LOGINAilisha memutuskan untuk kembali mengikuti audisi bintang Kpop yang sedang diselenggarakan oleh beberapa agensi besar di sana. Sudah cukup lama ia tak kembali berkompetisi seperti itu. Terakhir kali Ailisha mengikuti audisi adalah ketika dirinya masih duduk di kelas 2 SMA, sementara saat ini statusnya sudah menjadi mahasiswa seni musik di salah satu kampus swasta yang ada di Indonesia. Itu sudah lama sekali sejak ia mencoba peruntungannya yang terakhir. Sudah bisa ditebak jika gadis itu tak pernah lolos audisi sama sekali. Karena kalian masih bisa mendapatinya di Indonesia. Tanpa sengaja Ailisha mendengar kabar jika ada agensi baru yang namanya sudah cukup popular saat ini. Rumor mengatakan jika agensi itu milik dari seorang pria non Korea. Meski baru berdiri, agensi ini sudah cukup kuat untuk menyaingi agensi besar lainnya yang tak kalah hebat. Sampai saat ini belum ada satupun media yang merilis profil pemilik serta pengelola agensi tersebut. Ailisha berusaha untuk memberanikan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia kembali mencoba peruntungannya di agensi lain. SAN Entertainment adalah salah satu dari sekian banyak agensi yang coba ia lamar. Kali ini dewi fortuna sedang berpihak kepadanya dan membiarkannya lolos hingga ke tahap akhir. Awalnya ia sempat keliru, karena sejauh yang ia ingat sampai saat ini adalah dirinya melamar posisi penari. Namun pada saat proses wawancara berlangsung, kotak keterangan yang berada di formulir menunjukkan jika dirinya terpilih sebagai seorang penulis lirik. Rasa kecewa wajar timbul pada saat itu, namun tak berlangsung lama karena Ailisha adalah tipe orang yang cepat melupakan. Ia memilih untuk tak ambil pusing soal hal itu. Yang terpenting baginya saat ini adalah karirnya. Hingga dirinya terjebak pada satu situasi yang tak pernah bisa ia lupakan sedetikpun kejadiannya. Semua rasa penasarannya saat ini terjawab sudah tanpa sengaja. Pusaran waktu membawanya kembali pada pria itu. Tak ada yang pernah menduga jika hal ini akan terjadi.
View More"Tinggalkan Evan! Karena sebentar lagi dia akan rujuk dengan mantan istrinya!"
Tubuh Elizabeth tersentak kaget, kedua matanya melebar tak percaya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibu mertuanya. Elizabeth Lawrence, wanita berusia dua puluh tiga tahun itu meremas gaun pesta berwarna biru yang dia pakai. "A-apa maksud Mama mengatakan hal itu?" tanya Elizabeth dengan suara tercekat. "Apa kau tidak sadar? Sejak awal menikah hingga detik ini, Evan tidak pernah mencintaimu!” kata wanita paruh baya yang berpakaian glamor itu. “Karena cinta sejati Evan hanya Clarisa!” Elizabeth terdiam dengan perasaan campur aduk. Ia ingin menyanggah, tapi lidahnya terasa kelu sebab ia tahu ibu mertuanya benar. Suaminya tidak pernah mencintainya. "Kau lihat di sana!” ujar Melodi—ibu mertuanya—ke arah sepasang manusia yang tengah bercengkerama akrab di tengah pesta. “Bukankah mereka tampak sangat serasi? Apa Evan pernah sehangat itu denganmu?” Elizabeth menelan ludah. Kata-kata itu menohoknya telak, mencabik-cabik hatinya dengan tega. Wanita muda itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sang suami yang memang tampak begitu berbeda malam ini. Evander Collin, sosok laki-laki tampan bertubuh tinggi besar dengan balutan tuxedo hitam yang kini tengah menggendong putra kecilnya, tengah berbincang hangat dengan mantan istrinya, Clarisa. Senyum di wajah Evan itu … baru pertama kali dilihat oleh Elizabeth selama tiga tahun menikah dengannya. “Sebaiknya kau sadar diri, Elizabeth. Sampai kapan pun kau tidak akan pernah pantas bersanding dengan putraku.” Usai mengatakan kalimat bernada tajam itu, Melodi pergi, meninggalkan Elizabeth sendirian seolah menegaskan bahwa ia tidak memiliki siapapun untuk membelanya. ‘Apakah Evan benar-benar akan rujuk dengannya?’ batin Elizabeth getir. Dadanya terasa sesak, seolah ada pisau yang menancap di hatinya. "Mama...!" Suara pekikan keras anak laki-laki membuat lamunan Elizabeth buyar, ia melihat putra tirinya menangis sembari berlari ke arahnya. Elizabeth memaksakan seulas senyum dan langsung memeluk tubuh mungil itu dengan hangat. "Kenapa menangis, Sayang? Itu kan ada Papa," kata Elizabeth sambil menggendong Exel. "Tidak suka! Exel tidak suka sama Tante itu!" pekik anak itu menunjuk ke arah Clarisa, ibu kandungnya. Elizabeth berusaha menenangkan bocah itu dan memutuskan untuk mendekati Evan dan Clarisa yang tadinya berusaha mengejar Exel. Clarisa menyambut kedatangan Elizabeth dengan tatapan dalam dan lengkungan senyum manis di bibir tipisnya. Tangannya menyelinap dengan cepat untuk menggandeng lengan Evan. "Hai. Kamu pasti Elizabeth, bukan?” sapa Clarisa, masih dengan senyuman ramah yang sama. “Aku Clarisa.” Elizabeth mengangguk setelah sempat terdiam melihat tindakan Clarisa. “Halo, aku Elizabeth,” balas gadis itu kikuk. "Senang bertemu denganmu, Elizabeth. Aku kemari atas undangan kedua orang tua Evan, mereka tahu kemarin aku baru pulang dari New York,” jelas Clarisa dengan wajah berseri-seri sambil menatap Evan yang berdiri di sebelahnya. Elizabeth hanya bisa memberikan senyuman tipis saat melihat Evan tidak menepis tangan Clarisa. "Aku juga senang bertemu denganmu, Clarisa." Evan melirik putranya yang memeluk leher Elizabeth dengan erat. Laki-laki itu mendekatinya dan berusaha membujuk Exel, tapi putranya itu malah marah. "Tidak mau!" pekik anak itu menolak. "Sayang, Tante Clarisa itu adalah mamamu juga," bujuk Evan mengusap puncak kepala sang putra. “Bukan! Dia bukan mamanya Exel!” Teriakan Exel membuat Evan menghela napas, lelah membujuk anaknya yang sedari tadi terus menolak. Melihat itu, Elizabeth berusaha menengahi. "Sepertinya Exel sudah mengantuk, makanya jadi rewel," ujarnya sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Exel yang sudah bersandar dengan nyaman dalam gendongannya. Ekspresi wajah Clarisa seketika berubah sangat sedih, wanita itu menatap putranya yang nyaman dan tenang memejamkan kedua matanya di gendongan Elizabeth. Tatapan iri itu … Elizabeth bisa merasakannya. "Kau sangat beruntung, Elizabeth. Kau bisa mendapatkan suami seperti Evan yang sangat hangat dan perhatian,” kata Clarisa sambil tersenyum getir. “Dan kau juga bisa mendapatkan hati Exel.” Elizabeth hanya bisa terdiam. Clarisa lantas tersenyum kecil, lalu mendekati Elizabeth untuk mengusap kepala putranya, sebelum pandangannya teralih pada Evan. "Andai aku dulu tidak pergi mementingkan pendidikanku, mungkin kita masih bersama dan menjadi keluarga bahagia…,” suara Clarisa terdengar serak. “Aku sangat ingin merasakan bagaimana rasanya disayangi oleh putra kandungku,” katanya sambil terisak. Tepat di hadapan Elizabeth, tiba-tiba Evan memberikan sebuah sapu tangan pada Clarisa untuk mengusap air mata mantan istrinya tersebut. Sebuah perhatian kecil yang tidak pernah Elizabeth terima dari pria itu. "Kau bisa kapan saja menemui Exel di rumah,” kata Evan. “Kau adalah Mamanya." Mendengar hal itu, rasa senang terpancar jelas dari raut muka Clarisa. Kedua