Mag-log inSebagai seorang dokter muda yang cantik juga pintar, keseriusannya belajar ternyata berbanding terbalik dengan keseriusan Gina berkomitmen dengan pria, Novel ini menceritakan perjalanan hidup Gina, semenjak lulus kedokteran di tahun 2005 hingga tahun 2021 dimana pandemi covid mengharuskan para petugas kesehatan menjadi garda terdepan. Tuntutan bekerja menjalani Hippocratic Oath semenjak jadi dokter magang hingga jadi dokter bedah spesial di bawah bayang bayang nama besar ibunya. Akankah Gina akhirnya bertekuk lutut pada seorang pria? Bisakah dia menggantikan ibunya menjadi seorang dokter bedah ternama? _____ Note: (1)Agar lebih menarik, judul setiap bab adalah judul sebuah lagu dimana lagu tersebut akan menjadi tema cerita per bab. (2)Akan ada penjelasan di akhir bab untuk setiap istilah medis bertanda * ___ SELAMAT MEMBACA
view more“Gugurkan janin itu, Stella. Putraku menikahimu karena balas budi. Keluarga Anderson tidak ingin memiliki keturunan dari rahim seorang benalu. Kami bukan lembaga amal.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nyonya Anderson. Meski tanpa nada dan emosi tapi terlihat begitu dingin, hingga menyesakkan dada. Wanita tua itu bahkan tak sudi menoleh ke arah sang mantu. Begitu dalam kebencian di matanya. Sorot yang sama dengan wanita cantik di sebelahnya yang merupakan adik sang suami. “Mama benar, Kak!” sahut Jessica dengan nada halus. “Di mata kami, kamu hanya wanita penggoda yang melakukan apa pun demi uang. Di mana-mana, pelacur gak boleh sampai melahirkan. Apalagi, Kak Sean menikahi kamu cuma karena kasihan. ” Kedua tangan Stella bergetar hebat. Secara refleks, jemarinya yang dingin turun memeluk perutnya yang masih datar. Ada perih di hatinya. Bagaimana mungkin dia dipaksa harus membunuh darah dagingnya sendiri, di saat dia sendiri berharap bahwa anak itu adalah keajaiban untuknya agar keluarga Anderson menerima kehadirannya? “Tapi, Ma,” suara Stella terdengar pecah dan serak. Isak tangis menyumbat tenggorokannya hingga ia sulit bernapas. “Ini darah daging Sean, cucu Mama sendiri. Mohon berikan dia kesempatan untuk hidup.” Nyonya Anderson mendongak cepat. Tatapan matanya menusuk tajam, terlihat angkuh dan kejam. “Cucu? Jangan membuatku tertawa, Stella!” potong Nyonya Anderson dingin. Dia mendengkus pelan. “Justru karena itu darah daging Sean, makanya dia tidak boleh lahir dari perutmu. Jangan gunakan anak untuk menjerat Sean lebih jauh. Kamu sudah cukup menyanderanya dengan ayahmu, kan?” “Ma…” “Sudah aku katakan, jangan panggil aku mama kalau tidak ada Sean! Jijik aku mendengarnya. Gugurkan minggu ini, atau kuadukan kau menentang mertuamu pada Sean,” tegas Nyonya Anderson seraya berdiri dari duduknya. Stella diam menunduk sambil menyerap kata-kata itu, memegangi perutnya ketika mertua dan adik iparnya itu melenggang pergi. Ini bukan pertama kalinya Stella diperlakukan seperti ini. Selama dua tahun membina rumah tangga bersama Sean, dia kerap dibiarkan menyantap makanan sisa di dapur, dikucilkan dalam setiap acara keluarga, dicap sebagai wanita tak berguna, dan diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan rumah tangga. Bahkan, semua ini sudah dimulai sejak Stella pertama kali menjejakkan kakinya ke keluarga Anderson. Stella memang bukan berasal dari keluarga terpandang. Dulu, usaha keluarganya mengalami kebangkrutan akibat hutang yang menumpuk dan hal itu membuat mereka seketika jatuh miskin. Ayahnya yang merupakan satu-satunya keluarga, mengalami syok berat hingga terkena serangan jantung dan tak sadarkan diri. