تسجيل الدخولDi koridor istana yang dingin, borgol besi membelit pergelangan tangan Isabella cukup kuat. Bahkan kulitnya sampai memerah. Pengawal itu mencengkram lengannya terlalu keras. Namun, Isabella mengabaikan itu semua.
Gadis berambut madu itu mengatur napasnya pelan. Sebelah bibirnya terangkat tipis. Satu langkahnya sukses meski di luar rencana awal, batinnya.
Malam ini, ranjang Pangeran Alex Harrington kembali kosong.
‘Aku punya waktu untuk membedah kelicikanmu Helena Moreau. Dari dalam selku,’
Ingatannya berlabuh ketika dia membaca sebuah kitab kuno tentang kesehatan dan tabib ordo. Tabib ordo Suci bukan tabib biasa. Mereka akan memeriksa kesehatan dan kondisi hormonalnya dengan sangat teliti. Nyatanya, ramuan menyerupai darah yang terbuat dari buah bit jelas tidak tidak akan membantunya. Kecuali jika dia menambahkan darah binatang untuk menciptakan bau alami.
Lalu ingatannya berlabuh saat insiden Jehanne keracunan. Saat itulah ide menggeledah botol racun dari kamar Jehanne muncul. Saat Jehanna setengah sadar dan Mona keluar paviliun, Isabella menaruh botol itu di kamarnya–sebuah tempat agak tersembunyi tetapi masih bisa dijangkau.
Dan, berhasil! Alhasil, pengawal yang menemukannya.
Untuk sementara Isabella aman dari ‘sentuhan pangeran’. Ia juga tidak perlu merisaukan soal hukuman bagi seorang istri—yang dianggap telah meracuni pelayannya.
Ini skandal, jadi pangeran tidak mungkin memberikan hukuman layaknya penjahat. Oleh karena itu, sesuai dugaannya, Alex membawanya ke ruang interogasi dan akan mengurungnya di penjara yang berbeda.
“Kenapa kau membuat keributan?” tanya Alex dengan suara yang dingin. Dia berdiri seperti seekor elang yang hendak mengguliti mangsanya.
Isabella duduk dengan ke dua tangan masih diborgol. Namun tatapannya tidak gentar. Tidak ada ketakutan ataupun kegelisahan di wajahnya.
“Aku tidak membuat keributan,”
“Lalu?” Alex mencondongkan tubuhnya, menatap ke dalam manik biru yang indah itu. Berharap menemukan jawaban yang bisa memuaskan hatinya.
Isabella menggerakan bibirnya. “Aku tidak meracuni siapapun. Apa keuntunganku meracuni pelayan tadi?”
“Lalu botol racun ditemukan di kamarmu,” sergah Alex dengan suara sedingin es.
“Aku tidak tahu. Aku hanya melihat ada cairan aneh berbau tak sedap di sekitar mangkuk sup milikku. Lalu aku minta Jehan mencicipinya.” Isabella berterus terang. Karena ia yakin … apapun alasan yang ia sampaikan saat ini, Alex hanya akan percaya pada Helena.
Alex mendengus kesal. Ia sebetulnya dilanda gamang. Siapakah yang menaruh racun itu? Namun ia juga punya alasan tersendiri untuk meredam situasi saat ini.
“Buktimu tidak cukup kuat, Isabella Laurent,” suara Alex dingin, memotongnya cepat. “Sementara aku punya saksi. Mona melihatmu mengancam Jehan. Tabib Elias melihatmu hanya berdiri menonton saat Jehanne sekarat. Dan … Helena jelas tidak mungkin membuat drama murahan,”
‘Helena jelas tidak mungkin membuat drama murahan! What the hell!’ batin Isabella mengumpat.
Isabella menatap Alex tajam. “Karena aku tahu … dia tidak akan mati, Yang Mulia. Dosis racun itu rendah untuk membunuh. Itu hanya dosis untuk sebuah pertunjukan.”
Alex menegakkan kembali punggungnya. Bayangannya berhasil menutupi tubuh Isabela. “Cukup! Kau akan tetap dihukum. Tapi … aku tidak akan memenjarakanmu di menara karena itu mempermalukan nama Harrington.”
Tatapan Alex masih tertuju pada Isabella. “Kau akan tinggal di paviliun Rosemary. sendirian. Kau tidak boleh keluar sama sekali,”
Isabella terkesiap. Bagian di mana ia tidak bisa keluar sama sekali itu menyiksanya. Ia tidak bisa berada dalam ruangan terlalu lama.
“Seminggu,” lanjut Alex tegas.
Syukurlah, Isabella sedikit lebih lega ketimbang dia harus menghadapi malam pertama dengan suaminya.
Waktu itu akan ia gunakan untuk mencari tahu segala hal tentang istana.
Isabella mengangguk dengan senyum tipis seringai terbit di wajahnya.
“Sebelum kau mendapat hukumanmu. Tabib Ordo Suci akan tetap memeriksamu,” lanjut Alex tetap pada rencana awal.
Duar!!
Seperti petir menyambar. Ucapan Alex selalu saja membawa kejutan.
Tidak ada ramuan menyerupai darah.
Bagaimana ini?
Alex memang genius. Dia memang sedang menguji kejujuran dirinya.
Isabella menahan diri untuk tidak menunjukan kepanikan. Ia hanya berdoa semoga kali ini ia selamat.
Dan, benar saja, setengah jam kemudian, Isabella langsung dibawa ke paviliun Rosemary. Paviliun itu lebih kecil ukurannya ketimbang paviliun Honeysuckle yang mewah.
Namun setidaknya di sana ada perpustakaan. Isabella tidak bisa hidup tanpa buku.
Tak lama kemudian Tabib Ordo Suci datang bersama seorang perawat wanita.
“Yang Mulia, ijinkan saya memeriksa Duchess Isabella.” Tabib Elias meminta ijin pada Alex.
Alex menjawab singkat. “Di depanku,”
Isabella diperiksa oleh Tabib Elias di kamar ditemani perawat tadi dan tentu saja dalam pengawasan Alex. Ia diminta berbaring di atas ranjang.
“Yang Mulia Duchess, prosedur ini adalah untuk memastikan kesucian dan kesehatan hormonal Anda sebelum masa isolasi dimulai,” kata Tabib Elias terdengar formal.
Isabella mengangguk pelan. Terpaksa.
Setelah pemeriksaan tanda vital selesai, Tabib Elias memberikan kotak berisi kain linen bersih. “Ini Duchess, silahkan,”
Isabella menatap kain itu lalu menerimanya. Ia harus memperlihatkan darah menstruasi pada mereka.
Di dalam kamar mandi, Isabella mengatur napas yang terasa sesak.
Tidak ada ramuan bit.
Ada juga percuma.
Sebuah ide gila pun muncul. Ia menarik pisau belati yang terselip di sepatunya.
“Satu-satunya cara … aku harus melukai tubuhku sendiri untuk memperlihatkan darah menstruasi pada mereka,” monolognya. Napasnya memburu.
Tangannya terangkat sembari memegang pangkal pisau.
Tiba-tiba … ujung belati yang tajam itu sudah menyentuh kulit paha bagian dalamnya.
Isabella menggigit bibir bawahnya, menahan gemetar. Napasnya mendadak terasa berat.
Namun ia sudah bertekad. Ia memposisikan mata pisau di paha bagian dalam yang tersembunyi.
Hanya satu sayatan kecil, Isabella.
Dor, dor, dor,
Suara pintu kamar mandi diketuk dengan keras.
“Isabella!” panggil Alex dengan suara geram yang ditahan. “Buka pintunya!”
Hai, Author Piemar menyapa!Akhirnya, kita sudah berada di penghujung cerita. Saya sangat bersyukur karena bisa menyelesaikan novel ini dengan tuntas meskipun agak terlambat karena beberapa halangan/hambatan di dunia nyata. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada para pembaca setia novel ini. Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan support luar biasa bagi novel saya baik itu dalam bentuk komen, gem/hadiah. Support kalian sangat berarti untuk saya sebagai author. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Amin. Pun, saya ingin mengucapkan permintaan maaf, apabila novel saya tidak bisa memuaskan semua pembaca. Ada banyak kekurangan di dalamnya. Semoga ke depannya saya bisa menghasilkan novel yang lebih baik lagi. Jika berkenan, kalian bisa membaca novel terbaru saya dengan genre yang lebih segar dan lebih ringan. Kebetulan novel tersebut mengikuti salah satu ajang writing sprint yang diadakan oleh GoodNovel (Goodchamp Program).Judul Novel: Pe
Melihat raut wajah pria tua di depannya, kepala Isabella mendadak dihantam rasa pening yang luar biasa. Jemarinya yang bergetar refleks merangkul erat lengan Alex untuk mencari pijakan.Bersamaan dengan pusing itu, potongan memori lama meledak di dalam kepalanya. Memori milik Isabella Laurent asli. Pria tua ini adalah Tuan Tabib yang dulu sering ditemuinya di tepi hutan! Pria inilah yang mengajarkannya mengenali berbagai tanaman obat, sosok yang pernah menyapanya dengan ramah di pasar desa. Pria tua ini adalah gurunya!Isabella mengingat seluruh takdir itu. Namun, dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha tenang.tak berselang lama, Alex memandu Tuan Tabib untuk duduk dan menikmati jamuan istana. Usai membasahi kerongkongannya, pria tua itu meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya yang
“Wilayah itu sudah menjadi tanah mati sejak tragedi kebakaran besar delapan tahun lalu. Tempat itu kini diisolasi dan tidak berpenghuni.” Peringat perwira seolah sang putri mahkota tidak tahu apa-apa.Isabella mengukir senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa penasaran yang tak bisa dibendung. “Aku tahu. Aku hanya penasaran. Kita hanya akan melihatnya sebentar sebelum kembali ke istana.”Mei Lin yang berada di dekat Isabella hanya memutar kedua bola matanya jengah. Ia justru setuju mengajak sang putri mahkota untuk datang ke sana sebab untuk memenuhi sekedar rasa penasaran. Ya, meskipun Isabella sadar kasus itu sudah ditutup dan tersangka dalang dari kejadian mengerikan itu juga sudah dieksekusi. Namun, entah kenapa, keinginan untuk melihat bangunan itu terasa sangat mendesak.
