LOGINMenit-menit pertama terasa sangat sesak dan menegangkan hingga tidak ada di antara kami yang bicara, hanya deru mesin dan deru napas yang saling berkejaran mengisi ruang kosong di dalam mobil ini.Baru setelah mobil Bara masuk ke jalan besar, ketegangan itu perlahan mulai mencair. Aku melirik Bara yang bahunya mulai turun, jari-jarinya yang sejak tadi mencengkeram setir dengan begitu kuat perlahan mengendur. Dia menghembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala sekilas ke sandaran jok sambil terus fokus mengemudi.Aku yang juga mulai tenang akhirnya bisa sedikit menggerakkan badan, memutar tubuh dan menoleh ke jendela belakang. Dari kejauhan, mansion Handoko yang megah masih berdiri terlihat, sesekali ada kilatan kecil dan gaung samar yang terdengar seperti petasan.Aku beralih menatap Bara.“Bara, orang-orang asing yang membuat keributan di gerbang depan tadi, apa mereka anak buahmu?” tanyaku jerih, menelan ludah dengan susah payah.“Iya, mereka anak buah yang diasuh langsung oleh
Pikiran itu menyeruak di kepalaku tanpa permisi hingga membuat perutku mual.Apa Bara akhirnya kehabisan kesabaran dan tidak mau menunggu hingga akhirnya mengambil tindakan nekat? Bagaimana kalau dia benar-benar menerobos masuk karena takut aku gagal melarikan diri?Tembakan tadi berasal dari siapa? Bagaimana kalau Bara sampai tertembak?Napasku memburu, tanganku mencengkeram dada kuat-kuat. Tanpa ku sadari kakiku sudah bergerak sendiri menuju arah keributan. Aku takut Bara kenapa-kenapa, jadi mau apa pun resikonya, aku harus memeriksa sendiri.Namun tepat sebelum aku melangkah lebih jauh, sebuah tangan menyambar lenganku dari samping.Aku nyaris menjerit, tapi telapak tangan orang itu langsung menutup mulutku. Tubuhku ditarik jatuh ke balik rimbun semak bunga yang tinggi. Ranting-ranting menggores lenganku, tapi rasa takut dan cemas mengalahkan segala rasa sakit yang ku rasakan saat ini.Punggungku menabrak dada yang keras dan hangat saat terduduk di rerumputan, aku mendongak.“Ssst…
Wajah pelayan laki-laki itu seketika berubah panik setelah mendengar ucapanku, “A-apa?” tanyanya dengan bergetar penuh rasa khawatir. “Lalu bagaimana kondisi Rena sekarang?”Aku menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu, tapi aku berharap dia baik-baik saja.”Pelayan itu tidak langsung menjawab, genggamannya di pergelangan tanganku justru semakin erat, ujung-ujung jarinya terasa dingin dan basah oleh keringat.“Nyonya, saya tidak bisa.” Suaranya terdengar begitu pelan bagai bisikan. “Kalau Nyonya lolos, apa yang akan terjadi pada Rena nanti? Tuan Seno pasti menganggap dia seorang pengkhianat.” Mata laki-laki itu melirik sekilas pada dua penjaga yang terus mencariku di antara banyak pelayan lainnya.“Rena adalah sahabat baik saya. Saya tidak mau mengorbankan dia demi siapa pun,” lanjut pelayan laki-laki itu dengan suara tercekat, jakunnya naik-turun.“Dengar, Bagas,” sahutku yang sempat membaca nametag di dadanya. “Melepaskanku adalah satu-satunya jalan untuk menolong Rena. Saat ini dia
“Uhuk! Uhuk!” Aku batuk beberapa kali, tidak perlu berakting lebih meyakinkan karena kondisiku yang memang sudah buruk.“Maaf Tuan jika saya terlihat tidak sopan, tapi saya sedang kurang sehat. Kalau berbalik dan terlalu dekat dengan Tuan, takutnya virusnya menyebar,” ucapku beralasan, Seno tidak mengatakan apapun selama beberapa detik.Keheningan yang membuat suasana semakin menegangkan.“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.“R-rena, Tuan,” jawabku gugup.“Kalau sedang sakit, istirahat saja. Jangan menyebar penyakitmu ke pelayan lain, nanti seisi rumah jadi repot.” Seno terdengar mendengus, kalimat itu jelas bukan bentuk perhatian melainkan hanya antisipasi.“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi.” Aku menunduk sekali lagi, bersiap mengambil langkah seribu menuju dapur, ketegangan ini benar-bener membuat perutku mual.Tapi suara ketukan sepatu hak tinggi tiba-tiba terdengar mendekat.“Lagi ngobrol sama siapa, Kak?” tanya Friska pada Seno, aku sempat meliriknya sebentar. Wanita itu meling
Aku tidak sanggup mengatakan apapun hingga bibirku bergetar, semua kata yang ingin ku sampaikan pada Rena tertahan di ujung tenggorokan. Perasaanku bercampur tidak karuan antara sedih, terharu, juga marah pada keadaan.Apa aku pantas mendapat pengorbanan seperti ini dari orang-orang terdekatku? Mau bagaimanapun, semua bencana yang membakar hampir semua orang ini berawal dariku yang memilih Seno sebagai suami.Aku harusnya ikut hancur dan terbakar bersama Seno, kan? Tapi kenapa…“Nyonya! Tidak ada waktu lagi, saya mohon bergeraklah.” Rena mau tidak mau menarikku yang terus diam di tempat, aku yang kembali sadar mengedipkan mata beberapa kali.“Rena, kamu yakin?” tanyaku untuk terakhir kalinya, lebih seperti meyakinkan diriku sendiri.“Saya lebih dari sekadar yakin, Nyonya, Saya siap.” Rena meraih tanganku yang sudah berdiri di sisi ranjang, lalu kami berjalan menuju sudut kamar mandi agar tidak terlihat oleh penjaga di luar.“Tuan Bara Askara sudah menunggu di gerbang, Nyonya bisa perg
Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”“Benar, Nyonya. Namanya terdengar tidak asing, saya pernah mendengar nama itu beberapa kali di berita dan majalah-majalah. Apa dia benar orang terdekat Anda? Saya yakin dia bukan orang biasa.” Aku mengangguk cepat, membenarkan.“Benar, dia memang orang terdekatku dan kamu tidak sedang kena telepon scam,” ucapku sambil menggenggam ujung selimut yang menutupi pangkuan, tanpa sadar meremasnya erat-erat. “Aku yang kasih nomor kamu ke dia beberapa hari yang lalu.”Rencana B.Aku memejamkan mata sejenak, menyerahkan