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan diputuskan bahwa ayah Stella harus dirawat intensif di ICU hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Stella sendiri adalah dokter, ia bekerja di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Tiap hari mengabdikan diri untuk mencari uang dan merawat ayahnya. Meski begitu, biaya perawatan itu tentu saja tidak murah. Sampai setahun kemudian, Stella bertemu lagi dengan Sean. Cinta lamanya di SMA. Pria itu datang dalam keadaan koma akibat kecelakaan maut yang dialaminya. Stella ditugaskan untuk merawatnya. Dan sejak itu, ia dengan setia mendampingi Sean. Setiap hari, Stella dengan telaten membersihkan tubuh pasien VIP tersebut, mengganti pakaiannya, melantunkan doa-doa kesembuhan, hingga membacakan cerita dan menyanyikan lagu untuk pria yang tak sadarkan diri itu. Ketulusan itu mengetuk hati Mariam Anderson, Nenek Sean. Merasa berhutang budi dengan Stella, ia akhirnya menikahkan Stella dengan Sean ketika cucunya itu sudah pulih. Nyonya besar itu bahkan berjanji akan membiayai perawatan ayah Stella jikalau wanita itu menyetujui perjodohan ini. Stella tentu saja menerima tawaran tersebut. Tapi, keputusan itu ditentang sepenuhnya oleh keluarga Anderson yang lain. Hanya karena Sean, sosok yang paling dihormati oleh keluarga Anderson, menyetujuinya, mereka akhirnya terpaksa untuk setuju juga. Maka tidak heran saat Sean tak melihat, mereka semua akan merundung Stella. Dan Stella selalu membiarkan dirinya menjadi objek perundungan. Dia bahkan tidak pernah mengeluh atau mengadu kepada Sean, karena tidak ingin menambah beban sang suami yang sudah menghidupinya itu. Namun dengan kejadian hari ini, Stella sadar dia tidak boleh lagi berdiam diri ketika keluarga dari ayah janinnya menuntut untuk melenyapkan buah hatinya sendiri. ‘Aku harus jujur ke Kak Sean. Aku tidak bisa membiarkan mereka berlaku semena-mena pada anak kami, meski mereka keluarga Kak Sean sendiri. Kak Sean pasti akan melakukan sesuatu soal ini,’ bisik Stella dalam hati penuh harap. Stella akhirnya bangkit berdiri setelah beberapa menit terdiam dalam kehampaan. Dengan langkah tertatih dan pandangan yang kabur oleh genangan air mata, Stella memutar tubuhnya. Dia menyusuri koridor sunyi di lantai dua menuju ruang kerja pribadi milik Sean. Biasanya, Stella tidak pernah berani datang ke ruangan itu kecuali atas permintaan sang suami. Ini pertama kalinya ia datang dengan inisiatif berbicara dengan sang suami. Tapi, saat jemari dinginnya hendak menyentuh gagang pintu, langkah Stella mendadak terhenti. Pintu itu sedikit terbuka, menyisakan celah sempit. Samar-samar, terdengar suara baritone bernada rendah, serak, dan begitu memikat milik suaminya. Sean sedang berbicara melalui panggilan pengeras suara dengan sahabat dekatnya, Sam. “Jujur, aku kasihan melihat istrimu, Sean,” suara Sam terdengar berat dari seberang panggilan. “Ibu dan adik-adikmu memperlakukannya jauh lebih buruk daripada seorang pembantu. Kamu gak nyangka, bukan?” Keheningan melingkupi lorong sejenak. Jantung Stella berdegup kencang tak beraturan. Bahkan, sahabat Sean yang hanya sesekali bertemu dengan