tangannya menggenggam tangan Evander dengan hangat. "Terima kasih banyak, Evan! Aku akan sering-sering berkunjung sampai Exel dekat denganku." Semua orang menatap ke arah mereka berdua dan mulai berbisik-bisik, tepatnya saat melihat Elizabeth diabaikan. Elizabeth hanya bisa tertunduk, menekan kuat rasa sedih di hatinya. Ia sadar, dia bukanlah wanita yang diinginkan suaminya selama ini. Elizabeth memeluk Exel yang tertidur dalam gendongannya, dan memutuskan untuk membawanya naik ke lantai dua di dalam kediaman keluarga Collin. Langkahnya terasa gamang. Sejak awal, pernikahan atas wasiat sang Kakek ini memang tidak pernah diwarnai rasa bahagia. Dan sekarang, semuanya sudah berada di ujung tanduk. Saat baru merebahkan tubuh mungil Exel di atas ranjang, pintu kamar pun tiba-tiba terbuka, muncul Evan yang langsung masuk ke dalam. "Aku akan menginap di sini, pulanglah dengan sopir," ujar Evan tanpa menatap Elizabeth yang duduk di tepi ranjang. Elizabeth menatap punggung kekar suaminya yang sedang berdiri di depan meja rias sambil melepas arlojinya. Ia ingin bertanya kenapa, tapi rasanya itu hanya akan membuat suaminya marah. Jadi Elizabeth hanya berkata, "Baiklah. Bolehkah aku membawa Exel?" "Tidak. Mama ingin tidur dengan cucunya malam ini," ujar Evan dengan nada dingin seperti biasa. “Pulanglah sendiri, jangan membawa anakku." Elizabeth menelan ludah kasar dan meremas jemarinya yang terasa dingin. Bagai ditabur duri di dalam hatinya kini. Malam ini akan menjadi malam kesekian di mana ia tidur sendirian tanpa Evan. Karena … biasanya mereka tidur berdua hanya di saat pria itu menginginkan kehangatan darinya. Elizabeth mendekati Exel yang tampak pulas di atas ranjang. "Mama pulang ya Sayang, Exel jangan nakal," bisik Elizabeth mengecup pipi anak itu dengan lembut. Setelah itu Elizabeth meraih mentel hangat dan tasnya di atas nakas. Ia berdiri menatap Evan yang kini melayangkan tatapan datar padanya. "Kalau Exel menangis, ajak dia pulang,” pinta Elizabeth. Dia mengatakan itu karena memang hanya dirinyalah yang bisa menenangkan Exel, dan Evan tahu hal itu. Namun, tidak ada jawaban dari Evan. Laki-laki itu justru melenggang pergi meninggalkannya. Saat sudah tiba di lantai bawah, Elizabeth melihat Evan berada di tengah-tengah pesta bersama Mamanya dan juga Clarisa. Mereka tampak berbincang hangat dan dekat. Melihat kebersamaan itu, Elizabeth merasa seolah kehadirannya menjadi penghalang untuk Evan dan Clarisa. Elizabeth menekan dadanya yang sakit. "Apa... apa artinya diriku dan pernikahan ini untukmu, Evander?"Apa yang terjadi hari ini benar-benar berada di luar ekspektasinya. Shevandra sama sekali tidak pernah mengira jika hal semacam itu akan terjadi. Mulai dari kabar Ailisha kecelakaan, hingga ia harus terpaksa tetap berada di rumah sakit sampai larut malam.Padahal sebelumnya ia berencana untuk tidak berlama-lama di sini. Sebelum matahari keluar dari sarangnya esok hari, ia harus sudah sampai di Seoul lagi. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya. Tidak apa-apa. Shevandra tidak akan menyalahkan Ailisha atau siapa pun itu.“Sepertinya dia datang kemari sendirian,” gumam pria itu sambil menyantap makan malamnya.Sekarang ia tengah berada di kantin rumah sakit. Shevandra tidak bisa pergi jauh-jauh dari rumah sakit. Seperti yang sudah ia katakan beberapa saat lalu, jika dirinya akan selalu berada di sisi gadis itu. Paling tidak sampai ia sembuh dan bisa merawat dirinya sendiri.“Tapi, kenapa mendadak Ailisha datang kemari?” tanyanya.