“Aku mau mengunjungi Ayah,” ujar Isabella meminta izin pada suaminya.“Baiklah. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan takhta,” sahut Alex lembut. “Pasukan pengawal Silver Eagle yang akan mendampingi perjalananmu.”“Terima kasih, Alex.” Sahut Isabella dengan mengulas senyum manis.Alex memandang istrinya sejenak sebelum menimpali, “Kenapa kau tidak mengajak ayahmu tinggal di istana saja? Dia bisa menempati area paviliun barat agar kau tidak perlu jauh-jauh berkunjung.”Isabella mengukir senyum tipis. “Ayah hanya ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah. Belakangan ini dia sedang sibuk mengelola perkebu
Kedua orang tua Cecilia telah wafat sejak ia masih belia. Menurut rumor yang beredar di kalangan bangsawan, mereka dihabisi secara kejam oleh Raja Damon yang sekarang—yang tak lain adalah paman pertamanya sendiri. Dalam kepungan tragedi itu, paman keduanya bersama sang istri lantas merawat Cecilia remaja dengan penuh kasih, sebelum akhirnya peperangan besar meletus dan memisahkan mereka.“Paman Julian... masih hidup?” suara Cecilia terdengar bergetar, memecah keheningan ruangan.Madam Chloe mendongak perlahan, menatap Ratu Cecilia dengan binar terkejut. “Yang Mulia sudah mengingat semuanya?”Cecilia menarik napas panjang, mencoba menguasai gemuruh emosi di dadanya. “Aku sudah mengingat seluruhnya, Chloe. Bagaimana dengan pamanku? Di mana dia berada sekarang?”“Pangeran Julian hidup dalam pengasingan di Kerajaan Xuyang, Yang Mulia,” jawab Madam Chloe pelan, menyatukan kedua tangannya yang gemetar. “Seluruh anggota keluarganya diusir secara paksa oleh paman pertama Anda usai pertempuran
Beberapa hari kemudian setelah hukuman Helena dijatuhkan. Cecilia menerima laporan dari mata-matanya yang menunjukan bahwa ada pengkhianat istana yang berkeliaran di sekitar ratu. Satu nama muncul dalam laporan rahasia tersebut dan berhasil membuatnya syok. Pada awalnya, ia tidak terima dengan laporan tersebut. Namun, ketika melihat ada sebuah surat bersegel dengan simbol tertentu, ia langsung memanggil nama itu. Dia adalah Madam Chloe. Tanpa membuang tempo, ke dua pengawal setia sang ratu langsung menyeret wanita itu lalu membawanya ke hadapannya. “Ampun, Yang Mulia–”Madam Chloe berlutut di hadapan Ratu Ashmond. Tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berdegup kencang. Cecilia melayangkan tatapan dingin kepadanya. “Jika kau tidak mengaku siapa yang mengirimmu, aku akan melaporkanmu kepada Pengadilan Ashmond. Aku akan mengatakan bahwa kaulah dalang yang membantu melarikan Mona keluar dari Wilayah Ashmond. Dan bukan hanya itu, kau juga telah berulang kali bersekongkol dengan mata-ma
Bab 24“Pangeran apa yang kaubicarakan selarut ini?” tanya Isabella spontan dengan tatapan menuduh.Alex mendengus kasar, menyadari kesalahpahaman ini. “Bukankah kau terluka karena air panas?”Isabella terdiam sesaat. Ia meringis, menutupi kegugupannya. Kenapa juga Alex hanya menyebutkan bagian paha
Suara erangan Isabella berhasil membuat semua orang yang berada di gazebo panik. Betapa tidak, cangkir yang digenggam Isabella retak dan air panas yang berada di dalamnya tumpah ruah mengenai kulit tangan dan paha isabella. Siapapun akan merasa kesakitan akibat luka panas. Mereka sontak berdiri kar
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A