anggota keluarga Anderson yang lain menangkap situasinya. Di dalam ruangan, Sean tampak berdiri membelakangi pintu. Postur tubuhnya yang jangkung, tegap, dan berotot dibalut kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Jemari tangannya yang kokoh dan berurat menyangga sebuah gelas kristal berisi wiski. Sebuah tawa pelan dan rendah, yang terdengar amat tampan namun memancarkan aura dominasi yang kuat meluncur dari bibir pria itu. “Kamu bertanya apakah aku tahu, Sam?” sahut Sean tenang. Dentingan halus es batu yang bersentuhan dengan dinding gelas kristal terdengar sangat jelas saat jemarinya memutar gelas itu dengan santai. “Tentu saja aku tahu.” Jantung Stella serasa berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh darah di tubuhnya membeku. “Serius kamu tahu?” tegur Sam dengan nada heran yang pekat. “Ya.” “Sean, kamu tahu dan kamu membiarkannya saja? Kamu tidak marah keluargamu memperlakukan perempuan yang berkorban untuk merawatmu sampai sembuh total saat koma seperti itu?” tanya Samuel. Sean menaruh gelas kristalnya ke atas meja marmer dengan gerakan perlahan namun teramat mantap. Setiap gerak-geriknya memancarkan pesona pria dewasa yang terbiasa mengendalikan segala hal di sekitarnya. “Aku sudah membalas pengabdiannya dengan memberikan status istri dan fasilitas keluarga Anderson. Dia sadar siapa yang memberikan support kepada keluarganya.” Sean memiringkan wajahnya sedikit, memperlihatkan sisi sampingnya yang sempurna dan teramat tampan, rahang tajam, hidung mancung, dan tatapan mata elang yang penuh kendali. Wajah yang sudah berhasil membuat Stella jatuh cinta. “Jadi, pengabdian pada keluargaku adalah harga yang memang pantas dia bayar untuk tetap tinggal di rumah ini. Dia tak pernah mengeluh, bukan? Artinya dia istri yang baik,” pungkas Sean datar. “Sudah selayaknya dia sadar diri dan tidak mengeluh.”Izzie terburu-buru pergi ke ruangan anak. Di tangga darurat dia bertemu dengan Alex. Izzie malu-malu saat bertemu Alex. Jelas sekali tampak dari wajahnya kalau dia memang sudah jatuh cinta pada Alex."Hei ... Hei tunggu," sapa Alex.Izzie berhenti dan berbalik "Apa?""Nih ada bulu mata di pipimu," suara Alex manja. "Ayo make A wish." Gurauan Alex berhasil membuat Izzie tertawa.Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan seorang perawat yang sering membantu Alex. Perilaku Alex yang manis tiba-tiba berubah menjadi arogan. Satu hal yang Izzie benci. "Hei, Perawat bodoh. Ada bau orang mati kamar 4125. Lakukan sesuatu sebelum dia membusuk," kata Alex dengan sinis. Izzie lalu berjalan menjauh melihat kelakuannya."Lihat? Itulah yg ingin aku katakan. Kenapa kamu begitu takut meperlihatkan pada orang bahwa kau juga manusia?" Gaby serta Merta menyela."Ingat saat dia memasang wallpaper di tempat itu de
Pagi itu, sebelum berangkat kerja Gina mengajak Cristina Jogging. Selama Jogging tak henti hentinya mereka saling mengumpat. "Oh. kamu bodoh. oh, Tuhan. Kamu seorang gadis jahat bodoh dan aku ingin membunuhmu," umpat Cristina sambil terus berlari.Gina langsung berkomentar. "Endorfin itu baik. Endorfin* adalah lift mood. Ini seharusnya membuat kitamerasa lebih baik. Oh, Tuhan. Apakah kamu merasa lebih baik?" Gina malah balik bertanya pada Cristina."Aku bodoh, nyonya slutty, wanita nakal hamil. Tidur dengan atasan kita.adalah ide yg bagus." Cristina langsung menghela nafas sambil membaringkan dirinya di rumput taman. Gina mengikutinya, dia rebah di sebelah Cristina. "Kamu tahu apa yang menghancurkanku?" kata Gina sambil sesekali mengatur nafasnya. "Kapal feri. Dulu aku suka kapal feri. Dan Daniel berhubungan dengan kapal feri. Sekarang setiap kali aku lihat kapal feri ..."Cristina tak mau kalah, dia ceritakan juga kegalauannya. "Kamu tahu apa yang mengh