Beruntung kondisi jalanan hari ini tidak begitu padat. Sehingga mobil pria itu bisa langsung menuju ke rumah sakit yang dimaksud dalam waktu yang lumayan cepat. Begitu sampai, Shevandra langsung menepikan mobil miliknya di parkiran rumah sakit.Dengan langkah yang tergesa-gesa, nyaris seperti berlari ia pergi ke dalam. Sementara itu Tiodora hanya bisa membuntuti langkahnya dari belakang. Bagi gadis itu akan sulit untuk menyamakan posisinya dengan Shevandra. Sebab pria itu bisa bergerak dengan begitu cepat. Langkah yang ia ciptakan panjang, berbeda dengan Tiodora.“Permisi, boleh aku tahu dimana korban kecelakaan pewasat tadi ditempatkan?” tanya Shevandra kepada salah satu perawat yang kebetula sedang lewat tepat di hadapannya.“Oh, mereka ada di bangsal sebelah kiri ini. Sisanya berada di ruang UGD karena masih belum sadarkan diri juga sampai sekarang,” jelas perawat tersebut sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.Shevandra dan Tio
Perjalanan mereka baru dimulai tepat setelah jam makan siang selesai. Kebetulan hari ini tidak ada rapat sama sekali. Selain itu pekerjaan Shevandra juga tidak banyak-banyak amat. Dia masih bisa menyelesaikannya nanti setelah urusannya di sana selesai. Pria itu sama sekali tidak berencana untuk menetap di sana selama beberapa hari ke depan. Mungkin nanti malam ia juga sudah kembali ke Seoul. Sebab, besok ada audisi tahap dua yang akan langsung ditangani olehnya.Selaku pemilik perusahaan, Shevandra berhak untuk memilih calon pekerjanya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan kualitas serta eksistensi perusahaannya nanti. Masa depan perusahaan ini tidak hanya berada di tangan Shevandra sendiri. Juga melainkan para pekerja di depan layar.Mereka yang bekerja di belakang layar hanya memiliki potensi yang sangat kecil utuk memcemarkan nama perusahaan. Sebab, mereka tidak akan pernah disorot oleh media. Jangankan disorot. Publik saja tidak mengenal mereka. Karena memang para s
BREAKING NEWS“Sebuah pesawat dengan nomer penerbangan berikut ini telah melakukan pendaratan darurat di pesisir laut Busan. Pesawat dari Jakarta dengan tujuan Incheon tersebut terpaksa mendarat darurat karena kesalahan sistem yang masih belum diketahui sampai saat ini. Dua orang awak kabin dan satu orang penumpang dikabarkan mengalami kondisi kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, penumpang lainnya hanya mengalami luka-luka biasa. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.”Shevandra masih berada di kantor saat ini. Ia bahkan sama sekali tidak berniat untuk pergi keluar dan mencari makan siang seperti yang lainnya. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaannya tidak sedang menumpuk belakangan ini. Pria itu bisa saja meluangkan waktunya sebentar untuk pergi makan siang jika ia mau. Namun, pada kenyataannya Shevandra malah hanya bersantai di ruang kerjanya sembari menonton berita dari ponsel.“Sungguh ma
Turbulensi di awal penerbangan saat akan lepas landas sudah merupakan hal yang cukup biasa untuk terjadi. Meski terasa agak mengerikan pada awalnya, namun Ailisha sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Itu bukan lagi sesuatu yang baru baginya. Paling tidak, untuk sekarang Ailisha sudah
Butuh waktu selama kurang lebih delapan jam perjalanan jika menggunakan mobil dari Jakarta menuju Jogja. Jika Jeri baru berangkat tepat pada pukul tujuh malam tadi, maka bisa dipastikan jika pria itu sekarang pria itu sudah berhasil menempuh lebih dari setengah perjalanan.Tiga jam lagi pri
Pergerakan pria itu terlalu cepat untuk dibaca. Aaron melakukan segalanya secara tiba-tiba, tanpa ada peringatan sama sekali. Sehingga gadis itu tidak sempat melakukan apa pun untuk mencegahnya.Kedua bola mata Agatha membulat dengan sempurna, ketika ia mengetahui kalau Aaron sudah mengunci
18.00Ailisha baru saja selesai berkemas. Ia masih punya cukup banyak waktu sebelum pesawatnya berangkat pukul dua nanti. Jeri pun tampaknya belum berangkat dari Jakarta. Meskipun pada akhirnya nanti pesawat gadis itu akan transit lebih dulu di Bandara Internasioanl Soekarno-Hatta untuk ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews