak lama, mereka kembali sadar. "Apa Tuan Muda serius? Ingin membeli mobil Porsche sebanyak itu?" tanya sales berambut hitam bergelombang. "Tentu saja saya serius," balas Erfan dengan nada santai. Kedua sales itu saling menatap, tampak kilatan p
Terlihat, Erfan bersandar di sandaran tempat tidur. Sementara itu, Nyonya Gina bersandar di dadanya, sambil memeluknya."Nyonya, apa kamu puas?" goda Erfan."Gak perlu bertanya... aku bukan hanya puas, tapi sangat puas!" balas Nyonya Gina dengan suara pelan."Hehehe..." Erfan terkekeh."Nyonya mau pulang, atau menginap di sini?" tanya Erfan."Menginap saja! Kalau pulang, aku takut suamiku meminta jatah kepadaku," balas Nyonya Gina."Kenapa takut? Suamimu gak sekuat aku, hanya butuh waktu sebentar untuk melayaninya," ucap Erfan dengan nada main-main."Iya, kalau masalah itu emang gak masalah. Tapi, lihat vaginaku yang sudah di penuhi cairanmu," ucap Nyonya Gina sambil menunjuk apemnya yang tampak di lumuri cairan Erfan dan cairan Erfan masih mengalir keluar di sana."Walau aku membersihkannya, cairanmu tak akan hilang sepenuhnya. Kalau suamiku melihat sisa cairanmu, dia akan menyadari kalau aku sudah tidur dengan pria
Tak lama kemudian, Nyonya Gina kembali tenang. Dia bergerak ~ menyandarkan tubuhnya di dada Erfan, lalu menggerakkan tangannya ~ menggenggam batang besar pria itu."Tuan Muda... mau aku kulum, batang besar mu ini? Atau... mau langsung di masukkan ke vaginaku?" tanya Nyonya Gina dengan nada penuh godaan."Terserah kamu! Kalau kamu sudah gak tahan ingin aku tusuk vaginamu, ya... kita langsung saja," balas Erfan dengan nada main-main."Aku sudah gak tahan mau di tusuk sih... tapi aku mau memainkan batangmu sebentar," ucap Nyonya Gina sambil bergerak turun ke bawah, lalu memosisikan wajahnya di hadapan batang besar itu."Kalau gitu... silakan mainkan dulu," balas Erfan, sambil menyunggingkan seringai nakal. Nyonya Gina menjulurkan lidahnya ~ mulai menjilati batang besar itu."Ahhh.... ahhh..." Rasa nikmat bisa di rasakan Erfan, yang membuatnya secara refleks mengeluarkan suara desahan."Apakah enak, Tuan Muda?" tanya Nyonya
Di dalam kamar, Erfan tampak bersandar santai, sebatang rokok terselip di antara jemarinya, asapnya mengepul pelan mengisi udara. Sementara itu, Bu Susan memeluknya erat dari samping, sikapnya terlihat manja. Tubuh keduanya di banjiri keringat panas, serta bercak-bercak cairan cinta ~ melukis seprai di bawah mereka. Pemandangan tersebut, tampak sangat indah. Jika di pandang, pemandangan tersebut, tampak sangat menggairahkan. "Sayang, aku ngantuk..." ucap Bu Susan dengan suara pelan. "Ya sudah, kamu tidur saja!" balas Erfan, sambil mengelus kepala wanita itu. Bu Susan mengangguk pelan, lalu perlahan menutup matanya. Tak butuh waktu lama, napasnya berubah menjadi lembut dan teratur ~ tanda bahwa wanita itu telah terlelap dalam tidurnya. Erfan melepaskan pelukan wanita itu dari tubuhnya, lalu memosisikan wanita itu ~ agar tertidur dalam posisi yang benar. Tak lama kemudian, Erfan bangkit dari tempat tidur. dia meraih ponselnya
Setelah puas berbelanja, mereka pun beranjak meninggalkan keramaian dan menuju hotel yang telah ditentukan oleh rombongan untuk menginap malam ini.Sampai di hotel, Erfan seperti biasa menyewa kamar terbaik yang ada di hotel tersebut. Setelah itu, mereka pergi ke kamar.Kali ini, Cika tak ikut ke kamar Erfan dan Bu Susan, dia pergi ke kamar Bu Dita dan Sita.Sampai di dalam kamar, Bu Susan langsung menanggalkan pakaiannya."Aku mau mandi dulu!" ucap Bu Susan."Kamu sudah gak sabar, mau menghilang jejak pria tadi yah?" tanya Erfan dengan nada main-main."Apaan sih kamu!" ucap Bu Susan ketus, sambil melemparkan pakaian kepada Erfan.Erfan menangkap pakaian itu, sambil tertawa terbahak-bahak.Setelah semua pakaian terlepas, Bu Susan masuk ke dalam kamar mandi.Erfan tersenyum nakal, lalu dia dengan cepat melepaskan semua pakaian. Setelah itu, dia pun ikut masuk ke dalam kamar mandi.Bu Susan yang sedang membilas tubuhnya di bawah guyuran shower, seketika menoleh kepada Erfan yang melangk
Bu Resti datang ke vila melalui pintu belakang. dia tidak langsung masuk ke dalam vila, dia berdandan cantik dulu di luar vila. Setelah selesai dia masuk ke dalam vila. Bu Resti melihat Erfan yang sedang tiduran sambil bermain ponsel di sofa, langsung menghampiri nya. "Maaf lama tuan muda," ucap
Sampai di hotel, Erfan langsung memesan satu kamar vip disana. Sampai di kamar, Anne dengan ganas langsung mendorong Erfan ke tempat tidur.  "Sayang aku akan memakan mu!" ucap Anne dengan nada nakal. Dia naik ke atas tubuh Erfan dengan gerakan menggoda. "Ayo aku gak sabar di makan kamu!" ba
Bi Ayu menggelengkan kepalanya, "Dia malah senang, bahkan si loyo itu menyuruh Tesa untuk mendekati mu, siapa bisa nikah sama orang kaya," ucap Bi Ayu, sambil menggelengkan kepalanya. Erfan hanya menggelengkan kepalanya, ternyata suami Bi Ayu ini suka uang. "Oh iyah, aku punya hadiah untuk kal
"Ayo sayang!" ucap Serina, lalu menghembuskan nafas panas di telinga Erfan. Seketika Erfan tersadar, semburan kebahagiaan memenuhi hatinya. Dia langsung mengangkat Serina, dengan gaya bridal style, lalu membawanya kekamar pribadi miliknya. Sampai di kamar, Erfan meletakkan Serina di atas kasur d