dr. Bram mendapatan laporan dari Ny. Paula, sekretaris dia. "Donor dari Jakpus harus berada di sini jam tiga. Tim Harvest dalam perjalanan masuk. Aku perlu menghubungi pusat transplantasi tentang Bob mendapatkan hati anaknya."Gina muncul menghadap pada dr Bram. "dr. Bram? dr.Han membutuhkan OR dan ruangan semua dipesan.""Untuk?" tanya Bram.Gina memberikan hasil pemeriksaan. "Obstruksi usus yang muncul.""Obat-obatan?" cetus dr. Bram sambil melihat hasil Rontgen.Gina menyela. "Sepuluh kepala boneka Judy.""Serius?" dr. Bram terbelalak kaget."Iya..Aku bisa melihat wajah mungil mereka. "Tolong, biarkan aku keluar." Celetuk Paula."Hernia Bump Warner dalam satu, tapi jangankatakan padanya apa yang kita keluarkan," kata Bram pada Gina."Terima kasih."dr. Bram langsung masuk ke ruangan Richard. Disana tampak Adele sedang membereskan barang-barang Richard. "Jika dia tidak bisa dimasuki disini, Dia ingin mem
♥DG/ Aku punya seorang bibi yang setiap kali dia menuangkan sesuatu untukmu, akan berkata, "Katakan kapan."Pagi hari yang sangat menyiksa. Semalaman Gina mabuk berat dan pagi ini dia harus berbaring di kamar mandi karena muntah terus-terusan. "Bukan kita. Itu mereka. Mereka dan anak laki-laki bodoh mereka. Mereka tidak mengatakan bahwa mereka punya istri," ceracau Gina sambil berbaring.Cristina yang rebah diatas bathtub ikut menimpali. "Mereka sama sekali tidak memberi peringatan bahwa mereka akan putus denganmu. Bukan masalah Bram putus dengan aku. Tapi cara dia putus denganku. Seperti itu bisnis. Seperti bisnis ... Seperti dia bos ku." Celoteh Cristina."Dia memang bos kamu," sahut Gina. "Dan yang lebih buruk lagi adalah aku peduli. Aku akan muntah lagi," buru-buru Gina menghampiri Closet.♥DG/ Bibiku akan berkata, "Katakan kapan," dan tentu saja kita tidak pernah melakukannya."Tidak tunggu alarm palsu." Gina mengurungkan niatnya
Setelah Gina dan Cristina sepakat untuk menegakkan diagnosis mereka, mereka langsung berkeliling RS untuk mencari dr. Santoso dan melaporkan kajiannya. Di lantai tiga terlihat dr. Santoso bergegas memasuki lift. Tanpa membuang waktu Gina dan Cristina mengejarnya.
dr. Santoso muncul dengan wajahnya yang tegang masuk ke ruang meeting. dr. Han mengikutinya dari belakang. Anak anak koass saling pandang sambil menebak nebak berita apa gerangan yang dibawa dr. Santoso.“Selamat pagi!” sapa dr. Santoso.
Di ruangan informasi, para dokter magang dan perawat saling berbagi informasi tentang pasien mereka. Alex sedang berhadapan dengan Sofia, seorang perawat senior yang sudah belasan tahun bekerja di Mandaya Royal. Dia melaporkan hasil pemeriksaan pasien 4-B untuk dib
Jam 16.00, waktunya Appendectomy yang akan dilakukan Gaby dengan bimbingan dr.Bram. Tampak Gaby terus bergumam sambil menenangkan dirinya di dalam ruangan OK, pasien sudah dalam keadaan dibius. Dua orang perawat dan satu dokter anestesi juga hadir di sana membantu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore