LOGINWajah Leo menegang seketika saat suara Surti terdengar di ujung sambungan. Kalimat demi kalimat yang disampaikan wanita itu menghantam dadanya. Dunia di sekelilingnya seakan meredup, menyisakan satu titik terang yang berdenyut kencang di kepalanya—Nayla.Telepon itu berakhir dengan bunyi tut yang singkat. Leo menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di dada. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Putra, ia berbalik dan mengambil langkah ke arah berlawanan dari pintu keberangkatan.“Pak, mau ke mana?” suara Putra menyusul, terdengar panik.Leo tak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat.“Pulang!” suaranya tegas, terburu-buru. “Kamu pergi ke Switzerland sendiri aja, Put! Saya nggak ikut. Saya pulang."“Lho? Lho? Lho?” Putra berlari mengejar, koper besarnya terguncang-guncang. “Kenapa, Pak? Ada apa? Pak?"Leo pun akhirnya berhenti. Ia menoleh—hanya sesaat—namun cukup untuk membuat Putra tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang hampir tumpa
Nayla kembali membuka resleting tas besar berwarna krem itu, memastikan isinya sekali lagi. Popok bayi berbagai ukuran—cek. Selimut tipis—cek. Baju bayi yang sudah disetrika dan dilipat rapi—cek. Semua tersusun persis seperti daftar yang Matilda buatkan dengan tulisan tangan tegas, lengkap dengan tanda centang merah di pinggir kertas.Dua tas besar itu disusun di dekat lemari. Satu tas khusus perlengkapan persalinan, satu lagi berisi kebutuhan bayi, dan tas terpisah berisi pompa ASI, botol susu, dan kantong pendingin siap angkut. Nayla menghela napas panjang, lalu menutup tas terakhir dengan perasaan campur aduk—tegang, berdebar, sekaligus pegal yang ia tahan.Dari arah meja, Leo masih duduk di depan laptopnya. Layar menyala menampilkan jadwal penerbangan dan dokumen persiapan grand opening apartemen pertamanya di Switzerland. Namun sejak sepuluh menit lalu, tak satu pun baris benar-benar ia baca. Pandangannya berkali-kali melirik ke arah Nayla.“Nay…” Leo akhirnya menutup laptop itu
Tamu-tamu mulai berdatangan dari segala penjuru kompleks perumahan itu. Selesai dengan dekorasi, Pak Dirman langsung sigap berdiri di dekat pintu gerbang yang sengaja dibuka lebar, menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan arahan singkat. Derai tawa anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka memenuhi halaman rumah.Nayla memang sengaja mengundang semua anak di kompleks itu. Ia ingin ulang tahun pertama Matteo dipenuhi riuh suara dan langkah-langkah kecil yang berlarian, seolah ingin mengusir keheningan yang sudah terlalu lama bertamu di rumah mereka.Di ruang keluarga, Nayla berdiri menyambut para tamu dengan senyum terbaiknya. Gaun bertema Mesir itu sungguh tak bisa menyembunyikan perut buncitnya yang ikut menjadi pusat perhatian ibu-ibu. Bahkan sesekali, bayi di rahimnya bergerak aktif, seolah ikut merasakan keramaian, apalagi ketika ada ibu-ibu tetangga dengan gemas mengusap perut Nayla.“Ya Tuhan, bumilnya cantik banget,” ujar salah satu ibu sambil menyalami Nayla. “S
Balon-balon warna emas, biru tua, dan hijau zamrud memenuhi ruang keluarga sejak pagi. Sebagian menggantung di langit-langit, berayun pelan mengikuti hembusan AC, sementara sisanya bergerombol di sudut ruangan, terikat pita-pita panjang yang menjuntai. Di atas karpet, mainan-mainan baru tersusun rapi—boneka unta, piramida kecil dari plastik, dan replika sphinx yang ukurannya nyaris sebesar Matteo sendiri.Ya. Setelah berbulan-bulan dilewati dengan ketegangan, kecemasan, dan malam-malam tanpa tidur nyenyak, akhirnya mereka akan merayakan ulang tahun pertama Matteo.Matilda telah keluar dari rumah sakit. Tubuhnya sudah jauh lebih sehat, meski dokter masih mewajibkannya menggunakan kursi roda agar tidak terlalu lelah. Namun jangan salah—dari kursi roda itulah seluruh komando pesta diserukan, lantang dan tidak ada yang bisa membantah.Dengan selimut tipis menutup kakinya dan rambut yang disanggul rapi, Matilda sibuk mengatur segala sesuatu dengan sangat teliti.“Pak Dirman, balonnya jangan
Di ruang kerja,Suara bentakan Budiman Surya memantul keras di dinding-dinding putih itu. Bingkai lukisan mahal di belakangnya bergetar halus ketika sebuah map tebal melayang dan menghantam lantai marmer.“Tidak becus!” raungnya. “Semuanya tidak becus!”Dua orang asistennya berdiri kaku di hadapan meja kerja, kepala menunduk dalam. Mereka tak berani mengangkat pandangan sedikit pun. Kertas-kertas laporan beterbangan, disusul pulpen, tempat kartu nama, bahkan sebuah cap kayu yang nyaris mengenai kaki salah satu dari mereka.“Kalian tahu berapa miliar yang saya gelontorkan buat nutup mulut pejabat desa dan kota itu, hah?!” Budiman menghantam meja dengan telapak tangannya. “Dan sekarang—semuanya bocor! Sertifikat palsu, proyek fiktif, semuanya naik ke berita nasional!”Salah satu asisten menelan ludah kasar. Dengan suara gemetar, ia memberanikan diri bicara.“Maaf, Pak… tapi, kami juga sudah melakukan semua yang bapak perintahkan. Tidak ada pejabat yang terlewat. Kami... kami juga tidak
Lampu bandara memantul dingin di lantai marmer saat Adrian melangkah keluar dari area kedatangan. Ia menarik topi lebih rendah, lalu menaikkan resleting jaketnya hingga menutup leher, tak ingin memberi celah untuk dikenali orang lain. Ia sudah berada di luar negeri.Baru beberapa menit lalu ia menyalakan ponsel setelah mengambil ranselnya dari area bagasi. Tiba-tiba sekali, ponsel itu bergetar panjang di saku jaketnya.Satu nama muncul di layar—Arlene Surya.Alis Adrian berkerut. Jarinya menggantung sepersekian detik di atas layar sebelum akhirnya menyentuhnya. Ia tak sempat mengikuti berita apa pun lagi sejak kabar penangkapan Jax meramaikan berita. Ia segera memesan tiket, berkemas seadanya, dan pergi dari apartemen. Secepat mungkin.“Hallo? Mau apa?” suara Adrian rendah, setengah berbisik, ketus.Di ujung sana, terdengar suara drama Arlene yang nyaris menangis. “Dri… kamu di mana? Aku butuh kamu.”Adrian berdecak. Pandangannya menyapu sekeliling, memastikan tak ada orang yang terla







