FAZER LOGINMaura menjerit histeris, mukanya langsung merona Refleks, tangannya terangkat menepuk dada tegap suaminya. "Mesumnya kelewatan! Otaknya isinya apa sih, om-om ini?!"Bumi hanya terkekeh rendah, suara tawa seksi yang begitu renyah dan berat, bergema hangat tepat di telinga Maura. Bukannya lepas, kuncian tangannya di pinggang sang istri justru semakin merapat, menikmati momen saat wanita di dekapannya ini kelabakan setengah mati akibat ulahnya."Mata Mas kan cuma menjalankan tugasnya sebagai pengamat estetika, Sayang," bisik Bumi.Dia menunduk sebentar, mendaratkan satu kecupan kilat dan dalam tepat di lekuk istrinya yang wangi, membuat wanita hamil itu berjingkat geli."Aduh, lepas! Lepas!" seru Maura heboh, "Aku mau ganti baju sekarang! Jangan dekat-dekat, bahaya!""Ayolah sayang... pengen liat doang," bujuk Bumi, sengaja dibuat memelas, sebuah keajaiban dunia kedelapan mengingat pria ini biasanya tak mau kalah, dan selalu dominan."Nggak ada! Gati baju di depan kamu, samaaja setor nya
"Bercanda, Sayang," kekeh Bumi pelan. Suara tawanya bergema lembut di dinding lorong hotel yang lengang. Pria itu menghentikan langkah tepat di depan pintu lift, lalu berbalik mengikis jarak hingga Maura hampir tersandar di dinding marmer yang dingin.Bumi merundukkan tubuhnya, menyejajarkan pandangannya dengan Maura yang masih menekuk wajah dengan bibir mengerucut sebal. Jemari besarnya terulur, mengusap lembut dagu istrinya, membelai garis bibir yang cemberut itu dengan ibu jari."Masa istri sama anak Mas disuruh bayar pakai daun? Mau ditaruh mana muka Mas?" bisiknya rendah, menatap manik mata Maura dengan binar jenaka yang teramat hangat. "Jangankan tiket candi, mau beli candinya sekalian juga Mas usahain.""Halah! Gombalnya makin ngaco," sungut Maura, tapi tak ayal pipinya kembali merona hangat. Wanita itu mencoba menepuk dada tegap suaminya, tapi tangannya malah ditangkap dan digenggam erat oleh Bumi.Tingg!Pintu lift berdenting mulus dan terbuka di hadapan mereka. Bumi merangku
"Mana ada aku terpesona! Aku tuh udah biasa lihat muka Mas setiap hari. Kadang bosen juga," cetus Maura berbisik dengan nada sok acuh. Maniknya melirik-lirik Bumi sambil melotot kesal yang dibuat-buat.Bumi menggeleng kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. "Dih, jahat banget."Pria itu kemudian mengambil sendoknya, dengan telaten memindahkan beberapa potong buah naga dan melon dari piringnya ke piring Maura."Makan yang banyak. Biar anak aku sehat."Mendengar kalimat itu, Maura memicingkan, melotot tajam ke arah suaminya. "Anak kamu? Aku enggak...?"Bumi mendadak mendongak, nyengir. "Mamanya juga sehat," ralat Bumi cepat sebelum perang dunia ketiga meletus di atas meja sarapan."Nah, gitu dong. Harus adil!" dengus Maura puas, lalu mulai menikmati potongan buah dengan lahap.Di sekeliling mereka, atmosfer restoran yang tadinya dipenuhi kasak-kusuk mendadak berubah gaduh beberapa saat.Pasang-pasang mata yang tadinya gatal memperhatikan Bumi kini melotot tak percaya.Harapan kaum hawa d
Bau kopi menyambut kedatangan mereka di restoran utama hotel bintang lima itu. Pagi yang beranjak siang membuat suasana dining area cukup ramai oleh para tamu.Ruangan bernuansa interior kayu modern dengan sentuhan batik megamendung itu tampak megah, dikelilingi dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke taman dan kolam ikan.Sengaja, Bumi melarang istrinya ambil makanan sendiri. Dia meminta Maura mencari tempat paling strategis untuk sarapan mereka, sedang dia berkeliling membawa dua piring.Maura memilih satu meja di sudut yang menyajikan pemandangan lanskap taman yang menyegarkan sekaligus memberi privasi lebih. Dekat jendela. Dan darisana dia bisa melihat setiap langkah suaminya.Dan saat itulah Maura menyadari satu hal. Ritme kehidupan di ruangan itu mendadak melambat. Lebih tepatnya, melambat di sekitar suaminya.Perempuan menyandarkan punggungnya ke kursi, bertopang dagu memperhatikan punggung tegap Bumi yang perlahan menjauh. Tapi, pandangannya tidak bertahan lama hanya d
Pagi di Kota Yogyakarta menyusup samar melalui celah tirai tipis kamar suite bernuansa krem dan marmer. Sinar matahari hangat jatuh lembut di atas sprei putih yang bergelombang, membiaskan pendar keemasan yang menenangkan. Bumi terbangun saat jarum jam dinding menunjuk tepat di angka sembilan pagi. Pria itu mengalihkan pandangannya, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya kamar yang temaram. Di sampingnya, Maura masih lelap begitu pulas. Deru napas istrinya terdengar teratur, halus dan menentramkan. Wajah polos wanita itu tampak amat tenang, bebas dari cemas yang semalam sempat menghantuinya. Bulu matanya yang lentik melukis bayangan tipis di pipinya yang memerah hangat, jemari mungilnya masih mengait erat di pinggir piyama Bumi, seolah takut sang suami akan pergi. Bumi miring perlahan, menyangga kepala dengan lengan. Pria itu menatap istrinya dalam hening yang teramat indah. Kamar terasa begitu senyap, hanya diisi oleh suara nafas merekayang saling bersahutan. Rasa han
"Mas Bumi!!" Maura melotot gemas, berkacak pinggang di tepi ranjang. Suara ketus hamil tuanya makin terdengar menggemaskan di tengah kemewahan kamar. "Mau cuci kaki sendiri apa mau aku siram air?!" Bumi melirik, lalu menghela napas halus. "Iya, Nyonya Bumi. Iya," gumam Bumi datar. Dengan ketenangan super tenang, ia akhirnya merayap bangkit dari kasur empuk itu, melangkah lemas menuju kamar mandi. "Perfeksionis mendadak begini pasti ketularan hormon si bayi," gerutunya pelan namun masih cukup terdengar di telinga Maura. "Aku denger ya, Mas!" teriak Maura dari atas kasur. Tak sampai tiga menit, suara kran air berhenti. Bumi keluar dari kamar mandi dengan celana kainnya yang agak tergulung di bawah lutut, memperlihatkan kaki panjangnya yang masih sedikit basah. Pria itu menyapu pandangannya lurus ke kasur, di mana Maura sudah menyiapkan piyama untuknya. Maura menunjuk lipatan itu, "Aku keluar kamar mandi udah ganti baju. Nggak usah lelet!" betaknya. Pria itu beku. Pandangannya tert
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







