LOGINErfan membiarkan Bu Sumi menikmati puncaknya selama beberapa saat. Setelah wanita itu kembali tenang, barulah dia mengajaknya memulai ke permainan inti.
Bu Sumi tak keberatan, dia langsung membuka kakinya lebar-lebar."Ayo, Tuan Muda... Masukkan batang besar mu itu," ujar Bu Sumi dengan nada penuh godaan.Erfan tersenyum tipis, ekspresi wajahnya tampak nakal dan penuh nafsu."Kalau gitu... Aku gak sungkan!"Erfan berlutut di antara kaki wanita itErfan membiarkan Bu Sumi menikmati puncaknya selama beberapa saat. Setelah wanita itu kembali tenang, barulah dia mengajaknya memulai ke permainan inti.Bu Sumi tak keberatan, dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. "Ayo, Tuan Muda... Masukkan batang besar mu itu," ujar Bu Sumi dengan nada penuh godaan.Erfan tersenyum tipis, ekspresi wajahnya tampak nakal dan penuh nafsu."Kalau gitu... Aku gak sungkan!" Erfan berlutut di antara kaki wanita itu, lalu memosisikan batanya di lubang apem itu. Setelah posisi di rasa pas, dia mendorongnya masuk ke dalam apem itu."Ahhh..." Desahan merdu keluar dari mulut Bu Sumi, saat di merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam dirinya.Erfan memasukkan batangnya itu sampai mentok di dalam sana.Merasakan batang itu menabrak ujung terdalam apemnya, membuat Bu Sumi merasakan rasa nikmat yang tiada tara."Tuan Muda, batangmu... memang yang terbaik!" puji Bu Sum
"Aku kira, Bu Sumi gak ada di sini," ucap Erfan sambil tersenyum hangat. "Aku selalu ada, kok! Tadi aku sempat jalan-jalan, bosan kalau terus diam di rumah," balas Bu Sumi. "Tuan Muda sudah lama menunggu?" tanyanya lagi dengan nada sedikit canggung. "Enggak, kok. Aku juga baru saja sampai," jawab Erfan santai. Bu Sumi mengangguk pelan. Tanpa menanyakan alasan kedatangan Erfan, dia langsung mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Tanpa sungkan, Erfan pun melangkah masuk. "Bu, Suamimu... apa suamimu masih lama pulangnya?" tanya Erfan, sambil duduk di lantai. "Tenang saja. Dia pulang masih lama kok," balas Bu Sumi dengan nada menggoda, ekspresi wajahnya tampak nakal. Mendengar perkataan dan ekspresi wanita itu, Erfan merasa ~ kalau wanita ini sudah tahu maksud kedatangannya. "Apa kamu sudah tahu, apa niatku datang ke sini?" tanya Erfan dengan nada main-main. "Hihi...." Bu Sumi terkikik p
Ketika batang itu sudah berada tepat di lubang apemnya, Kak Gisel menurunkan tubuhnya secara perlahan. Terlihat, batang itu menerobos masuk ke dalam apem itu. "Ahhh...." desahan indah keluar dari mulut mereka. Setelah batang itu masuk sepenuhnya, Kak Gisel langsung memulai goyangannya. Rasa nikmat itu, bisa langsung di rasakan Erfan. "Ahh... enak! ternyata... kakak iparku ini... sangat terampil bermain di atas," ucap Erfan. Ekspresi wajah nya tampak sangat menikmati. Kak Gisel tersenyum tipis, ekspresi tampak sangat nakal. Dia meningkatkan intensitas goyangannya, agar Erfan semakin merasa nikmat. "Ahhh... enak banget! sial, kak... kamu begitu hebat!" racau Erfan. Dia tak pernah menyangka, jika kakak iparnya itu sangat pandai bergoyang. Keterampilan goyangannya, hanya sedikit di bawah keterampilan Jessy. Namun itu sudah cukup, membuat Erfan gila. "Ahhh... ahhh, nikmati
Erfan bangkit, lalu duduk di samping wanita itu, sambil melap wajahnya yang terkena cipratan cairan itu. Setelah itu wanita itu cukup menikmati puncaknya, dia langsung berjongkok di bawah Erfan. Tangannya menggenggam batang besar itu, dan mulai mengocoknya perlahan."Kamu ternyata sudah tahu, apa yang aku inginkan," ucap Erfan, sambil mengelus wajah wanita itu."Bagaimana mungkin aku gak tahu," balas Kak Gisel, lalu di mulai menjilati batang Erfan.Merasakan jilatan itu, Erfan langsung mengeluarkan desahan, karena jilatan itu terasa sangat nikmat."Emm... ahh, jilatanmu, ternyata sangat nikmat!" puji Erfan.Mendapatkan pujian itu, membuat Kak Gisel lebih bersemangat. Dia memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya ~ mulai mengulumnya.Rasa basah, geli, dan halus itu, bisa di rasakan Erfan. "Ahhh... enak! kulum lebih cepat!" pinta Erfan.Kak Gisel menaik turunkan kepala lebih cepat lagi, sesuai dengan apa yan
Erfan menelan ludah kasar, ketika melihat payudara besar wanita itu yang semakin terlihat jelas. Dia menggeser tubuhnya, agar semakin dekat dengan tubuh wanita itu. "Kamu, jangan berpura-pura gak mengerti!" ucap Erfan sambil melingkarkan satu tangannya di pinggang wanita itu, dan tangan yang lain menyentuh belahan dada wanita itu. Kak Gisel sedikit terkejut. Dia tak menyangka, Erfan akan seberani ini. Namun, bukannya marah dan melawan, sebaliknya dia menyunggingkan senyuman tipis, dengan ekspresi wajah yang tampak genit. "Kamu berani banget, yah!" ucap Kak Gisel. "Kenapa harus takut? di sini... hanya ada kita! kalau kamu mau teriak meminta tolong pun, gak akan ada yang dengar!" balas Erfan, sambil memasukkan tangannya ke dalam bra wanita itu. Merasakan sentuhan itu, membuat hasrat Kak Gisel meningkat dengan cepat. "Kalau aku menolak... apa kamu akan memaksaku?" tanya Kak Gisel dengan nada main-main, sambil melin
Keesokan paginya, Erfan pergi ke lokasi wisata, mengantar Kak Gisel. Sepanjang perjalanan itu, Erfan mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap Kak Gisel. Wanita itu tampak lebih berani dari biasanya ~ kata-katanya mulai diselipi godaan halus, sementara gerak tubuhnya seakan sengaja mempertegas maksud yang tersembunyi. Sikapnya yang dulu cenderung sopan kini berubah menjadi lebih terbuka, bahkan nyaris tanpa ragu mempermainkan suasana di antara mereka. Dari sikap seperti itu, Erfan bisa menebak, kalau wanita itu memiliki ketertarikan kepadanya. Jika itu benar, Erfan tak keberatan melayaninya. Lagipula, Kak Gisel tampak sangat cantik dan memiliki tubuh yang begitu menggoda. Pria nakal sepertinya, tentu tidak akan melewatkan hal baik seperti itu. "Erfan, wanitamu sangat banyak! kalau mereka meminta jatah bersamaan, apa kamu kuat?" tanya Kak Gisel dengan nada main-main. Mata indahnya itu menatap Erfan, terlintas cahaya panas di sorot matanya. "Tentu saja aku kuat! kalau gak
Erfan dan Bu Resti mendengar suara langkah kaki menuruni tangga, mereka langsung menghentikan permainan mereka, sambil menengok ke arah suara. Mereka melihat Serina yang sedang tersenyum nakal, ke arah mereka."Kenapa berhenti? lanjutkan saja!" ucap Serina, dengan nada santai."Eh...Bu Serina!" uca
Karena hari sudah cukup malam, Bu Resti pemit pulang ke rumahnya. Serina dan Anne membujuknya agar menginap di vila, tapi Bu Resti ingin mencari aman. Setelah Bu Resti pulang, Erfan dan ke dua wanitanya itu pergi ke kamar. === Pagi hari tiba. Terlihat di dalam kamar, Serina sedang bergoyang
Sampai di kota, Erfan melajukan mobilnya ke mall yang biasa dia kunjungi, tidak perlu waktu lama mareka pun sampai di mall."Ibu, Bapak, ayo masuk dulu! kita belanja, sekalian membeli hadiah buat sepupu Serina yang akan menikah," ucap Erfan, kepada orang tua Serina."Tuan muda, kami tidak biasa ke
Setelah puas mengobrol, Beberapa anggota keluarga Serina membawa kan makanan sederhana untuk makan mereka. "Tuan muda, maaf hanya ada makanan seperti ini!" ucap Ayah Lusi dengan sungkan. "Ini sudah lebih dari cukup paman, terimakasih," ucap Erfan dengan rendah hati. Serina seperti istri yang b






